Di Simpang Jalan

Di Simpang Jalan
Bab 20


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Kia sibuk memutar otaknya, memikirkan bagaimana dia pura-pura baik-baik saja di depan Davi saat dirinya sudah mengetahui aib suaminya itu. Saat mobilnya memasuki pekarangan istana mereka Kia masih belum menemukan cara untuk berusaha tegar.


"Halo kesayangan Ayah ...." sambut Davi.


"Aku puas hari ini Ayah, aku sama bunda main pasir!"


"Ya sudah istirahat sana, besok Rachel masih harus sekolah."


"Siap Ayah." Rachel berjalan sambil melompat-lompat kecil memasuki rumah.


"Sayang, mas mau bicara."


Kia mengangguk dan segera mengikuti Davi. Mereka berdua duduk berhadapan di ruang tamu.


"Bulan depan nanti aku ada perjalan bisnis ke luar Negri, jadi aku butuh bantuan kamu bujuk Rachel ya."


"Tapi bulan itu acara ulang tahun Rachel mas, kita selalu ada buat dia saat ulang tahun dia."


"Ini bisnis sayang, makanya aku butuh bantuan kamu bujuk Rachel."


Segila ini kamu demi selingkuhan kamu mas? Batin Kia.


"Iya mas, akan aku usahakan," sahut Kia dingin.


"Makasih sayang."


"Ada lagi mas?"


"Nggak ada."


"Ya sudah, aku mau istirahat, aku capek."


Diam dan mengiyakan bukan berarti percaya, sesampai di kamarnya Kia menghubungi detektif kepercayaannya untuk mengikuti Davi keluar negri.


Mengetahui rahasia itu batin Kia hancur. Berusaha tegar dan pura-pura tidak tahu bukan hal mudah baginya.


Kia sengaja menyiapkan pesta ulang tahun Rachel lebih awal, agar suaminya ada bersama Rachel di hari bahagianya.


Mempersiapkan rencana pesta ulang tahun Rachel, Kia tidak sendiri. Ada Luna, Nabila, dan Indra yang membantunya.


"Tumben banget Kak Kia rayain ulang tahun Rachel. Biasanya cuma rayain bertiga, liburan entah kemana." komentar Luna.


"Pas tanggal ulang tahun Rachel mas Davi perjalanan bisnis keluar Negri, untuk liburan jadwal kerja aku sama mas Davi belum ada yang kosong. Aku tidak mau Rachel kecewa saat hari ulang tahun nanti karena orang tuanya tidak memberi kejutan dan Davi tidak di sisinya, ya aku adain lebih cepat."


"Ini tumben Kak Kia nggak panggil Likha, biasanya kak Kia selalu libatin dia."


"Aku libatin Likha untuk pekerjaan bukan butuh tenaga dia, cuma ingin bantu dia aja, dari tenaga yang dia beri aku kasih upah agar bisa membantu ekonomi dia. Sekarang dia sudah punya pekerjaan. Jadi aku undang Likha pas acara aja." kilah Kia.


Di sisi lain.


Davi selalu menghabiskan waktu di Apartemen Likha, bahkan pulang tengah malam menjadi kebiasaannya.


"Sayang ... kamu bilang Kia adain pesta ulang tahun Rachel di Restoran dia, tapi kenapa dia nggak panggil aku? Apa Kia mulai mengendus hubungan kita?"


"Aku juga bingung kenapa dia nggak panggil kamu, padahal aku ingin sekali kucing-kucingan sama kamu di sana, saat tahu kamu nggak di sana, aku nggak jadi mampir." Davi menarik Likha ke pangkuannya.


"Ini benar-benar aman kan?"


"Aman." Davi menenggelamkan wajahnya di salah satu puncak gunung bertekstur kenyal itu.


"Paspor aku gimana sayang? Apa sudah beres?"


Davi melepas kesenangannya. "Sudah dong, aku sangat tidak sabar berkeliling tempat umum saat di luar Negri nanti bersamamu. Di sini kita tidak bisa bebas bergandeng tangan bersama di tempat umum, di sana kita bebas melakukan apa saja."

__ADS_1


"Ini pertama kali aku keluar Negri sayang."


"Aku akan memberi kesan indah yang tidak bisa kamu lupakan di sana." Davi kembali mendalami kegiatannya.


