
Setiap hari berlalu begitu saja, rasanya hari lebih singkat dari hari kemaren. Seminggu begitu cepat berlalu, semuanya berjalan begitu saja, padahal dari zaman dulu waktu dalam sehari sama saja 24 jam. Tapi semakin maju zaman, waktu seakan berputar semakin cepat.
"Bunda, hari ini kan ulang tahun Nenek di Hotel teman Ayah dihadiri anak panti, aku boleh main sama mereka?"
"Boleh sayang, tapi jangan terlalu capek ya, nanti malam kita harus hadir di pesta yang nenek adakan."
Keceriaan di wajah Rachel seketika lenyap. "Aku lebih suka sama oma, opa, dan Aunty Luna. Kalau di sana Rachel bosan ...." rengeknya.
"Bagaimana kalau Rachel rayain ulang tahun Nenek di tempatnya yang ada Aunty sama oma dan opa?" usul Davi.
"Kalau Rachel di sana, keluarga kita nggak lengkap dong ...." keluh Kia.
"Acara yang ibu adakan tidak cocok untuk anak kecil, lebih baik Rachel sama Papa, mama, dan Luna. Apalagi di sana banyak teman-teman seusia dia," jelas Davi.
"Ayah terhebat!!!" Rachel sangat bahagia Davi mengerti keinginannya.
"Ya sudah, aku mau antar Rachel ke hotel. Mas masih perlu sesuatu?"
"Langsung antar Rachel saja, mas juga paling mau ke kantor sebentar."
"Jangan lama, langsung ketempat acara ya nanti," pinta Kia.
"Iya, nanti mas langsung ketempat acara."
Kia dan Rachel bersiap untuk bertemu dengan Luna dan anggota keluarga lain. Rachel terlihat begitu riang, menjadi anak tunggal dalam istana ini membuatnya sangat merindukan pertemanan. Waktu bermain di sekolah masih kurang cukup baginya. Beruntung keluarga Fuza sering mengadakan acara bersama anak-anak panti. Saat acara seperti ini Rachel.seperti mendapatkan teman baru.
"Bunda, hadiah buat nenek sudah dibawa?" tanya Rachel.
"Sudah dong sayang." Kia bersiap melajukan mobilnya, namun melihat Davi berlari kearah mobilnya membuat Kia mematikan kembali mesin mobilnya.
"Ada apa mas?"
"Nanti kamu bantu cek persiapan di acara ibu ya, takutnya ada kekurangan. Ibu mana pernah urus party, apalagi sekarang saat ku tanya siapa yang bantu jawaban ibu ada deh terus."
"Iya mas, sesudah dari hotel teman mas, aku segera cek persiapan party ibu."
"Kamu terbaik!" Davi mencium pucuk kepala Kia.
"Ih kok anaknya nggak dicium?" protes Rachel.
__ADS_1
"Kan yang mudah dicium bunda, karena dekat. Kalau Rachel jauh."
"Ini aku medekat." Rachel berusaha mendekati Davi walau membuat Kia terpojok di sandaran kursi.
"Ini anak ya bener-bener!" gerutu Kia.
Setelah drama singkat Rachel, Kia bergegas menuju hotel di mana Luna berada. Sesampai di hotel itu, suasana begitu menyenangkan. Teriakan dan tawa anak-anak Panti seakan menggema dari arah kolam renang. Kia terpukau dengan pemandangan itu, hany kolam renang bukan suatu hal mewah bagi Kia, tapi anak-anak di sana sangat bahagia seperti memenangkan sebuah tender besar.
"Nah kan asyik di sini, nggak salah Rachel pengen di sini," gumamnya.
"Hai cucu kesayangan opa," sambut Pak Herman.
"Hai juga opa." Rachel langsung menyalami Kakek, nenek, dan tantenya.
"Rachel, gimana kalau Rachel sampai malam di sini? Aunty sudah beliin baju renang sama baju princes buat Rachel." Luna memperlihatkan kedua barang itu, yang memang dia siapkan untuk menyogok Rachel agar anak itu mau tinggal bersamanya.
"Wah baju renangnya lucu, baju princesnya juga keren! Aunty terbaik!" ucap Rachel semangat.
"Mau ya senang-senang sama Aunty di sini ...." rayu Luna.
"Ya mau lah, udah dapat izin dari Ayah bunda juga kalau Rachel mau sama kalian."
