
Melihat Rachel menangis seperti itu, Indra langsung menggendongnya. Berusaha menenangkan anak itu.
"Rachel tenang ya sayang, kita do'a kan semoga Ayah baik-baik saja." Indra terus mengusap punggung anak manis itu.
"A-yah ...." tangisnya selalu menyebut Ayahnya.
"Kia, kasih kunci mobil kamu ke Nabila," pinta Indra.
Kia menuruti perintah Indra dan menyerahkan kunci mobil pada Nabila.
"Kenapa aku?" Nabila protes.
"Saat ini cuma kamu yang tenang, kita menuju Rumah Sakit dengan mobil Kia, mobil aku biar diambil anak buahku. Tapi kamu yang nyetir mobil Kia, biar aman."
"Lu modus ya! Lu aja kan bisa!" Nabila masih keberatan.
"Diperjalanan nanti, aku harus telepon orang kepercayaan aku untuk urus izin ke Rumah Sakit, biar Rachel bisa langsung masuk, kau tahu sendiri kan anak dibawah umur 12 tahun tidak diperkenankan memasuki Rumah Sakit untuk menjenguk orang sakit!"
"Kok otakmu masih cerdas saat keadaan panik begini?" gerutu Nabila.
"Aku juga mau utus orang buat urus kecelakaan itu, biar urusan itu selesai," sambung Indra.
Mereka semua segera menuju mobil Kia, Indra duduk di belakang sambil memeluk Rachel, sedang Nabila dan Kia duduk di bagian depan.
"Nyetir yang benar Bil!" ucap Indra.
"Dari tadi aku nyetir dengan benar, lihat mobil Kia masih melaju di jalan yang benar!" omel Nabila.
Kia sesekali memperhatikan kecepatan mobilnya, padahal Nabila sudah memacunya di kecepatan tinggi, entah mengapa rasanya mobil ini terlalu lambat. Ingin rasanya meminta pintu doraemon agar sampai di Rumah Sakit dalam sekejap mata. Perasaan Kia sedikit lega, saat mobil yang dikemudikan Nabila akhirnya sampai di Rumah Sakit.
"Biar Rachel sama aku, kamu duluan saja," ucap Indra.
Kia mengangguk cepat, entah mengapa Indra selalu memahami keadaanya. Kia berlari memasuki area Rumah Sakit, dia menanyakan letak ruangan yang dia tuju pada salah satu perawat di sana, mengetahui arahnya, Kia kembali memacu cepat langkahnya.
__ADS_1
Ceklak!
Saat pintu ruangan terbuka, Kia melihat semua keluarganya ada di ruangan itu. "Mana mas Davi?" Kia tidak menemukan suaminya di ruangan tersebut.
"Davi masih menjalani operasi," sahut Pak Yudi.
"Istri macam apa kamu! Suami kecelakaan kamu malah menghilang seperti ditelan bumi!" omel Ingrid.
"Maaf bu, handphone Kia rusak, jadi Kia sama Rachel tadi ke toko handphone dulu."
"Ibu, jangan marahin Kia, dia tidak salah," tegur Pak Yudi.
Belum reda kemarahan Ingrid, saat ini kemarahannya kembali berkobar melihat Indra datang dengan menggendong Rachel.
"Jangan bilang kamu habis senang-senang dengan laki-laki itu!" sindir Ingrid pada Indra.
"Bu, jaga bicara ibu, seharusnya ibu terima kasih sama Indra!" maki Nabila.
"Kenapa kalian bisa datang bersamaan?" cerca Ingrid.
"Jangan marahin bunda, bunda enggak salah ... hape bunda rusak karena Rachel," rengek anak itu.
Fuza mendekati putrinya. "Ayo duduk dulu, kamu pasti panik mendengar kabar Davi," ucapnya.
"Aku mau menunggu di depan ruang operasi saja ma," sahut Kia.
"Rachel ikut tungguin Ayah ...." rengeknya.
"Rachel di sini saja ya, sama Kakek, Nenek, oma, opa, dan Aunty Luna." bujuk Kia.
"Anak kecil tidak diizinkan menunggu di sana, karena di sana banyak virus, jadi Rachel tunggu di sini sama om juga ya," bujuk Indra.
"Kenapa bunda boleh, tapi Rachel nggak boleh?" protesnya.
__ADS_1
"Karena virus takut sama bunda, Rachel tau sendiri kan gimana bunda marah, sedang Virus nggak takut sama Rachel, karena Rachel cantik, mereka iri mau bikin Rachel sakit deh," ucap Indra.
Akhirnya anak itu luluh, namun dia tetap menempel pada Indra.
***
Entah berapa lama Davi berada di ruang operasi itu, saat pintu ruang operasi terbuka, Kia merasa sangat lega. Dia segera mendekati dokter yang menangani Davi.
"Bagaimana keadaan suami saya dok?"
"Tidak ada masalah serius, operasi bagian kepala juga tidak mengkhawatirkan, kita tunggu perkembangannya beberapa jam lagi."
Kini Davi berada di kamar perawatan, melihat Davi belum sadar, Rachel terus menangis.
"Rachel jangan nangis terus, nanti Ayah nangis juga, Rachel harus kuat buat semangatin Ayah, terus do'a in Ayah semoga Ayah sehat kembali," bujuk Indra.
"Tapi kenapa Ayah belum buka mata?" jeritnya.
"Ayah masih tidur, kan Ayah selalu kerja, biarin Ayah istirahat dulu ya."
Tidak ada yang bisa mereka lakukan, hanya berdiam diri dan terus memanjatkan doa, berharap Davi segera sadar dan sehat kembali. Sesekali mereka bergantian menyemangati Rachel yang sesekali menangisi Ayahnya.
Drtttt! Drtttt! Drtttt!
Getaran handphone itu menyita perhatian Indra, dia memberikan Rachel pada Kia, dan segera memeriksa benda pipih persegi panjang itu. Sebuah Video yang dirikimkan oleh anak buahnya masuk pada handphonenya.
*Tuan, ini video amatir yang merekam kejadian kecelakaan Davi. Sudah saya urus, video itu hanya kita dan kepala polisi yang menyelidiki kecelakaan ini yang tau. Pemilik video sudah saya kasih lem biru agar tidak membuka mulutnya.
Pesan yang tersemat bersama masuknya video itu. Davi perlahan membuka rekaman video itu, dia sangat terkejut melihat mobil itu memang sengaja menabrak beton tinggi pembatas jalan.
Indra langsung membalas pesan tersebut.
*Pastikan kamu urus semua sampai selesai, jangan ada kasus lain yang terangkat karena video ini.
__ADS_1
\=Baik Tuan.