Di Simpang Jalan

Di Simpang Jalan
Bab 36 Pelakor Gagal


__ADS_3

Kia tenggelam dalam pemikirannya, dia membenarkan kata-kata Ingrid. Perselingkuhan ini juga karena kesalahannya.


"Bukan hanya demi kebahagiaan Rachel, tapi sebagai penebus rasa bersalahku karena membiarkan Likha mendekati Davi, aku setuju memberi maaf dan kesempatan untuk Davi."


Ucapan Kia sontak menarik perhatian Ayahnya. "Kamu yakin?"


"Aku yang salah Pah, aku sangat jahat jika tidak memberi jembatan di atas parit dalam yang tak sengaja aku gali." Kia menatap sendu kedua orang tuanya berharap mereka memahami keputusannya.


"Kamu yakin memberi kesempatan pada dia?!" Pak Herman menunjuk pada Davi "Perlu kamu ingat tidak akan cukup waktu yang ada untuk menyembuhkan rasa sakitmu!"


"Percaya pada Kia Pah, dia pasti sudah mempersiapkan hati dan mentalnya untuk keputusan ini," sela Fuza.


Ingrid juga merasa keberatan dengan keputusan Davi, mulanya dia bahagia akhirnya istana itu runtuh dengan sendirinya, rasa kecewanya makin besar karena Davi berjanji diatas kertas memberikan seluruh harta pada Kia jika terbukti dirinya selingkuh lagi. Tapi, dia tidak berani membuka mulutnya.


Kia meminta adiknya untuk menyiapkan surat perjanjian Davi, setelah surat Luna antarkan, Davi membaca isi surat perjanjian itu, dan menanda tanganinya. Kemudian ditanda tangani Pak Herman dan Pak Yudi sebagai saksi.


Davi meminta Kia mendekat padanya, dia memegang kedua tangan Kia begitu erat. "Terima kasih atas kesempatan kedua yang kamu berikan padaku." Davi menciumi kedua tangan itu.


"Aku tidak bisa berhenti memikiirkan ucapan ibu, kesalahanmu tidak semuanya karena kebodohanmu, tapi karena kebodohanku. Sekuat apapun kamu menjaga mata dan hati, tapi aku tidak membantumu menjaga mata dan hatimu, bagaimana kamu bisa kuat?"


Pak Herman dan Luna kesal, namun keputusan Likha tidak bisa mereka ganggu.


***


Keesokan harinya.


Rachel terlihat begitu bahagia, dia berjalan sambil melompat-lompat kecil menuju mobil Luna yang menunggunya di parkiran.


"Hai Rachel, kayaknya Rachel bajagia banget."


Sapaan itu menarik perhatian Rachel, dia berhenti melompat dan menoleh kearah suara itu. "Eh, hai Aunty Likha. Lama kita nggak ketemu."


"Kan jadwal pulang Rachel sama Nanda beda, makanya jarang kita ketemu. Rachel senang banget kan Aunty jadi kepo," ucap Likha.


"Ayah sudah sembuh, makanya aku senang banget!"


"Lho, memangnya Ayah Rachel kenapa?" tanya Likha.


Ntin! Ntin!


Klakson mobil itu menarik perhatian Rachel. "Sudah dulu ya Aunty Likha, kasian Aunty Luna nungguin aku." Rachel langsung berlari kearah mobil Luna.


Likha mematung mengetahui pengemudi mobil itu ternyata Luna. "Kenapa Luna nggak sapa aku ya?" Saat Likha menoleh kearah mobil itu, terlihat mobil yang ditumpangi Rachel mulai meninggalkan area parkir.


"Luna!" Likha berusaha menghentikan mobil itu, namun percuma, mobil yang dikemudikan Luna terus melaju.


"Aneh, tidak seperti biasa Luna nggak mau sapa aku."

__ADS_1


"Mama!"


Panggilan itu membuat Likha menyudahi pemikiranya tentang Luna, dia segera menghampiri putrinya.


"Bagaimana sayang sekolahnya?"


"Seperti biasa mama, mama boleh mampir jajan minimarket?"


"Boleh dong, kan anak mama sudah hebat karena rajin sekolah." Likha segera menggandeng anaknya menuju mobilnya, dan perlahan melajukan mobilnya menuju minimarket.


Luna dan Rachel sudah selesai membeli beberapa jajanan Rachel untuk bekal di Rumah Sakit nanti. Anak cantik itu sudah duduk manis di dalam mobil menunggu tantenya memasukan belanjaan mereka. Sedang di bagian belakang mobil, Luna terlihat kesal karena melupakan pesanan Kia.


Luna segera berjalan kedepan mendekati Rachel. "Sayang, kamu tunggu di mobil ya, Aunty lupa pesanan bundanya Rachel."


"Iya Aunty."


Luna terpaksa masuk lagi ke supermarket. Dia segera berjalan menuju bagian buah, dan memilih buah segar yang Kia pesan.


"Hai Luna, kita lama nggak ketemu."


Luna menoleh kearah suara tersebut seketika moodnya langsung memburuk. Dia melepas buah pilihannya dan segera pergi dari tempat itu.


"Luna!" panggil Likha.


Namun Luna terus mempercepat langkahnya.


Likha tidak menyerah, dia berusaha mengejar Luna. "Kok cepet banget jalannya, kamu buru-buru ya? Saat di sekolah tadi aku panggil-panggil kamu juga nggak nyahut."


Likha senang karena Luna berhenti. "Nah gitu dong, kita bisa lepas kangen du--"


Plakkk!