***


Hari yang Kia persiapkan dengan segenap kemampuannya kini tiba. Restoran didekor sedemikian rupa, banyak balon dan beberapa permainan di sana. ruangan itu terlihat begitu indah dan meriah, di penuhi tawa anak-anak yang sekelas dengan Rachel.


Rachel berdandan layaknya seorang putri. Bersama kedua orang tuanya dia berdiri di depan kue ulang tahun yang bertuliskan namanya.


Suara riuh diiringi tepuk tangan yang menggemuruh terdengar kala Rachel meniup lilin ulang tahunnya. Kue pertama Rachel berikan pada Davi kemudian pada Kia.


"Rachel, apa permohonan kamu?" tanya Luna.


"Aku hanya ingin Ayah dan Bunda selalu ada bersamaku. Mereka berdua kebahagiaan aku. Ada mereka berdua bersamaku itu sudah cukup!" Rachel memeluk kedua orang tuanya.


Kia tidak bisa merespon ucapan Rachel, dia membalas pelukan putrinya dan mencium pipi putrinya begitu gemas.


"Syelamat ulang tahun kak Yacel ...." seorang anak kecil mendekat kearah Rachel, memberikan hadiah yang dia bawa pada Rachel.


"Terima kasih Nanda." Rachel menerima hadiah dari Nanda.


"Acara sudah selesai kan? Ayo biarkan anak-anak berbahagia," ucap Kia.


"Ayok Likha kita duduk di sana," ajak Luna.


Likha merasa tidak nyaman, karena Kia tidak seramah sebelumnya, wanita itu terlihat sangat cuek, bahkan seakan tidak melihat dirinya. Mereka semua duduk mengelilingi 1 meja yang sama.


"Aku tertawa mendengar harapan Rachel," ucap Indra.


"Kenapa Kak?" tanya Luna.


"Wanita di luar sana tidak ada yang secantik Kia, ya aku yakin tidak ada pelakor yang bisa mengganggu rumah Tangga Kia, karena Kia wanita tercantik di kota ini," ucap Indra.


Daebakkkkk!


Rasanya sebuah batu besar menghantam paru-paru Likha, walau Kia tidak menuju dirinya, tapi ginjalnya terasa ditendang begitu keras.


"Aku sendiri tidak mau mengikat mas Davi, jika dia ingin menikah lagi, dan jujur padaku aku akan pertimbangkan asal pilihannya wanita baik-baik," ucap Kia.


"Ha ha ha!" Davi tertawa renyah, entah mengapa hatinya senang mendengar kalimat Kia.


"Gila kamu Kia, kamu tuh tidak pantas dipoligami, kamu cuma pantas jadi ratu disebuah istana!" protes Nabila.


"Lah apa salahnya jika wanita baik-baik ingin membantuku membahagiakan Mas Davi?" ucap Kia.


"Masalahnya mana ada perempuan baik-baik yang menggoda suami orang? Sebelum suami orang nyaman sama dia tentu keduanya punya hubungan bukan?" sambung Kia.


Kebahagiaan Davi sebelumnya merasa bahagia karena dapat lampu hijau untuk beristri dua seketinya lenyap.


Kia narik napasnya dalam. "Contoh, misal tiba-tiba mas Davi minta izin untuk menikah lagi, terus menunjuk Likha untuk menjadi istri keduanya, nggak mungkin kan kalau sebelumnya mereka nggak punya hubungan, nggak akan ada api kalau nggak ada asap kan? Apa mungkin tiba-tiba nunjuk hanya karena kasian atau apalah, memangnya perempuan yang mengalami kesulitan cuma Likha?"


Davi dan Likha seketika kikuk. Keduanya tanpa sengaja bersamaan mengambil air putih dan meminumnya.


"Mas Davi, Likha ... kalian berdua kenapa?" tanya Kia.


"Ah? Kenapa apanya?" Likha berusaha tenang.


"Enggak kalian itu aneh aja minum aja sampai kompakan, aku nggak nuduh loh, aku bilang contoh ...."


"Kia bilang contoh, tapi mereka kayak kebakaran jenggot," sindir Nabila.


"Ya aku benar kan?" ucap Kia.

