
Kia sangat hancur, dia tidak mempedulikan keadaan sekitarnya lagi, dia terus menumpahkan air matanya. Melihat ibunya menangis seperti itu hati Rachel juga merasa hancur, dia berjalan menuju kamar ibunya, tujuan Rachel mencari handphone ibunya.
Sesampai di kamar ibunya mata Rachel disambut foto-foto yang berserakan di lantai, foto yang tidak pantas dilihat anak seumuran dia. Rachel memungut semua foto itu dengan deraian air mata yang begitu deras.
Rachel menggenggam erat semua foto itu, dan meraih handphone ibunya, tujuan Rachel adalah Luna. Dia langsung menekan panggilan ke nomor Luna.
"Hmmm siapa ini, Rachel atau bunda?" sapaan di ujung telepon.
"Aunty ...."
Luna sangat terkejut mendengar Rachel menangis hebat seperti itu.
"Rachel sayang ada apa?" Luna tidak bisa menyembunyikan kepanikannya.
"Ayah sama bunda berantem."
Air mata Luna seketika menetes mendengar hal itu. "Sabar ya sayang, Aunty segera ke sana."
"Tolongin bunda Aunty ... bunda nangis terus di bawah."
"Iya sayang, secepatnya Aunty ke sana."
"Jangan sama Aunty Likha, dia jahat! Dia mau ambil Ayah dari Rachel dan bunda ...."
Air mata Luna mengalir semakin deras, mendengar hal itu dadanya serasa dihamtam sebuah batu besar. "Iya sayang ... Aunty ke sana cuma sendiri." Suara Luna tenggelam oleh tangis, dia langsung menutup panggilan teleponnya.
Luna berlari menemui perawat senior. "Kak, boleh izin keluar? Ada hal darurat Kak."
Melihat Luna menangis sesegukan, perawat senior memberikan izin. Luna berlari cepat menuju parkiran Rumah Sakit, dan segera menuju kediaman Kakaknya. Jalanan yang Luna tempuh mengalami kemacetan, Luna sangat gelisah, harapannya Kia tidak melakukan hal bodoh. Dia sangat tahu Kakaknya begitu mencintai Davi.
Di belahan lain ....
Davi tidak punya tujuan, sudah satu jam dia mengelilingi kota. "Arggggtt!" Davi berulang kali memukul setiran.
Kesal, marah, sedih, merasa bersalah kecewa pada diri sendiri, semua bercampur aduk dalam dadanya.
__ADS_1
Coba mas kasih tau aku apa kekurangan aku yang membuat mas berpaling pada wanita itu? Sesuatu yang mas cari hanya ada pada dia dan tidak ada padaku?"
Ucapan Kia terus berputar di kepalanya. Apa yang kurang dari Kia? Davi sendiri tidak menemukan kekurangan dari Kia, dia juga tidak mengerti pada dirinya, kenapa dia tidak bisa menahan keinginannya pada Likha. Kelebihan Likha dari Kia hanya umur yang lebih muda, Likha 24 tahun, dan Kia 30 tahun. Selebihnya Likha tidak melebihi apa-apa dari Kia.
Davi menepikan mobilnya, dia teringat sosok yang selalu menasehatinya. Davi mengambil handphone dan menghubungi nomor sahabatnya.
"Halo Rony, kamu ada di rumah?"
"Aku ada di cafe, lagi tugas bro."
"Aku ke sana ya, kepalaku pusing sama curhatan sahabat aku, tapi aku tidak bisa kasih solusi untuk keduanya."
"Langsung saja bro.
Davi tancap gas menuju cafe di mana sahabatnya bekerja. Sesampai di sana dia menceritakan permasalahannya, namun mengatas namakan kalau itu permasalahan orang lain.
"Itulah naffsu, saat di gunung ingin ke laut, saat sudah di laut, ingin ke gunung. Namanya naffsu, selalu menginginkan apa yang tidak ada ditangannya. Belum menikah istrinya dikejar, hanya wanita itu paling cantik, setelah menikah lupa akan segala janji yang pernah di ikrarkan."
Saat yang sama Davi teringat masa awal kuliahnya bersama Kia. Kia adalah wanita terhebat di matanya. Masih muda, tapi berhasil memimpin beberapa bisnis.
"Bilang temanmu, jalan keluar ada pada dirinya sendiri, jika dia bisa menahan diri, meningkatkan syukur, maka dia bisa meraih kedamaian hidup."
"Dunia ini tidak ada habisnya kalau dikejar. Apalagi masalah perempuan, jika tidak bisa menundukan naffsu diri, walau kita sudah menikahi seluruh perempuan yang ada di muka bumi ini, maka anjing yang pakai baju dan pakai lipstik masih terlihat menarik dan ingin dikejar juga."
Davi terdiam mendengar semua nasihat sahabatnya.
"Ini juga berlaku pada kita Davi, jangan pernah menyakiti istri sah kita, dia itu ibaratnya gudang harta kita, kalau kita membuangnya tanpa kesalahan dari pihak istri, dalam arti yang salah tuh suami, karena bosan atau puber lagi sama wanita lain, kalau kita membuang istri dengan alasan seperti itu, sama halnya kita membuang gudang harta kita, atau brangkas utama kita, kata orang dulu mah membuang tempat beras."
"Kenapa diumpamakan tempat beras?" sela Davi.
