
Mendengar ucapan Davian, Likha memasang wajah masam.
"Kenapa bidadariku?" Davian berusaha menarik wajah Likha agar dia bisa mencium wanita itu.
Likha menepis tangan Davi. "Kenapa Kakak pengen cepat sembuh? Padahal semakin lama Kakak sembuh, aku semakin bahagia. Karena hanya dengan keadaan seperti ini kita bisa bersama."
"Iya juga ya? Kalau aku sembuh kamu tidak datang untuk merawatku."
"Aku jadi sedih ...."
"Jangan begitu, dunia ini luas. Kita bisa bersama di sisi lain yang tidak ada Kia."
"Sulit kak. Kost-an aku sebagian besar penghuninya mengenal Luna. Hotel? Ku rasa itu tetap ada batas.
"Jangan sedih, setelah keadaanku membaik, aku akan memikirkan cara supaya kita tetap bisa bertemu. Saat ini, nikmati waktu kita."
Likha kembali berkegiatan di atas tubuh Davi, membuat laki-laki itu menggeleng dan memejamkan matanya atas segala rasa yang menyapa sekujur tubuhnya.
"Saat ini aku masih belum bisa leluasa. Saat aku benar-benar sembuh, aku akan membayar lunas semuanya," ucap Davian lirih.
"Aku tunggu itu." Likha semakin tak terkendali.
Davian tidak mengerti perasaanya sendiri. Sebelum jatuh dalam lautan lumpur hitam bersama Likha, tubuh Kia adalah yang sangat dia rindukan setiap waktu. Namun setelah merasakan liang kenimatan dunia milik Likha, ini adalah hal yang dia rindukan setiap detiknya.
Di sisi lain.
Kia mencoba memahami laporan yang dia terima. Keuntungan yang akan didapat dari proyek suaminya sangat besar. Tapi Perusahaan Suaminya kekurangan modal untuk proyek itu.
"Sudah coba hubungi investor lain?" tanya Kia pada Dharma.
"Sudah. Berbagai cara sudah kami tempuh, tetap saja kami belum medapatkan modal, bahkan Tuan Davi mengajukan pinjaman pada bank, tapi tetap belum disetujui."
"Ya jelas tidak disetujui, seingat saya masih ada hutang lain pada Bank."
"Nyonya benar, Tuan pernah mengajukan pinjaman untuk proyek yang saat ini tengah berjalan itu."
Kia memutar otaknya, bagaimana menemukan cara agar bisa mendapatkan tambahan modal. Kia meminta Dharma meninggalkannya. Membantu langsung bisa, namun dia menjaga perasaan suaminya.
Setiap berjumpa rekan bisnis suaminya, orang-orang yang mereka temui selalu memuji Kia. Kia khawatir suaminya merasa rendah akan pujian-pujian orang padanya.
Kia teringat sosok sahabatnya, dia berharap bertukar pikiran dengan sahabatnya dia menemukan jalan keluar. Kia langsung menghubungi Nabila. Sahabatnya itu lebih berpengalaman dari dirinya.
"Iya Kia? Apa ada kesulitan lagi?" tebak Nabila dari ujung telepon sana.
"Perusahaan mas Davi kekurangan modal, kalau aku nambahin misal nanam saham langsung, kamu tau sendiri bagaimana nanti ucapan orang, aku takut mas Davi merasa tak dihargai. Mereka tidak pernah melihat kehebatan Mas Davi."
"Kalau aku boleh jujur ya, memang benar adanya suamimu tidak punya kehebatan. Kesuksesan perusahaan yang dia jalankan berkat dirimu."
"Nabila ...."
"Satu kehebatan suamimu, bisa membuat wanita baik sepertimu jatuh cinta padanya."
"Fokus saham Nabila ...." ucap Kia.
__ADS_1
"Kamu maunya gimana?"
"Aku ingin bantu mas Davi, tapi jangan keliatan kalau aku yang banti. Hm ... lewat kamu aja gimana?"
"Aku tidak mau terlibat, jujur aku masih tidak ikhlas kau sama Davi. Kalau kamu ingin begitu, sebaiknya kamu lewat Indra aja, biar anak perusahaan Indra yang jadi perantara ke Perusahaan Davi."
"Kamu bantu bicara sama Indra ya ...."
"Ingin ku tembak kepalamu, pinter tapi beogo akut! Indra yang mencintaimu kamu tolak, padahal kamu tahu dia baik, apalagi kamu mengenal baik bagaimana keluarga Indra."
"Nabila ...." ucap Kia.
"Ini uneg-uneg lamaku, aku tidak mengerti sampai sekarang tidak bisa menyukai Davi. Bahkan aku belum bisa percaya dia. Sulit bagiku yakin kalau dia akan selalu menjaga segala apa yang kamu beri, misal kepercayaanmu."
"Ya ampun Bila ... aku sama Davian menikah lebih 10 tahun loh!"
"Yang menikah 50 an tahun aja bisa ada yang berubah saat terserang virus, jaga-jaga aja Ki ...."
"Kembali pada bisnis, kalau saat jam makan siang bisa kita ketemuan? Sekalian bertiga sama Indra," ucap Kia.
"Kenapa kamu nggak temuin Indra langsung?" tanya Nabila.
"Mas Davi masih cemburu sama Indra, apalagi Indra melebihi dia dari berbagai aspek."
"Cowok aja tau apa kelebihan Indra, kamu masih aja kekeh menerima si Dapi itu!" sungut Nabila.
