
Likha membiarkan Davi beristirahat di kamar, namun sejak laki-laki itu masuk ke kamar, dia hanya menatap layar handphone dan sesekali tersenyum sendiri. Likha merasakan perasaan tidak enak, tingkah Davi saat ini seperti seseorang yang dimabuk asmara, dan handpone pun tidak lepas dari tangannya.
Tidak cukup sampai di sana, saat makan Davi tetap asyik menatap layar handphonenya. Seketika Likha merasa insecure, wanita di dunia maya sangat cantik dan seksi, sedang dirinya saat ini sangat menyedihkan. Perut yang masih terlihat sedikit membuncit, kulit kusam dan wajah yang tidak terawat.
Apa karena keadaanku sekarang mas Davi lebih menyukai menatap orang lain daripada menatapku.
Davi sangat sadar kalau Likha memperhatikannya, dia malah sengaja semakin asyik dengan handphonenya, dia terus berkirim pesan dengan Fanny. Semakin sakit Likha, semakin puas dirinya.
"Mobil siapa yang ada di luar?" tanya Nanda.
"Mobil papa, malam ini mau jalan-jalan sama papa?" tawar Davi.
"Mau!" Nanda sangat semangat.
"Mau jalan kemana mas?" tanya Likha.
"Paling bawa Nanda main, kamu istirahat aja di rumah, kamu baru keguguran, kamu harus jaga diri pulihin kesehatan kamu, walau di rumah kamu juga jangan capek-capek." Davi sengaja berkata demikian, karena dia malas jalan-jalan bersama Likha.
Kalimat Davi terasa seperti mengkhawatirkan, namun juga terasa menyakitkan, jelas dari kalimat itu Davi tidak ingin membawanya. Likha menelan salivanya, rasanya tenggorokannya saat ini begitu sakit, dirinya tahu dia butuh istirahat untuk memulihkan diri. Namun dia juga ingin jalan-jalan, menggandeng lengan laki-laki yang dia cinta di tengah keramaian.
Kesadaran Likha belum sepenuhnya kembali, tiba-tiba Davi membawa Nanda pergi bersamanya, bahkan tidak mengucap kata pamit. Likha menatap sedih kearah punggung Davi yang menghilang dibalik pintu. Air mata pun kembali menganak sungai di pipinya.
"Mama sangat kecewa sama kamu, mama harap ucapanmu yang lebih milih makan nasi sama garam asal Davi tetap bersamamu hanya bualan." Eren membereskan piring makan mereka.
Likha tidak bisa merespon, jika dia jujur penderitaannya semakin bertambah karena makian Eren. Likha memilih untuk pergi ke kamar dan istirahat.
Davi membawa Nanda ke pusat perbelanjaan, bukan untuk belanja, tapi membawa anak itu bermain sepuasnya. Sedang Davi berdiri mengawasi Nanda. Tiba-tiba seorang ibu muda juga berdiri di sampingnya sambil menyemangati anaknya.
"Sendiri aja?" sapa Davi.
"Iya." Ibu muda itu terlihat dingin, namun mau merespon pertanyaan Davi.
"Suaminya mana?"
__ADS_1
"Udah cerai," ucap wanita itu.
"Kita senasib."
Wanita itu menatap penampilan Davi dari ujung kaki sampai ujung rambut, mengingat wajah Davi ada di koran beberapa hari lalu, dan statusnya otw duda, wajah wanita itu pun berubah.
"Mau ngopi bareng nggak nanti?" Davi semakin mendekati wanita itu.
"Boleh, nanti mas--" Wanita itu menahan ucapannya.
"Davi." Davi mengulurkan tangannya pada wanita cantik yang sudah memiliki anak itu. "Kamu?"
"Prilly." wanita itu menerima uluran tangan Davi.
Davi tidak melepaskan tangan wanita itu. "Seharusnya ini hanya berlaku pada anak remaja, tapi malah terjadi padaku. Kamu percaya cinta pada pandangan pertama?"
Wajah wanita itu bersemu merah. Dari kejauhan Nanda memandangi papa tirinya itu, seakan merekam semua apa yang ditangkap indra penglihatannya. Setelah puas bermain, Davi mengajak Nanda membeli mainan. Bukan hanya Nanda, tapi anak Prilly juga mendapatkan mainan.
