Di Simpang Jalan

Di Simpang Jalan
Bab 58


__ADS_3

Davi merasa terharu dengan kata-kata Likha yang terus memikirkan kebahagiaan Kia. Padahal dia juga butuh dirinya, namun Likha terus saja mengutamakan Kia.


“Keputusanku sudah bulat, aku akan membicarakan hal ini dengan Kia. Kalau Kia tidak mau memberi tempat untukmu, aku akan melepaskan dia dan berjuang bersamamu.”


Demi apa? Rasanya Likha ingin melompat mendengar kata-kata Davi. Ini lebih bagus dari rencana yang dia susun. Rasanya tidak sia-sia mempertahankan janinnya selama ini. Likha masih memasang wajah sedihnya. "Jangan Kak, aku tidak mau Kakak menyakiti Kia lagi."


"Aku tidak meninggalakannya jika dia mau menerima kamu."


“Kakak terlalu sering mengambil keputusan yang keliru. Sebelum Kak Davi memutuskan untuk bicara pada Kak Kia. Kak Davi harus ingat, aku tidak bisa memberi apa yang Kia beri pada Kakak.”


“Aku tahu, mungkin setelah ini hanya ada Davi si gembel, setelah aku bicara pada Kia sangat besar kemungkinan Kia mengambil semuanya.”


“Kakak siap dengan segala reseko itu?” tanya Likha.


“Sangat siap, kamu sendiri siap menerima aku yang tidak punya apa-apa?” tanya Davi.


“Aku siap menerima Kakak apapun keadaan Kakak.”


Keduanya kembali berpelukan.


“Kakak malam ini temani aku ya, aku selalu merindukan Kakak."


"Maafkan aku, karena membuatmu sakit karena mencintaiku."


"Bukan salah Kakak, ini salahku. Temani aku ya."


"Aku juga rindu desah manjamu, mau di mana?"


"Aku memesan satu kamar di sini untuk mempermudah keinginanku, ya keinginanku agar bisa terus memandangi Kakak walau dari jauh.”


Davi melepas pelukannya, dia menarik dagu Likha membuat wajah wanita itu mendongak padanya. “Secinta itu kamu padaku?”


“Sudah aku katakan aku sangat mencintai Kakak, aku siap menerima Kakak apa adanya.”


“Lantai berapa kamarmu?” tanya Davi.


Likha menyebut lantai di mana kamarnya berada. Jemari Davi menekan angka lantai yang di tuju, sedang tangan yang lain sibuk menahan tengkuk Likha agar ciuman mereka semakin dalam. Bahkan saat keluar dari lift, keduanya masih berpangutan, suasana Lorong yang sepi sangat mendukung kegilaan mereka. Likha menyudahi persilatan lidah mereka.


“Sudah dulu Kak, ayok kita masuk.” Likha membuka pintu kamar, setelah keduanya memasuki kamar itu, tidak bisa dihindari, Davi melanjutkan kegiatan mereka yang tertunda.


Entah mengapa selama bersama Kia setelah itu, dia merasa ada yang kurang. Apa karena Likha menjadi candunya atau karena luka pada Kia yang membuat wanita itu begitu dingin.

__ADS_1


“Apakah aku mimpi Kak?” ucapan Likha bercampur dengan deruan napas yang memburu. “Sejak Kakak meninggalkanku, aku merasa tidak mungkin lagi bisa bercinta sama Kakak.”


Davi tidak bisa berkata lagi, dia terus mendalami keinginannya dan melupakan semua janji yang pernah dia ikrarkan pada Kia. Suara jerit manja yang bersahutan memenuhi kamar itu.


Malam Davi dan Likha begitu liar dan panas, sedang malam yang Kia lewati begitu dingin. Banyak pertanyaan yang berputar di kepalanya, mengapa Eren tega membuka kembali rahasia keluarganya yang telah dia kubur. Karena masalah yang Eren timbulkan membuat Kia tidak terpikir untuk menanyakan kabar suaminya.


Malam berlalu begitu cepat, pagi-pagi tawa Rachel sudah menggema di kediaman kedua orang tua Kia. Anak itu sangat bahagia bermain bersama Fuza, Herman, dan Luna. Kia ikut bergabung bersama keluarganya.


“Rachel sayang, bunda mau pulang. Siap-siap yuk, kasian Ayah sendirian di rumah,” ajak Kia.


“Rachel di sini saja sampai sore, nanti Aunty belikan apa yang Rachel mau,” sela Luna.


“Boleh di sini saja sampai sore bund?” Rachel menatap Kia dengan tatapan penuh harap.


“Bolehin aja ya Kak, nanti sore Rachel aku antar,” ucap Luna.


“Ya sudah kalau Rachel mau di sini, bunda pulang duluan ya.” Kia pun berpamitan pada keluarganya.


Walau perasaaanya tidak enak sejak tadi malam, tapi Kia mengabaikan rasa itu, dia ingin cepat pulang agar bisa bertemu Davi. Namun sesampai di rumah, tidak ada mobil Davi yang terparkir di halaman rumah, hanya ada mobilnya dan mobil Luna. Sesampai di dalam rumah Kia melihat bi Sarah yang sibuk dengan rutinitasnya.


“Bi, tadi malam Tuan tidak pulang?”


“Engga ada Nyonya, tadi malam rumah ini kosong.”


