Di Simpang Jalan

Di Simpang Jalan
Bab 81


__ADS_3

Davi meneruskan drama ikan terbangnya, tentang keterpurukan Likha sejak keguguran. Sedang di dalam rumah, Eren menarik Likha menuju dapur.


"Mama lepasin aku mah!"


"Mama lepasin kamu, tapi jaga sikap kamu Likha!"


"Mama itu harusnya bela aku! Kita sama-sama cari wanita yang tadi malam sama mas Davi!"


Plakkk! Habis sudah kesabaran Eren.


"Andai Davi terpikat wanita lain, bukan begini caranya! Harusnya kamu buat Davi tenang! Bukan meneror Davi!"


"Aku nggak bisa diam aja, pura-pura nggak tahu kalau Davi ada main, aku nggak bisa biarin mereka berbahagia!"


"Likhaaa!" Eren memegang kedua bahu Likha dan menggungcang tubuh putrinya. "Siapa yang bilang biarin mereka bahagia, kita bergerak tapi tidak mengusik kebahagiaan Davi!"


"Caranya?"


"Kita pikir belakangan, saat ini biarkan Davi beristirahat dengan tenang. Hal baik kalau Davi masih ingat pulang saat libur."


Likha berusaha tenang, saat dia dan ibunya keluar dari dapur, dia melihat Davi menyuapi Nanda makan. Likha teringat awal-awal kegilaannya dengan Davi, justru saat libur Davi bersamanya bukan bersama keluarga, namun saat ini sebaliknya. Likha mendekat pada Davi, dan duduk leseh di samping Davi.


"Mas, maafin aku."


"Aku kecewa sama kamu!" Davi memberikan makanan yang dia pegang pada Likha, dan segera menuju kamar lalu mengunci pintunya dari dalam.


Likha ingin menyusul, namun Eren menghalanginya. "Biarkan Davi menyendiri. Jangan ganggu dia."


Di dalam kamar Davi mengolok-olok perkataan Eren dengan mengikuti kata-kata itu tanpa suara. Davi lanjut berbaring dan menghabiskan waktu chating dengan Fanny.


Sesaat Davi teringat wanita yang dia goda di mall. Menggoda wanita mengumbar kata cinta suatu kepuasan baru, namun Davi teringat kemarahan Kia, dan dia membayangkan Rachel berada di posisi wanita itu. "Ayah memang jahat, tapi Ayah tidak rela jika kejahatan Ayah berdampak buruk pada masa depanmu." Davi mencari kontak wanita itu dan mengirim pesan.


*Aku sangat mengagumimu, pesonamu membuat aku seakan melihatmu tiap saat, kala mata terbuka atau kala mataku tertutup. Tapi rasa ini sekedar rasa, tidak bisa untuk memiliki, alam tidak merestui kita bersama. Aku dan istriku berbaikan kembali. Terima kasih atas malam indah yang kita lewati bersama, walau hanya bicara ditemani segelas kopi.


Setelah mengirim pesan itu, Davi memblokir nomor wanita itu dari handphonenya. Davi kembali berbaring, balasan pesan dari Fanny sudah tidak ada, pastinya wanita itu sibuk dengan urusannya.

__ADS_1


Davi memandangi langit-langit kamar tanpa plafon itu.


Kenapa waktu seminggu terasa sangat lama? Jangankan seminggu, sehari saja di sini aku bosan.


Davi mengacak rambut kepalanya. Dia tidak tahu kenapa saat awal berteduh di rumah ini dia sangat bahagia, seakan rumah ini sangat indah dari istana mana pun.


Kebohongan kamu sangat hebat Likha, mampu merubah rumah reot ini seperti istana atas awan. Aku akan bayar sedikit-demi sedikit omong kosongmu selama ini.


Hari semakin sore, Davi berusaha seperti dulu, bersikap hangat dan manis pada Likha.


"Kamu rindu masakan aku kan? Ini aku masakin buat kamu."


Likha luluh, dia langsung memeluk Davi. "Hanya ini yang aku inginkan dari kamu mas, perhatian kamu buat aku."


Bagus Davi, ellus-ellus dia, terus sesekali hempaskan dengan lembut, pada waktunya kamu hempaskan dia dengan keras, agar dia menyesal sudah mempermaikan perasaan kamu.


***


Kebahagiaan keluarga Kia begitu terlihat saat keputusan cerai Kia disetujui, kini Davi dan Kia sudah resmi berpisah. Namun ada yang menarik perhatian Kia, yang menemani Davi saat ini bukan Likha melainkan Fanny. Tapi itu urusan mereka, Kia dan keluarga segera meninggalkan ruang sidang.


