Di Simpang Jalan

Di Simpang Jalan
Bab 80


__ADS_3

Sesampai di kontrakan, Nanda ketiduran dalam mobil, Davi menggendong anak tirinya itu ke kamarnya. Dia merebahkan Nanda perlahan di kasur tipis itu.


"Kok Nanda di bawa ke sini mas?"


"Nggak apa-apa sesekali tidur sama kita, lagian kita nggak bisa ngapa-ngapain juga."


"Tapi--"


"Mau mau ganti baju dulu, terus tidur, udah ngantuk."


Tapi kan kita bisa bermesraan walau nggak bisa nanjak bersama, batin Likha.


Dirinya tidak mampu mengatakan kalimat itu. Tanggapan Davi seketika membuatnya menciut, entah di mana Davi yang begitu manja padanya. Davi kembali ke kamar betelanjang dada, dia hanya mengenakan celana pendek, membuat Likha berulang kali menelan salivanya.


Dirinya ingin sekali menyentuh tiap garis yang tercetak di perut dan dada suaminya itu. Namun kali ini hanya sekedar angan, suaminya berbaring di samping Nanda dan memejamkan kedua matanya.


Likha tidak bisa menempel pada Davi, ada Nanda diantara dia dan Davi. Likha terus menatap Davi yang mulai terlelap.


Apa kamu senga**ja membawa Nanda kesini agar aku tidak menempel padamu?


***


Libur sekolah sudah berjalan beberapa hari, Eren bisa sedikit lebih santai menjalani paginya, tidak panik lagi bersiap mengantar Nanda. Eren menuju dapur, senyumannya begitu merekah melihat lembaran uang yang ditindih piring kosong.


Dia tidak berteriak lagi, dia segera menyegarkan wajahnya dan berjalan cepat menuju warung yang menjual makanan yang dia inginkan.


di kamar sempit itu Likha terus memandangi Davi yang masih tertidur. Dia merindukan Davi yang menyambut paginya dengan senyuman, ciuman, dan pelukan kala dia membuka kedua matanya, tapi lagi-lagi dirinya harus kecewa dengan kenyataan di depan matanya.


"Mas ... bangun, udah siang." Likha mencoba membangunkan Davi.


"Aku masih ngantuk!" Davi berbalik dan lanjut tidur.


"Mas, bangun mas ... aku kangen banget ama kamu, lama loh kamu nggak masak buat aku." Likha masih berusaha.


Davi langsung bangun dengan memasang wajah kesal. "Apa kamu tidak bisa membiarkanku menikmati kenyamananku!? Selama ini kalian bangun siang, aku yang masak, aku yang beres-beres! Pernah aku ganggu tidurmu atau ibumu!? Aku udah capek kerja, masa kamu minta aku masak juga, uang yang aku beri sudah cukup buat kita makan! Aku cuma minta beri aku waktu untuk istirahat, masa kamu nggak bisa beri!"


Davi meraih baju yang dia kenakan tadi malam, meraih handphone dan kunci mobilnya, lalu pergi meninggalkan Likha.


"Mas!" Likha segera bangkit menyusul Davi.


Sedang Davi saat membuka pintu, dia berpapasan dengan Eren.


"Pakai dulu bajunya baru keluar," goda Eren.


Davi mendengus dan melewati Eren begitu saja. Dia langsung masuk ke mobil dan mengunci diri di sana. Melihat bagaimana kekesalan Davi, Eren menatap tajam pada Likha.


"Kamu apain si Davi sampe bete begitu pagi-pagi?" maki Eren pada Likha.

__ADS_1


"Aku bangunin dia ma, aku kangen masakan dia."


Eren berdecak, kesal dengan kelakuan Likha. "Suami kamu tuh capek kerja kantoran. Dia butuh istirahat dan ketenangan saat cuti, kamu minta dia masak? Dasar nggak ada otak!"


Eren menghempas bungkusan yang dia bawa. "Nih makan! Kamu mikir makan kan!? Lakimu sudah selipin uang belanja agar kamu tidak berkicau minta makan, agar dia bisa beristirahat tenang, masih saja ganggu suami!"


Likha semakin sedih, ibunya saat ini tidak mempedulikan perasaannya, yang ibunya pedulikan hanya uang pemberian Davi.


"Nenek bawa apa?" Nanda keluar kamar dengan mata kantuknya.


"Bubur Ayam kesukaan Nanda, mau nggak?"


"Mau Nek."


"Ayok mandi dulu, abis itu makan sama Nenek." Eren segera membawa Nanda menuju kamar mandi, dia tidak mempedulikan Likha yang semakin hari semakin cengeng, dikit-dikit nangis, Eren merasa mual melihat deraian air mata itu.


Saat Eren selesai memandikan Nanda, Likha masih tenggelam dalam lautan kesedihannya.


