Di Simpang Jalan

Di Simpang Jalan
Bab 68


__ADS_3

Bukan hanya menghapus panggilan Kia, Likha juga dengan sengaja merubah beberapa digit nomor Kia, menghapus riwayat chat lama Davi dan Kia. Likha tersenyum puas dan menaruh lagi handphone itu kedalam tasnya.


Di sisi lain, Kia menghempas kasar napasnya, dia memandang sayu pada Indra. "Ini yang aku malas jika menghubungi Davi, pasti aku dituduh mengganggu kebahagiaan mereka."


"Biarin Davi, kak Kia saja sana masuk sama kak Indra, kasian Rachel."


Kia setuju, dia dan Indra segera masuk kedalam ruangan. Sesampai di sana, terlihat Rachel dengan kepala diperban dan satu kaki yang juga dibungkus perban. Kia meringis melihat pemandangan itu. Salah satu tim medis mendekat dan menjelaskan keadaan Rachel.


"Silakan selesaikan proses lain, agar pasien secepatnya dipindahkan ke ruang perawatan."


"Kamu temani Rachel, aku urus itu," ucap Indra.


Beberapa saat kemudian urusan selesai, hanya menunggu kedatangan petugas yang bertugas untuk memindahkan Rachel. Indra kembali menyusul Kia. Saat yang sama Rachel meringis memanggil-manggil Ayahnya, padahal anak itu masih belum sadar sepenuhnya.


Mendengar hal ini Kia menangis, rasanya otaknya seketika beku jika anaknya sudah meringis menginginkan Davi. Melihat Kia tersedu seperti itu, entah dorongan darimana membuat Indra lancang menarik Kia kedalam pelukannya. Sedang Kia tidak peduli siapa yang memeluknya, saat ini dia butuh sandaran menumpahkan segala rasa sesak yang mengalir seiring tangisnya.


"Aku tahu bagaimana sakitnya posisi kamu, Misye juga pernah berada di posisi ini, Azriel sampai sakit karena merindukan Ayahnya." Tangan Indra mengusap lembut punggung Kia. " Rachel hanya butuh dukungan, dan kamu harus kuat."


Kia tidak mengerti, kenapa pelukan ini begitu nyaman. Apakah karena dia lama tidak merasakan pelukan selain dari keluarga? Namun kedatangan tim perawat membawa brangkar membuat pelukan hangat itu seketika terlepas. Keduanya segera mengikuti para perawat yang membawa Rachel menuju kamar perawatan.


Di depan UGD.


Luna dan Misye masih menunggu. Deringan handphone Misye menyita perhatian dua wanita cantik itu. Misye segera menerima panggilan yang masuk.


"Iya Kak Indra?"


"Kamu kan ada rapat sekolah, kamu kembali ke sekolah dulu dan temani Azriel, masalah Rachel biar aku yang urus. Oh iya, suruh Luna ke ruangan." Indra menyebutkan nomor ruang perawatan Rachel.


Setelah panggilan berakhir, Misye menyampaikan pesan Indra pada Luna. Setelah Misye pamit, Luna segera menuju ruang perawatan Rachel. Sesampai di sana, Luna tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dia duduk di salah satu sofa, sorot matanya yang redup terus tertuju kearah ranjang Rumah Sakit.


"Kamu sudah hubungi papa mama?" tanya Kia.


"Papa mama masih pertemuan, aku takut mereka ngebut kalau ku kabari, gimana kalau jam 2 siang nanti baru kabari?" usul Luna.


"Iya, aku juga takut kalau papa ngebut dengar kabar Rachel, apalagi tempatnya jauh."

__ADS_1


Waktu terus berjalan, jam menunjukan jam setengah dua siang. Luna baru saja mengabari kedua orang tuanya, detik itu juga Herman memarahinya karena baru menghubunginya.


Sedang Indra terus memandangi Kia, entah mengapa Kia terlihat berbeda. "Kamu baik-baik aja?"


"Aku tremor, aku lupa belum makan apa-apa dari pagi."


"Tunggu sebentar, aku akan belikan sesuatu untukmu." Indra berlari cepat meninggalkan ruangan.


Luna langsung mengambilkan air putih hangat untuk Kia dan meminta Kakaknya untuk minum. "Ngeyel sih, tadi pagi disuruh makan di rumah nggak mau."


"Ayah jahat ...."


