Di Simpang Jalan

Di Simpang Jalan
11.


__ADS_3

Eren tersenyum bahagia, akhirnya putrinya berhasil perlahan masuk kedalam istana besar itu.


"Davi mengajakmu untuk bertemu?"


"Ya, mama tahu sendiri apa yang dia inginkan dariku."


"Jangan temui dia minimal 2 bulan, buat dia tersiksa karena merindukanmu."


Likha terkejut dengan ide ibunya, padahal saat ini dia sangat bersemangat untuk menemui Davi. "Kenapa begitu mama?"


"Setelah membuat dia mabuk akan dirimu, buat dia tersiksa karena rasa rindu."


"Aku juga tersiksa kalau tak bertemu Davi, mama."


"Menghilang sebentar Likha, selama itu kamu perawatan luar dalam sayang. Kamu pikir laki-laki terjerat mawar berduri seperti kita karena cinta? Tidak sayang, mereka hanya butuh hiburan dan kesenangan, lalu membayar yang mereka dapat dari kita dengan materi."


"Yang harus selalu kau ingat, yang mereka berikan pada kita itu upah, berbeda dengan apa yang mereka pada istrinya, kalau pada istri disebut nafkah."


"Iya aku tau, aku nggak bakal bisa geser Kia dari hati Davi," ucap Likha.


"Bisa, hanya saja butuh waktu."


"Jadi ... aku harus beralasan apa?"


"Chat saja Davi, bilang kamu tidak bisa pergi, mama minta temenin."


Dengan berat hati Likha mengirim pesan pada Davi sesuai saran ibunya.


Di sisi lain Davi seketika merasa lemas setelah membaca pesan Likha. Khayalannya dia bisa melalui malam panas dengan Likha.


Davi meninggalkan hotel itu dan kembali ke rumah, menghabiskan harinya dengan rebahan, sambil mengenang petualangannya bersama Likha di kamar itu.


***


Kehidupan selalu berjalan seperti biasa. 2 bulan berlalu, Davi merasa hidupnya sangat hampa tanpa Likha. Dia terus menatap layar handphonenya menunggu pesan Likha, tapi hanya ada balasan chat pendek dari Likha, kalau dirinya menanyakan keberadaan perempuan itu.


"Ayah ...."


Panggilan itu membuyarkan pikiran Davi tentang Likha.


"Iya sayang."


"Kenapa liat handphone terus Yah? Apa handpone lebih manis dari aku? Atau handphone lebih cantik dari bunda?" keluh Rachel.


Davi tergugu, entah mengapa saat ini hanya Likha, Likha, dan Likha.


"Ada bahasan kecil tapi penting, makanya Ayah terus simak," kilah Davi.

__ADS_1


"Proyek yang aku setujui kemaren bermasalah?" sela Kia.


"Belum tau bunda, mungkin karena aku tidak terlalu yakin akan proyek itu jadi aku nggak semangat, dan tidak terlalu memantau perkembangannya" sahut Davi.


"Maafin aku ya, aku tidak bisa lepas proyek itu aku yakin itu menguntungkan, aku tetap meneruskan keyakinanku kala mendapat investor untuk proyek itu," ucap Kia.


Bukan pekerjaan atau proyek, Davi kehilangan semangat karena tidak bisa bertemu Likha. Walau Kia ada untuknya, tetap saja tubuh Likha sudah menjadi candu buatnya.


"Aku minta pendapat boleh mas?"


"Pendapat apa sayang?"


"Aku dapat undangan acara ulang tahun mamanya Likha, tante Eren."


Mendengar nama Likha rasanya jutaan arus listrik mengalir ke seluruh tubuhnya. Hawa panas menjalas keseluruh batang tubuhnya. "Apa yang membuatmu bingung?" Davi berusaha menyembunyikan perasaannya.


"Kamu tau sendiri aku juga berteman dengan mantan istri Pak Nomad, sedang tante Eren istri baru Pak Nomad, dan bukan rahasia kalau tante Eren adalah orang ketiga yang merusak rumah tangga Pak Nomad. Aku bingung, jika hadir takut menyakiti perasaan mantan Istri Pak Nomad, jika tak hadir aku tidak enak sama Likha, dia sudah berbuat banyak hal untuk kita."


"Wakilkan pada Luna bisa?" Davi membenci dirinya, mengapa dia malah mengusulkan Luna, padahal dia sangat ingin mendatangi tempat di mana ada Likha.


"Luna dinas malam, dia juga nitip hadiah sama aku."


"Ya sudah, kita bertiga hadir, jika bu Crolina menyalahkanmu, sebut saja kamu hadir karena menemaniku."


"Pestanya kecil-kecilan, hanya dihadiri orang terdekat."


"Ya sudah, aku mau cari hadiah buat tante Eren dan anaknya Likha."


Mengingat malam hari akan bertemu Likha, perasaan Davi tidak tenang, rasanya dia mengalam masa puber kembali. Bahkan ini lebih parah dari pubernya saat jatuh cinta pada Kia.


