
Mulutnya mengatakan tidak apa-apa, namun gestur tubuhnya jelas mengatakan dia kecewa. Kia hanya bisa mengutuki dirinya. Bagaimana dia bisa tenang jika suaminya tidak pulang dan dia juga tidak lembur. Kia berjalan mengekori Davi, hingga mereka sampai di kamar mereka.
"Mas, maafin aku ...."
"Sudah jangan dibahas, aku mau mandi dulu, abis itu mau istirahat."
Sampai esok pagi, rasanya aura kekecewaan itu masih kuat. Davi tidak seceria biasa, bahkan Rachel pun bisa merasakan perbedaan dari Ayahnya.
"Ayah sakit?"
"Ayah capek, tapi tidak bisa istirahat, pekerjaan Ayah masih banyak."
Kia tidak bisa ikut bicara, rasa bersalahnya seakan memaku lidahnya, hingga dia tidak mampu mengeluarkan sepatah kata.
"Rachel mau diantar Ayah nggak?"
"Rachel sama mamang aja, Ayah kan harus kerja."
"Mau ya ... ayo hibur Ayah, Ayah sedih loh karena tidak bisa makan malam sama Rachel akhir-akhir ini."
Rachel luluh, dan mau diantar Davi. Kia berusaha memberikan senyumannya pada Davi dan Rachel yang berpamitan padanya. Namun seketika senyumnya lenyap, saat pemikiran kotornya kembali hadir.
Mas Davi saat ini kecewa padaku, bagaimana kalau dia bertemu Likha di sekolah Rachel, dan Likha menawarkan bahu untuknya?
"Arggggg!" Kia mengacak rambutnya entah mengapa dirinya selalu memiliki prasangka buruk atas suaminya.
***
Seharian bekerja dengan beban rasa bersalah membuat Kia tidak bisa produktif, dia tidak bisa memberi saran-saran yang memuaskan.
__ADS_1
"Aku harus selesaikan dari Nabila dulu." Kia meraih handphone dan segera menghubungi Nabila.
"Halo cintaku," sapa Nabila dari ujung telepon.
"Kamu sibuk enggak?"
"Udah enggak, kangen ya?" goda Nabila.
"Iya, kangen pake banget! Ketemuan yukkk!"
"Boleh, kamu sudah ada pilihan tempat?"
"Belum, kamu aja tentuin."
"Oke, kita ketemuan di bakmi yang baru buka aja." Nabila menyebutkan nama mall yang dia maksud.
"Boleh, aku lama nggak berburu bakmi."
"Jangankan jarak segitu, dari bulan ke bumi aku samperin kamu!" goda Kia.
Setelah menyudahi sambungan teleponnya, Kia bergegas menuju tempat pertemuan. Beruntung jalanan masih tidak terlalu macet, dia bisa sampai ditempat tujuan dengan lancar.
Nabila mengangkat tangannya mengisyarat posisi dirinya. Kia berlari kecil menuju tempat Nabila.
"Gimana perjalanan kesini?"
"Aman lancar!"
"Maaf ya aku ajak kemari, aku lagi malas jalan jauh, dan tempat ini paling dekat dengan kantor aku," terang Nabila.
__ADS_1
"Heh?" Kia terlejut dengan penuturan Nabila.
"Astaga, aku lupa cerita." Nabila mengajak Kia untuk duduk.
Mereka mengambil tempat berseberangan. Nabila memegang kedua tangan Kia. "Maaf ya, setelah aku tau Davi berani lakuin hal bodoh, aku tidak bisa lagi melihatnya. Walau kamu maafin dia, maaf aku tidak bisa maafin dia."
Kia merasa sedih mendengar pengakuan Nabila. Dia melepas satu tangan dan menepuk tangan Nabila yang masih memegang tangannya yang lain.
"Jujur aku kagum padamu, bagaimana kamu bisa baik-baik aja sama dia, sedang aku setiap melihat wajahnya, aku selalu terbayang kegilaan dia dengan ***4*** itu. Daripada aku tekanan batin sendiri, aku memutuskan melepaskan diri dari perusahaan yang menyatukan kita, ini semua aku ambil agar hatiku sehat tidak melihatnya lagi."
"Nggak apa-apa, makasih ya atas perjuangan kamu selama ini. Semoga wajah baru dari usaha yang kamu pimpin sukses besar dan memberi manfaat untuk banyak orang."
"Aamin, maafin aku karena aku tidak cerita padamu, kalau kamu mau marah, marah sama Indra aja, dia yang usul katanya jangan bilang ke kamu, fokus pada berkas pencabutan dan pemindahan aja."
"Kok aku?"
Sontak Kia dan Nabila menoleh kearah yang sama.
"Astaga!" keluh Nabila.
"Kenapa kalian sebut aku? Kangen ya?" goda Indra.
"Kenapa tiba-tiba kamu ada di sini? Kia cuma ajak aku!" protes Nabila.
"Bukannya ini tempat umum?" Indra membela diri.
"Dari puluhan mall di kota ini, kenapa malah di sini?!" omel Nabila.
"Ya karena klien aku ajak meeting di sini, ya aku ke sini, pas mau pulang kok aku rada familiar 2 sosok yang lagi di resto Bakmi, makanya aku dekatin eh jelas banget sebut namaku," ujar Indra.
__ADS_1
"Nabila jelasin alasan dia pindah, dan merasa nggak enak karena nggak cerita sama aku," sela Kia.
"Owh itu, alasan Nabila kan kurang nyaman rasanya jika cerita sama kamu, sedang keadaan kamu sama Davi mulai membaik, ya aku usul agar nggak cerita dulu, nanti cerita pas lebih tenang lagi." ujar Indra.