Di Simpang Jalan

Di Simpang Jalan
Bab 56


__ADS_3

Kia sangat puas, walau lelah tapi semua cara Fanny untuk mempermalukan dirinya dan keluarganya gagal total. Kia terus mengayunkan langkahnya menuju mobil.


"Hei penipu!"


Teriakan itu membuat langkah Kia terhenti. Kala sepasang matanya mengenali sosok yang berteriak padanya, Kia menghempas kasar napasnya. "Mati aku!" gerutunya.


Sosok itu semakin mendekat, terlihat wajah tampannya itu begitu kesal pada Kia.


"Dasar penipu! Kau mengaku orang kantor, ternyata orang kantor tidak mengirim pengganti!" makinya.


"Aku memang membohongimu, tapi acaranya sukses bukan? Jadi kamu tidak dirugikan oleh kebohonganku."


"Iya memang acaranya sukses, tapi aku tidak terima kebohonganmu!"


"Maafkan aku, aku terpaksa berbohong demi misi menyelamatkan nama baik beberapa orang," sesal Kia.


"Maksudnya?"


Kia menceritakan garis besar rencana Fanny yang sengaja mengadakan pesta untuk mempermalukan menantu dan besan yang berulang tahun, namun Kia tidak menyebut kalau menantu yang berulang tahun adalah dirinya.


"Karena aku punya kelebihan bisa menilai orang sejak pertama bertemu, dan aku merasa kau memang orang baik, aku memaafkanmu."


"Terima kasih, aku benar-benar tidak berniat membohongimu, kedatanganku hanya ingin tahu bagaimana persiapan acara."


"Kali ini saja aku memaafkanku karena ku yakin kau orang baik."


"Aku bukan orang baik, hanya saja aku tidak bisa diam kalau aku mengetahui rencana buruk seseorang," ucap Kia.


"Rury." Laki-laki itu mengulurkan tangan sambil memperkenalkan nama.


Kia menyambut uluran tangan laki-laki itu, namun deringan handphone menyita perhatian Kia, karena deringan itu khusus dia tidak bisa mengabaikan panggilan itu. "Maaf aku harus menerima panggilan dulu." Kia melepaskan jabatan tangannya.


"Iya?" Kia berbicara ditelepon.


"Apa?! Siapa yang mengatakan itu?! Biar aku penggal kepalanya!" Kia sangat marah, dia melupakan Rury, dan berjalan cepat menuju mobilnya.


Mendengar Kia mengucapkan 'penggal kepala' Rury langsung meraba lehernya, rasanya bulu kuduknya berdiri seakan lehernya yang akan di penggal.

__ADS_1


"Apa kesaktianku hilang? Pertama kali melihatnya dia berbeda, tapi ...." Tubuh Rury bergidik membayangkan kata-kata wanita yang belum dia ketahui namanya.


Saat Kia perlahan meninggalkan area parkir Rury menghafal nomor polisi mobil Kia. "Semoga mobil itu miliknya, jadi aku bisa tahu namanya."


*


Setelah acara di hotel selesai, Luna mengantar Rachel ke rumah Kia. Diluar dugaannya ada kejutan yang menunggunya di depan pagar rumah Kia.


"Bukannya itu neneknya Nanda sama Nanda? Ayok ajak mereka masuk Aunty," pinta Rachel.


Luna malas berurusan dengan manusia busuk itu, tapi dia tidak ingin memberi contoh buruk pada Rachel. Luna menuruti permintaan Rachel dengan mengajak Eren dan Nanda masuk kedalam rumah Kia.


"Kia, ajak Nanda main sana di ruang bermain Rachel." Pandangan Luna tertuju pada bi Sarah. "Bi, buatkan minum untuk kami, juga buat Rachel dan temannya." pinta Luna.


"Baik Nona." Bi Sarah pun menghilang dari pandangan mereka.


Luna menatap sinis pada Eren. "Apa tujuan Tante kemari?! Ingat tante kita tidak memiliki hubungan lagi!" ucap Luna tegas.


"Siapa bilang? Malah ikatan kita akan semakin erat, karena cinta Davi dan Likha yang akan mengikat hubungan kita," ucap Eren.


"Jangan mimpi! Walau Kak Davi memilih Likha, tetap kita tak punya hubungan, karena Davi yang akan kami keluarkan dari keluarga ini!" ucap Luna berapi-api.


"Anak madu?" Luna tidak mengerti arah bicara Eren.


