
Davi melirik jam tangannya, ini waktunya Rachel pulang sekolah. Davi meminta supir pribadi agar tidak menjemput Rachel, karena dirinya sendiri yang akan menjemput Rachel. Davi ingin meminta maaf pada putrinya itu, karena mengecewakannya. Yah ... ada tujuan lain dari rencana Davi. Dia sudah mengatur strategi agar bisa bersama Likha.
Saat jam sekolah Rachel masih waktu jam kerja, tapi Davi lagi-lagi meninggalkan kantor, hal ini membuat Dharma kesal, atas kelakuan Davi, datang siang, menghilang saat makan siang, bahkan pulang lebih cepat dari jam kantor. Sekarang bosnya pergi begitu saja, padahal pekerjaan lumayan padat, tapi apa daya dia hanya bawahan.
Sebelum menuju sekolah Rachel, Davi mampir di sebuah toko boneka. Dia membeli 2 boneka. Davi melanjutkan tujuannya, saat sampai di sekolah Rachel, dia mendapat tatapan sinis dari putri kesayangannya itu.
"Kenapa Ayah yang jemput? Mamang mana?" ucap Rachel sinis.
"Ayah sengaja ninggalin pekerjaan Ayah untuk jemput kamu," ucap Davi lembut.
"Aku nggak mau pulang sama Ayah!" Rachel berjalan melewati Davi begitu saja. Entah mengapa dia sangat kecewa saat Ayahnya tidak pulang tadi malam.
"Tidak usah peduli padaku, urus sana pekerjaan Ayah dari pagi sampai besok pagi lagi!"
Davi menatap lembut pada putrinya.
"Kenapa memandangiku? Bukannya di mata Ayah handphone lebih menarik?!"
Davi tidak menyerah, dia segera mengejar putri kesayangannya. "Rachel sayang ... maafin Ayah." Davi memberikan boneka yang memegang kartu bertuliskan kata maaf dalam bahasa inggris.
"Bukan maksud Ayah tidak pulang, hari Ayah juga suram tanpa kamu dan bunda, bagi Ayah kalian itu pelangi kehidupan Ayah." Davi berjongkok di depan putrinya.
"Sebagai perminta maafan Ayah, kamu boleh minta apa saja sama Ayah, selama Ayah mampu akan Ayah turutin semuanya."
Rachel masih memasang wajah cemberut, namun mendengar Ayahnya akan mengabulkan apa saja keinginannya, membuat bentengnya mulai goyah. "Semuanya?"
"Hm ...." Davi mengangguk dan memberi senyuman termanisnya. "Semuanya, apa saja yang putri cantik Ayah mau, Ayah akan perjuangkan "
"Pulang sekolah mampir di tempat ice cream viral!" pinta Rachel.
Davi segera bangkit. "Siap Tuan Putri, hamba akan mengantar kemana saja Tuan putri mau."
Rachel berusaha tersenyum, dia mengambil boneka yang masih dipegang Davi dan segera masuk kedalam mobil Ayahnya.
"Ayah, kenapa ada 2 boneka yang sama?" Rachel memperlihatkan boneka yang dia temukan di bangku belakang mobil Ayahnya.
Davi gugup, dia lupa menyimpan boneka yang memang dia beli untuk putri Likha. "Am ... umm ...." Davi berpikir keras, anak kecil sosok yang paling jujur. "Tadi Ayah nitip sama teman, ternyata dia salah dengar jadi beli 2, ya sudah Ayah simpan satunya."
"Owh ...." Rachel yang sangat polos percaya.
"Keduanya boleh buat Rachel kalau Rachel suka," ucap Davi.
Namun perhatian rekan bicaranya saat ini tertuju kearah lain, dia tidak merespon perkataan Davi, Rachel membuka pintu mobil dan mengejar seseorang. "Aunty Likha!" panggilnya.
Pemilik nama itu berbalik, dia memberikan senyuman bahagia kala bertemu Rachel. "Hai cantik ...." sapanya.
"Aunty sama Nanda mau kemana?" tanya Rachel.
"Mau pulang, tadi tante habis urus surat pindah Nanda, mulai besok Nanda sekolah di sini," terang Likha.
__ADS_1
"Kalian naik apa?" tanya Rachel.
"Naik taksi, ini lagi nunggu taksi."
"Sebentar ya tante, jangan pergi tunggu Rachel dulu." Rachel berlari ke mobil Ayahnya.
"Ayah, di sana ada Aunty Likha dan Nanda, apa boleh mereka ikut kita?"
Anak pintar, ini memang rencana Ayah, sayang, batin Davi.
Davi mempertimbangkan permintaan Rachel. "Tapi kan kita mau makan ice cream berdua." Davi terlihat keberatan.
"Kita ajak mereka juga, seru kan kalau ramai-ramai."
"Tapi ada sesuatu bagi orang dewasa yang akan merugikan Aunty Likha jika dekat sama Ayah ditengah umum, Rachel tidak mengerti hal itu."
"Ah Ayah ribet!" Rachel menyambar handphone Ayahnya dan langsung menelepon Kia.
