Di Simpang Jalan

Di Simpang Jalan
Bab 34


__ADS_3

Ketiganya mencari tempat aman, agar nyaman membicarakan masalah Kia. Makanan yang mereka pesan sudah tertata rapi di meja, pelayan kantin pun segera pergi dari meja mereka.


"Mas Davi berharap aku memaafkannya dan memberinya kesempatan, tidak mudah bagiku memberinya maaf." Kia membuka obrolan mereka.


"Tidak ada kata maaf untuk pengkhianat!" ucap Nabila kesal.


"Iya, untuk diriku sendiri aku ingin seperti itu, tidak memberinya maaf. Tapi--" Kia menggantung ucapannya.


"Rachel?" tebak Nabila.


"Rachel tidak akan bisa jauh dari Davi, Davi separuh dunia Rachel. Aku ingin jauh dari dia, bagaimana aku bisa baik-baik aja, setelah tahu semua ini, duniaku serasa hancur, hanya tawa Rachel yang menguatkanku. Tapi kebahagiaan Anakku adalah hal yang ingin aku jauhi."


Nabila memeluk Kia dan mengusap punggungnya.


"Boleh aku bicara banyak?" sela Indra.


"Selama ini kamu selalu bicara irit, kapan lagi kamu bicara banyak, cepat bicara!" desak Nabila, Nabila perlahan melepas pelukannya pada Kia.


"Memaafkan atau memutuskan, keduanya sama-sama memiliki reseko dan dampak tersendiri. Jika kamu memaafkan karena memikirkan Rachel, apakah kamu siap pura-pura lupa atas semua rasa sakit ini? Reseko dari memaafkan, apa batinmu kuat jika Davi mengulangi perbuatan yang sama? Jika kamu tidak yakin kuat, sebaiknya kamu maafkan dia, tapi tidak memberi kesempatan kedua."


"Maaf bukan menghakimi atau mendahului takdir, sangat jarang pelaku selingkuh benar-benar taubat, mungkin ada, tapi sangat jarang yang kuat memegang teguh janji yang diikrarkan saat meminta kesempatan. Seiring berjalannya waktu penyakitnya itu kumat, kadang mengulangi perbuatan yang sama dengan orang sama, bisa juga mengulangi kesalahan yang sama dengan orang baru."


"Jika kamu memilih memutuskan bercerai, ya ... apa hatimu kuat kehilangan Davi? Apa kamu sanggup membuat Rachel mengerti akan keadaan ini?"


"Sebagai temanmu, kami akan membantumu sebisa kami apapun keputusan kamu. Jika kamu memilih bercerai, kami akan berusaha sebisa kami untuk membantu Rachel memahami kalian dan menerima keadaan ini, tapi jika kamu memilih memaafkan, kamu harus bantu dirimu sendiri, setelah kejadian ini, hubunganmu dan Davi sulit untuk seperti dulu, rasa sakit yang telah dia gores memberi dampak perubahan untuk hubungan kalian nanti, apa kamu siap dengan perubahan itu?"


"Cerai aja Kia," bujuk Nabila.


"Aku tidak menakutimu, sebagai temanmu aku hanya memberi pandangan, keputusan apa yang kamu pilih, kamu sendiri yang tentukan." ucap Indra


"Lebih baik cerai Kia, penderitaanmu karena Davi akan berakhir! Masalah Rachel, aku siap menginap di rumahmu untuk membantu Rachel!" ucap Nabila.


"Kita makan dulu," sela Indra.


Setelah menikmati makan siang mereka, hanya Kia yang kembali ke ruangan suaminya. Indra dan Nabila izin pamit pada Kia. Sesampai di depan Rumah Sakit, mobil Indra sudah tiba. Nabila dan Indra segera masuk kedalam mobil.


"Aku nggak habis pikir sama kamu, bukannya dukung Kia buat cerai malah kamu sok kancil kamu!" omel Nabila.


"Kancil?" Indra tidak mengerti maksud Nabila.


"Sok bijak, kancil kan bijak!"


"Kia istri orang, aku ada di sampingnya sebagai teman, tidak lebih! Aku tidak mau mendekatinya dan memanfaatkan keadaan ini, seperti menjadi peniup api, agar kemarahannya semakin berkobar pada Davi."


"Jika aku memprovokasi dia untuk cerai, rasanya aku bukan pria sejati. Karena pria sejati tidak akan mengganggu wanita yang bersuami."

