Di Simpang Jalan

Di Simpang Jalan
Bab 24


__ADS_3

Likha sangat kecewa dengan keputusan Davi, dia bergegas menuju kediaman ibunya. Sesampai di kediaman ibunya, Likha menarik ibunya menuju kamar yang biasa dia tempati.


"Kapan kamu pulang sayang?"


"Tadi siang."


"Mana oleh-oleh buat mama dan Nanda?"


"Aku tidak bisa memikirkan oleh-oleh mama, aku punya masalah!"


"Masalah apa Likha?"


"Davi meninggalkanku ma."


"Apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba begini? Apa kamu berbelanja berlebihan saat di luar Negri?" tebak Eren.


"Aku tidak membeli apa-apa, barang yang ada semua dibeli oleh Davi, aku tidak meminta."


"Tapi ini mengejutkan, tiba-tiba Davi memutuskan hubungan kalian, padahal semua baik-baik saja."


"Aku tidak tahu, selama diluar negri juga tidak ada masalah, kami menikmati waktu kebersamaan kami." Likha belum siap menerima keputusan Davi.


"Apa Davi bosan padamu?" tebak Eren.


"Itu mustahil mama, mama tahu sendiri Davi tidak mudah tertarik pada perempuan, aku saja butuh waktu dan rencana matang untuk membuatnya candu padaku."


Eren juga merasa hal itu. "Apa Kia mengetahui hubungan kalian?"


"Aku tidak bisa berpikir mama."


"Kepanikan Davi hanya Kia. Mungkin sebab ini Davi memutuskan untuk meninggalkanmu, tahu sendiri laki-laki yang panik saat rahasianya terbuka dia akan meninggalkan mainannya, dan mempertahankan istri sahnya."


"Entahlah mama, sebentar lagi hari perkumpulan orang tua di Sekolah Nanda, lihat di sana bagaimana hubungan mereka, keadaan itu akan menjawab Kia tau atau tidaknya."


"Biarkan dulu seperti ini, namanya juga laki-laki saat dia sadar akan kesalahannya, dia berusaha memperbaiki apa yang telah dia hancur, tapi sebagian memilih pertahankan istri sah bukan karena ingin memperbaiki, hanya panik dan menenangkan keadaan, setelah keadaan mereda dia kembali nakal lagi."


"Tapi aku sekarang sangat takut mama, selama di luar Negri aku berhubungan tidak memakai pengaman, bagaimana jika aku hamil setelah Davi tinggalkan?"


"Kenapa kamu sangat ceroboh!" maki Eren.


"Aku terlalu menikmati semuanya mama."

__ADS_1


"Jika sampai kamu hamil, bebanmu semakin bertambah! Dan sulit mencari pendamping, laki-laki yang datang setelah Davi juga akan berpikir berkali-kali jika kamu punya 2 anak!"


"Mama ... tolong bantu aku cari jalan keluar, bukan menambah bebanku karena terus menceramahiku ...."


"Telepon Davi sekarang!"


Likha meraih handphonenya dan segera menghubungi Davi. Nomor khusus yang mereka gunakan tidak aktif, sedang nomor Davi yang biasa tidak bisa dihubungi. "Sepertinya nomorku dia blokir mama."


"Arggg!" Eren sangat kesal.


"Jika Davi benar-benar meninggalkanku, apa aku harus memindahkan Nanda lagi? Aku tidak sanggup membayar biaya sekolah di sana."


"Urusan Nanda biar jadi tanggungan mama, Nanda sekolah di sana lebih bagus, andai Davi benar-benar meninggalkanmu, kamu mudah mencari penggantinya di sana, banyak orang kaya menyekolahkan anak mereka di sana. lebih baik hidup enak walau jadi istri simpanan laki-laki kaya, daripada menjadi ratu, tapi setiap saat tapi jadi babu!"


Apa kata ibunya Likha merasakan langsung, tidak mudah membangun rumah tangga hanya modal cinta, sedang saat bersama Davi, dia bisa melakukan apa yang dia mau walau hanya jadi simpanan.


Di belahan lain.


Davi mengasingkan diri ketempat sepi, untuk minta maaf pada Kia masih mengganjal di hatinya, rasa bersalah ini membuatnya tidak berani menampakan batang hidungnya ke hadapan Kia. Rasa bersalah dan penyesalan mengikat kuat paru-paru dan jantungnya membuatnya merasa kesulitan menarik napas. Davi menghentikan mobil saat dia melewati jembatan. Dia turun dari mobil dan memandangi arus sungai yang cukup deras di bawah sana.


Pikiran Davi, dia ingin terjun bebas ke aliran sungai yang dipenuhi bebatuan itu, agar rasa bersalah ini berhenti menyiksa dirinya.


"Setiap tahun kita tidak pernah absen pada acara sekolah Rachel, apapun masalah kita, jangan sampai berdampak pada Rachel."


Sekujur tubuh Davi bergetar hebat, dia telah menyakiti wanita di ujung telepon itu dengan rasa sakit yang luar biasa, hanya demi anak, wanita itu tetap menghubungi dirinya.


"Apa aku boleh pulang?" ucap Davi terbata.


"Ada aku melarangmu untuk pulang?"


"Kia--" Davi tidak bisa menerukan kata-katanya, Kia sudah memutuskan panggilan mereka secara sepihak.


