
Kia belum juga kembali, Davi duduk di salah satu kursi panjang yang ada di trotoar. Dia mengambil handphonenya dan membuka layanan bank dari handphonenya. Davi membuang kasar napasnya, harus bahagia atau sedih dengan yang tertera di depan matanya? Benar-benar tidak ada pengeluaran dari kartu yang dia berikan pada Likha. Davi teringat Apartemen Likha, dia mengakses CCTV Apartemen itu dari handphone, dan keadaan di sana kosong. Pikiran Davi kembali terbayang kata-kata Likha.
Aku ingin mengembalikan semua yang telah kau beri, sudah aku katakan dari dulu, aku tidak menginginkan apapun darimu. Saat bersikeras memperjuangkanmu, aku sudah siap lahir batin menerimamu apapun keadaanmu. Aku sangat tahu kau bukan apa-apa tanpa Kia.
Aku mohon ambil kembali, aku bukan pell4cur yang bisa kau bayar setelah menikmati setiap lekuk tubuhku, aku adalah pencinta gila yang terus memujamu walau tahu bagaimana keadaanmu.
Davi terus terbayang akan kata-kata itu. Ada sesuatu yang hancur dalam dirinya jika teringat Likha, entah apa karena Likha sosok yang mengingatkannya langsung pada kebodohan atau kehancuran yang lain? Davi menggelengkan kepalanya mengusir segala hal tentang Likha.
Ingat Davi akan sumpahmu pada Kia!
Buang semua tentang Likha, dan tutup semua apa yang berhubungan tentangnya. Nasihat yang muncul dari dalam dirinya.
Davi kembali fokus pada Handphonenya, dia menghubungi customer service Bank, dan meminta kartu yang dia sebutkan untuk dihapus aksesnya. Ya kartu yang dia beri pada Likha dulu. Dalam hitungan menit, kartu itu tidak ajaib lagi.
Semoga apa yang telah kita lalui bisa hilang dengan begitu saja.
Davi memukul dadanya berulang.
Wahai hati, ingat akan sumpahmu pada wanita yang banyak berkorban untukmu.
Kia bingung melihat Davi terlihat putus asa. "Mas sakit?"
Kedatangan Kia seketika mengusir segala rasa yang mengikat hatinya.
__ADS_1
"Enggak sayang, pegel aja."
"Ini minuman Ayah." Rachel memberikan cup yang berisi ice lemon pada Davi.
"Terima kasih sayang." Davi mengusap lembut pucuk kepala putrinya.
"Kenapa Ayah suka minuman yang rasanya asam?" tanya Rachel.
"Karena kalau minuman manis, over dosis manis dong buat Ayah."
"Kenapa begitu?" Rachel tidak puas dengan jawaban Davi.
"Karena Rachel sama bunda itu sudah manis! Jadi yang manis cukup kalian aja."
"Masa? Pasti ada rasa asin itu, kan Rachel mandinya nggak bersih!" ledek Kia.
"Bundaaa!" protes Rachel.
Dari kejauhan, itu keluarga yang sangat bahagia. Sehingga membuat manusia yang berhati kotor iri akan kebahagiaan itu dan ingin merebut posisi Kia. Inilah yang dirasa Fanny dan Likha yang mengamati keceriaan keluarga Kia dari arah yang berbeda.
Fanny tidak tahan lagi menonton kebahagiaan itu, dia segera medekat dengan membawa 2 gula kapas di tangannya. "Hai Rachel, ini buat Rachel."
Rachel tidak mau menerima pemberian Fanny. Kia segera menerima gula kapas itu. "Makasih ya Fan, maaf Rachel masih malu karena dia baru ketemu kamu."
__ADS_1
"Nggak apa-apa kak, aku mengerti."
"Oh iya, ini jus kamu." Kia memberikan pesanan Fanny.
"Aman kan Kak, nggak Kakak racunin?" goda Fanny.
"Enggak aku kasih racun, cuma aku jampi-jampi biar kamu makin sayang sama aku," balas Kia.
"Ayok kita lanjut jalan, enaknya kemana?" sela Davi.
"Ayah tolong bawain jus aku." Rachel memberikan cup jusnya pada Davi, dan dia langsung menggenggam tangan Davi yang satunya.
Melihat hal itu Kia tersenyum dan seolah memberi tepuk tangan atas kercerdasan anaknya itu. Sedang Fanny merasa kesal, karena tangan Davi menenteng 2 jus, sulit baginya memegang tangan laki-laki itu.
Anak setan sialan!
Sorot matanya tertuju pada Rachel yang terus berjalan bersama Davi.
"Bagaimana Fan? Kamu betah tinggal di sini?" tanya Kia.
Fanny berusaha menepikan kebenciannya pada Rachel, dia memberikan senyuman manis pada Kia. "Betah Kak, tapi aku tinggal hanya untuk misiku, eh maksudku pekerjaanku. Setelah pekerjaan selesai, aku akan kembali ke Negara yang selama ini mengharumkan namaku."
Mereka terus menyusuri setiap sudut kota, menikmati jajanan atau sekedar menikmati indahnya pemandangan kota mereka. Sepanjang perjalanan, Fanny harus puas karena hanya berjalan disamping Kia, dia tidak bisa menggandeng lengan Davi. Rachel menjadi penguasa di sana, sedikit saja dia mendekati Davi, anak itu selalu ada cara untuk membuatnya tersingkir secara halus.
__ADS_1