Di Simpang Jalan

Di Simpang Jalan
Bab 60


__ADS_3

Kia tidak habis pikir, apakah berhasil merebut milik orang lain itu suatu prestasi? Publik belum tahu kalau hubungannya dengan Davi berakhir, namun maling itu dengan bangga memamerkan hasil curiannya. Handphone Kia terus berdering, banyak panggilan dan pesan yang terus masuk, seakan nomor Kia penyalur bantuan gratis yang mendadak sibuk.


Kia mengirim pesan yang sama pada orang-orang yang mengkhawatirkannya, meminta mereka untuk tenang, karena Kia harus menyelesaikan masalahnya satu per satu. Selesai membuat handphonenya damai, Kia segera meluncur ketempat pertemuannya dengan Nabila, namun sesampainya di sana dia juga melihat sosok Indra.


"Apa yang kami lihat ini benar Kia?" ucap Indra lembut.


"Mas Davi meminta izin untuk poligami, aku menolak. Jadi dia memilih pergi meninggalkan semuanya demi wanita itu," ucap Kia tenang.


"Aku nggak nyangka Davi berubah seperti ini Kia, apa dia lupa dengan janji dan sumpahnya dulu? Bahkan sampai bunuh diri hanya karena tidak mendapat maaf darimu," gerutu Nabila.


"Davi tidak pernah berubah, hanya saja harapanku padanya terlalu besar. Saat kenyataan menunjukan sifat aslinya yang plin-plan, ya sudahlah. Mau apa lagi?"


"Kamu nggak apa-apa Kia?" tanya Nabila.


"Aku baik-baik aja, sejak awal aku siap mengakhiri semuanya hanya saja aku kalah memperjuangkan perasaanku, aku memikirkan bagaimana Rachel. Kali ini mau tidak mau aku harus memaksa Rachel untuk mengerti."


"Untuk masalah Rachel, kami siap membantumu," ucap Indra.


"Kamu sudah urus perceraian kamu?" Nabila memastikan.


"Aku sudah tunjuk pengacara untuk menyelesaikan semua ini."


Nabila langsung memeluk Kia. Dia tahu bagaimana rasa cinta Kia pada Davi, sebab itu dia sangat khawatir pada sahabatnya. Setelah meyakinkan sahabatnya, Kia segera kembali ke rumah kedua orang tuanya. Menenangkan perasaan kedua orang tuanya setelah mendapat berita yang heboh itu.


"Aku tidak apa-apa pah, ma. Justru aku merasa lebih baik sekarang. Percaya padaku, kalian tidak usah khawatir padaku, kalian cukup dukung aku dan bantu aku membuat Rachel mengerti akan perubahan ini."


"Bunda ...."


Teriakan Rachel membuat obrolan orang dewasa itu berhenti, mereka berusaha tersenyum agar anak itu tidak sedih.


"Bunda jemput aku?"


"Enggak sayang, bunda malah nginep di sini, karena Ayah pindah kerja keluar kota," ucap Fuza.


"Kok Ayah nggak pamit sama aku?" Rachel terlihat sangat sedih.


"Ayah buru-buru sayang, makanya nggak sempat pamit, tapi nanti sabtu sama minggu Rachel boleh kok ketemu Ayah," ucap Herman.


Keceriaan Rachel seketika lenyap, tidak ada satu orang pun yang bisa mengembalikan senyuman anak itu. Menyadari hal ini membuat Luna takut kalau Kakaknya mempertimbangkan poligami demi kebahagiaan anak.


"Kakak Jangan sedih ya, kita hanya butuh waktu," ucap Luna.


"Kali ini aku nggak akan sedih, aku akan berjuang! Aku nggak mau mengalah lagi Luna."

__ADS_1


Luna tersenyum, dia langsung memeluk Kakaknya.


*


Viralnya foto Likha dan Davi membuat Kia terpaksa turun tangan membenarkan foto itu dan mengabarkan kalau dia Davi sudah berpisah. Karena kehebohan ini, Kia terpaksa menonaktifkan handphonenya, rasanya dia tidak tenang karena banyak yang terus menghubunginya. Ada yang benar-benar khawatir, dan ada juga yang nyinyir akan kecerobohannya membawa beling kedalam istananya.


Malam hari Rachel tidak mau keluar kamar, anak itu masih sedih karena Davi yang pergi begitu saja. Kia perlahan mendekati Rachel dan mengusap kepala putrinya.


"Sayang, besok Rachel libur dulu aja ya?"


"Memang boleh bund?"


