Di Simpang Jalan

Di Simpang Jalan
Bab 64


__ADS_3

Setelah Davi pergi, Eren mengintip kembali memastikan Davi benar-benar pergi. Kini Eren berbalik memandang Likha. "Kenapa kamu sanggup hidup melarat seperti ini?"


"Mau gimana lagi? Mana aku tahu kalau akan sampai dikeadaan ini, aku tidak menyangka Kia benar-benar mengambil mobil dan Apartemen, aku kira dia bakal nolak!"


"Kamu ini, tanpa drama mengembalikan harta kamu sudah menang dengan adanya jabang bayi dalam rahimmu."


"Biar makin meyakinkan ma."


Eren menghempaskan tubuhnya di kursi kayu panjang yang terletak di sudut rumah itu. "Ingat tujuanmu hanya untuk menghancurkan Davi yang berani menelantarkanmu dan memberi tamparan pada Kia yang sombong itu!"


"Aku ingat itu mama, setidaknya sampai anak ini lahir ma, dan tunggu sampai aku pulih."


"Bagus! Ingat kamu ada Nanda yang masa depannya harus kamu perjuangkan, masa iya kamu biarkan anakmu hidup melarat bersamamu di sini."


"Aku harus susun rencana mama, kalau aku ninggalin Davi begitu saja akan sulit bagiku mencari suami baru yang mapan."


"Setelah pisah sama Davi, ya pindah kota! Bodoh kalau masih tinggal di sini."


"Jarak boleh jauh mama, tapi jejak digital susah untuk dihapus, tentu wajahku akan diingat orang-orang yang tahu berita ini."


"Ya mama tahu, tapi setelah meninggalkan Davi pergi jauh dari kota ini, hatimu itu terlalu lembek tidak bisa diperhatikan sedikit saja meleyot, mama khawatir kamu malah lupa misimu dan terlanjur nyaman dalam hubungan menyedihkan ini."


"Nanda aku tinggal lagi dong ma?"


"Ada mama untuk Nanda, untuk bayimu itu berikan pada Ingrid saja."


Eren memandangi keadaan kontrakan Likha. "Rasanya aku menyesal mendukung rencanamu, kehidupan kalian sangat menyedihkan!"

__ADS_1


"Jangan dipikir mama, aku saja tidak peduli dengan keadaanku, saat ini berusaha membuat Davi tidak menyesal meninggalkan kehidupan lamanya, ya setidaknya sampai anak ini lahir, dan menunggu waktu itu aku ingin Davi merasa bahagia bersamaku."


Suara langkah kaki yang terdengar memasuki pelataran rumah itu, membuat Eren dan Likha merubah pembicaraan mereka.


"Ma, papa Nomad kan banyak kenalan. Kasih kerjaan buat Davi ma, nggak apa-apa walau hanya sebagai buruh biasa," ucap Likha.


"Nanti mama bicarakan sama papa."


"Maaf lama ya, antrian lumayan banyak," ucap Davi yang baru datang.


"Mas, mas nggak apa-apa kan kalau bekerja sebagai pegawai biasa misal ada lowongan?" ucap Likha.


"Nggak apa-apa, demi melanjutkan kehidupan kita bersama kerja apa saja aku rela." Davi menunduk sejenak, pikirannya apa dirinya mampu menghadapi orang banyak yang pasti mencemooh kebodohannya. Dirinya yang seorang pemimpin lalu bekerja sebagai pegawai biasa, apa dirinya kuat?


"Kalau mas malu, kita pindah ke desa Ayahku saja, kita bisa jadi petani di desa."


"Sudah sini aku ajarin." Likha membuka mika pembungkus rujak itu dan menjadikan bagian penutup untuk menahan potongan buah yang lain. "Gini aja, ayok mas kita nikmati sama-sama."


"Mama yang minta beliin malah dilupain!" omel Eren.


"Maaf mah, semenjak mas Davi di sampingku aku jadi lupa segalanya, yang aku perhatikan hanya mas Davi."


*


Saat sepi seperti ini kepala Davi dibuat pusing melebihi 7 keliling. Sedang Likha sudah berlarut kealam mimpi, inilah yang Davi suka dari Likha, wanita ini sangat pandai menenangkan kepala bawah miliknya. Tapi tidak pandai menenangkan kepala atasnya.