"Kamu itu anak istri muda papamu, tapi dia sudah meninggal saat melahirkanmu, lihat Fuza saja mampu menerima mu, karena cinta Fuza pada Herman sangat besar, begitu juga Kia, dia akan menerima Likha karena Kia sangat mencintai Davi."


"Nggak mungkin! Aku anak kandung papa dan mama!" Luna tidak terima dikatakan kalau dirinya anak dari istri kedua Ayahnya.


"Kalau tidak percaya, kamu telepon sana Kia, dia saat itu lumayan besar, sepertinya memahami keadaan itu."


Luna mengikuti saran Eren untuk bertanya pada Kia. Beruntung panggilan teleponnya langsung dijawab Kia.


"Iya." Sapaan dari ujung telepon.


"Kak, apa benar aku anak dari istri kedua papa?" tanya Luna. Luna tidak bisa menahan rasa sakitnya, hingga tangisnya pun didengar Kia.


"Apa?! Siapa yang mengatakan itu?! Biar aku penggal kepalanya!"

__ADS_1


"Tante Eren, saat ini dia di rumah Kakak."


"Apa lagi mau mereka, kalau Davi emang mau sama anaknya aku sedekahin itu orang!" omel Kia. Kia menambah kecepatan mobilnya agar sampai lebih cepat.


Sesampai di rumah, dia buru-buru masuk, dan dia melihat Eren duduk dengan nyaman di sofa tamu.


"Apa maksud tante mengatakan kalau Luna anak istri kedua papa kami!" maki Kia.


"Aku tidak bertujuan mengatakan itu, aku hanya memberi contoh, yang namanya cinta, dia akan mencintai apa yang dicintai suaminya, seperti Fuza, dia membesarkan Luna penuh cinta, karena Luna buah dari rasa cinta suaminya. Dan contoh nyata akan datang ya kamu, mau tidak mau kamu pasti menerima Likha sebagai madumu."


"Terima Likha sebagai madu?" Kia terkekeh. "Mending Anda pulang, terus tidur, MIMPI!" Tidak ada lagi Kia yang ramah, saat ini hanya ada Kia yang menumpahkan kemarahan.


"Kesalahan besar Tante hari ini, tante telah membuka kembali luka lama keluarga kami yang sudah kami kubur. Asal tante tau, istri kedua papa itu orang baik! Bukan spieces aneh seperti anak Tante, yang diberikan kasih sayang malah menikam!"


"Pernikahan papa dengan istri kedua juga suatu jebakan dari rekan bisnis papa bukan keinginan papa atau wanita itu, tidak seperti Likha yang memang menyusun rencana untuk menjebak!"


"Satu hal lagi!" Kia mengacungkan jari tengahnya pada Eren. "Anak yang dilahirnyan istri kedua papa meninggal saat umurnya baru 3 hari. Anda ketinggalan info tante, Luna anak kandung Nyonya Fuza dan Tuan Herman! Kalau Anda ingin bukti, silakan datang ke rumah kedua orang tua kami!"


"Masa bodoh dengan urusan keluarga kalian, aku mengatakan itu hanya sebagai contoh, kalau sudah ketiplek pasti akan menerima. Tapi kalau kamu bersikeras tidak mau menerima Likha. Terima reseko, kamu akan kalah karena Davi pasti memilih Likha," ucap Eren bangga.


"Justru aku sejak kemaren kalah, karena aku tidak bisa memperjuangakan keinginan hatiku, aku mengalah demi anakku! Jika saat ini Davi meminta bersama Likha, kali ini aku akan berjuang mengarungi lautan air mata Rachel karena menangisi Ayahnya."


"Anda kira aku merasa menang karena Davi memilihku? Anda salah besar! Aku malah merasa kalah. Sangat kalah! Kali ini, aku tidak akan mengalah lagi demi anak!"


"Ya sudah ... jangan nangis ya kalau Davi nanti memilih Likha."


"Saya harap Anda juga tidak menangis, karena menerima Davi hanya dengan selembar baju yang menempel di badan," balas Kia.


"Owh tidak masalah, kalau sama Likha Davi tidak butuh baju lagi." Eren semakin sombong, dia memanggil cucunya, dan segera pergi dari rumah Kia.


Kia tidak peduli lagi pada Eren, dia saat ini fokus menenangkan Luna.


"Aunty Luna kenapa bun?" tanya Rachel.


"Aunty capek, sayang." jawab Kia.


"Kita pulang ya, biar kamu percaya sama kata-kata Kakak." ucap Kia pada Luna.

__ADS_1


Malam itu juga mereka bertiga segera menuju kediaman kedua orang tua Kia.


__ADS_2