Di Simpang Jalan

Di Simpang Jalan
Bab 41 Basi


__ADS_3

Kia sesekali ikut menyambung obrolan Davi dan Fanny, walau Kia tidak mengenal Fanny, namun dia berusaha mengikuti obrolan mereka. Sebelum menikah dengan Davi Kia beberapa kali pernah bertemu Fanny di rumah Davi. Obrolan mereka terus berlangsung hangat.


"Davi, makan malam bareng aku yuk! Aku lama nggak pulang jadi aku kurang nyaman kalau jalan sendiri," ajak Fanny.


"Boleh, tapi bertiga sama Kia," sahut Davi.


"Kalian berdua aja, kasian Fanny kan dia baru datang." Kia seketika diam, dia melupakan omelan mertuanya yang menyalahkan dirinya karen membiarkan Likha terlalu dekat dengan Davi.


"Pokoknya harus sama kamu!" ucap Davi.


"Aku pengen nostalgia masa SMA sama Kak Davi," rengek Fanny.


"Masalahnya keadaan sudah beda, aku punya seseorang yang harus aku jaga, bukan cuma dirinya tapi juga aku harus jaga hatinya, moga kamu mengerti ya Fan ...." ucap Davi lembut.


"Kak Kia aja ngizinin, kamu terlalu takut aja kak," ucap Fanny.


Seketika tubuh Davi gemetaran, dia kembali teringat Likha, yang selalu mengatakan dia terlalu takut saat dirinya menyadari kesalahannya.


"Maafin mas Davi ya Fan, namanya masyarakat luas, kalau yang kenal mas Davi lihat kalian hanya berdua, pasti ada desas-desus yang merugikan kalian berdua. Aku siap nemenin kalian kemana aja kalian mau."


Davi tersenyum dan mencium tangan Kia. "Makin sayang sama kamu."


Fanny berusaha tersenyum walau saat ini bangunan hatinya seakan habis dilalap jago merah. "Oke aku setuju kita jalan bertiga, kalau bisa berempat sama em ...." Fanny berusaha mengingat nama anak Davi. "Aku lupa nama permata kalian."


"Rachel," ucap Kia.


"Yap, berempat sama Rachel juga seru."


"Aku setuju, kita atur jadwal aja," sambung Davi.


Obrolan kerjasama mereka berlanjut.


***


Selesai membahas pekerjaan bersama Davi dan Kia, Fanny menyeret sepasang kaki lelahnya menuju Apartemen yang disiapkan perusahaan untuknya. Saat pintu lift terbuka, Fanny berpapasan dengan wanita yang membuatnya penasaran. Wanita itu keluar dari lift sambil menyeret koper besar.


"Hei kamu Likha 'kan?" todong Fanny.


"Maaf, siapa ya?"


"Bukan siapa-siapa, akhirnya aku bisa melihat langsung lalat yang pernah mengganggu Davi." Fanny memandang sinis pada Likha, dan segera masuk kedalam lift.


Likha balas menatap sinis wanita asing itu. Apa dia salah satu orang dekat Kia?


***

__ADS_1


Setelah beberapa hari terlewat, akhirnya mereka memutuskan mengisi hari minggu mereka untuk jalan-jalan di pusat kota. Rachel merasa tidak nyaman karena ada orang baru yang terlalu dekat dengan Ayahnya. Walau Davi berusaha melepas pegangan tangan Fanny, namun wanita itu kembali memegang tangan Davi. Rachel menarik tangan Kia, merasakan tarikan itu Kia berhenti mengayunkan sepasang kakinya, di membungkuk agar sejajar dengan putrinya.


"Ada apa sayang?"


"Aku nggak suka sama tante itu!" Rachel menunjuk kearah Fanny yang berjalan di depan mereka.


"Dia itu sahabat Ayah, sejak kecil mereka bersama. Ayah menganggap Aunty Fanny itu adiknya, seperti Aunty Luna."


"No! Rachel nggak suka!"


"Aunty Fanny hanya sebentar di sini, Rachel bersikap baik ya sayang, nanti Ayah sedih loh."


"Rachel nggak terima dia ambil posisi bunda! Saat kita jalan-jalan Aku pegang tangan kiri Ayah, bunda peluk lengan kanan Ayah! Sekarang lihat!" Rachel mengisyarat pada Fanny dan Ayahnya yang berjalan semakin jauh dari mereka.


Kia bingung bagaimana mengatasi kemarahan Rachel. Rachel sosok yang pencemburu, dia tidak rela anak lain atau wanita lain mendapat perhatian Davi.


"Kalau begitu, Rachel ambil sana posisi Rachel, tapi yang sopan ya ...."


"Terus bunda sendiri?"


"Bunda mau lihat perjuangan Rachel."


