
Suasana sesaat hening, Kia, Indra, Rachel sama-sama memikirkan yang Rachel protes tentang panggilan buat Indra.
"Kalau pusing mikirin panggilan, ya udah om Indra nggak jadi Ayah buat Rachel, jadi om aja biar kita semua nggak pusing." Kia melepaskan tangan yang dipegang Indra.
What? Hanya karena tidak menemukan panggilan yang enak lamaranku terancam ditolak?
Indra tidak terima, dia langsung berdiri. "Nggak bisa gitu, panggilan bisa kita pikirkan seiring berjalannya waktu."
"Terus saat ini aku tetep manggilnya om?" sela Rachel.
"Nggak apa-apa sayang, lagian om belum resmi jadi Ayah kamu." Indra mengusap lembut pucuk kepala Rachel.
"Oh iya, kan om harus nikah dulu sama bunda."
"Kenapa nggak panggilan buat bunda aja dirubah? Kan kalau bunda jadi mama, Ayah, Abah, Daddy, papi, papa, semua cocok," usul Indra.
"No! Aku nggak mau rubah panggilan ke bunda!"
"Masih belum akur panggilan nih? Bener-bener batal loh!" Kia mengambil tas dan meninggalkan ruang khusus pertemuan mereka.
"Ya ampun." Indra menoleh pada Rachel. "Sayang tunggu sebentar di sini, om mau bujuk bunda kamu."
Rachel segera menempati salah satu kursi dan mencoba menu yang sudah tersedia.
Di sisi lain Restoran itu, seorang wanita menghabiskan banyak tisu untuk air mata dan air dari hidungnya.
"Aku nggak nyangka Ry, aku pikir Dio suka sama aku, ternyata dia suka sama anak kuliahan."
Prasss!
Nabila menguras isi hidungnya.
Rury berusaha meminta maaf pada orang sekitar karena merasa jijik dengan semburan dari indra penciuman Nabila.
"Aku turut prihatin Bil, tapi kamu dan Dio nggak punya ikatan apa-apa, jadi Dio bebas dong buat jadian sama siapa aja."
__ADS_1
"Tapi aku cinta Dio sejak lama Ry."
"Terus salah dia ke kamu apa? Aku heran deh, aku juga pernah jatuh cinta pada seseorang terus ditolak, ya berusaha terima nasib, bukan down kayak kamu. Dio nggak beri harapan ke kamu, kenapa kamu sehancur ini saat tahu Dio lamar seorang Mahasiswi hukum yang magang di tempat dia?"
"Kamu ditolak Kia?" Nabila seakan melupakan kesedihannya mendengar Rury ditolak wanita yang dia cinta.
"Jangan bahas itu, kalau ingat hal itu aku malu."
"Kia! Eh beneran pergi!"
Obrolan dua orang itu tersita mendengar suara yang familiar memanggil nama yang barusan mereka sebut. Nabila dan Rury menengok kearah yang sama, keduanya saling tatap kembali saat melihat Indra mengejar Kia.
"Kita taruhan!" ajak Rury.
"Yang menang dapat apa?"
"Yang menang akan dilayani apa saja oleh yang kalah, misal antar jemput, traktir makan, selama seminggu!"
"Deal!" sahut Nabila.
"Aku nebak, Indra abis ditolak Kia!" tebakan Rury.
Saat yang sama Rury beranjak dari duduknya. "Mari kita cari tahu jawabannya, kalau aku benar seminggu aku dapat jasa ojek gratis dan pembantu gratis." Dia langsung menyusul Indra dan Kia.
Di luar dugaan Rury, Nabila malah berlari kecil kearah mereka, sontak Nabila sampai lebih dulu.
"Indra, Kia, kalian kencan?"
"Anggap saja begitu," sahut Indra.
"Aku nerima lamaran Indra, tapi malah ribut hal baru," sela Kia.
"Yes! Aku menang!" Nabila mengangkat kedua tangan ke udara, sangat girang karena tebakannya benar.
Sial, malah aku yang harus jadi supir Pribadi Nabila. Semoga aja nih orang nggak rempong! Batin Rury.
__ADS_1
"Beneran diterima Ki?" Nabila memastikan.
"Kamu tahu kan hal yang tidak bisa buatku bilang tidak, semua lemah karena dia." Kia mengisyarat pada Indra.
"Akhirnya ... kesabaran kamu nggak sia-sia!" Nabila menepuk pundak Indra.
"Balik yu, kita belum makan loh, Rachel juga sendiri di dalam," ajak Indra.
"Memang kalian ribut apa?" sela Nabila.
"Panggilan Rachel buat Indra," sahut Kia.
"Ya elah, kan bisa papa, pipih, pupu, daddy, babah, ompah, dan banyak lagi," ujar Nabila.
"Belum nemu yang cocok sandingan buat bunda apa, kalau Ayah katanya sama panggilan dia ke Davi," jelas Indra.
"Tinggal tambah Ayah satu Ayah dua," sela Rury.
"Enak aja pake series segala!" protes Indra.
"Panda, Papa Indra atau papanya bunda. Pandra, Papa Indra atau papanya Rachel." usul Nabila.
"Kalau Panda, hem Indra tidak selucu panda, Pandra? ...." Kia mempertimbangkan. "Kayaknya boleh, papa Indra, papa Rachel, dan masuk juga ke papanya bunda."
"Deal Pandra, semoga Rachel suka," sela Indra.
"Eh kalian gabung sama kami aja yuk." Kia tersadar kembali pada keadaan saat ini.
"Nggak mau ah, nanti momen indahnya nggak indah lagi," tolak Rury.
"Heleh, bilang aja dirimu nggak kuat," ledek Nabila.
"Eh pikiranku masih waras, ditolak itu hal biasa, daripada kau rungkad karena dedemanmu jadian sama wanita lain!" balas Rury.
"Yah ... aku jadi sedih lagi, padahal tadi aku udah lupa," ucap Nabila sedih.
__ADS_1
Bersambung.
Makasih sarannya panggilannya ya 😍😍😍