
Davi menunduk, saat ini Kia berada tepat di depan matanya, namun rasanya dia berjarak bergitu jauh dengan wanita yang selama ini menemaninya. "Tidak ada kesempatan untukku? Tidak ada maaf buatku?"
"Aku tidak tahu," sahut Kia dingin.
"Apakah rasa cintamu untukku tidak bisa jadi pertimbangan untuk memberiku kesempatan?"
"Apakah saat mas Davi memulai hubungan itu mas tidak memikirkan bagaimana rumah tangga kita setelahnya?" Kia balik bertanya.
"Aku mohon maafkan aku, aku sudah mengakhiri hubungan terlarangku dengan Likha."
"Mas masih lanjut atau menyudahi, itu bukan urusanku, dan aku tidak mau tau."
"Baiklah aku pergi, sepertinya hatimu benar-benar tertutup untuk memberi maaf padaku." Davi mendekati Kia dan mendaratkan ciuman ke wajah wanita itu, di tempat umum seperti ini saja dia bisa menyentuh Kia. "Titip salam buat Rachel."
Bagi orang-orang yang melihat keadaan itu dari kejauhan, mereka mengagumi keromantisan pasangan itu.
***
Setelah meninggalkan tempat acara, Davi segera menuju mobilnya. Pikirannya begitu kosong, entah semua terasa suram saat ini.
"Jadi apa yang membuat Kak Davi menyudahi hubungan kita?"
Davi terperanjat, dia sangat terkejut melihat Likha malah ada di mobilnya. "Bagaimana kamu bisa masuk mobilku?"
"Kak Davi lupa kalau pernah memberiku remot dan kunci cadangan mobil Kakak?" Likha memainkan benda yang membuatnya bisa memasuki mobil Davi.
"Biar aku ingatkan kembali masa indah kita, saat Kakak sibuk rapat, Kakak rindu aku, Kakak memintaku menunggu di mobil ini. Mobil ini jadi saksi bisu kebahagiaan kita." Likha memandangi mobil itu dan membayangkan petualangannya bersama Davi.
Davi tidak mau ada masalah, dia melajukan mobilnya meninggalkan area sekolah.
Likha tersenyum bahagia, pikirnya Davi akan membawanya ke Apartemen mereka. "Santai saja Kakak, ada mama yang menjaga Nanda di sekolah. Aku tau Kakak rindu aku."
Namun mobil itu memasuki jalanan kecil, dan perlahan berhenti di tempat sepi.
"Kenapa ketempat sepi seperti ini? Ingin nuansa baru lagi?" tanya Likha.
Davi tidak merespon, dia keluar dari mobil dan menarik paksa Likha agar keluar dari mobilnya, dan merebut paksa kunci mobil cadanganya. "Sudah aku tekankan, apa yang pernah terjadi diantara kita seharusnya tidak pernah terjadi! Dan apa yang terlanjur terjadi, lupakan semuanya!"
Davi menangkupkan kedua telapak tangannya di depan wajahnya. "Aku mohon jauhi aku!" Tanpa rasa bersalah Davi meninggalkan Likha di jalanan sepi itu.
"Arrrggg! Davi si4alan kau! Akan ku buat kau bertekuk lutut mengemis cintaku!" teriak Likha.
***
Keberhasilan Rachel di acara sekolahnya sampai ke telinga kedua orang tua Kia, mereka meminta Kia sekeluarga untuk datang ke rumah mereka.
"Bukan aku nggak mau mama, tapi setelah acara sekolah selesai, mas Davi sudah terlanjur berangkat ke kantor, pekerjaan dia padat banget."
__ADS_1
"Ya sudah, kalau begitu kamu saja yang ke rumah mama sama Rachel," pinta ibu Kia.
Kia terpaksa menyutujui permintaan ibunya, setelah meninggalkan sekolah Rachel, dia segera menuju kediaman kedua orang tuanya. Sesampai di sana, Rachel sangat bahagia, Kakek dan Neneknya memberinya banyak hadiah.
"Oma bangga sama Rachel, bakatnya dari mana sih? Perasaan bunda tidak pandai bernyanyi dan menggambar, tapi cucu oma malah jago!" puji Fuza. Dia terus menghujani wajah cucu kesayangannya dengam ciuman hangat.
"Kata bunda, jadilah diri Rachel sendiri, jangan jadi bunda walau Rachel mengagumi segala hal yang ada pada bunda. Rachel suka bernyanyi dan suka menggambar, bunda mendukung semuanya, memasukan Rachel kursus untuk mengasah kemampuan Rachel."
Kia tersenyum mendengar penjelasan putrinya. Dia langsung memeluk putrinya begitu erat. Di sela rasa sakit yang di luar biasa, masih ada kebahagiaan lain yang Tuhan beri untuknya.
"Oma bangga sama Rachel, bangga sama bunda, bangga juga sama Aunty Luna." Fuza memeluk putri bungsunya.
"Ah, aku kira mama lupa sama aku, biasanya mama lupa sama anak kalau sudah ada cucu," protes Luna.