“Kamu ada masalah mas?” tanya Kia halus.


“Sayang, bisa kita bicara berdua di kamar?”


Kia menganggukan kepalanya, keduanya berjalan menuju kamar. Davi terlihat begitu kebingungan, berulang kali dia mengusap wajahnya, namun tidak ada juga kata yang keluar dari mulutnya.


“Mau bicara apa mas? Kalau mas bingung memulai dari mana, langsung pada intinya saja.”


“Likha hamil anakku,” ucap Davi datar.


“Terus aku harus kasih selamat atau bilang waw gitu ya?” ucap Kia sinis.


“Apa kamu tidak bisa bersikap sebagai perempuan Kia? Coba kamu fahami keadaan dia. Bagaimana anak itu jika lahir tanpa sosok Ayah.” Suara Davi terdengar begitu putus asa.


“Waw … kamu memintaku bersikap sebagai perempuan? Apa saat kalian semangat menggenjott pernah terpikir bagaimana kedepannya jika semburan ****** mu nanti jadi anak?"


"Bener-bener gila kamu mas! Bikinnya aja nggak ada status suami istri, udah gini bicarain soal kasian anak yang terlahir tanpa pernikahan."

__ADS_1


"Kamu minta aku mengerti Likha?Apa kamu pernah berpikir perbuatan dia lebih jahat dari binatang! Aku memberinya cinta dia memberiku luka, aku memberinya tempat tapi dia merebut meruntuhkan kerajaan cintaku, kamu sehat mas?”


“Tapi dia hamil, akan terlahir seorang anak dari darah dagingku.”


“Dia hamil wajar, kan kalian tidak terhitung berapa kali melakukan penyemaian. Kau ingin memberi tempat pada Likha karena alasan anak, lalu anakmu sendiri apa ada kamu memikirkan bagaimana keadaan dia?”


“Aku tidak mau mengungkit kisah lama, Kia. Aku hanya ingin bertanggung jawab atas kesalahan lain yang aku perbuat,” ujar Davi.


“Kamu menjadi Ayah untuk anak yang akan lahir, kalau kamu kekeh ingin seperti itu, sama saja kamu membuat anakmu yang lain kehilangan Ayah.”


“Rachel tidak akan kehilangan aku jika kamu mau menerima Likha sebagai madumu!”


“Kalau aku tidak mau kau madu?” ucap Kia santai.


“Aku tetap akan menikahi Likha.”


“Oke, selamat kamu telah menjandakan istrimu demi seorang janda.” Tidak ada kesedihan dari wajah Kia, dia terlihat tenang dan terus menantang Davi.


“Tidak akan ada yang jadi Janda jika kamu mau berbagi, Kia.”


“Haha!” Kia tertawa mengejek perkataan Davi. “Itu ada kaca besar, sana ngaca dulu, cari keistimewaan apa yang ada padamu sehingga kamu ingin poligami.”


Davi tertunduk, namun dia sudah siap menerima segala reseko atas pilihannya. "Tidak butuh kesempurnaan untuk memeluk 2 wanita hebat, seperti Ayahmu apa dia hebat? Tapi dia pernah memiliki 2 istri, terima ini Kia mungkin memang takdirmu untuk dipoligami-"


Plakkkkk!


Tamparan yang begitu keras mendarat di wajah Davi. Kia menatap Davi dengan sorot kemarahannya. "Jangan samakan posisi papaku dan dirimu! Keadaan papa dan keadaanmu jauh berbeda!"


Davi mengusap pipinya yang terasa panas. "Ini pilihan kamu Kia, aku tidak mengkhianatimu saat ini, aku hanya bertanggung jawab atas kesalhankku."


“Aku nggak nyangka, ternyata kamu mempermainkan sumpah kamu mas. Entah bagaimana hidupmu karena mempermainkan nama Tuhan dan nama kedua orang tuamu. Ah … masa bodoh! Itu urusanmu.”


Kia menarik begitu dalam napasnya. “Ayo kita permudah semuanya, seperti janjimu kamu tidak akan membawa apapun kecuali baju yang melekat di badan. Satu lagi, jangan meminta hak asuh atas Rachel! Jika kamu menuntut hak asuh, aku akan mempersulit semuanya!"


"Semua akan berjalan seperti yang kamu mau, Kia. Maafkan aku Kia, ternyata aku salah. Aku benar-benar mencintai Likha.”


“Bodo amat! Silakan pergi dan sampai jumpa di pengadilan!”


Berat bagi Davi untuk meninggalkan istana yang menjadi saksi kebahagiaan mereka, namun inilah buah yang harus dia kecap, dia harus meninggalkan semuanya demi hal yang dia sebut cinta. Davi keluar dari kamar lebih dulu, sedang Kia berjalan jauh di belakangnya. Saat Davi menuruni tangga, dia terkejut melihat sosok Likha berdiri sendirian di ruang tamu.


“Sayang kenapa kamu kemari?” Davi berjalan cepat menghampiri Likha.

__ADS_1


“Aku ingat kata-katamu, kalau kamu memilihku maka kamu akan pergi dengan selembar baju yang melekat di badan, aku menjemput kamu sayang.”


Kia berdecak melihat kemesraan yang memuakan di bawah sana. Dirinya tidak merasa sakit atas semua itu, tapi jijik.


__ADS_2