Kedua anak itu mulai akrab dan memberanikan diri bermain bersama, sedang Davi duduk menikmati segelas kopi bersama Prilly sambil mengobral kata cinta. Cinta? Semua yang lepas dari lisannya hanya omong kosong, sedang cinta yang dia rasa hanya bisa dia kunci rapat di dalam hatinya.
"Filmnya seru banget om!"
"Nanti kita nonton lagi mau?" tawar Indra.
"Mau dong, apalagi jalan seperti ini aku merasa manusia tertinggi di sini." Saat ini Rachel duduk di bahu Indra, kedua kakinya dipegang erat oleh Indra, Rachel sendiri sangat asyik menikmati gula kapas.
"Makannya hati-hati kasian rambut om Indra lengket kena gula kapas kamu," tegur Kia.
"Kasian sama rambut, kasian sama hati aku kek yang selalu lengket padamu," gumam Indra.
Kia membeku, walau Indra berkata pelan, namun dia mendengar jelas semua perkataan Indra.
"Pantesan Ayah lupa bagi cintanya buat aku, ternyata Ayah suka bagi-bagi cinta, kemaren sama Nanda, sekarang malah tambahan ada lagi."
__ADS_1
Perkataan Rachel menyita perhatian Kia, Kia menoleh kearah Rachel memandang, dan dia melihat Davi duduk bersama wanita cantik, dari ekspresi wajahnya, Davi seperti anak ABG yang mengumbar cinta monyetnya.
"Makan yuk Ndra aku lapar." Kia menarik baju Indra ke arah lain.
Saat yang sama, Davi melihat Kia, Indra dan Rachel. Dari lubuk hatinya yang terdalam, dia menginginkan posisi Indra saat ini.
"Lihat apa mas?" tanya Prilly.
"Lagi lihat masa depan, di mana ada aku dan anak-anak kita berjalan bersama menjelajahi mall ini."
Davi tidak memikirkan bagaimana perasaan orang lain, Likha saja tidak pernah memikirkan perasaannya, dia terus memberi bualan cinta. Walau bukan pada orang yang sama, namun dia merasa lebih baik. Yang dia tahu saat ini, dia hanya ingin membahagiakan dirinya sendiri.
Entah berapa banyak rayuan dan omong kosong yang Davi ucapkan karena hari semakin malam, Davi dan Prilly berpisah. Davi menggandeng Nanda menuju mobilnya. Detik yang sama, Kia mucul dari balik mobil Davi.
"Ki-Ki-Kia?" Kia bukan siapa-siapanya, tapi tatapan Kia membuatnya seperti pencuri yang tertangkap basah.
"Aku tidak peduli bagaimana hidupmu setelah berpisah denganku, aku tidak peduli kau mau jadi apa, tapi ... jangan mempermainkan wanita! Apa kamu tahu hukum alam bisa berlaku pada anak perempuan dari seorang laki-laki yang tidak menghargai wanita?"
"Karena Rachel anakku, dan dia anakmu, ku harap kamu jaga prilaku kamu, aku tidak rela jika perbuatanmu itu berdampak buruk pada masa depan Rachel!"
Lidah Davi terasa diikat, dia tidak bisa mengucapkan satu kata pun.
"Jika kamu tidak bisa memikirkan bagaimana perasaan orang, maka letakan dirimu di posisi seorang Ayah yang anaknya dipermainkan laki-laki sepertimu." Kia menatap sinis pada Davi, dan berlalu begitu saja meninggalkan laki-laki itu dengan pemikirannya.
"Papa, papa." Nanda menguncang tangan Davi yang setia memegang tangannya.
Kesadaran Davi yang sempat menguap kini kembali, dia berusaha tersenyum pada Nanda. "Iya sayang."
"Aunty Kia bicara apa? Nanda nggak faham, Nanda pusing dengarnya."
"Aunty Kia cuma marahin papa, karena papa bawa Nanda kemaleman, terus Nanda nggak bawa jaket pula."
"Tapi kenapa sebut Kak Rachel juga?"
__ADS_1
"Kata Aunty, Rachel juga kangen papa." Davi menggendong anak tirinya itu dan segera masuk ke mobilnya.