"Istri Sah itu, seperti sumber kehidupan kita, ya beras itu pokok kita menyambung hidup, itu peribaratan posisi istri di kehidupan kita."
"Setelah membuang istri sah tanpa sebab, hidup kita akan jauh dari rasa bahagia, jauh dengan rasa damai, rumah tangga yang kita bangun setelahnya juga susah mencapai sakinah mawaddah, warahmah. Ilmiah begini, bagaimana bahagia itu mampir pada kita, sedang kita membina hubungan diatas penderitaan seseorang?"
"Dari ceritamu, temanmu hanya bosan dengan istrinya, dan terlena dengan kemaksiatan. Kalau kita sudah mengecap yang haram, lalu terbiasa dengan yang haram, maka yang halal tidak menarik lagi. Ya itu temanmu, dia lebih menyukai zinaa yang menghasilkan dosa bersama kekasih gelapnya, daripada ibadah halal yang menghasilkan pahala bersama istri sah. Terbiasa dengan yang haram, maka Allah akan mencabut nikmat dari yang halal."
__ADS_1
"Aku harus sampaikan apa pada temanku?"
"Minta temanmu taubat, akhiri semua maksiatnya, lalu minta maaf pada istrinya, jika istrinya memaafkan, teruskanlah bina rumah tangga mereka jaga kepercayaan yang kembali diberi. Setelah itu tahan diri tahan pandangan, dan jangan lagi mendekati Zinaa."
"Aku sudah mengusulkan untuk tinggalkan kekasihnya, dan fokus rumah tangga, dia menjawab cinta mati dengan kekasihnya."
"Cinta?" Ronny tertawa dengan cerita Davi. "Apa Pantas usia seperti kita bicara cinta? Sudah punya anak, sudah punya tanggungan, kita bukan ABG yang apa-apa mengatas namakan cinta. Yang kita butuhkan wanita baik-baik untuk jadi ibu dari anak-anak kita, kita butuh wanita baik untuk mendidik anak kita. Tidak ada wanita baik-baik yang tega merusak rumah tangga orang. Apapun namanya, jika kebahagiaan rumah sebelumnya hilang, maka dia perusak. Dari wanita perusak seperti itu apa yang bisa kita ambil? Dirinya sendiri saja tidak dia hargai."
"Dunia ini penuh tipu daya, perhiasan dunia ini, harta, tahta, perempuan, kesenangan. Mau tenggelam dalam tipu daya, atau mengambil secukupnya untuk menjalani hidup damai dan bahagia?"
"Rasa cukup, ini yang membuat kita merasa damai. Cukup satu istri, maka kita akan bahagia, kalau merasa kurang, kita selalu merasa kesal dan hanya melihat kekurangan pasangan kita."
"Aku rekam di handpone biar aku tidak lupa menyampaikan setiap perkataanmu," ucap Davi.
"Untuk istrinya, jika dia bisa memaafkan suaminya, maka jangan ungkit lagi masalah ini. Karena kita tidak tahu bagaimana kerasnya pelaku maksiat bangkit dari kesalahan, jika di ungkit terus sama saja membuat suaminya terpuruk lagi. Saling memaafkan. Selebihnya biar mereka jalani."
"Tapi ... jika istrinya tidak mau memaafkan, itu wajar. Rasa sakit yang temanmu gores di hidup istrinya terlalu besar. Bagaimana wanita bisa baik-baik saja setelah tahu sosok yang dia cinta segenap hatinya malah mengkhianatinya dengan mencintai wanita lain?"
"Terima kasih Ron."
"Sama-sama." Ronny menepuk pundak Davi. "Andai aku tidak kenal istrimu, aku sulit percaya kalau ini masalah temanmu, pastinya ini masalahmu, tapi aku mengenal bagaimana istrimu, dia cantik, pinter, dan pandai sekali menutup aibmu. Sebagai temanmu aku tahu apa bobrokmu, tapi Kia selalu berusaha menutupi semua bobrokmu dan berhasil membuatmu terlihat sempurna di mata orang, di mataku kau tetep bobrok!" Ronny menepuk bahu Davu berulang kali.
"Walau ada kata-kata mengatakan tidak ada manusia yang sempurna, tapi kamu mendekati sempurna karena Kia."
Ingin rasanya Davi menjerit, dia kembali teringat kata-kata Kia.
Ingat mas! Tidak ada manusia yang sempurna! Mas juga tidak sempurna, tapi aku selalu berusaha menutupi kekurangan mas, cukup dunia tahu mas suami sempurna.
Mas pikir aku selalu bahagia atas keputusan yang kau pilih? Maa pikir aku nggak punya mimpi dan keinginan? Enggak mas! Bahkan banyak mimpi dan keinginanku yang aku kubur, tapi aku sama sekali tidak keberatan dan menyesal memotong mimpiku, memotong keinginaku, dengan mematuhimu, mengikuti apa maumu, berusaha terlihat bahagia walau aku kecewa, semata demi kamu, agar kamu merasa kamu oranghebat! Agar kamu merasa puas dan berhasil.
Davi meringis dalam hati, Kia benar-benar menutupi kekurangannya, tapi dirinya?
Davi berusaha mengontrol emosinya. "Aku tenang rasanya, aku mau hubungi teman aku dulu."
"Lebih baik temui langsung, bicara dari hati ke hati?"
__ADS_1
"Baiklah, terima kasih banyak."