Di Simpang Jalan

Di Simpang Jalan
Bab 95


__ADS_3

Sesampai di kediaman orang tua Kia, dari depan komplek perumahan itu dijaga ketat oleh orang-orang berbadan tegap dengan setelan jas rapi. Sesekali mereka berbicara di alat kecil yang ada di bagian sisi saku jas mereka. Mobil taksi yang membawa Ingrid pun di stop oleh salah satu petugas keamanan.


"Selamat siang Pak, bisa tunjukan kartu, atau undangan?"


"Bu," panggil supir taksi pada Ingrid.


"Saya baru datang Pak, saya mau mengunjungi cucu saya."


"Mohon maaf ibu, sebaiknya ibu minta keluarga ibu menjemput ke sini, khusus hari ini yang lalu lalang masuk daerah ini hanya penghuni komplek dan tamu undangan."


"Ada acara apa ya? Kenapa penjagaan ketat sekali?" tanya Ingrid.


"Ada acara Akad Nikah Nyonya Kia dan Tuan Indra."


Ingrid mematung mendengar berita itu, sedih, sakit, kecewa, tapi bukankah ini dulu yang sering dia inginkan, agar Kia menikah dengan Indra dan meninggalkan Davi.


"Bagaimana bu?" tanya supir taksi.


"Lain kali saja Pak, sekarang antar saya kembali pulang."


Ingrid melamun sepanjang jalan, berlian itu telah dimiliki orang lain. Ingrid merasa hidupnya kini benar-benar hampa. Ingrid memejamkan kedua matanya, menyelami kesedihan yang tak bertepi yang menyelimuti hati dan pikirannya. Baginya ini sebuah karma karena menyia-nyiakan cinta yang tulus selama ini tertuju padanya.


Kia yang tidak bisa bermanis kata, apa yang dia katakan walau pahit, tapi cintanya murni, berbeda jauh dengan Fanny yang pandai menyenangkan hatinya, pandai menuturkan kata-kata manis, ternyata tidak ada cinta sama sekali dari wanita itu. Setibanya di kediamannya, Ingrid hanya mengurung diri di kamar.


Sedang di kediaman Herman. Walau acara hanya dihadiri keluarga besar Indra dan Kia, acara terasa begitu kental dengan kebahagiaan. Apalagi ibu Indra, memiliki menantu seperti Kia impiannya sejak lama, dulu pernah mengajak Fuza untuk menjodohkan Kia dan Indra, namun Fuza dan Herman memberi kebebasan untuk anak-anak mereka perihal jodoh. Ya walau mereka juga menyukai Indra, tapi mereka tidak ingin memaksakan kehendak, karena yang menjalani rumah tangga itu adalah anak-anak mereka sendiri.


Pernikahan ini, seperti doa-doa yang sering mereka panjatkan, dan baru saat ini Tuhan mengabulkan. Tidak bisa mengumpamakan perasaan keluarga besar, saat ini mereka sangat bahagia. Selesai acara akad yang begitu menegangkan, kini berpindah pada acara santai, di mana keluarga dan sahabat Kia bisa berfoto bersama.


"Kak, kapan resepsinya?" tanya Luna.

__ADS_1


"Nggak ada resepsi, aku malu." sahut Kia.


"Kasian Kak Indra, kan ini pernikahan dia yang pertama," protes Luna.


"Nggak pakai resepsi nggak apa-apa, bisa menikahi Kia saja aku sudah bahagia, ini adalah doa lama yang akhirnya terkabul."


"Kalian kompak banget, bikin malu aja orang kaya nikah kok Nggak resepsi!" protes Luna lagi.


"Kaya itu bukan untuk diperlihatkan Luna, tapi untuk dimanfaatkan untuk kebaikan dan memberi manfaat bagi banyak orang," sahut Kia.


"Antara pelit dan apa ini ya? Ah sudahlah, lebih baik aku pergi saja." Luna menghilang diantara keluarga yang lalu lalang.


"Kamu nggak apa-apa Ndra nggak resepsi?"


"Asal kamu bahagia aja, aku ikut semua apa yang kamu mau."


"Digandeng pengantennya di gandeng! Jangan malu-malu!" teriak Nabila dari kejauhan. Dia salah satu sosok yang sangat bahagia atas pernikahan Kia dan Indra.


"Eh Rury, kamu kan lebih tinggi dari aku, ambilin bunga pengantin itu buat aku ...." rengek Nabila.


"Maaf, kontrak taruhan kita sudah berakhir lama." Rury tetap berdiri pada tempatnya.


Nabila berdecak kesal, dia terpaksa ikut untuk merebut bunga itu. "Aku harus dapat! Sahabat aku sudah 2 kali nikah, lah aku masih jomblo ... Tuhan izinkan jodohku datang padaku," gumam Nabila pelan.


Satu!


Dua!


Tiga!

__ADS_1


Hitungan semua orang dipandu oleh pembawa acara, namun bunga tidak kunjung dilempar, Indra membawa lari bunga itu melewati banyak wanita. Melihat hal itu Nabila kegirangan, dia berpikir Indra memberikan bunga itu untuknya, tapi Indra malah berlalu darinya, dan langsung memberikan bunga itu pada Rury.


"Semoga berhasil!" ucap Indra.


"Rury tersenyum dan segera berlutut di depan Nabila.


"Eh Rury jangan bikin malu!" protes Nabila.


"Seminggu menjadi pelayanmu, membuat kedua mataku bisa melihat keistimewaan yang ada padamu dan selama ini tak pernah terlihat olehku. Nabila ... bersediakan kamu menjadi istriku?" Rury memberikan bunga yang Indra berikan itu pada Nabila.


Terima!


Terima!


Terima!


Ucap semua tamu serentak.


"Nggak bisa mikir dulu ya?" ucap Nabila.


"Nggak bisa! Buruan jawab, sebelum mode normal aku on, ntar aku berubah pikiran." Rury memberikan bunga itu pada Nabila, dia fokus mengambil cincin yang dia simpan di saku jasnya, tanpa menunggu jawaban Nabila dia memasang cincin itu pada jemari Nabila.


"Eh aku belum jawab!" protes Nabila.


"Kamu diam aja aku pasangin cincin, artinya jawabannya iya."


"Berantem yuk!" tantang Nabila, kesal dengan kelakuan Rury.


"Nanti aja kita berantem di kamar setelah halal KUA kita dapat."

__ADS_1


Suara sorakan tamu undangan membuat Nabila malu, seketika wajahnya memerah. Diluar dugaannya laki-laki menyebalkan itu malah melamarnya


__ADS_2