Di Simpang Jalan

Di Simpang Jalan
Bab 63


__ADS_3

Ingrid sangat terkejut, tiba-tiba ada yang merebut handphonenya, dia belum selesai memaki Kia. Ingrid semakin kesal melihat yang merebut handphone malah memutuskan panggilan mereka.


"Bapak apa-apa an sih! Ibu mau maki-maki habis menantu durjana itu!" teriak Ingrid.


Plakkkk!


Habis sudah kesabaran Pak Yudi, selama ini dia diam karena malas berdebat. Dia sangat tahu bagaimana Ingrid, percuma ditegur, jika ditegur maka dia semakin parah. Namun diamnya juga tidak membuat Ingrid puas dengan segala kerakusannya.


"Dosa apa yang aku perbuat sehingga memiliki istri sepertimu dan anak seperti Davi?" Rahang Pak Yudi bergetar menahan kemarahaan yang menguasai dirinya.


"Rasanya ingin aku bunuh kau dan anakmu itu! Manusia-manusia yang kelewat boddoh!" maki Pak Yudi.


"Bapak selalu membela Kia, aku dan Davi selalu salah di mata Bapak!"


"Kalian memang salah! Andai ada pengorbanan untuk menukar sesuatu, aku rela mengorbankan sejuta orang sepertimu dan Davi demi mendapatkan seorang anak yang baik seperti Kia!"


"Bela terus belaaa!" Ingrid mengabaikan rasa sakit di pipinya, melihat suaminya masih membela Kia, kemaragannya semakin besar.


"Sudah habis kesabaranku, sepertinya bukan Davi dan Kia saja yang bercerai, tapi kita juga!" Pak Yudi berlalu begitu saja meninggalkan istrinya.


"Ayok! Siapa takut!" tantang Ingrid.


Setelah keadaan cukup tenang, salah satu pelayan setia Ingrid mendekat.


"Permisi Nyonya, supir ekspedisi di depan nanya, bisa diturunkan sekarang barang-barangnya?"


"Turunkan saja, kalian semua susun barang itu di kamar tamu." Ingrid tidak tahu harus berbuat apa lagi.


Di sudut kota lain.


Seorang laki-laki berjalan menyusuri jalanan sepi, saat melihat sebuah warung yang menjual bermacam kebutuhan dapur, langkah kakinya segera menuju tempat itu.


"Beli bu," ucapnya. Tangannya mulai meraih beberapa sayur. "Berasnya 2 kilo, telur 1 kilo, minyak gorengnya satu liter bu."


Pemilik warung segera mengambilkan pesanan pembelinya, namun matanya terus menatap sosok asing yang tengah berbelanja. "Masnya orang baru?" pemilik warung tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.


"Iya bu, baru beberapa hari saya tinggal di sini."


"Istrinya mana mas?"


"Istri saya ada di rumah, lagi hamil. Jadi saya yang belanja."


"Owh suaminya mba Lili ya?"

__ADS_1


"Lili?" pelanggan itu bingung dengan nama Lili.


"Iya, wanita hamil yang ngontrak rumah depan gang itu," jelas ibu pemilik warung.


"Oh dia dipanggil Lili?"


"Iya, dia sendiri yang kenalin namanya Lili, kalau masnya namanya siapa?"


"Davi bu."


"Semoga betah tinggal di sini ya mas."


Davi tersenyum dan menganggukan kepalanya. "Ini tambahannya bu, berapa semua?"


"87 ribu mas."


Davi menyerahkan uang terakhir yang menghuni dompetnya. Kini hanya 13 ribu uang yang tersisa.


"Akhirnya suami mba Lili pulang, selama ini kami kasian sama dia, katanya suami dia merantau," ucap salah satu pelanggan lain.


"Iya bu, pekerjaan saya di tempat lain selesai, saatnya saya pulang menjaga istri saya." Davi berpamitan dan segera mengayunkan kembali sepasang kakinya menuju rumah kontrakan.


Sepanjang kakinya melangkah, dia memandangi kantong plastik yang dia jinjing, sendal jepit yang mengamankan kakinya dari panas aspal. Rasanya dalam mimpi dia tidak pernah membayangkan ada di posisi ini.


Apa benar yang aku perjuangkan ini cinta?