__ADS_1


"Makanya, buat Kia meninggalkan Davi kurang aj4r itu!"


"Dia mau cerai, biarkan jadi keputusan dia sendiri tanpa bisikan goib dariku, perpisahan yang dia ambil bukan dari campur tanganku. Aku ada untuknya membantunya sebagai teman. Aku dekat dengan Kia sebagai sahabat, bukan sebagai laki-laki yang mencintainya."


"Heran aku! Dari dulu kamu tidak bisa membuat Kia jatuh cinta padamu, malah Davi yang orang baru bisa menaklukan hati Kia."


"Apa yang ditakdirkan untukmu, maka sekuat apapun kita menjauh, tetap datang pada kita. Jika memang tidak ditakdirkan untukmu, sedekat apapun dan sekuat apapun memegang, takdir selalu menjauhkan. Ya anggap saja Kia bukan takdirku."


Indra menarik napasnya begitu dalam. "Aku tak bisa memilikinya sebagai patner hidup, setidaknya aku masih bisa menjadi sahabatnya."


****


Kia menyusuri lorong Rumah Sakit seorang diri. Setiap langkah yang Kia ambil, dia selalu teringat akan ucapan Indra. Kia benar-benar merasa mengambang, seakan kakinya tidak mampu berpijak di bumi, namun dia juga tidak memiliki sayap untuk terbang. Pikirannya terhenti saat langkahnya tepat di depan ruang perawatan Davi. Dia kembali bergabung dengan keluarganya.


Menit demi menit berlalu, harapan mereka Davi segera sadar. Tidak terhitung berapa kali perawat bergantian masuk ke ruang perawatan Davi untuk memeriksanya. Matahari kini mulai meredup, namun Davi belum juga membuka kedua matanya. Dokter yang menangani Davi mulai terlihat khawatir.


Dokter mendekati anggota keluarga Davi. "Apakah pasien punya masalah?"


Kia tidak bisa menjawab, dia berusaha tenang. Sedang Pak Yudi menatap sendu pada Kia, dia sangat yakin kecelakaan ini berkaitan dengan rumah tangga mereka.


"Sepertinya tidak ada masalah dok, kehidupan anak kami baik-baik saja," sahut Ingrid.


"Saya tengah menunggu kedatangan petugas yang menyelidiki kecelakaan yang Davi alami, semoga saya bisa menemukan jawaban atas keadaan ini," ujar dokter.


Kia seketika gelisah mendengar hal itu. Saat yang sama pintu ruangan terbuka, terlihat seorang laki-laki berperawakan tegap berjalan mendekati dokter dan menyalaminya.


"Dalam video ini, sangat jelas korban bukan kecelakaan, tapi suatu upaya bunuh diri," terang polisi.


Ingrid sangat syok menyaksikan video itu, bagaimana mungkin anaknya nekat untuk bunuh diri. Sedang Pak Yudi menunduk lemah. Dia teringat ucapan Davi kalau dia lebih baik mati daripada tidak mendapat maaf dari Kia.


Dokter menemukan masalah pada pasiennya, sedang semua anggota keluarga larut dalam kebingungan, kenapa Davi ingin mengakhiri hidupnya.


Setelah polisi itu pergi, dokter melanjutkan pembicaraan mereka. Davi tidak sadar bukan karena luka fisik yang dia alami, melainkan tekanan batin yang mendalam hingga dia sendiri ingin mengakhiri hidupnya. Dokter meminta anggota keluarga mencari solusi atas masalah yang membuat Davi terpuruk, dokter pun pergi meninggalkan ruangan itu.


Pak Yudi semakin yakin, putranya memilih ingin mati karena rasa bersalahnya itu. Dia berjalan kearah Kia dan menangkupkan kedua tangan di depan dadanya.


Sontak hal itu memancing kemarahan istrinya." Bapak apa-apaan begitu!" makinya.


Pak Yudi tidak menghiraukan Ingrid, dia tetap memohon pada Kia. "Bapak tidak membenarkan perbuatan Davi, Bapak juga tidak meremehkan rasa sakitmu, Bapak mohon ... beri maaf pada Davi." Pak Yudi berlutut di depan Kia.


"Bapak jangan begini." Kia membantu mertuanya untuk bangkit.


"Bapak tidak akan berdiri sebelum dapat jawaban kamu nak."


"Ada apa ini? Mengapa Bapak ngemis maaf sama Kia?" omel Ingrid.