"Nangissss, kamu pikir kamu nangis begitu wajahmu cakep?! Jangankan Davi, mama aja eneg lihatnya! Udah nggak skin care-an, nangisan mulu! Makin jelek tu wajah, sumpah!"


Perkataan ibunya semakin membuat Likha terluka, dia segera masuk ke kamarnya.


"Bagosss! Nangis yang kuat sana!"


Nanda bingung melihat Neneknya terus mengomel, dan ibunya yang akhir-akhir ini sering menangis.


"Nenek kenapa sih marahin mama mulu."


"Kasian papa dijahatin mama, padahal papa baik. Tadi malam aja papa beliin mainan buat teman aku."


Dugggg!


Eren membeku, sendok yang berisi bubur pun mengawang di udara. Begitu juga di kamar, Likha sangat syok mendengar Davi membelikan mainan buat anak orang, seketika dia terbayang saat Davi membelikan Nanda mainan yang sama dengan mainan Rachel.


"Lagi nek buburnya, Nanda lapar."


Eren berusaha menggerakan tangannya kembali, kini hatinya tidak tenang. Di rumah anaknya mengacaukan mood Davi, sedang wanita di luar sana pandai menawarkan ketenangan dan kenyamanan. Ketakutan Eren semakin bertambah, karena saat ini Likha baru turun mesin, tidak bisa memuaskan Davi, sedang laki-laki bodoh seperti Davi hanya mengutamakan celah diantara dua paha wanita.


"Mamanya teman Nanda cantik nggak?" sela Likha.


"Mama teman Nanda yang mana?"


"Memang mama teman Nanda tadi malam yang sama papa ada berapa orang?"


"Emm dua, tante cantik dan Aunty Kia."


Nggak mungkin, Kia udah buang mas Davi, nggak mungkin dia mungut lagi barang yang dia buang. Sekujur tubuh Likha gemetaran membayangkan 2 wanita yang Nanda sebut.

__ADS_1


"Kalau tante cantik ngobrol lama sama papa, aku dan teman aku main, kalau sama Aunty Kia, Aunty Kia cuma marah-marah sama papa, terus papa jelasin Aunty Kia marah karena papa nakal."


"Cepetan kamu perbaiki penampilan kamu sebelum Davi kesengsem pelakor lain!" omel Eren.


"Mas Davi mana?" Likha seperti orang kesurupan mencari keberadaan Davi.


Sedang dalam mobil, Davi tengah melakukan video dengan Fanny. Davi terus menggoda Fanny yang menggodanya dengan melakukan panggilan video dalam keadaan polos.


"Bisa dipercepat nggak sayang? Aku udah di ujung ini." ringis Davi.


"Sabar sayang, baru juga sehari," ucap Fanny


"Rasanya setahun tau, nyesel aku menyelam sama kamu, kalau harus puasa selama ini."


Dung! Dung! Dung!


"Buka!" Likha berteriak sambil menggedor pintu mobil Davi.


"Ah si iblis jal4ng ganggu aja," gerutu Davi.


Mendengar kata-kata Davi Fanny tertawa mengakak.


"Sudahi dulu ya sayang, aku hadapin itu iblis yang kerasukan jin."


"Iya sayang. Semangat ya."


Davi menyimpan handphone khususnya, lalu membuka pintu mobil.


"Ada apa sih Likha, kamu kayak orang gila aja teriak-teriak sambil gedor-gedor mobil."


Likha tidak menjawab, dia menarik Davi keluar dari mobil, lalu dia masuk mobil Davi dan berusaha mencari sesuatu.


"Likha! Jangan gila kamu!" maki Davi.


"Mas yang buat aku gila! Mas pasti simpen sesuatu di sini!" Likha masih berusaha mencari sesuatu. Likha sangat ingat, untuk menutupi kebusukannya Davi menggunakan handphone khusus untu berkomunikasi dengannya dulu.


"Mama Eren! Tolong ma, Likha kerasukan!" teriak Davi.


Dalam hitungan detik Eren keluar dan menarik paksa Likha agar keluar dari mobil Davi.


"Yang anak mama aku apa Davi sih ma!" teriak Likha.


Keributan pagi itu seketika menarik perhatian warga sekitar. Eren sangat malu, dia menarik paksa Likha masuk kedalam rumah. Sedang Davi berusaha meminta maaf atas kekacauan yang ada.


"Mohon maaf ya Bapak-Bapak, ibu-ibu semua, sejak kehilangan anak kami, istri saja jadi rada gila. Davi menangkupkan kedua tangan di depan dadanya.


"Itu biasa mas Davi, semoga Mbak Lili kuat kembali."

__ADS_1


"Iya mas Davi, kami faham. Setelah mbak Lili pulih bikin lagi, biar kesedihannya berkurang."


Davi tersenyum dan menganggukan kepala menangapi saran-saran tetangganya. "Makasih atas dukungannya," ucap Davi.


__ADS_2