Walau Kia menghubunginya hanya demi Rachel, hal ini membuat keyakinan hadir dalam diri Davi, entah dari mana geritik itu, dia yakin Kia mau memaafkannya demi Rachel. Davi mengurungkan niatnya untuk mengakhiri hidupnya, dia kembali ke mobilnya dan memberanikan diri untuk pulang.


Sesampai di rumahnya, Davi langsung menuju kamarnya dan Kia. Melihat Kia berdiri di dekat jendela Davi mematung, keberanian untuk bertemu Kia seketika pudar.


"Bisa tutup pintunya? Aku masih ingin bicara," ucap Kia.


Davi menuruti permintaan Kia dan segera mengunci pintu kamar mereka.


"Sudah punya jawaban atas pertanyaanku kemaren?" tanya Kia.

__ADS_1


Davi mematung ditempatnya karena tidak mampu menjawab pertanyaan Kia.


"Atau mas lupa pertanyaan itu? Baiklah, aku akan tanyakan ulang."


Kia berjalan mendekati Davi. "Coba mas kasih tau aku, apa kekurangan aku yang membuat mas berpaling pada wanita itu? Sesuatu yang mas cari hanya ada pada dia dan tidak ada padaku? Sehebat apa dia mas?"


Davi menarik napasnya begitu dalam. "Sedikit pun tidak ada kelebihan dirinya yang melebihi kamu, aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu apa kurangmu, karena kau tidak punya kekurangan."


Davi berusaha mengatur napasnya, rasanya dia tenggelam dalam lautan membayangkan kesalahannya.


"Kamu terlalu sempurna Kia, sehingga aku merasa tidak berarti berdiri bersamamu. Mungkin bagi orang-orang ini masalah kecil, tapi tidak bagiku. Setiap orang memujimu mengagumimu, aku merasa seperti benalu dalam hidupmu." Davi menarik napasnya dalam-dalam dan menghempasnya. "Tapi aku memang benalu, mengapa aku lupa ini ...." Davi berjalan menuju tembok dan membenturkan kepalanya ke tembok kamar mereka. "Bodohnya aku! Seharusnya aku bangga punya istri hebat sepertimu."


Kia diam, dia membiarkan Davi menyakiti dirinya sendiri.


"Kau tau bagaimana sakitnya merasa tidak berarti saat di sisimu?"


"Aku tahu! Sebab itu aku membiarkanmu meneruskan perusahaan yang kau pimpin saat ini!"


"Apa itu cukup?! Setiap saat aku selalu direndahkan, segala keberhasilanku yang dipuji orang hanya dirimu! Aku menahan rasa sakit itu sendiri."


Davi mengusap air matanya. "Lihat, aku sangat bodoh, bukannya bangga dan bahagia aku malah merasa menderita. Karena aku bodoh, aku tidak bisa menolak godaan yang datang, godaan Likha, hal ini yang membuatku bertambah bodoh. Likha datang padaku mengemis cintaku. Aku merasa dibutuhkan olehnya, rasanya untuk pertama kali aku merasa memiliki tempat khusus di bumi ini. Saat bersamamu, aku merasa aku hanya numpang."


"Terus, kamu ingin bersama Likha?"


"Sejak awal aku menerima cinta Likha, aku tidak ada niat untuk bersamanya, aku hanya mengatakan, bersamamu aku merasa terkucilkan dan tidak berharga, sedang dia? Dia menempatkanku seperti raja, sebab itu aku terjerumus pada rayuan Likha "


"Bukankah itu artinya kamu bahagia bersama Likha? Jika kamu bahagia bersama dia, silakan lanjutkan hubungan kalian."


Davi menggelengkan kepalanya. "Aku tidak ingin bersamanya, apa kamu tidak mengerti rasa sakitku sehingga aku terjerumus?"


Kia sangat mengerti apa yang Davi maksud, jauh sebelum Davi mengeluh dia berusaha meminimkan rasa sakit itu dengan memberikan kekuasaan penuh pada Davi. "Terus, sekarang apa mau mu?" tanya Kia.


"Aku berharap kamu bersedia memberiku kesempatan kedua."


Kia tidak merespon Davi, dia berjalan kearah pintu dan meninggalkan Davi di kamar mereka sendirian.


Kia menghabiskan malamnya di kamar putrinya. Setiap perkataan Davi selalu berputar di kepalanya. Dia sendiri menyadari kekaguman orang-orang padanya membuat Davi merasa rendah diri. Padahal perusahaan yang Davi kelola kerja keras Davi dan Kia, bukan Kia sendiri. Namun orang-orang hanya melihat Kia, dan memandang rendah pada Davi. Kia sangat memahami perasaan Davi yang sakit atas keadaan ini, namun memaafkan Davi juga sulit baginya.


Davi sendirian di sana, dia menyeret kaki lemasnya menuju walk in closet, mengemasi beberapa pakaiannya, rasanya sangat jauh maaf dari Kia untuknya. Koper kosong itu sudah dipenuhi pakaian Davi, dengan berat hati dia meninggakan istana mereka.


Pikiran Davi sangat kosong, dia menyeret sepasang kakinya menuju perusahaannya. Kamar pribadi yang ada di ruangannya menjadi pilihan Davi untuk jadi tempat bernaungnya untuk sementara waktu.

__ADS_1


__ADS_2