Kini langit berwarna gelap pekat, dihiasi kerlipan bintang-bintang. Davi, Kia, dan Rachel terlihat sangat semangat memasuki mobil, tujuan mereka kediaman ibu Likha.


Sesampai di tujuan mereka jantung Davi berdetak semakin hebat, di depan sana dia melihat Kia mengenakan gaun malam panjang dengan bagian dada yang terbuka.


Likha pura-pura mengabaikan Davi, dia hanya menyambut Kia dan Rachel.


"Terima kasih kak Kia, Kakak berkenan hadir diacara kecil kami," sambut Likha.


"Iya Likha, maafkan Luna ya, dia shift malam, jadi tidak bisa hadir," sesal Kia.


"Tidak masalah Kakak, ucapan selamat dan doa dari kalian buat mama, ini sudah cukup."


"Kenapa masih di luar? Ayo masuk," sela Eren.


"Iya tante." Kia menggandeng tangan Davi memasuki kediaman Eren.


"Ayo Rachel kita masuk, di dalam ada Nanda, kamu bisa main sama dia," ajak Likha. Likha menuntun Rachel bersamanya.

__ADS_1


Melihat tamu yang datang, laki-laki paruh baya yang bertubuh tambun itu sangat bahagia, dia berusaha berdiri untuk menyambut tamunya. "Davi! Aku sangat bahagia melihat kamu sekeluarga," ucapnya begitu semangat.


"Likha sangat dekat dengan istri saya, baginya Likha seperti adiknya, jadi tidak mungkin dia melewatkan hari bahagia tante Eren," ucap Davi.


"Ahh, kamu membuatku bahagia karena ada di hari bahagia istri tercintaku. Makasih Davi."


Acara malam itu benar-benar sederhana, hanya Kia sekeluarga yang menjadi tamu mereka. Acara pun berjalan dengan lancar. Mereka duduk bersama di ruang tamu membicarakan banyak hal. Sesekali terdengar tawa mereka.


"Permisi Pak Nomad, boleh saya pinjam kamar mandi?" sela Davi.


"Tentu saja, silakan ada di ujung dekat dapur," sahut Eren.


Davi izin undur diri, sedang Eren berusaha mengajak Kia mengobrol terus.


"Likha, kamu seduh teh lagi sayang, ini teko sudah kosong." Eren mengisyarat pada putrinya agar menyusul Davi.


Hal ini yang Likha tunggu, sejak Davi meninggalkan tempat duduknya, Likha berpikir keras bagaimana menyusul laki-laki itu. Ibunya sangat mengerti dirinya, berkat ide ibunya dia bisa pergi menyusul Davi, dengan beralasan menyeduh teh. Likha membawa teko kosong menuju dapur, seperti dugaannya ada sebuah tangan yang menariknya saat dia melewati kamar mandi.


Likha pura-pura menolak, namun Davi tetap menariknya masuk ke dalam kamar mandi.


"Kak, apa yang Kakak mau?" ucap Likha berbisik.


"Dirimu, aku menginginkan dirimu." Davi langsung menyerang bibir Likha.


"Kak--" Likha berusaha agar Davi berhenti, namun Davi malah tidak mau melepaskannya. Tangan Davi tidak terkondisikan, begitu lihai berhasil melepas kain segitiga di bawah sana. Dia menggendong Likha dan mendudukannya di dudukan westafel.


"Apa kamu tidak rindu aku? 2 bulan aku tersiksa tanpamu." Suara Davi bergetar.


"Aku sangat rindu Kakak, hanya saja aku sibuk mencari pekerjaan, aku butuh kerja untuk bertahan hidup, kebutuhanku dan Anakku."


"Kenapa tidak minta padaku?" Davi menciumi lembut leher Likha nan jenjang.


"Aku tidak butuh uangmu, aku hanya butuh dirimu."


"Bolehkah aku? Aku tidak tahan lagi, terlalu lama aku menahan semuanya."


Likha mengerti apa maksud Davi, mereka menyatukan Puzle tanpa melepas pakaian mereka.


Suara erotis Likha terlepas, Davi segera membungkam mulut Likha.


"Maaf ...." rintih Likha.


"Aku juga ingin melepasnya, tapi takut di dengar orang." Davi kembali melanjutkan serangannya, Likha menutup mulutnya agar tidak terlepas lagi. Melihat hal itu Davi semakin semangat, rasanya dirinya adalah juara sejagat bumi ini karena membuat Likha tak berdaya dibawahnya.


Di luar kamar mandi, Rachel bingung mendengar suara aneh, perpaduan suara terjepit , suara tertahan, entah apalah itu.


"Apa seseorang tengah kesusahan di dalam sana?" gumam Rachel.

__ADS_1


Perlahan jemari kecil itu menarik gagang pintu yang menuju kamar mandi.


__ADS_2