"Bunda akan urus nanti dibantu Aunty Luna."


"Terus Rachel ngapain kalau nggak sekolah?"


"Jalan-jalan sama bunda, mau?"


"Mau bunda."


"Tapi makan dulu ya, kalau sekarang nggak makan, bunda takut kalau Rachel sakit, terus nggak bisa jalan-jalan deh."


"Iya bunda, aku mau makan."


Malam itu Kia merasa bahagia karena berhasil membujuk putrinya, mereka makan malam bersama, kebahagiaan baru seakan mewarnai keluarga itu.


Di sisi lain.


Indra masih belum terus mengetuk gelas minumannya, dia tidak tahu harus sedih atau bahagia dengan keadaan ini.


"Kenapa Ndra? Dari tadi gelasnya disentil mulu, memangnya tuh gelas salah apa?" tegur rekannya.


"Kamu ingat wanita yang aku ceritakan dulu, wanita yang mencuri semua sisa cintaku, sehingga aku tidak bisa mencintai wanita mana pun lagi," keluh Indra.


"Emm, aku ingat."


"Dia terluka, laki-laki yang dia percaya bisa memberinya kebahagiaan malah memberinya rasa kecewa yang begitu besar."


"Otw Janda?"


"Begitulah ...." Indra menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi.


"Berarti Tuhan memberimu kesempatan untuk berjuang lagi Ndra."

__ADS_1


"Saat dia percaya pada laki-laki, aku gagal mendapatkan cintanya, bagaimana mungkin kali ini aku bisa berhasil, sedang dia sudah kecewa dan seperti tak butuh laki-laki." Indra tidak bisa lagi menyembunyikan keputus asaanya.


"Laki-laki yang memiliki segalanya menginginkan wanita untuk melengkapi hidupnya, sedang wanita yang punya segalanya, tidak membutuhkan laki-laki, apalagi jika dia pernah dikecewakan."


"Dan wanita impianku, dia memiliki segalanya, memperjuangkan cintaku, rasanya aku hanya menggali jurang pemisah diantara kami."


"Ngomong-ngomong masalah wanita, aku menemukan wanita impianku juga Ndra."


"Akhirnya bidadari requist-anmu di turunkan juga oleh malaikat," sambar Indra.


"Aku tidak sengaja ketemu dia diacara yang dipercayakan padaku, sejak pertama melihat dia, aku merasa dia berbeda, lalu ketemu lagi, dan dia benar-benar unik. Terus tadi sore aku samperin dia ke rumahnya, tapi kata satpamnya, pemiliknya tidak ada di rumah."


"Sabar Rury, namanya berlian mendapatkannya kita harus berjuang, tidak bisa mendapatkanya semudah mengais sampah."


"Eh kalian bener-bener ketemuan, aku kira batal," ucap seseorang yang baru datang.


"Jadi lah Bil, kan bestie kita baik-baik aja, nggak ada alasan untuk membatalkan pertemuan kita," ucap Indra.


"Dio ikut juga?" tanya Nabila.


"Ikutlah, itu dia baru sampai," Rury menunjuk kearah pintu.


"Penampilan aku bagaimana?" tanya Nabila pada dua temannya.


"Biasa aja!" sahut Indra dan Rury bersamaan.


"Kalian jahat ...." keluh Nabila.


"Suka sama cowok itu bagus, tapi sembunyikan rasa cintamu, cowok kayak Dio makin kamu kejar dan kamu perhatiin, dia makin malas," saran Rury.


"Apa pengetahuan kamu tentang cinta? Toh kamu sama aja ma Indra, sama-sama mati rasa!" balas Nabila.


"Ngobrolin apa kalian, kayaknya seru banget," komentar laki-laki yang baru bergabung.


"Ah biasa Dio, ayok duduk." Nabila mengisyarat kursi di sampingnya, namun laki-laki itu memilih kursi yang jauh dari Nabila.


"Kamu suka sama menu yang sudah dipilih mereka, Dio?" tanya Nabila.


"Aku selalu suka dengan pilihan teman-temanku," sahut Dio dingin.


"Dio, kamu ganti nomor ya? Akhir-akhir ini aku nggak pernah lihat status kamu," ucap Nabila.


"Aku nggak ganti, tapi nggak ada status yang bisa aku bagi," sahut Dio.

__ADS_1


Nabila ingin berbicara lagi, namun tiba-tiba ada yang menendang kakinya di bawah meja sana. Nabila menatap kesal pada Rury.


"Stop carper!" bahasa isyarat Rury.


__ADS_2