
Setelah kejadian malam itu, Kia berusaha menahan diri agar tak berpikir jelek lagi tentang Davi. Keadaan rumah tangganya dengan Davi juga perlahan membaik, seperti air yang tenang. Tidak ada ombak yang mengombang-ambingkan keduanya. Kia kembali pada rutinitas hariannya di Restoran, begitu juga Davi. Pekerjaan Davi pun tidak menguras emosi lagi, teguran darinya dan ancaman para petinggi perusahaan lain membuat Fanny bersikap lebih baik.
Notifikasi handphone membuat perhatian Davi tertuju pada benda pipih persegi panjang itu, dia membuka pesan yang baru saja masuk.
*Davi, bisa kita makan siang bersama?
Davi segera membalas pesan dari Misye.
\=Bisa, kamu atur tempatnya.
Pesan kembali masuk, terlihat alamat Restoran pilihan Misye. Davi segera bersiap untuk makan siang bersama Misye. Keduanya bertemu di salah satu Restoran yang tidak jauh dari kantor Davi.
"Terima kasih atas pertolonganmu malam itu, kalau kamu tidak datang, sudah dipastikan aku akan jadi santapan para bule itu," ucap Misye.
"Sama-sama, kamu adalah patner bisnisku. Bukan hanya itu, Indra juga banyak menolong keluargaku, masih tidak sebanding dengan pertolongan Indra untuk kami."
Misye teringat cerita para Asistennya kalau Kia menggrebek kamar hotelnya. "Davi, kamu mengkhianati Kia?"
Davi bingung menjelaskan dengan cara apa, satu hal yang membuat Davi kagum, Indra tidak membuka aibnya bahkan pada adiknya sendiri.
"Aku mendengar cerita dari para Asistenku yang tidak bisa masuk area VIP sore itu, mereka bilang istrimu mengamuk."
"Bukan mengamuk, hanya salah faham," terang Davian.
"Perasaan wanita itu tajam, Kia wanita cerdas, dia tidak akan memikirkan perkara bodoh itu kalau kamu tidak mencurangi dia." Tatapan Misye penuh penekenan.
"Aku pernah melakukan hal bodoh itu sekali," pengakuan Davi.
__ADS_1
"Selingkuh?" Misye memperjelas.
"Tapi Kia berkenan memberiku kesempatan kedua. Sampai saat ini, aku masih memegang teguh sumpahku saat memintanya kembali padaku."
"Kamu benar-benar orang yang paling bodoh!"
"Ya aku sadari aku bodoh," ucap Davi.
"Kia memang sederhana, tapi apa yang ada dalam dirinya, tidak bisa kamu temukan pada wanita lain, walau Kia sudah berusia 30 tahun, bagiku dia tetap wanita impian banyak orang."
"Aku akui itu, aku juga selalu mengutuk diriku atas kebodohanku."
"Semoga kamu bisa memegang teguh janjimu, karena tidak ada lagi yang namanya kesempatan ketiga." Misye menyudahi pembahasan mereka tentang Kia, keduanya fokus menikmati makan siang mereka.
***
Di parkiran Kia tidak sengaja bertemu dengan Eren, ibu Likha. Kia meneruskan langkahnya seolah tidak mengenal wanita paruh baya itu.
"Hai Aunty Kia," sapa Nanda.
"Hai juga cantik." Kia tetap meneruskan langkahnya.
Wanita paruh baya itu menatap sinis pada Kia. "Ternyata kamu mulai membiasakan diri menerima calon anak tirimu."
Saat itu juga langkah Kia terhenti, dia berbalik mendekati Eren. "Apa aku salah dengar? Calon anak tiri?"
"Ya, tidak lama lagi, pasti Davi akan menikahi Likha."
__ADS_1
"Bagus, tapi sebelum hal itu terjadi, kalian harus siapkan mental, karena jika Davi masih menceburkan diri pada kubangan lumpur, dia tidak membawa apapun, hanya membawa baju yang ada di badan."
"Owh tidak masalah, kami siap menerima Davi bagaima pun keadaannya."
"Baguslah, setidaknya aku tidak merasa bersalah jika membuang Ayah dari Anakku, karena hidupnya sudah pasti ada yang mengurus," balas Kia.
"Sudah pasti, jangan takut kami akan menjaga Davi jika kamu membuangnya."
"Aku tidak membuang, tapi anak Anda merenggutnya."
"Anakku tidak merenggut Davi, dia rela berbagi denganmu, dia ikhlas jadi yang kedua."
"Perlu ibu ingat, devinisi berbagi itu, pemiliknya membagi dengan sukarela, sedang keadaanku suamiku direnggut dengan cara halus. Satu lagi aku tidak pernah ikhlas dipoligami, maaf aku bukan wanita hebat yang memiliki mental kuat untuk berbagi suami. Ibu sudah tahu bukan kalau aku tidak mau membagi milikku, jika anak ibu nekat mengambil, itu namanya merebut!"
Kia menatap kearah Nanda yang terlihat kebingungan. "Sebaiknya Nanda diasuh Ayah kandungnya saja, kalau sama kalian, berbahaya. Takutnya dia jadi generasi pelakor berikutnya."
"Kau!" Eren marah mendengar ucapan Kia.
"Kalau Nanda pelakor ya kalian bahagia, tapi bagaimana jika posisi Nanda istri sah yang kedudukannya digoyahkan pelakor tak bermoral seperti kalian?"
Eren hanya bisa mengepalkan tangannya, andai tidak dilingkungan sekolah dia jambak habis wanita yang banyak bicara di depannya ini.
"Hidup emang perlu uang, semua orang perlu. Tapi berjuang bu, jangan merebut!" Kia pura-pura menyesal atas perkataannya. "Aku lupa, kalau kalian malas berjuang, makanya menggunakan lubang diantara paha kalian untuk menjadi uang." Kia pergi begitu saja meninggalkan Eren yang mematung menahan kebenciannya pada Kia.
Eren menatap sinis kearah Kia yang semakin menjauh dari pandangannya, telapak tangannya masih mengepal, tanpa dia sadari dia menggengam kuat pergelangan tangan cucunya.
"Nenek ... sakit ...."
__ADS_1
Jeritan Nanda membuat kemarahan Eren buyar, dia berjongkok dan meminta maaf pada cucunya, karena tak sengaja menyakitinya.