Di sisi lain, ada sepasang mata yang nyaris melompat dari tempatnya melihat Davi berjalan dengan wanita lain. Bahkan mereka terus bergandengan tangan.


"Aku benar-benar merasa asing Kak, perubahan kota ini luar biasa."


"Kamu pergi sih nggak pulang-pulang!" ucap Davi.


"Gimana mau pulang, mama papa aja sering tengok aku kesana." Perhatian Fanny tertuju pada penjual kembang gula. "Kak temanin aku beli itu yukkk!"


"Oke boleh, pasti Rachel juga mau." Davi berbalik, namun anak dan istrinya tidak ada dibelakangnya. "Kamu duluan kesana Fan, aku mau telepon Kia dulu, sepertinya mereka mampir di salah satu stand." Davi meraih handphonenya berusaha menghubungi Kia.


"Oke Kak." Fanny berlari kecil menuju stand penjual gula kapas.


Davi masih fokus pada handphonenya.


"Ternyata kamu ada mainan baru."


Perkataan seseorang membuat jemari Davi terhenti dari menyentuh icon hijau berlogo telepon.


Davi tercengang melihat Likha mengenakan jaket hodie ukuran besar dan kacamata hitam. "Apa maksud kamu Likha?" Walau Likha menutupi kepalanya dengan bagian hodienya, Davi bisa mengenali sosok itu.


"Dia lebih cantik dari aku." Likha mengisyarat pada Fanny yang berdiri bersama pembeli gula kapas yang lain.


"Dia teman masa kecilku," sahut Davi.

__ADS_1


"Dia teman yang mencintaimu, sangat jelas cara dia menatapmu, seperti caraku menatapmu. Dia sangat cantik, tubuhnya juga sangat mirip barbie."


"Aku menyudahi kegilaan kita bukan perkara cantik, tapi aku ingin memperbaiki istana yang sengaja aku runtuh!" ucap Davi pelan.


"Kenapa blok semua kontak aku Kak?"


"Karena aku ingin segalanya tentang kita benar-benar berakhir."


"Aku ingin mengembalikan semua yang telah kau beri, sudah aku katakan dari dulu, aku tidak menginginkan apapun darimu. Saat bersikeras memperjuangkanmu, aku sudah siap lahir batin menerima mu apapun keadaanmu. Aku sangat tahu kau bukan apa-apa tanpa Kia."


"Tidak perlu dikembalikan, aku memberi semuanya untukmu, aku mohon pergi dari kehidupanku."


"Aku mohon ambil kembali, aku bukan pell4cur yang bisa kau bayar setelah menikmatiku setiap lekuk tubuhku, aku adalah pencinta gila yang terus memujamu walau tahu bagaimana keadaanmu."


"Aku sudah meminta padamu, tolong tinggalkan aku dan lupaka aku!" Davi berjalan kearah Fanny, dia sengaja meninggalkan Likha di sana.


Sedang dari arah lain, Kia berusaha mengenali sosok yang berbicara dengan Davi, namun suaminya malah meninggalkan sosok miaterius itu. Deringan handphone Kia membuyarkan fokusnya. Kia menerima panggilan dari Davi yang masuk.


"Iya mas?"


"Kamu di mana sayang?"


"Ada, lagi temenin Rachel beli sesuatu."


"Aku tunggu di stand penjual gula kapas ya sayang."


"Iya mas. Oh iya kami beli jus ini, mas mau nggak"


"Ice lemon aja sayang."


"Tanya Fanny dia mau apa, biar sekalian."


Terdengar Davi menawarkan minuman pada Fanny, dan Fanny menjawab dia menginginkan jus buah naga. Kia segera membeli yang diinginkan tamu-nya itu.


Setelah menutup sambungan teleponnya dengan Kia, Davi sengaja menununggu Kia di sisi jalan, agar Kia mudah menemukannya. Sedang Fanny masih bahagia memperlambat waktu, dengan mempersilakan pelanggan dibelakangnya untuk menyalipnya. Dia berharap Kia dan anaknya tertinggal jauh, atau melewati mereka karena tidak menemukan stand tujuan, karena penjual gula kapas tidak cuma satu orang. Dengan begitu butuh waktu untuk menyusul mereka.


"Caramu untuk menarik Davi sudah basi!"


Ucapan sosok aneh itu membuat Fanny penasaran. "Siapa kamu!?"


Perlahan sosok itu melepas masker dan kacamatanya. "Aku kira kamu itu pahlawannya Kia, ternyata kamu juga musuh dalam selimut!"


"Kau!" Fanny geram bertemu Likha saat momen bahagia karena bisa berdua dengan Davi.


"Mending lu cari cara lain, cara begini dah nggak mempan!" Likha kembali mengenakan kacamatanya dan maskernya, lalu menghilang diantara banyaknya lalu-lalang manusia.

__ADS_1


__ADS_2