"Halo mas, ada apa mas?" sapa Kia.
"Mas, mas, mas. Ini aku bunda."
"Ya ampun sayang, kok kamu pakai handphone Ayah, kamu di kantor Ayah?"
"Ayah jemput aku bunda."
"Sudah mau maafin Ayah?" goda Kia.
"Asyiknya dijemput Ayah, bunda jadi iri pengen dijemput juga."
"Bund, Rachel minta pendapat boleh?"
"Silakan sayang."
"Kalau ada orang yang kita kenal lagi kesusahan, bukannya kita harus bantu ya bund?"
"Betul sayang, ih anak bunda hebat pengen peluk rasanya."
"Begini bunda, di sekolah Rachel, aku nggak sengaja ketemu Aunty Likha dan Nanda, aku mau ajak mereka pulang bareng, ehh Ayah nggak mau bantu mereka bunda."
Di ujung sana Kia terdiam, pertanyaan seketika muncul ada urusan apa Likha di sekolah itu.
"Bunda ...."
Panggilan Rachel membuat Kia terperanjat. "Iya sayang."
"Memang apa salahnya jika kita bantu orang? Bunda tahu apa kata Ayah?"
"Apa sayang?"
__ADS_1
"Kata Ayah, ehem! Hm!" Rachel bersiap menirukan gaya bicara Davi. "Tapi ada hal orang dewasa yang akan merugikan Aunty Likha kalau dekat Ayah ditengah umum, Rachel tidak mengerti hal itu."
Kia tertawa mendengar Rachel menirukan Ayahnya. "Bilang Ayah, ajak juga Aunty Likha, selama ini dia sudah bantu kita, tidak salah membantu Aunty Likha, hanya sekedar memberi tumpangan bukan?"
"Sekalian traktir makan ice cream viral boleh?"
"Tentu boleh sayang."
"Temanin Rachel jalan-jalan boleh?"
"Selama Rachel suka, boleh sayang."
Davi menyimak semua pembicaraan Rachel dan Kia, dia langsung menyimpan handphone yang saat ini dia pakai berhubungan dengan Likha. Davi menyambar handphone yang tengah dipakai Rachel bertelepon dengan Kia.
"Bunda, Ayah nggak siap dengan pandangan orang-orang kalau sama Likha di sana."
Kia bahagia mendengar keberatan suaminya, walau ini permintaan putri mereka, tapi dia merasa Davi memikirkan perasaannya. "Demi kebahagiaan putri kamu mas, lihat sendiri Rachel sangat senang berteman dengan Nanda."
"Bunda terbaik!" puji Rachel.
"Kamu susul kami bagaimana bund?" usul Davi.
"Nggak bisa mas, ada rapat penting dengan patner Restoran aku, mungkin aku malam baru sampai rumah. Kalau mas sibuk antar Rachel ke rumah mama aja, biar Rachel bisa main sama Luna."
"Sudah dulu bunda, kemana aku gampang aja nanti, sekarang kasian Aunty Likha kepanasan nungguin taksi."
"Selamat bersenang-senang sayang ...."
Setelah menutup sambungan telepon mereka, Rachel segera menghampiri Likha dan putrinya, dia mengajak perempuan itu masuk ke mobil Ayahnya.
"Aunty duduk di depan saja, biar aku sama Nanda main dibelakang." Rachel membukakan pintu depan untuk Likha.
"Kita bisa bertiga dibelakang kok sayang, kan Aunty kecil," tolak Likha.
"Kasian Ayah seperti supir kalau kita semua dibelakang," protes Rachel. Rachel mengajak Nanda masuk mobil, dan dia memberikan boneka yang dia temukan di mobil Ayahnya pada Nanda, yah ... boneka itu memang dibeli Davi untuk Nanda.
Setelah Likha masuk mobil, Davi perlahan melajukan mobilnya, melihat Rachel dan Nanda asyik bermain, perlahan tangan Davi memegang tangan Likha.
"Sayang ...." ucap Likha tanpa suara, dia mengisyarat pada Rachel.
Davi tidak peduli. Melihat bagaimana Davi, Likha menaruh cardigannya untuk menutupi tangan mereka yang terus tertaut, agar Rachel tidak menyadari hal itu.
Yang Rachel tahu hanya kesenangan, dia sangat senang punya teman bermain, dia dan Nanda asyik dengan dunia mereka. Sedang Davi dan Likha terlihat saling diam, karena komunikasi mereka hanya lewat chating. Sesekali Davi mengisyarat genit saat menikmati ice cream miliknya.
"Ayah! Habis ini kita cari tempat main yukk!"
Permintaan Rachel mengusik ketenangan Davi yang tengah dimabuk asmara. "Main kemana lagi?"
"Kan Ayah bilang mau mengantar kemana aku mau, tadi bunda juga udah bilang sibuk, pulangnya malam. Nah kita main kemana gitu ...."
__ADS_1
Permintaan Rachel bukan hanya kesenangan untuk anak itu, namun juga kebahagiaan Davi karena saat ini Likha bersamanya.