
Kehidupan seperti ini tidak terasa terus berjalan, perut Likha semakin besar, putusan pengadilan untuk perceraian Davi dan Kia juga tinggal menunggu final. Bekerja malam, pulang tengah malam, inilah rutinitas Davi saat ini. Namun dia orang yang bangun pertama, padahal dirinya yang tidur paling akhir. Davi memasak, mencuci dan beres-beres rumah. Semakin hari pekerjaan ini semakin membosankan, hal ini membuatnya semakin merindukan kehidupan bersama Kia, dan semakin terpuruk dalam penyesalan.
Saat hidup sedehana bersama Kia di awal pernikahan, Dirinya hanya membantu, Kia mencuci, dia menjemur, Kia menyapu, dia mengepel, Saat ini? Dia semua yang mengerjakan sendiri. Sampai kapan mereka terus bermalasan seperti itu? Sampai kapan dirinya harus seperti ini? Pikiran itu terus menerus berputar di kepalanya.
Setelah makanan siap, rumah bersih, baru Eren dan Likha membuka mata mereka. Kini mereka semua duduk di lantai membentuk lingkaran, mereka mulai menikmati makanan yang dimasak Davi.
"Berapa gajihmu sehari?" tanya Eren.
"50 ribu ma, tapi jika ramai pengunjung bisa 100 sampai 150 ribu."
Brusssh!
Eren tersedak menyemburkan makanannya. "Kamu salah mencintai orang Likha, yang dulu gajihnya puluhan juga sekarang puluhan ribu!"
"Mas Davi begini karena mencintai wanita pembawa sial sepertiku." Likha berhenti makan dan pergi ke kamarnya.
"Likha!" panggil Eren.
Namun Likha tidak peduli.
"Biar aku susul." Davi bangkit dan segera menyusul Likha.
Sesampai di kamar, terlihat Likha menangis di sudut tempat tidur. Memandangi Likha yang sangat menyedihkan, Davi tidak tahu saat ini perasaannya apa, yang dia tahu harus berjuang untuk kehidupan selanjutnya. Hidup yang dia jalani benar-benar diluar khayalannya. Davi mendekat dan memijat pergelangan kaki Likha.
"Bukan kamu yang pembawa sial, tapi aku yang sial. Karena saat meminta Kia kembali aku bersumpah atas nama kedua orang tuaku dan atas nama Tuhan. Tapi ... aku melupakan janjiku. Karena cintaku padamu lebih besar dari apapun."
Likha semakin luluh, perlakuan Davi melayaninya, anaknya, dan ibunya benar-benar membuatnya jatuh cinta pada laki-laki ini.
"Kamu malah yang sial karena mencintaiku, andai kamu bisa berhenti mencintaiku, kalian tidak akan ada di posisi ini, ibumu masih jadi Nyonya Nomad, mungkin kau adalah Nona muda di salah satu keluarga kaya. Sedang aku? Yang sukses dan cerdas hanya Kia. Aku hanya kerikil yang disimpan dalam etalasi kaca toko perhiasan, hingga membuatmu jatuh cinta pada batu yang tak berharga itu."
Davi menarik napasnya dalam. "Dulu aku terlihat berharga karena tempatku berada, seperti batu itu terlihat berharga karena bersanding dengan batu-batu mulia, saat aku keluar, nasibku kembali pada asli diriku yang memang hanya sebiji kerikil yang mengihiasi tepi jalan."
Likha tidak bisa berkata, dia hanya ingin dipeluk laki-laki yang dulunya pura-pura dia cinta, tapi perasaan itu saat ini bukan pura-pura lagi. Davi bungkam, dia diam saja saat Likha memeluknya. Dia terus bertanya pada hatinya, di mana cinta yang menggebu-gebu yang membuatnya buta, tuli, dan bodoh? Saat ini tidak ada rasa saat bersama Likha.
"Heh pasangan bucin! Ingat waktu! Ada anak yang mau sekolah!" teriak Eren.
__ADS_1
Davi harus menyudahi pelukan mereka, padahal sebelum ada Eren dirinya dan Likha bisa lebih dari sekedar peluk, bahkan keadaan ranjang mereka terasa mencekam, karena tidak bisa bersenandung manja sepuas mereka karena ada penghuni lain di rumah itu. Keadaan saat ini semakin hambar, menuntaskan naffsu terbatas, ditambah lagi dia seperti mati rasa.
Davi keluar dan segera mengajak Nanda menuju motor.
"Nanda sudah pegangan?"
"Sudah pah."
"Heh Davi! Kau tidak berpikir untuk nambah pekerjaan?!" sambar Eren.
Davi menarik napasnya dalam. "Bukan tidak mau ma, tapi mendapatkan pekerjaan tambahan sulit, aku selalu berusaha tanpa sepengatahuan mama." Davi menggenggam kuat stang motornya. Hidupnya sudah tertekan oleh keadaan, tekanannya bertambah besar karena omelan dan tuntutan Eren.
