Di Simpang Jalan

Di Simpang Jalan
Bab 76


__ADS_3

Selama 3 hari pengantin baru itu terus mengurung diri di kamar. Namun kali ini Davi mengenakan baju kaos oblong dan celana bahan.


"Mau kemana sayang?" tanya Fanny.


"Mau ke gubuk Likha sebentar."


"Jangan celup di sana!" omel Fanny.


"Enggak lah, aku kesana untuk balas rasa sakit kita. Dia membodohiku dengan drama cintanya, dan aku ingin membayar lunas semua beserta bunga-bunganya." Davi menahan tengkuk Fanny dan mencium bibir wanita itu dengan liar.


Perlakuan romantis seperti inilah yang Fanny harap dari Davi, dia sangat menikmati setiap detik kebersamaannya. Akhirnya pangutan itu pun terlepas. "Kapan kembali?"


"Mungkin siangan. Tapi aku harus ke sekolah Rachel dulu, yah ... berperan sebagai Ayah tiri yang baik mendukung drama cinta-cintaan."


"Habis dari sana langsung ke Apartemen aku ya, aku mau kita bermalam di sana."


"Iya sayang, aku pergi ya."


Davi meminjam mobil ibunya, dan segera menuju kontrakan Likha.


***


Likha merasa familiar dengan mobil yang parkir di halaman kontrakannya, dia belum mengingat siapa pemilik mobil itu, namun tiba-tiba kebahagiaannya meledak, sosok yang dia rindukan selama 3 hari ini kembali.


"Mas Davi ...."


Likha berusaha bangun, namun tetap Davi yang lebih dulu menghampirinya.


"Mas, kenapa mas susah dihubungi, apakah tidak sempat membalas pesanku walau sekali saja."


"Aku sengaja mengabaikan semua pesanmu dan tidak menerima panggilanmu, semua itu membuatku merasa berharga dan dirindukan, aku semakin semangat bekerja setiap melihat layarku ada namamu dan ada pesan darimu, kalau aku jawab pesanmu atau ku terima panggilanmu, semangat itu pergi begitu saja, karena setelah kamu tau keadaanku, kamu tidak menghubungi aku lagi."


Wajah Likha bersemu merah, demi apa? Davi sengaja mengabaikan semua itu agar dia selalu menghubungi Davi. "Mas nakal! Aku cemas tau!"


"Aku tahu, dan aku bahagia karena aku merasa kamu sangat rindu aku, dan khawatir padaku. Perhatianmu ini membuatku semakin bahagia memilikimu. I love you sayang." Davi mendaratkan ciumannya diantara kedua alis Likha. Ciuman yang dia beri seketika membuat perutnya terasa melilit, melakukan hal manis ini pada Likha saat ini terasa memuakkan. Dari dalam dirinya, dia malah ingin membenturkan kepala wanita ini ketembok dan menendangnya sekuat yang dia bisa.


"Mas ... kangen ...." Likha mengisyarat Davi menuju pacuan kuda mereka.


"Mas juga kangen, tapi sekarang acara Nanda, mas mau ke sana sebagai papa Nanda."


"Hanya Nanda?" Likha memastikan.


"Hanya Nanda yang butuh aku." Davi meraih dompetnya, mengambil beberapa lembar uang dari sana dan memberi pada Likha. "Untuk kebutuhanmu selama aku tidak di rumah, aku dapat kerja tambahan dari cafe lain. Semoga pekerjaanku lancar agar bisa bahagia in kalian."


"Sampai kapan mas lembur?"


"Sampai pekerjaan itu tak butuh aku lagi. Aku pergi dulu ya."

__ADS_1


"Mas, itu mobil siapa?"


"Itu mobil ibu, dan ibu mulai luluh saat dengar kamu hamil, dia meminjamkan mobil ini agar aku mudah bekerja."


Likha semakin bahagia mendengar ibu Davi mulai memperhatikan mereka. Namun kebahagiaan itu seketika lenyap, karena yang dia rindukan harus pergi lagi. Kedatangan Davi untuk Nanda, ini sudah lebih dari cukup, walau batinnya menjerit tidak bisa mendaki ke puncak kepuasan bersama Davi.


*


Acara Sekolah.


Rachel tampil membacakan puisi tentang bundanya, puisi itu tidak hanya membuat air mata Kia menetes, tapi bunda yang lain pun ikut terharu. Puisi Rachel selesai, suara tepuk tangan menggemuruh mengapresiasi penampilan Rachel.


"Ada kata-kata yang ingin disampaikan buat bunda?" tanya pemandu acara.


"Ada."


Dari tempat duduknya Kia terus berdoa, semoga anaknya tidak berkata yang bukan-bukan.


