
Indra bingung bagaimana caranya membicarakan video yang dia terima barusan pada Kia. Di ruangan ini masih terlalu banyak orang.
Nabila tiba-tiba menyenggol lengan Indra, dia merasa ada yang disembunyikan sahabatnya itu. Dia menaikan alisnya, seolah menanyakan sesuatu. Indra memahami kode Nabila, dia mengetik pesan dan dia kirim pada Nabila.
Mendengar Handphonenya berbunyi, Nabila segera memeriksa.
*Aku dapat rekaman dari anak buahku, kecelakaan yang Davi alami, bukan kecelakaan biasa. Tapi upaya bunuh diri.
Sepasang mata Nabila membulat sempurna karena pesan Davi.
"Lu serius?" bisik Nabila.
Indra menganggukan kepalanya, dia tidak bisa banyak bicara di sini.
*Kita perlu bicara sama Kia, aku bingung bagaimana membawa Kia pergi dari sini, kalau nekat bawa mertuanya semakin sinis sama aku, pesan Indra.
Nabila perlahan mendekati Luna. "Sebentar lagi waktu makan siang, bagaimana kalau makan siangnya gantian?" usul Nabila.
"Saat genting seperti ini, sulit untuk makan!" sahut Ingrid.
"Makan bukan untuk menikmati bu, tapi makan untuk menutrisi tubuh, bagaimana kita semua bertahan menunggu Davi jika akhirnya kita juga terkapar di ranjang Rumah Sakit?" sahut Nabila.
"Nabila benar, bagaimana kalau kalian dulu yang keluar? Setelah kalian selesai gantian sama kami," usul Pak Yudi.
"Dibungkus apa susahnya?" omel Ingrid.
"Kita tidak punya persiapan apa-apa bu, tidak mendukung untuk makan di ruangan ini," sela Kia.
"Ya Sudah, kalau gitu kita gantian," sahut Pak Yudi.
"Yang lebih senior dulu Pak, yang muda belakangan." sahut Indra.
Usul Indra diterima para orang tua, kedua orang tau Kia dan kedua orang Tua Davi meninggalakan ruangan itu, mereka semua segera menuju kantin Rumah Sakit untuk mengisi ulang kekuatan tubuh mereka.
Merasa keadaan aman, Indra langsung memperlihatkan video kecelakaan Davi pada Kia. Setelah menonton video itu sampai selesai, Kia menatap sedih kearah Davi. Kini dia mengerti apa ucapan Davi pagi itu, kalau dia ingin mempermudah Kia menjawab pertanyaan Rachel. Davi memang sengaja ingin mengakhiri hidupnya. Dengan ketiadaannya, maka Kia lebih mudah menjelaskan kalau Ayahnya telah tiada.
Mas ... kenapa kamu lakukan ini .... jerit hati Kia.
"Apa kalian ada masalah?" tanya Indra.
Kia tidak menjawab, tatapan kesedihannya masih tertuju pada Davi yang betah memejamkan kedua matanya.
__ADS_1
"Jujur sama sahabat kamu, Kia. Kalian ada masalah?" Nabila menayakan hal yang sama.
"Jika tidak ada masalah, mustahil banget Davi nekad bundir," ucap Indra.
Merasa ini obrolan serius, Luna mendekati Rachel. "Sayang, kita keluar yuk, kita beli makanan, terus kita bagi ke anak-anak panti, kita minta mereka untuk medo'a kan Ayah, semoga Ayah sembuh, bagaimana?"
"Aunty benar, ayok Aunty kita ke Panti Asuhan dan berbagi." Anak itu sangat semangat dan segera menarik Luna menuju pintu.
Merasa di ruangan itu hanya ada mereka bertiga yang sadar, Nabila merasa lebih leluasa. "Kamu nggak anggap kita sahabat lagi?" tekannya pada Kia.
"Bukan begitu ...."
"Terus apa masalah Davi? Kenapa dia berusaha mengakhiri hidupnya?!" ucap Nabila.
"Mas Davi selingkuh," Kia tidak bisa menyembunyikan masalah ini dari dua sahabatnya.
"Likha?" ucap Nabila dan Indra bersamaan.
Kia terkejut mengetahui sahabatnya bisa menebak hal ini. "Bagaimana kalian tahu?"