Teriakan bercampur tangis itu membuat Kia melupakan dirinya, dia langsung berlari mendekati Rachel. Begitu juga Luna, dia langsung mengamankan selang Infus, Rachel tiba-tiba berteriak dan bangun langsung memeluk Kia.


"Sayang, kamu kenapa? Tenang sayang ada bunda di sini." Dengan hati-hati Kia mengangkat Rachel, dengan bantuan Luna saat ini Rachel duduk di pangkuan Kia, sedang wajahnya bersandar di bahu Kia.


"Bunda jangan tinggalin Rachel ...."


"Nggak akan sayang, bunda janji bunda akan selalu sama Rachel."


"Jangan ninggalin Rachel demi pekerjaan, jangan ninggalin Rachel seperti Ayah, Ayah jahat ...."


Ceklak!


Pintu terbuka, memperlihatkan sosok Indra yang datang membawa bungkusan di tangannya. "Rachel sudah sadar?" tanyanya.


"Iya, tapi bangun-bangun nangis terus kek gitu." sahut Luna.


"Luna, kamu yang peluk Rachel, biar Kia makan dulu," pinta Indra.


"Nggak mau ... aku hanya mau sama bunda ...." tangis Rachel semakin pecah.


"Bunda nggak kemana-mana sayang, bunda cuma mau makan, kasian bunda dari pagi belum makan apa-apa," bujuk Luna.


"Nggak mau ... bunda ... jangan lepasin Rachel ...." Rachel semakin mengencangkan pelukannya.

__ADS_1


"Nggak apa-apa Ndra, aku masih kuat. Taruh dulu aja makanannya," ucap Kia.


Pintu ruangan terbuka lagi, memperlihatkan sosok perawat cantik dengan senyuman ramah menghiasi wajahnya. "Luna, yang gantiin shif kamu ada urusan mendadak, kamu bisa masuk sekarang nggak?"


"Tapi ...." Luna memandangi Kia dan Rachel.


"Kamu kerja saja Luna, ada aku yang temani Kia." Indra meyakinkan.


"Rachel sayang, Aunty kerja dulu ya, baik-baik ya sayang." Luna mengusap pundak Rachel. "Kak aku pergi dulu."


"Iya Luna, kabari dokternya Rachel kalau Rachel sudah bangun."


"Nggak mau ... Rachel cuma mau bunda ...."


"Kabari aja dulu Lun, tapi minta waktu 30 menit lagi baru cek, karena anaknya cuma mau sama ibunya."


Luna terpaksa meninggalkan ruangan itu. Di sana kini hanya ada Kia dan Indra. Kia masih memeluk Rachel, beruntung posisinya saat ini duduk, andai berdiri pastinya dia sudah pingsan.


"Rachel, gendong sama om ya," bujuk Indra.


"NGGAK MAU!!" teriak Rachel.


"Sudah Ndra, dia cuma mau sama aku." Kia berusaha menangkan Rachel lagi, satu tangannya terus mengusap punggung Rachel.


Kia terlihat sangat lemah, namun Rachel tidak mau lepas darinya. Indra berjalan menuju meja di mana dia meletakan makanan yang dia beli. Indra mulai membukanya dan membawa mendekat pada Kia.


"Karena tanganmu sibuk, ya sudah begini saja. Rachel bisa tenang kamu juga ada tenaga setelahnya." Indra mengarahkan sendok yang berisi nasi dan sayur ke mulut Kia.


"Aaaa." Indra seperti menyuapi anak bayi yang tidak membuka mulutnya.


Kia menatap dalam wajah Indra yang sangat serius, entah perasaan apa ini, perbuatan Indra sangat kecil, namun rasanya gelombang tsunami menerjang tembok yang Kia bangun agar cinta Indra tidak masuk ke hatinya.


"Makan Kia." Indra semakin mendekatkan sendok itu.


Kesadaran Kia kembali, namun air matanya menetes bersamaan saat dia membuka mulutnya menerima suapan dari Indra.

__ADS_1


"Udah cukup, hal berharga ini jangan kamu keluarin lagi." Indra dengan santai mengusap air mata Kia.


Detik itu juga Kia merasa hatinya berdesir, dan membuat sekujur tubuhnya menghangat. Tanpa Kia sadari, saat ini Indra merasa tidak berpijak di bumi, dia tidak tahu darimana segala keberanian ini, menyuapi Kia, menyentuh air matanya, ingin rasanya Indra menganggap semua ini mimpi.


__ADS_2