
Bagi Davi, ini surganya. Pagi saat ingin ke kantor, siang saat jam makan siang, malam setelah beberja, dia selalu mendatangi Likha. Tidak ada kesulitan lagi mendatangi Likha, Apartemen Likha tidak jauh dari kantornya, hanya beberapa blok, jalan kaki pun tidak memakan banyak waktu.
Davi tidur begitu nyenyak di istana baru itu, bahkan tidak terganggu sama sekali dengan keisengan Likha.
Melihat layar handphone yang menyala, tampak nama ibunya memanggilnya, dia segera beranjak dari posisinya dan mengayunkan kaki jenjangnya meninggalkan Apartemennya. Setelah merasa tempatnya aman, Likha segera menghubungi ibunya.
"Kenapa Davi beliin mobil buat kamu? Kamu yang meminta?"
"Karena dia mencintaiku, bukan hanya mobil, tapi juga Apartemen mewah dan kartu debit! Satu bulan ini aku merasa seperti Tuan Putri."
"Apa?!"
Likha tertawa bahagia, dia menyebutkan di gedung mana Apartemen mewah yang dia tinggali.
"Davi ... dia benar-benar target luar biasa. Hitungan bulan kamu dapat tempat tinggal, uang belanja dan mobil!"
"Sudah ya mama, aku mau elus ATM bernyawaku dulu." Likha menyudahi panggilannya dengan ibunya, dan bergegas kembali ke Apartemen.
Saat Likha kembali dia terkejut melihat Davi kembali rapi. "Kakak mau pulang?"
Davi menghampiri Likha dan merengkuh tubuh seksi itu. "Jangan Kakak lagi manggilnya."
"Manggilnya maunya apa?" goda Likha.
"Sayang, beby atau apalah."
"Sayang, kamu mau kemana?" Likha mengulangi pertanyaannya dengan nada yang manja.
"Aku mau pulang dulu, nanti kita lanjut pelayaran kita." Davi semakin gemas dengan bibir Likha, dan melahapnya seakan tak mau melepasnya.
Likha menyudahi pangutan mereka. "Ya sudah kalau mau pulang, sesampai rumah kabari aku sayang."
"Kamu darimana?" tanya Davi.
"Aku terpesona dengan gedung ini, tadi jalan-jalan lihat apa yang ada di sekitar. Serasa mimpi yank ...." Likha masuk kedalam pelukan Davi.
"Sudah dulu sayang, aku pasti datang buat kamu." Davi pergi meninggalkan Apartemen itu.
Selepas kepergian Davi, Likha terus melompat kegirangan atas pemberian Davi padanya. Apartemen, kartu, dan mobil sedan terbaru semua atas namanya.
"Darimana Davi mendapat data-dataku?" Likha penasaran, dia segera mengirim pesan pada Davi.
Tink!
\=Tidak ada yang sulit bagiku, apalagi hanya datamu. Bahkan besok pagi Nanda mulai sekolah di Sekolah yang sama dengan Rachel.
Likha semakin kegirangan. "Sepertinya langkahku untuk masuk kedalam bagian rumah tangga secara resmi tidak lama lagi," gumamnya.
Perjalanan Davi menuju kediamannya sangat lancar. Sesampai rumah Davi melihat Kia tidur di sofa, perlahan dia memindahan Kia ketempat tidur, Davi lega karena Kia tidak terbangun, karena dia rasanya tidak punya tenaga jika harus berpikir jawaban atas segala pertanyaam Kia.
__ADS_1
Davi langsung menuju kamar mandi, membersihkan diri di sana, selesai dia naik keatas tempat tidur dan memejamkan sepasang matanya.
Keesokan harinya, Kia terkejut kala menyadari dia tidur di kasur, dia melirik ke samping, dan di sana ada suaminya yang juga mulai menggeliat. "Mas, kamu pulang jam berapa? Kok nggak bangunin aku?"
"Lupa sampai rumah jam berapa, kalau dari kantor jam 12. Aku sengaja nggak bangunin kamu, kan kamu besoknya kerja juga."
"Kenapa akhir-akhir ini selalu lembur mas? Kamu ini pemimpin loh."
"Karena aku pemimpin, banyak yang jadi tanggung jawabku."
Entahlah, hatiku mengatakan hal lain. Aku percaya padamu, semoga jawaban yang akan diberikan oleh waktu tidak mengecewakanku. Batin Kia.
Kia dan Davi menuruni tangga bersama, keduanya disambut tatapan yang tidak mengenakan dari putri mereka.
"Pagi sayang," sapa Davi pada Rachel.
Rachel menyambar sepotong roti, dan mengaitkan ransel ke bahunya. Dia berjalan kearah Kia dan meraih tangan Kia. "Aku berangkat bund."
Davi mengulurkan tangannya, seperti biasa Rachel juga salim padanya. Namun kali ini anak kesayangannya itu melewatinya begitu saja dan mengabaikan uluran tangannya.
"Rachel sayang ...." panggil Davi.
Putrinya tidak merespon dan pergi begitu saja.