Bukan sambutan hangat seorang sahabat, atau ungkapan rindu, namun Luna malah menyambutnya dengan salam 5 jari.


Likha masih tidak mengerti, mengapa Luna malah tiba-tiba menamparnya. Likha masih membisu sambil memegang pipinya yang terasa panas.


"Berhenti dekatin aku!" Luna mengacungkan jari telunjuknya sebagai peringatannya. "Apa sih salah aku atau Kakakku ke kamu?! Kenapa kamu tega lakuin ini pada kami!" bentak Luna.


"Luna ...."


"Stop pura-pura polos! Kami semua sudah lama tahu borok kamu! Species kayak kamu tuh tidak pantas ada di bumi ini!" Luna kembali melanjutkan langkahnya.


Namun baru beberapa langkah, dia berhenti dan berbalik kembali. "Kita tidak punya ikatan apapun lagi! Rasa sakit yang kau beri pada Kakakku itu adalah penghancur segalanya!"


Likha kini mengerti mengapa Davi menyudahi hubungan terlarang mereka, ternyata karena Kia sudah mengetahui semuanya.


"Wah ada pelakor gagal!" seru salah satu pengunjung super market.

__ADS_1


"Ya gagal lah bu, yang digoda istrinya selevel bidadari, selain good looking, good rekening pula. Lah pelakornya?"


"Ilmunya belum cukup guys, kayaknya harus belajar dulu sama emaknya," ledek pengunjung lain.


Likha merasa tidak punya wajah berlama-lama di sini, dia segera menuju tempat sebelumnya di mana dia meninggalkan putrinya.


Walau Davi berjanji berubah, dan Kakaknya memaafkan Davi, entah mengapa kemarahan seketika berkobar jika melihat Likha. Bahkan Luna melupakan pesanan Kakaknya karena emosi melihat Likha.


"Buah pesanan bunda mana Aunty?" Rachel heran melihat Luna kembali tidak membawa buah-buahan.


"Buahnya tidak ada yang bagus, kita cari di tempat lain."


****


Likha langsung menggendong Nanda, dan berjalan secepat yang dia bisa meninggalkan tempat itu.


"Mama, Nanda belum beli jajan ...." rengeknya.


"Nanti, kita beli di tempat lain."


Likha langsung membawa putrinya pulang ke rumah ibunya. Likha tidak sanggup lagi menahan rasa sakitnya sendiri, dia mengadu atas pembuatan Luna atas dirinya ke ibunya.


"Apa? Luna tampar kamu di tengah umum?"


"Sakit di pipi tidak seberapa mama, tapi aku malu, belum lagi pengunjung yang mengenalku begitu puas mengataiku pelakor gagal."


Belum sempat Eren membuka mulutnya untuk menyemangati putrinya, suara pintu yang dibanting membuat Eren seketika lupa akan kata-kata yang ingin dia ucapkan.


"Papa apa-apaan, bikin kaget saja!" protes Eren, kala mengetahui yang membanting pintu adalah suaminya.


"Lihat ini!" Pak Nomad memberikan tabletnya pada Eren.


Eren syok melihat video Luna menampar Eren sudah tersebar, yang paling parah tajuk dari video itu. 'Dinasti Eren Gagal jadi penerus Mahkota Pelakor.'


"Siapa yang Likha dekati? Davi? Pak Herman? Atau Rafa kekasih Luna?" cerca Pak Nomad.


Ibu dan anak itu kompak membisu, mereka ketakutan melihat Pak Nomad dikuasai kemarahan.


"Berita seperti ini, berdampak buruk pada perusahaan anakku!" Pak Nomad kembali menatap tajam istri dan anak tirinya. "Siapa yang Likha dekati!"


"Davi," jawab Eren.


"Dasar tidak punya otak! Untuk apa dekati Davi? Dia itu tidak punya apa-apa! Yang sukses itu istrinya!" Suara Pak Nomad menggelegar, membuat gendang telinga yang mendengar langsung berdengung.


"Karena Likha jatuh cinta pada Davi! Dia juga tahu kesuksesan Davi itu milik istrinya, tapi namanya cinta mau gimana! Kayak saya, saya tau yang kaya Istrimu Crolina, tapi ini bukan bicara harta, tapi memperjuangkan cinta!" teriak Eren.


Nomad seketika bungkam, dia pun pernah berada di kegilaan itu, hingga mengantarkannya pada pernikahan dengan wanita yang saat ini berteriak padanya. Dirinya memahami perasaan itu, hingga melupakan wanita yang berjuang bersamanya dan meninggalkan anak-anaknya demi perasaan bodoh yang dia sebut cinta.

__ADS_1


Padahal dirinya pun tidak tahu kalau kekayaan suaminya milik istrinya, dia tahu setelah menikah dan semua aset seketika ditarik istrinya. Namun bercerai karena tahu kalau suaminya tidak sekaya yang dia bayangkan, malah menambah aib dirinya. Tetap mempertahankan Nomad mantan orang kaya, kesuksesannya memiliki Nomad sudah cukup bagi Eren.


Nomad beruntung, karena ada anaknya yang tidak tega melihat Ayahnya miskin, sehingga anaknya memberi rumah dan pekerjaan. Eren yang merasa dirinya sudah tua, dan tidak mungkin lagi mencari mangsa baru, dia berusaha mempertahankan korban yang sudah dia cengkram erat. Lagi pula Nomad masih memegang perusahaan, walau milik putranya.


__ADS_2