Ceklak!


Suara pintu terbuka membuat semua pemikiran Davi lenyap.


"Akhirnya mas pulang, aku takut mas pingsan di jalan." Likha menyambut Davi sambil menyeka keringat yang membasahi wajah Davi.


Perlakuan manis Likha seketika membuat Davi puas memilih keadaan ini. "Masuk yuk, biar aku masak sesuatu buat kamu."


"Mas bisa masak?"


"Waktu kuliah dulu aku sesekali masak."


"Aku nggak sabar cicipin masakan mas."


"Ayo masuk." Davi menggandeng Likha memasuki kontrakan sederhana dengan 2 kamar itu.


Davi mulai menunjukan kebolehannya memotong sayur dan yang lain. Sedang Likha duduk di kursi tua satu-satunya di dapur itu.

__ADS_1


"Kata Bapak, rumah tangga itu kerjasama tim, istri itu bukan babu yang melayani kita. Pekerjaan dia ringankan juga." Davi melepas pekerjaannya dan bersimpuh di depan Likha. "Saat ini aku tidak bisa memberi kemewahan untukmu, hanya membantu pekerjaan kecil ini untuk meringankan bebanmu."


"Makasih ya mas, aku benar-benar bermimpi mas rela meninggalkan kehidupan mewah demi sampah sepertiku."


Keadaan Dapur seketika hening, hanya terdengar suara decakan yang tercipta dari persilatan lidah dua manusia itu. Semakin lama-lama decakan itu berganti dengan suara napas yang memburu.


Keduanya sangat fokus bekerja sama menuju puncak kepuasan mereka, namun tiba-tiba suara gedoran pintu membuat mereka terganggu.


"Ada yang datang mas," ucap Likha lirih.


"Biar dulu, mas tanggung sayang."


Davi tidak mempedulikan teriakan yang memanggil nama Likha, dia terus berusaha melepaskan kepuasannya. Setelah sampai pada garis finish, mereka melepaskan hal yang membuat mereka terhubung. Dengan langkah tertatih Likha menuju pintu, dan segera membukanya.


"Seluas apa sih rumah ini? 15 menit mama teriak-teriak apa tidak dengar!" omel Eren.


"Maaf mah, aku lagi tiduran, mas Davi masih di kamar mandi," kilah Likha.


"Ini surat nikah siri kalian, pasti RT setempat nanti meminta ini sebagai bukti kalau kalian benar-benar menikah!" Eren memberikan selembar kertas putih pada Likha.


"Makasih ma." Likha segera menyimpan bukti pernikahannya dan Davi walau hanya secara siri.


"Mama tidak mampu terus menerus menyekolahkan Nanda di sekolah mahal itu, setelah kelulusan TK nanti, kamu cari sekolah didekat sini!"


"Iya mah, nanti aku sama mas Davi cari sekolah terdekat buat Nanda di sini."


"Eh ada mama Eren, ini ma Davi masak sayur campur, mau makan siang sederhana bareng kami?" Davi meletakan piring yang berisi campuran tahu, tempe, orekan telur, dan sawi di atas meja kecil yang ada di sudut ruangan.


"Kamu masak?" Eren tidak percaya dengan yang dia lihat.


"Mas Davi nyapu, nyuci, banyak mah. Aku seperti ratu rasanya dilayani mas Davi," puji Likha.


"Ratu itu di istana, mana ada ratu di gubuk reot begini!" ucap Eren.


Seketika senyuman manis Davi lenyap, dia menunduk lemah mendengar ucapan sinis Eren.


"Mama nggak ngerti kebahagiaan aku, walau dikolong jembatan pun aku bahagia asal sama mas Davi." Likha mendekati Davi dan memeluk suaminya dari belakang.


"Ah sudahlah." Eren mencoba merubah situasi. "Davi, mama lihat di depan ada yang jual rujak, mama mau, kamu beliin ya." Eren memberikan uang seratus ribu pada Davi.


"Nggak usah ma, aku ada kok."


"Itu uang kalian, mama mau makan rujak dengan uang mama sendiri!"

__ADS_1


Davi tidak ingin terus berdebat, dia mengambil uang yang Eren sodorkan padanya dan segera menuju penjual rujak yang Eren maksud.


__ADS_2