"Aku dah punya anak, masih saja kamu Bil ...." Kia memahami kalau sahabatnya sangat tidak terima dirinya menerima Davi sebagai pasangan hidupnya. Nabila sangat berharap Kia menerima cinta Indra.
Pekerjaan yang tidak ada habisnya membuat waktu tidak terasa berlalu begitu cepat. Kia menyudahi pekerjaannya dan segera menuju Restoran tempat pertemuannya dengan Nabila dan Indra.
Menu yang mereka pesan sudah tersusun rapi di atas meja. Kia masih belum menyentuh makanannya. Melihat hal itu, Indra menyadari apa yang Kia pikirkan.
"Nabila sudah menceritakan apa tujuan pertemuan kita siang ini?" tanya Kia pada Indra.
"Sudah. Idemu bagus. Demi menjaga perasaan suamimu, aku salut dengan idemu."
"Perusahaan kecilku itu akan jadi salah satu patner kerjasama buat perusahaan Davi," ucap Indra.
"Kalau mas Davi tau itu juga perusahaan kamu, mungkin dia akan menolak, selama dia bisa menghindari kamu, dia pasti menghindar."
"Ya ... aku memahami ketakutan Davi," ucap Indra.
"Proyek yang saat ini tengah berjalan, kala itu dia tidak bisa menghindar, karena dia menginginkan proyek ini. Tapi, kalau untuk proyek yang kita bahas ini, aku yakin dia akan menolak."
"Aku memahami perasaan Davi, memiliki istri sepertimu, tentu dia ingin menjagamu dari kemungkinan bahaya sepertiku." Indra menarik napasnya begitu dalam. Dirinya memiliki kelebihan jauh dari Davian, bukan menyombongkan diri, bahkan paras pun dia lebih unggul. Tapi Kia hanya menyukai Davi. Sedang Indra tidak bisa menghapus rasa cintanya pada Kia, di usia 35 tahun ini, Indra masih betah melajang.
"Aku yakin proyek ini menguntungkan, sebab ini aku berharap bisa memenangkannya," ucap Kia.
"Aku selalu percaya dengan feelingmu, Ki." ucap Indra.
"Maafin aku, karena merepotkan kalian, jika mas Davi tahu aku memberi dana pada Perusahaannya, dia akan merasa terhina."
"Kami mengerti Ki," ucap Nabila.
__ADS_1
"Mas Davi akan sangat tersingung kalau aku membantunya"
"Jika usaha ini sukses, orang-orang tahu ini karena aku terlibat. Mereka hanya memujiku, bayangkan perasaan mas Davi."
Bahasan kerjasama dan bantuan diam-diam untuk perusahaan Davi mereka setujui,
Mereka segera menikmati makan siang mereka.
Selesai makan siang, ketiganya segera meninggalkan Restoran itu. Kia berada di mobilnya, perasaan rindu pada suaminya mengarahkan tangannya mengambil benda pipih persegi panjang itu dan dia menelepon suaminya.
Di sisi lain, Davian meminta bi Sarah mengantarkan makanan ke kamarnya. setelah mengantar makanan bi Sarah mendekati Likha yang selalu duduk di kursi yang ada di depan kamar Kia.
"Jam segini neng Rachel belum kembali, neng Likha mau makan di sini, atau makan sama bibi dan para pelayan lain di belakang?" tanya bi Sarah.
"Saya di sini dulu bi, takutnya Tuan butuh sesuatu, untuk makan saya bisa ambil sendiri, jangan pikirkan saya bi. Saya sama bibi di rumah ini sama, sama-sama sebagai pekerja."
Melihat bi sarah pergi, Kia tersenyum puas. Dia segera masuk kedalam kamar Davi.
"Sayang ... lama banget! Aku butuh kamu," rengek Davi.
"Memastikan keadaan dulu sayang." Likha langsung duduk di samping Davi dan menghujani wajah laki-laki itu dengan ciuman.
Likha terus menyuapi Davi. Davi menghabiskan makanannya. Di tengah makan Davi, sesekali Likha melahap bibir Davi, hal ini sangat Davi sukai, makannya butuh waktu yang lebih lama karena kegiatan itu.
Keasyikan mereka atas kegiatan itu harus terhenti, karena deringan handphone Davi. Melihat nama Kia di layar handphone, Davi membuang napasnya, kesal kenapa Kia menghubunginya saat dia tengah asyik bersama Likha.
"Iya sayang."
"Mas sudah makan?" tanya Kia.
"Ini lagi makan, mas minta bi Sarah antar makanan mas ke kamar, mas malas kalau hanya berdua dengan Likha di meja makan."
"Terus Likha di mana?"
"Ada di luar kamar, sekali mas panggil dia akan datang."
"Tidak perlu panggil mas, aku hanya khawatir mas sendirian. Sudah, lanjut makan sana. Makan yang benar ya, jangan lupa minum obat juga."
"Iya sayang. Terima kasih banyak ya."
Davi menyudahi panggilan teleponnya dengan Kia, Davi melirik kearah Likha wanita itu memasang wajah cemberut.
"Kenapa sayang?"
"Kakak bilang malas berduan denganku."
"Ya aku malas lah kalau hanya berduaan tanpa melakukan apa-apa."
Kia tersenyum bahagia, dia faham apa maksud Davi.
"Kalau hanya berdua di bawah tanpa melakuka apa-apa, itu sangat membosankan. Karena aku mau berduaan melakukan hal ini."
Tempat tidur itu kembali mengalami gempa lokal karena kegiatan Davi dan Likha.
__ADS_1