__ADS_1


"Anakmu Davi berselingkuh! Dia berusaha bunuh diri karena putus asa tidak mendapat maaf dari Kia!" ucap Pak Yudi.


Kedua orang tua Kia seketika syok mendengar hal ini, mereka tidak menyangka Davi tega melakukan hal keji ini. Fuza tidak bersuara, dia langsung memeluk putrinya. Mendengar sesama perempuan yang diselingkuhi saja sangat sakit, apalagi saat ini yang menjadi korban adalah putrinya sendiri.


"Bapak jangan nuduh-nuduh! Belum tentu kabar itu benar!" Ingrid masih tidak terima anaknya dikata selingkuh.


"Davi sendiri yang mengakui perbuatannya, kalau dia selingkuh dengan Likha!" ucap Pak Yudi.


Sekujur tubuh Fuza gemetaran mengetahui hal itu, dia semakin bungkam, namun air matanya semakin mengalir deras. Rasanya dia tidak punya peribaratan lagi untuk menghina perbuatan Likha.


Ingrid menatap sinis pada Kia. "Lihat! apa yang dikatakan orang-orang dan apa yang aku khawatirkan terjadi bukan!"


"Berulang kali sudah aku peringatkan! Jangan bawa anak pelakor itu ke lingkup keluarga kita! Tapi kamu ngeyel!"


"Bukan dengarin nasihat orang tua, kamu malah terusss melindungi dan memberi tempat anak pelakor itu!" kemarahan Ingrid semakin pecah.


Pak Yudi bangkit dari posisinya, dia segera menarik istrinya.


"Bapak jangan halangin ibu!" Ingrid menepis tangan suaminya dan kembali mendekati Kia.


"Lihat sekarang! Anak pelakor yang kamu lindungi merebut tempatmu! Setelah kejadian ini! Kamu menyalahkan Davi anakku!"


Teriakan Ingrid terdengar sampai keluar ruangan, hingga menarik perhatian perawat.


"Maaf, Bapak Ibu mohon untuk tenang ya, ini Rumah Sakit," ucap perawat itu lembut.


"Yang bilang ini hotel siapa!" sembur Ingrid.


Perhatian Ingrid kembali tertuju pada Kia. "Kalau kamu tidak memberi jalan pada pelakor itu! Dia tidak akan bisa bergerak leluasa di rumahmu! Jika dari awal kamu membatasi ruang geraknya, Anakku tidak akan terkena bisa ular itu!"


"Masih ingat saat kau kekeh meminta dia merawat Davi!? Aku sudah larang, tapi kamu terlalu naif! Sok baik! Terus ... memberi ruang pada pelakor itu?!"


"Setelah anakku dililit ular itu! Kamu menyalahkan anakku! Yang salah itu kau Kia! Kau yang melepas ular itu hingga ular itu mematok Davi!"


Fuza tidak bisa membela putrinya, apa yang dilontarkan besannya juga benar. Kejadian ini juga karena kesalahan Kia yang memberi kepercayaan dan cinta pada orang yang salah.


"Putraku bukan pengejar lendir! Dia terpuruk karena belitan ular itu! Dan ini semua salahmu!"


"Bu, tolong kecilkan suaranya, jika ibu tidak mau tenang, saya terpaksa panggil security untuk menyeret ibu meninggalkan Rumah Sakit ini," tegur perawat.


"Tidak perlu, saya sendiri yang pergi!" Ingrid sangat kesal, dia meninggalkan ruangan Davi dengan kemarahan yang masih berkobar.


"Maafin ibu nak," ucap Pak Yudi.


Kia tidak merespon, tatapannya kini tertuju pada Davi, sedang pikirannya terbayang semua omelan mertuanya, kalau dirinya lah penyebab perselingkuhan itu. Andai dirinya tidak membawa ular itu, Davi tidak akan kena patokan ular itu, memang benar dirinya lah yang melepas ular itu kedalam istana mereka, menyebabkan Davi terlilit dalam belitan ular itu.

__ADS_1


Kia terbayang awal mula dia mengenalkan Davi pada Likha, suaminya benar-benar tidak tertarik pada Likha. Namun rasa penyesalan itu seketika muncul, andai memiliki mesin waktu, ingin dirinya menghapus kehadiran Likha dalam hidupnya.


Ibu benar, semua ini terjadi karena kesalahanku.


__ADS_2