Di Simpang Jalan

Di Simpang Jalan
Bab 98


__ADS_3

Rachel merasa keluarganya kembali lengkap. Dengan bangganya dia mengayunkan sepasang kakinya memasuki area sekolah.


"Hai Rachel."


Sapaan itu membuat Rachel semakin bersemangat. "Hai Ziel, akhirnya aku juga punya Ayah kedua seperti kamu, apalagi Pandraku baik banget!" Rachel sangat semangat menceritakan kebahagiaannya.


"Sabtu depan kamu harus ikut ke rumah eyang aku, kita main di sana sampai malam, setiap sabtu mammy aku ajak aku nginep di rumah eyang."


"Iya, aku tau. Pandra juga sudah cerita kalau libur kami main ke rumah eyang."


"Om Indranya mana?"


"Ya langsung ke kantor lah Ziel, masa nungguin kita sekolah." Rachel membuka tas bekalnya dan memberi 1 bekal pada Azriel. "Ini titipan Pandra buat kamu, tadi Pandra minta mbak di rumah oma bikinin 1 bekal buat kamu."


Azriel sangat bahagia, tidak seperti kabar yang berhembus kalau Indra memiliki keluarga maka Indra akan melupakan Azriel, kenyataanya pamannya masih mengingatnya.


"Ayok kita ke kelas!" ajak Rachel.


Sedang di sisi lain, Indra merubah arah mobilnya. Sontak membuat Kia terkejut karena ini bukan arah menuju kantor Indra atau kantornya.


"Kita kemana?" tanya Kia.


"Ke istana kita, untuk mengukir sejarah seperti tadi malam." Indra menggenggam erat tangan Kia.

__ADS_1


"Nggak jadi ke kantor?"


"Pengantin baru masa nggak libur? Kalah dong sama anak buah kita, mereka aja ajuin cuti, masa bos-nya enggak."


"Terus kenapa nggak bilang saat di rumah?" protes Kia.


"Nggak apa-apa, biar nggak kebaca aja, kalau--" Indra sengaja menahan ucapannya, dia yakin Kia pun tahu apa maksudnya.


Sesampai di rumah pribadi Indra, mereka pun menghangatkan pagi mereka, kini rasanya dunia benar-benar milik mereka berdua.


*


Di tempat lain.


Plak!


Plak!


Tamparan yang bertubi-tubi terus tertuju pada wanita yang terlihat mengenaskan itu.


Bouggggght!


Penderitaan wanita itu berakhir dengan sebuah tendangan keras.

__ADS_1


Laki-laki yang berdandan seperti wanita itu memegang kuat dagu sosok yang dia siksa. "Ingat Likha! Kalau kamu berani kabur lagi, atau mencoba bunuh diri lagi! Aku akan gantikan posisimu saat ini dengan anakmu!" Muma melempar foto seorang gadis kecil pada Likha.


Likha mengutuki dirinya, mencoba kabur dan berusaha bunuh diri tidak mengkahiri penderitaannya. "Jangan muma ... jangan libatkan anakku, ini semua kesalahanku karena mengusik anak Malik." Likha memohon.


"Aku tidak peduli! Yang harus kamu ingat, kamu sudah aku beli!"


"Muma, sudah marahnya, nanti cantiknya ilang loh ...." bujuk salah satu anak buah Muma.


Setelah laki-laki yang dipanggil Muma itu pergi, penjaga muma mendekati Likha. "Jangan menyakiti dirimu sendiri Likha, kamu berusaha kabur dari muma hanya mendekatkan dirimu pada kematian."


"Lebih baik aku mati, daripada harus membuka kedua pahaku pada sembarang orang!"


"Tapi Muma nggak akan mau rugi, kau mati, kemungkinan putrimu akan jadi bunga termuda di sini."


"Aku mohon jangan usik putriku."


"Lebih baik kamu terima keadaan Likha, berdoa saja, semoga ada orang bodoh yang mau membelimu, jika ada yang sanggup membelimu, kau bisa pergi dari sini dengan selamat."


Dulu aku marah saat Kia memandangku sebagai pel4cur, benar kata Kia, pel4cur lebih baik daripada pelakor. Di sini saja aku merasa sangat hina, padahal kebodohanku dulu lebih hina dari posisiku saat ini.


Air mata Likha kembali mengalir, dia yakin kepahitannya saat ini adalah hasil panen semua perbuatan buruknya di masa lalu.


"Likha, ayo bersiap. Aku di suruh Muma antar kamu ke Rumah Sakit."

__ADS_1


Selamat menanen semua yang kau tanam dulu Likha, seorang pelakor yang berakhir menjadi pel4cur!


__ADS_2