Di Simpang Jalan

Di Simpang Jalan
Bab 57


__ADS_3

Supir pribadi yang biasa mengantar Rachel ke sekolah, malam ini dia mendapat tugas dadakan mengantar majikannya ke rumah orang tuanya. Sepanjang Jalan Kia memeluk Luna yang mendadak jadi pendiam. Kia tidak bisa banyak bicara dia sesekali mengusap punggung Luna.


Sesampai di kediaman kedua orang tua mereka. Mereka disambut hangat oleh Pak Herman dan Fuza.


"Rachel sayang, kita malam ini menginap di rumah oma ya," ucap Kia.


"Iya bunda, asal sama bunda aku mau."


"Kia, kamu temanin Rachel tidur sana. Biar mama sama papa yang ceritakan sama Luna," ucap Fuza.


"Iya mama." Kia dan Rachel berjalan menuju kamar yang Kia tempati saat belum menikah dulu.


Herman mengajak Luna dan Fuza ke ruangan kerjanya. Diatas meja terlihat beberapa map yang sudah Herman siapkan, itu bukti untuk memperkuat ceritanya nanti.


"Maafkan papa dan mama, Luna. Cerita cinta kami tidak semanis seperti cerita benci jadi cinta, cerita cinta yang banyak di usung dalam novel," ucap Herman.


Luna masih membisu.


"Papa tidak pernah mengkhianati mama. Papa dijebak satu ruangan dengan wanita hamil dan dipaksa menikahinya. Dalam keadaan terdesak, papa menikahi wanita itu tanpa sepengehatahuan mama kamu. Tapi wanita yang bernasib sial itu orang baik, dia menceritakan semua pada mama, dan mama mempercayai kami."


"Apa aku anak wanita itu?" tanya Luna lemah.


"Bukan, kamu anak kami sayang," sela Fuza.


Herman memberikan 1 map pada Luna. Saat Luna membuka map itu, dia melihat dua wanita hamil, dan satunya memang ibunya.


"Itu mamamu dan wanita itu, dia memang tinggal serumah sama kami, tapi papa tidak bisa menjadikannya istri. Kami pun bercerai diam-diam," terang Herman.


"Papa tidak bisa menerimanya sebagai istri, tapi kami bisa menerimanya sebagai saudara. Mama melahirkan kamu lebih dulu, dan papa sibuk temani mama, jadi kurang tahu jelas apa penyebab meninggalnya wanita baik itu, yang kami tahu dia mrninggal saat melahirkan anaknya, 3 hari setelah dia pergi bayinya juga menyusulnya." Herman memberikan bukti laporan kematian yang dia sebut dalam ceritanya.


"Kamu anak kami, Luna ...." ucap Fuza lirih.


"Aku insecure berada di tengah kalian, aku tidak sehebat kalian, sehingga aku merasa aku adalah anak pungut." Luna menangis dan memeluk kedua orang tuanya.


"Memangnya siapa kau? Bayi kembar yang berbagi tempat sejak dalam rahim, mendapan nutrisi dari placenta yang sama, lahir di waktu yang sama, mereka tidak tentu memiliki bakat dan kemampuan yang sama," ucap Herman.

__ADS_1


"Perbedaan yang membuat hidup kita indah. Kamu tidak bisa memaksa diri untuk seperti Kakamu, dan Kakakmu tidak akan sanggup untul jadi kamu. Kami sebagai orang tua hanya mendukung kalian semampu kami," ucap Fuza.


"Maafkan kebodohanku."


***


Di pesta ulang tahun Ingrid.


Sejak Fanny pamit padanya, Ingrid tidak melihat sosok Fanny. Dia berulang kali menghubungi Fanny, namun panggilannya tidak terhubung. Ingrid mendekati Davi yang terus memandangi layar handphonenya.


"Kamu lihat Fanny?" tanya Ingrid pada Davi.


"Tadi lihat, tapi beberapa menit yang lalu dia meninggalkan ruangan ini," jawab Davi.


"Apa anak ini pulang duluan?" Ingrid mengirimkan pesan untuk kesekian kalinya, entah berapa pesan yang sama dia kirim pada Fanny, rasanya Ingrid tidak tenang sebelum mengetahui keadaan Fanny. Saat Ingrid kembali menoleh pada Davi, putranya itu juga menghilang begitu saja.


"Kenapa pada ngilang tiba-tiba!" gerutu Ingrid.