"Aku melihat Davi dan Likha saat perjalanan bisnis di luar Negri," pengakuan Davi.
"Aku curiga mereka ada hubungan saat ulang tahun Rachel, mereka berdua keluar dari ruangan yang sama. Kali kedua, aku melihat Davi keluar dari mobil Likha. Aku membicarakan ini pada Indra, dan kami bingung bagaimana mengungkapkannya padamu," terang Nabila.
Kia melanjutkan ceritanya. "Mas Davi meminta maaf padaku, dan meminta kesempatan kedua padaku. Sebagai wanita, aku tidak bisa memaafkan dia."
"Sebab itu dia ingin mengakhiri hidupnya?" tebak Indra.
"Itu di luar dugaanku, pagi ini dia bilang padaku, aku akan mempermudah diriku untuk menjawab pertanyaan Rachel jika dia menanyakan perihal mas Davi."
Nabila langsung memeluk sahabatnya. "Kamu menyimpan rasa sakit ini sendirian?"
"Aku tidak bisa berbagi cerita ini, aku sendiri tidak tahu harus bagaimana." Tangis Kia pun kembali pecah dalam pelukan Nabila.
"Andai diriku kuat mengambil keputusan untuk mengakhiri segalanya, aku akan cerita padamu, masalahnya aku bimbang ...."
Nabila terus mengusap punggung sahabatnya. Dia memahami dilema Kia yang memikirkan keadaan anaknya. Karena anak korban perceraian akan menyimpan kesedihan tersendiri.
Kia berusaha menenangkan dirinya. Dia meraih kursi dan duduk di samping ranjang Davi. Kia meraih tangan laki-laki itu. "Kenapa kamu melakukan hal ini mas?"
"Kamu bagai mata air dalam kehidupan Davi, jika kehilangan mata air cintanya bagaimana Davi melanjutkan kehidupannya?" ucap Indra.
__ADS_1
Mereka bertiga tenggelam dalam kesunyian, Kia terus memandangi Davi, sedang Nabila dan Indra membiarkan Kia dengan perasaannya, mereka berdua memilih duduk di sofa.
Kia semakin bimbang, apalagi melihat Davi seperti ini. Kedua orang tua dan kedua mertuanya datang pun Kia tidak menyadari keberadaan mereka di ruangan itu. Dia menatap sayu pada Davi, dan setia memegang telapak tangan suaminya itu.
"Kami sudah selesai makan siang, giliran kalian sana." ucap Fuza.
"Bapak tahu sulit rasanya menelan makanan yang kita makan, tapi kamu harus kuat untuk menemani Davi." Pak Yudi menepuk lembut bahu Kia.
Kia tersadar dari lamunannya, dia sangat terkejut melihat para orang tua sudah kembali. Kia mengusap air matanya. "Titip mas Davi ya."
"Iya sayang, makan dulu sana."
***
Di tempat lain, Restoran cepat saji jadi pilihan Luna untuk dibawa ke Panti Asuhan, anak-anak kecil sangat suka ayam goreng tepung tersebut. Luna fokus memasukan box makanan itu kedalam bagasi mobilnya.
"Luna? Rachel?"
Sapaan itu sontak menyita perhatian Luna. "Eh Dharma? Ngapain di sini?"
"Mau Laundry," sahut Dharma.
Luna berusaha melihat keadaan sekitar, tidak ada jasa laundry di sekitar sana.
"Kamu ini, ini kan tempat makan, ya aku mau makan lah!" ucap Dharma.
"Owh." Luna kembali fokus pada kegiatan sebelumnya.
"Banyak banget, mau syukuran di mana?" tanya Dharma.
"Mau ke Panti Asuhan om, mau berbagi sama saudara Rachel di sana, sekalian minta doa buat kesembuhan Ayah." Tiba-tiba Rachel berdiri di samping Dharma.
"Ayah sakit?" tanya Dharma.
"Ayah sakit, dirawat di Rumah Sakit," sahut Rachel polos.
"Bosmu kecelakaan," sambung Luna.
"Kapan?" Dharma terkejut mengetahui atasannya tidak masuk kantor ternyata kecelakaan.
"Tadi pagi," sahut Luna
__ADS_1
"Kalau gitu aku bantu kalian, sekalian aku juga mau jenguk bos."
Luna setuju, mereka bertiga menuju Panti Asuhan untuk berbagi.