"Atur sebisa kamu saja, aku ikut apa kata kamu."


Fanny menggandeng Davi meninggalkan ruang sidang. Setiap mata yang mengenal Davi dibuat terkejut oleh yang mereka lihat. Mereka hanya tahu Davi bersama Likha, namun saat ini yang menggandeng Davi bukan Likha.


***


Setelah resmi berpisah Kia merasa lebih bebas. Kia, Nabila, dan Indra makan siang bersama di sebuah Restoran.


"Eh, grup sekarang ramai bahas wanita yang dampingin Davi saat ke pengadilan," ucap Nabila.


"Bisa nggak bahas mereka nggak?" sela Kia.


"Kamu cemburu?" goda Nabila.


"Maaf, aku bahkan tidak memiliki rasa padanya, setiap melihatnya aku merasa dia berharap kembali, maaf bukan sok pede, tapi aku merasakan hal itu, beruntungnya dia tidak menggangguku, dia seperti memahamiku kalau aku tidak nyaman jika dia ada di sekitarku."

__ADS_1


"Kita ganti topik, kamu ingat laki-laki impianku?" Wajah Nabila bersemu merah membayangkan laki-laki impiannya.


"Memang ada laki-laki yang seperti khayalanmu di dunia nyata?" ledek Kia.


"Ada, dan sebentar lagi dia akan berdiri di depan kita." Sepasang mata Nabila berbinar menatap kearah pintu masuk.


"Pengacara Dio?" Kia menatap Nabila, sulit percaya pengacara muda itu yang Nabila incar.


"Tampan, baik hati, pandai menghargai wanita, nggak kayak sobat kita satu ini, sukanya ngajak ribut terus!" sindir Nabila pada Indra.


Sedang yang mereka bicarakan langkahnya dicegat oleh tamu lain, terlihat Dio sangat ramah berbicara dengan lawan bicaranya.


"Kalau kamu suka Dio, tinggal ikutin saran aku aja Bil." Tiba-tiba seorang laki-laki menghempaskan bobot tubuhnya di kursi yang ada di samping Kia.


Saat Kia menoleh ke samping, laki-laki itu juga menoleh padanya, keduanya sama-sama terkejut.


"Kau!?" ucap Kia dan laki-laki itu serentak.


"Eh tunggu, kalian kan belum pernah ketemu, bagaimana bisa kalian saling kenal?" sela Nabila.


"Dia yang aku ceritakan waktu itu." Rury mengisyarat cerita dia sebelumnya. "Oh bidari, hmm ... hmmm." Rury bersenandung asal, harapannya kedua temannya itu mengerti.


Indra beruntung saat ini posisinya tengah duduk, andai dalam posisi berdiri dipastikan dirinya seketika jatuh karena kedia kakinya seketika tak berdaya menopang tubuhnya setelah mengetahui bidadari yang Rury maksud adalah wanita pujannya.


Rury mulai menyadari 1 hal, wanita pujannya 1 meja bersama wanita impiannya. "Tunggu, kalian saling kenal?"


"Namanya Azzalea Ryzkia, akrab dipanggil Kia, umur 30 tahun ibu dari 1 anak. Dia temanku sejak SMP hingga SMA, teman Indra sejak TK hingga SMA. Kami kuliah di Universitas yang berbeda, namun setelah lulus kami berjuang membangun bisnis bersama, masih ada yang kurang?" ucap Nabila.


Mendengar ibu satu anak, seketika hati Rury patah sebelum memiliki. Jika dia seorang ibu, pastinya dia memiliki suami.


Tuhan ... mengapa engkau sangat kejam, membuat hatiku jatuh cinta pada perempuan yang sudah bersuami? Sejahat-jahatnya aku, aku masih berharap di akui nabiMU sebagai umatnya, jika aku merebut pasangan orang, sudah dipastikan aku tidak dipandang sebagai umat, seperti yang disebut dalam sepenggal hadist yang aku temukan pada gugel.


"Kenapa pada diam ini? Pada sariawan ya?" Dio menarik kursi yang ada diantara Indra dan Kia.


"Lagi pada pengen diem aja," sahut Nabila pasrah. Entah kenapa seketika semangatnya menguap mengetahui Rury menyukai Kia, harapan Nabila, Indra yang lanjut memperjuangkan cinta yang gagal dia perjuangkan sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2