****


Sosok yang dicari Davi mengetahui kalau Davi menyadari keberadaannya. Dia segera meninggalkan tempat itu secepat yang dia bisa. Beruntung saat berada di depan lift, tidak menunggu waktu lama pintu lift itu terbuka. Dia bergegas masuk dan buru-buru menutup pintu lift. Namun pintu lift belum tertutup sempurna, sebuah tangan menghalangi pintu, hingga pintu lift terbuka kembali.


Dengan wajah dinginnya, Davi menatap tajam sosok itu. "Bukankah sidah aku katakan! Jauhi aku!"


Sosok itu terus mundur, hingga tubuhnya menepel pada dinding lift. Davi masuk kedalam lift dan menutup pintunya, namun tidak menekan lantai tujuan, tapi mengunci lift itu.


"Kenapa kau lakukan ini padaku, Likha!?"


Likha masih menundukan wajahnya, hanya isak tangisnya yang terderngar.


"Jawab aku Likha!"


"Jawabannya kamu sudah tahu! Aku tidak bisa berhenti mencintaimu, menatapmu dari jauh dan memastikan kamu bahagia itu sudah cukup!" Likha kembali menunduk sambil mengusap air matanya.


"Kenapa kamu menyelamatkanku dari rencana Fanny?!"

__ADS_1


"Cukup aku yang menorehkan luka di hati Kak Kia. Cukup aku yang membuatmu menyesal karena mengkhianati Kak Kia," ucap Likha tersedu.


"Wanita yang terus bersama ibumu terlihat mencurigakan, aku merasa orang ini berbahaya bagi rumah tanggamu, dan dugaanku benar."


"Aku hanya tidak mau Kakak melukai hati Kak Kia lagi. Jika Kakak masuk perangkapnya, maka ini luka yang sangat besar untuk Kak Kia."


Melihat Likha terus terisak, Davi merasa iba, apalagi saat ini sangat jelas kalau Likha tengah berbadan 2. Davi menarik Likha kedalam pelukannya. "Kenapa kamu membiarkan kehamilanmu? Kamu sudah tahu kalau penanam benih ini tidak akan bertanggung jawab," ucap Davi lirih.


"Sejak aku tahu aku hamil, aku memang ingin mempertahankannya dan melahirkan dia ke dunia ini, dia adalah kenangan terindah dari orang yang aku cinta, walau dia sulit mendapat cinta dari orang-orang karena hadir tanpa ikatan pernikahan."


Davi semakin merasa bersalah. Berulang kali dia menarik napasnya begitu dalam dan melepasnya dengan satu hembusan. "Berapa bulan?"


"Sejak kepulangan kita dari luar negri, 2 minggu kemudian aku baru menyadari aku hamil, kandunganku memasuki bulan keenam."


"Aku tidak bisa membiarkanmu sendirian," ucap Davi.


"Selama ini aku sendiri tanpa Kakak, aku bisa dan aku yakin Kakak juga bisa!"


"Kita harus berbicara sama Kia," usul Davi.


"Untuk apa? Kakak ingin merebut bayiku untuk dibesarkan sama Kak Kia?!"


Davi menggelengkan kepalanya. "Berbicara dengan Kia, untuk memberimu sedikit tempat di istana kami."


"Kak Kia tidak akan mau, justru Kakak akan kehilangan Kak Kia!" Likha menghapus sisa air matanya. "Jangan sakitin kak Kia lagi Kak. Aku rela begini dan aku bahagia seperti ini. Seperti tujuan Kakak semula untuk melupakanku dan memperbaiki hubungan Kakak dengan Kak Kia."


"Biarkan aku dengan kehidupanku ini Kak. Aku janji tidak akan memanfaatkan anaku saat dia lahir nanti, Kakak lanjutkan hidup Kakak dengan Kak Kia."


"Aku memang tidak bisa berhenti mencintai Kak Davi melupakan Kak Davi juga mustahil. Tapi aku yakin, Kak Davi bisa lupain aku. Lupain aku ya kak ... fokus dengan kembahagiaan Kak Kia dan Rachel.


***


Bersambung


Maaf Banyak Typo belum bisa edit masih sibuk persiapan menyambut idul Adha, acara sebelum Id di real begitu banyak. Sampai jumpa di next bab, semoga updateku masih bisa lancar.

__ADS_1


__ADS_2