Mereka semua menuju meja makan dan menikmati segala hidangan yang tersedia.
"Rachel sayang, tadi Ayah datang ke sekolah?" tanya Luna.
Mendengar hal itu Kia mengisyarat Luna agar tidak menyinggung Davi.
"Datang, Ayah pergi saat acara sekolah selesai."
Selesai mengisi perut mereka, Rachel asyik bermain bersama kakek dan neneknya, hal ini Luna gunakan untuk menarik Kia ke kamarnya.
"Apa sih Luna!" protes Kia.
"Kakak tidak bisa mengambil keputusan, untuk saat ini Kakak hanya mikirin Rachel."
"Tinggalin Davi, nggak apa-apa Kakak cerai tanpa harta gono-gini, yang penting cerai dulu aja. Masalah harta Kakak bisa cari sendiri, tapi kebahagiaan tidak mudah Kak. Kakak bertahan sama saja menyiksa diri Kakak sendiri. Harta yang ada ikhlasin saja buat maling itu, walau dia memiliki harta seluruh dunia ini namanya harta dari curian nggak akan berkah. Harta nggak berkah nggak akan beri kebahagiaan"
"Tidak semudah itu Luna."
"Jangan bilang Kakak masih ada rasa cinta ke Davi itu? Dia nggak pantas dicintai Kak!"
"Rachel, ini yang buat Kakak bimbang."
"Kenapa selalu anak yang dipakai buat alasan bertahan?!" Luna sangat kesal dengan jawaban Kia.
"Walau sulit, perlahan Rachel akan terbiasa Kak, Rachel juga semakin besar pelan-pelan dia akan mengerti!" Luna berusaha meyakinkan Kia.
"Bicara mudah Luna, menjalaninya tidak semudah menghembuskan napas."
"Terserah Kakak deh, namanya pelaku selingkuh, walau dia janji nggak ngulangin, ahhh omong kosong! Aku berharap Kakak tidak berniat untuk memberi kesempatan kedua pada Davi."
"Kakak mohon, jangan singgung Davi, biarkan Kakak mengambil keputusan atas pertimbangan Kakak sendiri."
"Sampai kapan Kakak terus berpikir? Sampai Kakak lupa akan rasa sakit ini dan memberi kesempatan pada Davi?!"
__ADS_1
****
Langit kini gelap, Kia dan Rachel pun kembali ke kediaman mereka. Sepanjang perjalan Kia terus memikirkan bagaimana hubungannya dengan Davi. Bagaimana pun Luna benar, sampai kapan dirinya terus berpikir? Apakah menunggu rasa sakit itu pudar sehingga dia memberi maaf?
Sampai kapan dia berusaha terlihat baik-baik saja walau dirinya sangat hancur? Sampai kapan hubungannya dengan Davi mengambang tanpa kejelasan?
"Sayang ... kita sudah sam-pai." Kia terbata melihat putrinya tertidur di mobil.
Kia tidak membangunkan Rachel, dia langsung menggendong putrinya, dan meminta pelayan membawakan semua hadiah yang ada di mobil kedalam rumah.
"Eh Nona kecil ketiduran ya?" sapa bi Sarah.
"Iya bi, pasti kecapekan dia. Sehabis acara sekolah dia main sama oma dan opanya."
"Waduh ... Non Rachel party bday kedua ini, banyak banget hadiahnya."
"Semua itu dari mama dan papa," sahut Kia.
"Sini bibi bantu, Non Rachel sudah gede pasti berat."
"Iya berat bi, tapi saya bisa."
Kia meneruskan langkahnya, namun dia teringat sesuatu dan berbalik menoleh pada bi Sarah. "Bi, bikinin saya teh hangat ya, antar saja ke kamar saya."
"Siap Nyonya. Ada lagi?"
"Itu saja."
"Ya sudah, kalau begitu setelah antar teh saya langsung ke rumah belakang."
Kia meneruskan langkahnya membawa Rachel menuju kamarnya. Perlahan Kia merebahkan putri tersayangnya.
"Bunda harus apa sayang? Tolong bantu bunda, maafin Ayah? Atau merelakan segalanya?" ucap Kia lirih.
Saat yang sama Rachel bergerak, sontak Kia terkejut.
"Ayah ... kangen Ayah ...." rengek Rachel dalam tidurnya.
Seketika air mata Kia merembes begitu saja. Tampak dari kesehariannya Rachel terlihat bahagia dan terlihat tidak merindukan Ayahnya. Namun ternyata rasa rindu itu dia sembunyikan.
"Ayah ... pulang Yah ...."
Kia tidak sanggup mendengar rintihann Rachel, dia mengusap lembut kepala putrinya. "Kita pasti bisa bahagia walau tanpa Ayah, sayang."
"Nggak mau, Rachel mau Ayah ... Rachel rindu Ayah ...."
Perkataan Kia seolah direspon oleh Rachel, hal ini membuat Dada Kia terasa diikat begitu kuat, menarik napas pun terasa sakit.
__ADS_1