Di Simpang Jalan

Di Simpang Jalan
Bab 44


__ADS_3

Ingrid berusaha menghibur Fanny, mendengar keluhan Fanny via telepon saja hatinya sakit. "Kamu tetap semangat sayang, tante dukung kamu. Kamu itu menantu impian tante."


"Tan, aku ketemu si lalat!"


"Likha?" tebak Ingrid.


"Dia menawarkan kerjasama, dia menginginkan Davi meninggalkan Kia apa saja sebabnya."


"Kamu yakin dia beneran mau bantu?"


"Nggak tau juga tan."


"Coba kamu hubungi dulu dia, dengarkan salah satu saran dia, bagaimana pun dia telah berhasil merubuhkan menara kebahagiaan Kia."


"Baik tan, aku akan hubungi dia."


"Dengarkan sebagian, tapi jangan percaya, namanya ular, bagian kepala memuji namun bagian ekor menusuk!"


"Segala hal yang akan aku ambil, akan aku rundingkan dulu dengan tante."


Senin pagi, segala aktivitas rutin kembali menyibukan mereka yang tengah merancang masa depan, atau sekedar hanya berjuang untuk bertahan hidup dari hari ke hari. Di kediaman Kia, Rachel sangat ceria, kebahagiaannnya karena hari ini dia diantar oleh kedua orang tuanya ke sekolah. Keinginan yang selalu terselip dalam do'anya.


"Untung saat ini Ayah sama bunda masih satu tujuan, jadi bisa menuhin keinginan kamu," ucap Davi.


"Sudah mas, nikmati masa-masa ini, karena saat dia dewasa dia tidak merengek agar selalu bisa pergi sama kita lagi, justru malah protes kalau diminta jalan bersama," ucap Kia.


"Mana bisa begitu, sampai kuliah pun aku tetap berharap kalian berdua memegang tanganku," ucap Rachel.

__ADS_1


Perlahan mobil Davi meninggalkan area rumah mereka. Mobil terus melaju di jalanan dengan kecepatan sedang, keadaan jalanan pagi mulai terlihat ramai. Selain dihibur suara klakson yang bersahutan, nyanyian aneh Rachel juga mewarnai perjalanan pagi mereka.


Nyanyian Rachel seketika berhenti kala mobil Davi juga berhenti di area parkir sekolah Rachel.


"Bye Ayah, bye bunda, Rachel sekolah dulu." Satu ciuman hangat mendarat di pipi Davi dan Kia.


"Iya sayang, selalu semangat ya." Kia melambaikan tangan pada putrinya yang sudah berlari kecil menuju gedung sekolahnya.


Setelah Rachel menghilang di pintu utama gedung sekolah itu, perlahan Davi kembali melajukan mobilnya untuk melanjutkan kembali perjalanannya.


Ntinnnn!


Suara klakson mobil yang mengagetkan itu membuat Davi kesal. "Apa tuh orang baru belajar nyetir! Mobil kita dijalur aman, dia main klakson aja!" omel Davi.


Kia mengamati mobil perusuh itu, rasanya dia mengenali nomor polisi itu. "Itu mobil Likha, udah mas jangan buang tenaga ladenin dia."


Petugas parkir secepatnya menyusul Davi. "Perlu bantuan Tuan?"


"Mobil di belakang saya menutup lajur saya, bukannya ini lajur keluar?" adu Davi.


Saat yang sama Likha sengaja menekan klakson mobilnya terus menerus.


"Mohon maaf atas ketidak nyaman Anda Tuan, saya akan mengurusnya." Petugas parkir langsung menaruh peluit ke bibirnya dan meniupnya keras, bunyinya pun memecah kedamaian pagi. Isyarat tangnya terus dia berikan agar mobil yang menghalangi jalan Davi segera mundur. Namun pengemudi mobil itu tidak peduli dengan isyarat tukang parkir.


"Maaf bu, Anda salah jalur, jalur masuk sebelah sana!" petugas parkir menujuk jalur lain.


"Saya lebih cepat jika melewati jalur ini, cuma sebentar kok, orang kaya kok nggak mau kalah!" Likha memberla diri.

__ADS_1


"Aduhhh!" Petugas parkir mengeluh sambil melepas topinya. "Percuma cantik, tapi sombong dengan kebodohan dan kemiskinannya, saya juga miskin, tapi saya sadar diri," omel petugas parkir.


"Aduin sama pihak sekolah aja, udah perebut, perusuh pula!" omel salah satu orang tua yang melewati Likha.


"Betul! Nggak pantas mahkluk begitu ada di sini."


"Wujudnya aja manusia, sifatnya lebih buruk dari setan!" omel yang lain.


Kia terus mengamati perdebatan di depan sana. "Ini dia sengaja mau ari ribut biar bisa dekat sama mas."


"Kita gimana sayang? Mas benar-benar tidak mau berurusan sama dia."


"Kita ambil lajur lain saja mas." Kia menunjuk jalur kosong.


Davi setuju dengan ide Kia, dia perlahan mengggalkan area sekolah lewat jalur lain.


Di area parkiran.


"Bangs4ttt! Sudah sengaja permaluin diri, mereka malah menghindar!" Likha memukul setiran mobilnya begitu keras, hingga teriakan klakson pun mengejutkan orang disekitar sana.


"Tuh mobil Pak Davi sudah pergi, dasar mental perebut sampai jalur mobil aja rebut punya orang!" omel yang lain.


Kepalang malu, Likha terpaksa melajukan mobilnya di jalur yang salah.


"Ih mama bikin malu," omel Nanda.


"Suatu saat kamu akan mengerti mengapa mama begini."

__ADS_1


__ADS_2