
Sesampai di kediaman ibunya, Indra terus memasuki rumah itu dengan bahagia. "Ibu ...." Indra memeluk ibunya gemas.
"Ada apa ini? Jangan bilang kamu gila gara-gara digantung Kia!" ucap Ayu.
"Udah diterima ibu, 3 bulan lagi Kia akan jadi menantu ibu."
"Beneran? Kamu nggak ngelantur kan?"
"Enggak lah bu, aku bahagia bu."
"Iya, ibu juga."
Sedang di belahan Negara lain.
Selesai mengerjakan semua pekerjaan rumah, Davi menuju kamar mandi dan menyegarkan tubuhnya. Kini dia kembali segar dengan setelan santainya, dan duduk di meja makan mini yang ada di bagian dapur Apartemen itu.
Suara pintu terbuka menarik perhatian Davi, dia menoleh ke arah pintu, terlihat Fanny dengan wajah lelahnya. Wanita itu melempar sembarangan sepatu dan tasnya. Davi mrnggeleng melihat kelakuan Fanny. Dia beranjak dari posisi nyamannya saat ini. Berjalan kearah pintu dan memunguti barang-barang yang Fanny lempar sembarangan.
"Dalam rumah tangga itu ada kerjasama tim, Fanny." Davi meletakan sepatu Fanny pada tempatnya, dan tas Fanny pada rak yang ada di sisi ruangan itu.
"Aku capek jangan diceramahin!"
"Aku juga capek habis beres-beres, kamu seenaknya berantakin, oke kamu nggak bisa bantu bersihin Apartemen ini, setidaknya kita saling bantu untuk menjaga kebersihannya."
"Cerewet ih ...." Fanny merajuk dan berjalan menuju kamar.
Davi menahan Fanny dengan menghadangnya di tengah pintu kamar mereka. "Kita ini nggak punya pelayan, tolong saling hargai, aku hargai kamu, kamu hargai juga perjuangan aku."
"Terus maumu aku harus gimana?" tantang Fanny.
"Letakan semua barang-barang pada tempatnya, cukup itu saja."
"Heh! minggir!"
"Kalau kamu nggak mau kerjasama tim, lebih baik sudahi saja rumah tangga ini, buat apa coba aku berusaha kamu menghancurkan."
"Jangan ... maafin aku ya ...." Fanny berusaha manja kembali.
__ADS_1
"Aku beri 2 kesempatan lagi, kalau kamu masih begini aku nggak bisa nerusin hubungan kita," ancam Davi.
"Iya, akan aku ingat." Fanny langsung memeluk Davi.
"Oh iya, ibu pengen pulang ke Tanah Air, beliau rindu keadaan di sana."
"Kalau ibu yang mau pulang ya silahkan, kan kamu sendiri yang ajak ibu ikut sama kita."
"Kan aku nggak tau kalau tempat tinggal kita cuma untuk 2 orang."
"Kapan antar ibu pulang?"
"Minggu depan kalau bisa, nanti aku ajukan cuti, kamu mau ikut antar ibu?"
"Enggak bisa, aku ada pemotretan."
Keinginan Davi mengantar ibunya kembali ke tanah air harus menunggu waktu 3 bulan lagi, sebagai pekerja baru dia tidak bisa seenaknya mengajukan cuti. 3 bulan terasa begitu singkat bagi Davi, namun terasa begitu lama buat Ingrid. Setelah penantian 3 bulan, akhirnya dia kembali ke tanah air bersama Davi. Sepanjang perjalanan udara yang mereka tempuh, Ingrid terus memikirkan Kia. Selama Kia menjadi menantunya anak itu sangat ramah dan melayaninya begitu hangat, tidak ada kekurangan dari Kia, yang tidak Ingrid sukai dari Kia, wanita itu tidak mau membeli barang-barang mewah padahal dia mampu.
Kini Ingrid sampai di rumahnya, pembantu satu-satunya yang bekerja di rumah itu benar-benar merawat rumah itu dengan baik. Ingrid segera menuju ruangan wardrobenya, dia memandangi deretan tas-tas brandednya, juga sepatu dan pakaian-pakaian mahal yang dia miliki.
Selama tinggal di panti jompo, dia hanya mengenakan baju sederhana, hal ini seakan jadi kebiasaannya. Ingrid mengirim pesan pada temannya yang menawarkan jasa jual barang branded, dan menitipkan semua barang yang dia miliki untuk dijual.