"Mas, bantu jual handphoneku, beli handphone yang sejutaan aja, hasil penjualannya bisa kita pakai untuk biaya lahiran nanti." Likha memberikan handphone apel beserta boxnya.
"Iya, nanti mas jualin. Mas antar Nanda dulu."
Likha tersenyum, dia melambaikan tangannya melepas kepergian Davi dan putrinya.
**
Rachel dan Azriel duduk santai menunggu Indra. Mereka terus membahas banyak hal. Keberanian Azriel yang terus melindunginya di kelas, membuat Rachel semakin nyaman dekat dengan Azriel.
"Apa om Indra akan marah? Kan kemaren aku pukulin teman-teman yang ejek kamu," keluh Azriel. Dia tidak terima saat teman-teman sekelas mereka mengejek Rachel cacat. Hingga dia pun menyerang sampai teman-temannya terluka.
"Om nggak akan marah, malah om akan bangga sama kamu."
"Eh, bukannya itu Ayah kamu?" Azriel menunjuk kearah parkiran. Terlihat di sana Davi menurunkan Nanda. "Ternyata yang ambil Ayah kamu Nanda." Azriel tertawa hambar.
Sedang Rachel menatap tajam kearah itu, hatinya sangat terluka melihat Ayahnya memeluk dan menggendong anak lain, terlihat jelas Ayahnya mencintai anak itu, Rachel tidak terima ada orang lain yang digandeng Ayahnya selain dirinya. Saat yang sama Nanda dan Davi berjalan kearah Rachel sambil bergandengan tangan, Davi sangat terkejut melihat kaki Rachel diperban, dan wahanya terlihat ditutup perban.
"Kenapa Ayah bisa sama Nanda?" tanya Rachel sinis. Tatapan matanya tertuju pada tangan Davi yang setia menggenggam tangan Nanda.
"Nanda sekarang anak Ayah juga, dia sama seperti kamu, dan sekarang dia jadi adik Rachel," terang Davi.
Hati Rachel semakin sakit mendengar itu, tidak ada yang boleh mengambil tempatnya, tapi sekarang Ayahnya malah membaginya.
__ADS_1
"Rachel kenapa bisa begini?" tanya Davi lembut. Hatinya sangat kecewa keadaan Rachel seperti ini Kia malah tidak menghubunginya.
"Apa peduli Ayah? Sayangi saja anak baru Ayah." Rachel menoleh pada Azriel. "Bisa bantu aku jalan?"
"Bisa!" Azriel memberikan bahunya pada Rachel.
Namun baru beberapa kali melompat, Azriel tidak kuat menopang tubuh Rachel, membuat keduanya sama-sama terjatuh. Davi syok melihat itu hingga membuatnya mematung. Namun saat yang sama, Indra datang dan membantu keduanya.
"Bukannya om sudah bilang tunggu om," ucap Indra halus.
"Malas duduk lama di sana," ucap Rachel.
Indra menoleh kearah kursi, dan dia melihat Davi menggandeng Nanda, kini dia mengerti rasa kecewa Rachel. Indra segera menggendong Rachel dan membawanya ke kelas. Davi seperti orang bodoh yang hanya bisa melihat saja.
"Papa, ayok ke kelasku, kan harus ambil undangan acara sekolah."
"Iya." Davi dan Nanda berjalan bersama memasuki gedung sekolah.
**
Sesampai di kelas Rachel, anak-anak yang sebelumnya mengejak Rachel berdiri di depan kelas bersama orang tua mereka. Azriel langsung bersembunyi di belakang Indra.
"Azriel, om bangga karena Azriel bisa melindungi wanita, tapi lain kali jangan kasih pelajaran sendiri, lapor sama om saja, biar om yang kasih pelajaran sama orang tua mereka, karena hukuman dari om bukan pukulan, tapi mereka tidak bisa jajan karena orang tua mereka tidak punya pekerjaan."
Sontak wajah para orang tua itu panik, pengaruh Indra sangat kuat, tidak sulit bagi Indra menyulap mereka jadi pengangguran.
"Mohon maafkan anak-anak kami," ucap salah satu orang tua murid.
Indra mengantar Rachel ketempat duduk dan membantunya duduk dengan nyaman. "Bagaimana sayang? Maafin nggak?" tanya Indra pada Rachel.
"Maafin aja om, minta mereka minta maaf pada Azriel juga," sahut Rachel.
"Nggak cuma itu, mereka harus janji tidak akan ganggu Rachel dan tidak mengejak Rachel!" Azriel menambahi.
Seperti Rachel dan Azriel mau, anak-anak itu meminta maaf pada keduanya. Urusan Indra di sekolah itu pun selesai.
__ADS_1