"Bunda, Rachel kenapa?" tanya Davi pada Kia.
"Dia kecewa karena satu bulan ini mas nggak pernah pulang saat makan malam."
Kia mengusap dada suaminya begitu lembut. "Bagi anak perempuan, Ayah adalah cinta pertama mereka. Mas tau sendiri hanya malam waktu kebersamaan kita, dan Rachel sedih karena kehilangan waktu kebersamaan dengan sosok yang dia sayang."
"Aku ada masalah di kantor, makanya aku lakuin banyak hal untuk menutupi kerugian dengan menambah pekerjaan lain," terang Davi.
"Masalah apa mas? Yang rugi apanya?"
"Proyek yang kamu perjuangin kemaren ...." Davi memasang wajah sedih.
"Rugi?" tebak Kia.
Davi mengangguk lemas. "Sebab itu aku selalu lembur, segala pekerjaan aku ambil, bahkan aku menjalin kerjasama dengan sepupu Indra."
"Maafin aku ya mas, harusnya aku tidak perjuangin proyek itu, harusnya aku ikutin jalan yang mas pilih dengan merelakan proyek itu untuk orang lain." Kia merasa sangat bersalah karena kerugian Davi.
"Jangan begitu, nggak apa-apa kok, aku hanya butuh dukungan kamu."
"Kita sarapan dulu mas, semoga mas segera dapat gantinya."
Selesai sarapan keduanya menuju mobil masing-masing. Namun Davi tidak langsung menuju kantor, mobilnya selalu saja menuju sebuah komplek Apartemen. Sesampai di pintu Apartemen Likha, dia segera membuka pintu itu.
"Pagi sayang ...." ucap Davi.
__ADS_1
Likha melompat kegirangan melihat Davi, dan berlari kearah laki-laki itu. "Sayang ... aku kangen banget sama kamu." Ciuman panas menghangatkan pagi mereka.
Davi tidak membalas, dia mendalami pangutan mereka, terus menggiring Likha ke sofa dan semakin mendalami semuanya.
40 menit yang begitu panas berlalu begitu saja, pagi yang dingin, suhu AC yang dingin tidak bisa mendinginkan hawa panas keduanya. Selesai dengan kegiatan pagi mereka Davi berjalan menuju kamar mandi.
Likha menyusul laki-laki itu dan menonton kegiatan Davi menyegarkan tubuhnya. "Aku merasa sedang di alam mimpi sayang," ucap Likha.
"Oh ya? Kenapa?"
"Tinggal di unit mewah ini, ada kamu saat pagi mataku melihatmu, bisa memelukmu, dan malam kita selalu bersama walau sebentar, ini kebahagiaan luar biasa."
"Eit ... sebentar? Ingat saat akhir pekan aku bersamamu 24 jam," protes Davi.
"Tapi butuh waktu seminggu untuk mendapat momen indah itu, tidak pernah ada rasa cukup untuk bersamamu," keluh Likha.
"Aku juga merasa demikian, semakin bersamamu aku semakin mabukk." Davi mengedipkan sebelah matanya.
"Aku diminta mama mengantar Nanda nanti, makasih ya sayang, ternyata kamu benar-benar membuat Nanda bisa bersekolah di Sekolah ternama itu."
"Jadi nanti kamu mau antar Nanda?" tanya Davi.
Likha mengangguk sambil menahan senyuman bahagianya.
"Kamu antar naik taksi saja, aku punya kejutan nanti."
"Kejutan apanya?"
"Kalau ku kasih tau sekarang, bukan kejutan namanya!" Davi mencipratkan air kearah Likha.
"Sayang ih ...."
"Ayo mandi sini," ajak Davi.
"Nggak mau, nanti malah makin lama mandinya. Kamu juga mau ke kantor kan?"
Pagi yang sangat indah bagi Davi, walau tubuh Kia tidak ada perubahan walau mereka menikah 11 tahun, entah mengapa dia kehilangan semangat jika mendayung perahu bersama Kia.
Selesai dengan kegiatan mandi, Davi kembali menuju perusahaannya. Wajahnya terlihat sangat ceria.
"Pagi bro!"
Sapaan itu menyita perhatian Davi.
"Eh, pagi juga Indra."
"Ya ampun bahagia banget ini," goda Indra.
"So pasti, memiliki istri seperti Kia rasanya aku memiliki seluruh kebahagiaan yang ada di muka bumi ini," sahut Davi
__ADS_1
Indra berusaha tersenyum, wajar jika Davi sangat bahagia memiliki Kia. Keduanya berjalan bersama menuju lift. Davi sampai lebih dulu ke lantai tujuannya, sedang Indra menuju lantai teratas.
Indra menatap kosong kepergian Davi, sehingga pintu lift yang menutup memutus pandangannya. "Kamu benar Davi, memiliki Kia rasanya memiliki seluruh kebahagiaan yang ada di muka bumi ini, sejak dia jadi milikmu aku benar-benar kehilangan kebahagiaanku," gumam Indra.