"Aku ke sini memang antar Rachel, karena dia merengek mau sama kalian aja," terang Kia.
"Kalau tau begini aku nggak perlu rugi banyak beli sogokan," keluh Luna.
"Sini baju renangnya, aku mau pakai yang baru dari Aunty saja buat ikut berenang bersama mereka." Rachel mengambil baju renang dan berlari menuju ruang ganti.
Kia mengamati keadaan sekitar, semua terlihat sempurna, makanan dan bermacam cemilan tertata rapi di meja, bahkan beberapa anak asyik menikmati makanan yang tersaji.
"Selamat pagi semua, apa kami terlambat?"
Kia berbalik, seketika senyumnya merekah melihat tiga orang yang datang. "Kalian?" Dia sangat bahagia melihat Dharma datang bersama dua sahabatnya.
Entah mengapa Nabila dan Indra seperti memiliki ikatan batin dengannya. Diminta atau tak diminta mereka tiba-tiba ada di tempat di mana Kia merasa butuh bantuan.
"Hai om pagi," sapa Indra.
"Pagi juga Indra, ayok kita ngopi atau ngeteh," ajak Pak Herman.
__ADS_1
Kia tidak mampu menyambut mereka dengan kalimat, dia langsung memeluk Nabila. Nabila tersenyum dan mengusap bahu Kia, sangat memahami bagaimana perasaan Kia saat ini. Satu sisi tawa ceria anak panti mewarnai pagi ini. Satu sisi tawa para orang dewasa juga terdengar.
"Aku kemaren cuma minta tolong Dharma buat bantuin Luna di sini, eh kalian juga ada aku seneng banget loh!" ucap Kia.
"Ya kami mana tega memanjakan diri sendiri saat libur, sedang sahabat kami tersiksa dengan 2 acara di tempat yang berbeda," sambar Nabila.
"Tapi aku sedih, karena harus pergi, tadi Mas Davi minta tolong sama aku, buat cek persiapan di sana."
"Mending Kakak langsung cek di sana deh, walau acara di sana diadain oleh Nyonya Ingrid!" Luna begitu sinis menyebut nama ibu Davi. "Soalnya kalau ada kegagalan, entah kesalahan siapa itu, yang disalahin ya Kak Kia!"
"Luna bener Ki, mertua kamu itu hedehhh ... ingin rasanya aku berkata kasar, tapi tidak sesuai dengan jiwa lemah lembutku ini," ucap Nabila.
"Kamu percaya Dharma, kalau Nabila lemah lembut?" sindir Indra.
"Sekarang aman kan saya jujur, dulu saya takut, soalnya masih satu kantor," ucap Dharma.
"Kamu dalam jamiananku Dharma, bully aja Nabila, aku ikhlas." sambar Indra.
"Mana ada Nona Nabila lemah lembut, satpam kantor yang sangar aja takut sama Nona Nabila!" ucap Dharma.
"Heleh, puas kalian bully aku." Nabila merengut, namun perhatiannya selalu tertuju kearah kolam, memantau anak-anak yang asyik bermain di sana. Dia tersentuh dengan keceriaan anak-anak itu.
"Oh iya Kak Kia, aku sudah telepon pihak hotel tempat acara Nyonya Ingrid, aku minta mereka sedia in layar besar di ruangan yang dipakai Nyonya Ingrid party, nah saat acara inti di sini dimulai, kita terhubung dengan panggilan video," ucap Luna.
"Ya ampun, adik aku pinter banget sekarang ...." puji Kia.
"Tapi itu bukan ide aku Kak, tapi ide dia." Luna menunjuk kearah Dharma.
"Makasih ya Dharma, kamu terbaik!" Kia melirik layar handphonenya, matanya fokus pada jam yang menunjukan waktu saat ini. "Sudah makin siang nih, aku pergi dulu ya, makasih banyak dukungan dan bantuan kalian semua," ucap Kia.
"Iya sayang, fokus di sana dan jaga kesehatan ya sayang," ucap Fuza.
"Iya mama, titip Rachel ya."
"Iya, akan kami jaga sepenuh hati, kami rawat dan perhatikan seperti anak kami sendiri." ucap Luna.
"Ih malika kali ah!" protes Kia.
"Aku pergi, bye semua." Kia melambaikan tangannya pada semua orang.
__ADS_1
"Jangan sering-sering begini ya Kak, bikin kere soalnya!" ledek Luna.