
Likha diantar ke sebuah Rumah Sakit untuk mengobati luka-luka yang ada di sekujur tubuhnya. Setelah mengurus beberapa hal, laki-laki yang membawa Likha menariknya ke sudut sepi.
"Ini uang tunai, gunakan ini utuk biaya pengobatanmu dan kembali ketempat muma. Jika kamu kabur, Muma tidak akan mencarimu, tapi setelah itu aku pastikan Muma akan menculik anakmu, dia sudah bosan dengan ulahmu!"
Likha memandangi lembaran uang yang dia pegang. Lari dari tempat Muma, memang ini yang dia inginkan. Tapi membuat Nanda tercebur pada dunia hitam, Likha tidak terima. Lebih baik dirinya saja yang terjerembab selamanya di sana.
"Zhef!" saat Likha menegakan wajahnya, laki-laki yang mengantarnya itu sudah pergi.
Likha mengantre seperti pasien lain. Saat ini dia mulai merasa risih karena seorang laki-laki terus menatapnya.
"Ada yang salah dengan saya!" bentak Likha.
"Wah cantik-cantik ternyata beneran preman ...."
Likha mendengus kesal dan berusaha mengabaikan laki-laki itu. Dengan wajah lebam seperti ini wajar orang mengira dia seorang preman.
"Mbak, mbaknya babak belur gini kenapa mbak?"
"Kalau aku jawab babak belur habis gelud sama istri sah pacar aku, kau mau komentar apa?!"
Pasien lain yang mendengar jawaban Likha segera bergeser agar menjauh dari Likha.
"Eh mbak! Tenang aja ... saya nggak demen sama laki mbak yang gajihnya paling bawah UMR! Saya jadi pelakor target saya CEO!"
Laki-laki yang sejak tadi menatap Likha bertepuk tangan mengapresiasi keberanian Likha mengakui kalau dirinya seorang perebut.
"Mbak Likha ...."
__ADS_1
Panggilan dari salah satu perawat itu membuat Likha harus menyudahi pelepasan amarahnya. Dia segera memasuki ruangan dokter yang akan memeriksanya.
Setelah mendapat beberapa penanganan atas luka-lukanya, Likha segera kembali ketempat Muma. Tentu kedatangan Likha membuat Muma membatalkan menculik anak Likha, karena pekerja nakalnya tidak nakal lagi.
"Muma ...." panggil Likha.
"Berapa jatah minimal yang harus aku setor pada Muma dalam satu bulan?"
"Minimal 3 juta!" jawab Muma sinis.
"Misal aku dapat uang segitu, terus aku berikan pada Muma, bolehkan aku tidak membuka kedua pahaku untuk tamu?"
"Kau mau dapat uang dari cara apa hem!!" maki Muma.
"Muma berapa menggajih cleaning servis di sini? Terus bayar para tenaga medis untuk infus perawatan pada anak-anak emas Muma?"
"Lebih baik aku jadi tukang bersih-bersih dan pelayan saat malam hari, hasilnya anggap setoran aku sama Muma. Satu lagi aku seorang perawat, asal ada dosis tepat yang sudah ada, tinggal pasang infus atau sekedar suntik aku bisa."
Muma mengabaikan Likha dan pergi dari sana.
"Muma ... aku mohon, aku tidak sanggup membuka kedua pahaku untuk tamu Muma ...."
"Aku tidak menjanjikan kau bebas dari pekerjaan itu, tapi aku mau lihat bagaimana kesungguhanmu melakukan pekerjaan lelah itu."
Setelah Muma pergi, Likha segera melakukan tugas membersihkan ruangan itu. Lebih baik lelah seperti ini, daripada melakukan hal itu.
***
__ADS_1
Kehidupan terus berjalan, Davi menjalani kehidupan barunya di negara orang, sedang Ingrid kesepian di rumahnya. Hanya menggulir layar handphonenya. Melihat media sosial Kia dan menonton keceriaan Rachel, cucu yang dia abaikan selama ini.
Sedang kehidupan Kia berjalan begitu bahagia. Setelah badai besar yang meninggalkan rasa sakit yabg tak bisa dia lupakan, kini Tuhan memberinya kebahagiaan yang sangat besar. Pasangan yang sangat mengerti dirinya dan sangat menyayangi keluarganya.
Kia masih berada di kamar mandi, menyegarkan diri setelah perjuangan hangatnya dengan sahabatnya yang kini jadi suaminya. Sedang Indra mengisi waktu luang ini untuk memeriksa beberapa pekerjaan. Pandangan Indra fokus pada deretan nama perusahaan yang bersaing untuk mendapatkan proyek besar itu. Detik yang sama Kia baru keluar dari kamar mandi dengan jubah mandinya.
"Sayang, kamu nggak ikut proyek besar itu?"
"Enggak, kan ada kamu yang juga ikut bersaing di sana."
Indra sangat memahami Kia, sejak dulu dia selalu menyembunyikan keahliannya demi menjaga perasaan Davi yang selalu tertinggal jauh dari Kia. Indra meraih tangan Kia dan menciumnya. "Aku bukan Davi yang merasa terhina karena istrinya lebih sukses darinya. Maju sayang, ayo berusaha ambil proyek itu."
"Kalau aku menang? Apa kata orang? Apa kamu--"
Kia tidak bisa meneruskan perkataannya, Indra membungkam mulutnya dengan bibirnya, dan terus menyilatkan lidahnya begitu lembut. Ciuman hangat itu terlepas. Indra menangkup wajah Kia.
"Justru aku bangga jika istriku lebih sukses dariku. Jangan menahan diri sayang. Aku tahu pekerjaan itu membuatmu bahagia, ayo perlihatkan kecerdasan kamu sayang."
Kia langsung memeluk Indra, setelah kedua orang tuanya, Indra yang sangat mengerti dirinya, andai boleh melewati batas, Indra yang paling mengerti dirinya.
Bersambung.
***
Kenapa aku angkat kisa Likha?
Niatnya ingin buat cerita tentang Likha, ikut lomba tema "cinta tak direstui" tapi baru sebatas niat dan masih proses pengembangan kerangka. Kalau jadi akan ada pengumuman. Kalau nggak rilis, ya kerangkanya mungkin kurang puas buat aku.
__ADS_1
Untuk cerita Kia sendiri sudah mendekati ujung, semoga aku bisa menamatkannya dengan baik, selama ini karyaku selalu kesulitan di ending😅