Rachel mendekatkan mulutnya pada mic.


Bunda, dia wanita cantik yang egois. Tidak terima orang lain memarahi anaknya, tapi dia sendiri memarahiku sampai aku menangis.


Bunda, dia ras terkuat yang aku ketahui, dia bisa jadi apa saja untukku, jadi Ayah, jadi teman, jadi sahabat, tapi kadang bunda juga jadi sainganku.


Kia berusaha menahan napasnya.


Kali ini harapan Kia dikabulkan, Rachel menyudahi kalimatnya dan turun dari panggung.


"Ah ... terima kasih Tuhan ...." ucap Kia pelan.


Acara kenaikan kelas berjalan lancar, setiap anak mempunyai cerita mereka masing-masing. Di sudut taman sekolah, tepat di bawah pohon rindang, Misye membuka raport anaknya.


"Semuanya dibawah rata-rata." Dia memijat kepalanya yang mulai berdenyut.


Banyak orang tua memposting prestasi anak-anak mereka di media sosial mereka, sedang Misye hanya jadi penyumbang like dan komentar ucapan selamat untuk mereka.


"Mama juga pengen posting keberhasilan Ziel ya?"


"Nggak apa-apa Ziel nggak berprestasi, nggak apa-apa Ziel nggak nomor satu, tapi kan Ziel nomor 1 dari urutan belakang, pertahankan Nak!" ucap Misye dengan nada setengah mengejek.


Bukan menuntut anak untuk lebih baik, hanya saja sebagai orang tua Misye juga berharap anaknya berprestasi entah dari hal apa saja yang dia sukai.


"Hai Ziel ...."


Sapaan itu menarik perhatian Azriel dan Misye.


"Hai juga Rachel, tumben mau pakai kursi roda?" Azriel mengamati keadaan Rachel.

__ADS_1


"Ya harus, kan kasian bu guru gendong aku kalau aku nggak pakai kursi roda, soalnya hari ini om Indra ada pekerjaan penting."


"Oh iya, aku lupa kalau om tadi malam pergi."


"Gimana nilai Rachel, Ki?" tanya Misye.


"Memuaskan." Kia memberikan senyuman manisnya.


"Aku kali ini nggak juara Aunty," sela Rachel.


"Tapi kan Rachel juara di hati bunda," sela Kia.


"Bundaaa ...." Rachel sangat terharu dengan sikap Kia.


"Selamat ya Rachel, sekarang Rachel ke kelas 6."


Senyuman di wajah mereka seketika lenyap karena kedatangan orang itu.


"Bunda, kita pulang sekarang!" Rachel menatap sinis pada Davi.


"Salim dulu sama Ayah," bujuk Kia.


"Ogah!" Rachel menggerakan roda kursinya dengan kekuatan dari tangannya.


"Ziel sayang, bantu Rachel yuk." ajak Misye.


"Iya mama." Azriel langsung mendorong kursi roda Rachel di bawah pengawasan Misye.


Bagaimana dia bisa berjuang mendapatkan Kia kembali, melihat tatapan Kia saja dirinya bisa merasakan wanita tidak nyaman melihatnya. Davi menatap sendu kearah Rachel yang pergi begitu saja. "Selamat Kia, kamu berhasil membuat Rachel benci padaku."


"Udah nggak bisa jaga hati, sekarang ditambah nggak bisa jaga mulut!" omel Kia.


"Lihat perubahan Rachel sekarang, pasti kamu kan ajarin dia buat benci sama aku!"


"Anakmu benci padamu, karena perbuatan kamu sendiri! Aku nggak pernah ajarin Rachel buat benci pada orang, apalagi pada Ayahnya. Sebejat-bejatnya kamu, aku masih hormati kamu sebagai Ayah dari Rachel, aku aja nggak benci kamu, walau aku orang yang paling tersakiti!"


"Balas aja Ki, aku tahu rasa sakit yang kuberikan itu terlewat batas."


"Cukup Tuhan yang balas, aku tidak mau lelah berurusan denganmu."


"Owh, jadi sebab itu kamu blokir semua tentangku."


Kia menatap sinis pada Davi. "Makin nggak jelas kamu!" Kia langsung berbalik ingin pergi meninggalkan Davi, namun saat yang sama ada anak yang berlari di depannya, agar tak menabrak anak itu Kia menahan pergerakannya, hal ini membuatnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh dalam pelukan Davi.


Davi ingin sekali menghentikan waktu di detik ini untuk selamanya, ini adalah detik terindah dalam hidupnya.


"Maaf nggak sengaja." Kia melepaskan dekapan Davi dengan kasar, membuat tubuh laki-laki itu terhuyung, Kia segera pergi meninggalkan laki-laki itu.

__ADS_1


__ADS_2