__ADS_1


"Bener banget sayang, kalau Davi menunjuk seseorang, tentunya mereka sudah punya hubungan dibelakang kamu. Berbeda misal kamu yang menunjuk. Kan ada poligami yang diinginkan istri pertama dan istrinya itu sendiri yang menunjuk perempuan itu untuk jadi madunya," jelas Nabila.


Kia menyandarkan tubuhnya pada Davi, dan memeluk suaminya. "Tenang sayang, aku nggak nuduh kok, aku percaya kamu tidak akan khianatin aku."


Davi berusaha tersenyum dan mendaratkan ciumannya diantara kedia alis Kia. Walau saat ini rasanya jantungnya seperti ditarik paksa.


Melihat keadaan ini Likha sangat gusar. Sial! Dengan Kia seperti ini, bisa-bisa mas Davi mengakhiri hubungan kami! Batinnya.


"Sudah-sudah ganti topik, aku takut nikah rasanya kalau bahasan kek gini," protes Luna.


Acara terus berjalan, mereka sibuk dengan kebahagiaan mereka masing-masing. Saat semua orang lengah, Davi meminta Likha menyusulnya di tempat sepi di Restoran itu.


"Sayang, ngapain minta aku ke sini? Minta jatah mah cukup di Apartemen aja," protes Likha.


"Aku tidak kuat lagi dengan hubungan terlarang kita, Kia begitu percaya padaku, aku merasa sakit karena menyalahi kepercayaan itu."


"Itu biasa, karena kamu cinta dia. Bukannya sejak awal kamu selalu merasa begini? Lihat sampai sekarang semua baik-baik saja." Likha menciumi wajah Davi. "Kamu hanya terlalu takut sayang, Kia tidak akan sakit selama kita berdua pandai menyembunyikannya."


"Aku takut kehilangan Kia."


"Aku takut kehilangan kamu sayang." Likha semakin mengganas memancing hasratt Davi.


Davi terpancing karena kegiatan Likha, dia menyudutkan Likha di sisi tembok. Suara kecapan pun memecah kesunyian.


"Cukup kita seperti ini sayang ...." rintihh Likha.


"Kamu tuh selalu terlihat cantik, bikin aku susah nahan diri tau nggak," keluh Davi.


"Sudah sayang, cukup ... Kita ada tempat aman dan nyaman, jangan di sini sayang ....."


Davi tidak peduli, dia tetap melakukan yang dia mau di sudut gelap itu. Selesai berpetualang Davi meninggalkan tempat itu lebih dulu.


Likha membenarkan pakaiannya yang acak karena dijajah Davi. Dia tersenyum membayangkan kegilaan mereka. "Davi ... Davi! Penyelasanmu itu anget-anget T41 ayam! Kadang nyesal tapi tetep tenggelam."


Merasa penampilannya rapih, Likha segera meninggalkan sudut gelap yang menjadi saksi perbuatan terlarangnya dengan Davi.


Nabila bingung melihat Davi keluar dari ruang penyimpanan barang, belum terjawab rasa penasaran Nabila, sepasang matanya melihat Likha juga keluar dari pintu yang sama. Amarah Nabila berkobar, dia langsung mencegat Likha dan menariknya ke sudut ruangan.


"Kak Nabila ada apa ya?"


"Kamu yang ada apa dengan Davi?!"


"Aku dan Kak Davi? Emang ada apa?" Likha memasang raut wajah polos.


"Di kota ini, hanya Kia yang memberimu tempat, hanya Kia yang memberimu cinta, cinta sebagai teman, cinta sebagai saudara. Jika kamu berani mengusik kebahagiaan Kia, kamu sendiri yang rugi!"


"Kak Nabila bicara apa sih? Nggak jelas ih ...."


"Jika Kia kehilangan Davi karenamu, dia tidak rugi. Tapi yang rugi kamu dan Davi! Karena kehilangan wanita yang tulus memberi cinta!"


Drtttt!


Getaran handphone menyita perhatian Nabila, dia menerima panggilan yang ada.


"Iya Kia?"


"Kamu di mana Bila? Ini ada yang nyari."


"Oke aku segera ke sana." Nabila menyimpan handponenya lagi.


"Ingat, yang rugi bukan Kia!" Nabila pergi begitu saja meninggalkan Likha.


"Bodo amat siapa yang rugi, yang penting mimpiku tercapai!" Likha menatap sinis punggung Nabila yang semakin jauh dari pandangan matanya.

__ADS_1


__ADS_2