Davi keluar dari kamar, dia duduk di teras rumah memandangi jalanan yang gelap gulita, karena jalanan di depan rumahnya minim penerangan. Davi memijat kepalanya yang terus berdenyut, bukan hanya itu bahkan bernapas pun terasa sulit, rasanya sangat butuh bantuan tabung oksigen untuk menyuplai oksigen ke paru-parunya. Tarikan napasnya santai, namun ada rasa yang membuatnya terasa sangat berat, walau hanya menarik satu tarikan napas saja. Pekerjaan tidak ada, sedang perut minta jatah untuk penggilingan pencernaan. Apalagi mengingat saat ini Likha hamil, jangankan memikirkan persiapan persalinan, memikirkan untuk bertahan hidup saja Davi tidak tahu harus bagaimana.

__ADS_1


Davi meraih handphonenya yang seperti kehilangan nyawa. Handphone yang selama ini selalu berteriak mendadak pendiam setelah keadaannya berubah drastis. Davi menghubungi salah satu sepupunya, panggilannya tidak diterima, dia mencoba menghubungi nomor lain, ada yang menerima tapi tidak bisa membantunya memberi pekerjaan atau hutangan.


Pikiranya menerawang jauh, mencoba mencari solusi bagaimana meneruskan kehidupan yang dia pilih saat ini. "Sepertinya aku harus jual apel ini untuk biaya hidup selanjutnya," gumamnya.


Tidak ada pilihan lagi, dia harus mengganti apel krowaknya dengan handphone sejenis siomay, kentang, atau telur rebus. Mendapat solusi sementara, Davi kembali ke kamar dan ikut berlabuh ke alam mimpi.


*


Bahkan beban hidup yang dia hadapi saat ini tidak hanya membuatnya pusing di realita saja, bahkan derita itu sampai kedalam alam mimpinya, pusing memikirkan bagaimana meneruskan kehidupan ini, agar tetap bahagia tapi tidak kelaparan begini saja dia tidak menemukan solusi baru, bagaimana berjuang untuk kebahagiaan lain? Namun suara ayam jantan sudah saling bersahutan menyambut fajar yang sebentar lagi akan menampakan cahayanya.


Alam masih sepi, Davi terbangun sambil memijat kepalanya. Dia melirik Likha, wanita itu masih tidur lelap beralaskan kasur tipis yang melindungi punggung mereka dari dinginnya beton acian tanpa porselen. Davi segera bangun, menyegarkan tubuhnya yang letih bermandikan keringat di pacuan yang tidak empuk tadi malam. Selesai dengan kegiatan menyegarkan tubuh, dia segera berkutat di dapur, menanak nasi dan membuat telor dadar untuk menemani pagi mereka.


"Ya ampun mas, kamu sudah bangun." Likha langsung memeluk Davi dari belakang.


"Iya, mandi sana. Abis mandi kita sarapan."


"Aku malu, seharusnya aku kerjain ini semua," ucap Likha.


"Siapa bilang pekerjaan kamu, rumah tangga ya saling bantu, karena aku belum bisa bayar jasa pelayan, biar aku sendiri yang melayanimu dan calon anak kita."


Perlakuan Davi sangat sederhana namun rasanya bangunan hati Likha bergoncang hebat karena perhatian yang Davi berikan. Selama mereka bernaung di rumah sederhana ini, Davi memperlakukannya seperti ratu, bahkan saat dia mandi, Davi mencuci pakaian mereka. Likha memandang sayu kearah Davi, laki-laki itu tersenyum padanya dan terus melakukan pekerjaan rumah.


Jika dia terus meratukanku seperti ini, aku takut kekhawatiran mama akan jadi nyata, di mana aku lupa misiku dan benar-benar mabuk dalam kehidupan menyedihkan ini.


"Capek ya sayang?" Davi duduk di lantai, kedua tangannya memijat betis Likha yang tak lagi jenjang, sepasang kaki itu terlihat semakin gemoy.


"Mandangin kamu tuh gak bisa puas, rasanya selalu pengen lihat kamu terus." Likha meraih wajah Davi dan menempelkan bibir mereka.

__ADS_1


__ADS_2