Lagi-lagi Ingrid teringat akan kata-kata Kia, walau barang branded bisa dijual lagi, tapi penjualannnya tidak secepat menjual emas atau berlian. Ingrid mengingat semua perhiasannya dia simpan di Safe deposit box. Pikiran Ingrid dia ingin menuju bank tempatnya menyimpan barang berharga miliknya.
Sesampai di lantai bawah keadaan tampak sepi. "Bi, Davi mana?"
"Pergi Nyonya, dia pesan taksi sebelumnya."
Mau tak mau Ingrid juga harus memesan taksi, setelah taksi di dapat, Ingrid segera menuju bank, melewati beberapa proses, Ingris akhirnya membuka loker miliknya. Dia tersenyum melihat set perhiasan yang rata-rata diberikan oleh Kia.
Dulu perhiasan itu tak berarti di matanya, Ingrid lebih menyukai barang-barang bermerk. Ingrid mengambil satu set perhiasan yang paling kecil, dan kembali menutup lokernya. Setelah semua proses selesai kembali, Ingrid menuju toko perhiasan. Dalam hitungan detik perhiasan itu dia cairkan menjadi uang tunai.
Bu, lebih baik kita beli emas atau berlian saja bu. Kita tidak pernah tahu sampai kapan kita sukses, saat berada diatas sepert ini kita nabung buat masa depan.
Jangan kayak orang susah Kia! Tas branded ini juga investasi!
Iya bu, Kia faham, banyak teman-teman Kia bisnis seperti ini, tapi prosesnya butuh waktu bu. Kalau jual emas mudah.
__ADS_1
Air mata Ingrid mengalir deras begitu saja. Kebodohan dan kesombongannya di masa lalu membuatnya buta. Kia yang benar-benar baik dia pandang hina. Fanny yang penuh drama bagai malaikat di matanya.
"Ada yang bisa kami bantu lagi bu?" tanya pegawai toko emas.
Ingrid kembali tersadar, dia menggeleng sambil menghapus air matanya, dan segera meninggalkan toko itu.
"Aku harus menemui Kia, kalau bisa aku memohon agar dia menerima Davi kembali demi Rachel. Davi pasti menceraikan Fanny kalau Kia mau menerimanya," gumam Ingrid.
Ingrid menyebutkan alamat rumah Kia dan Davi dulu, namun sesampai di sana hanya ada satpam penjaga rumah itu.
"Kia sama Rachel mana ya Pak?" tanya Ingrid.
"Nyonya sama Nona kecil sejak pisah sama Tuan menetap di rumah kedua orang tuanya."
Ingrid memandangi rumah mewah yang dulu menjadi kebahagiaan anaknya. Hanya bisa berandai-andai saat ini, Andai dulu dia lebih tegas pada Davi, Andai dulu hatinya bisa lebih peka pada kasih sayang Kia.
"Sepertinya aku harus mengunjungi rumah Herman, aku kangen cucuku." Ingrid kembali kedalam taksi, dan mobil pun meluncur kearah rumah Herman.
Sedang Davi, saat ini dia berada di cafe milik sahabatnya, tepatnya dulu mengais uang saat mengarungi biduk rumah tangga bersama Likha.
"Hei Davi, kapan kembali?" sapa Ronny.
"Baru saja, aku cuma antar ibu. Dia nggak betah tinggal di Negara baru."
"Owh, Fanny masih sayang toh sama kamu, aku kira Fanny sudah bosan terus buang kamu."
"Aku juga nunggu waktu itu tiba, jujur menikah dengan 2 perempuan setelah Kia, tidak ada yang bisa memahamiku seperti Kia, semakin sulit buatku move on dari Kia."
Ronny tertawa terbahak. "Kamu nggak bisa move on, sedang Kia dapat laki perjaka tingting!"
"Maksudmu?"
"Hari ini Kia akan menikah dengan Indra. Dia akan mengadakan akad nikah di rumah orang tuanya, acaranya private, hanya keluarga katanya."
Davi terdiam, jujur sakit mendengar orang yang dicintai akan menikah, tapi dia juga bahagia karena yang akan menjadi Ayah buat Anaknya adalah laki-laki yang baik.
"Jangan bunuh diri ya!" goda Ronny.
__ADS_1
"Aku malah bahagia, karena Kia mendapatkan pendamping yang jauh lebih baik dari aku," ucap Davi lemah.