Di Simpang Jalan

Di Simpang Jalan
Bab 96


__ADS_3

Kehadiran Indra di tengah keluarga Kia menambah kebahagiaan. Apalagi Herman, dia merasa mendapat anak laki-laki yang selama ini dia impikan, namun tak dapat terwujud. Sejak acara selesai, Herman menculik Indra untuk menemaninya berbincang banyak hal. Di sela-sela obrolannya dengan Indra, Herman sangat berharap Indra bisa menjaga putri dan cucunya.


"Saya tidak bisa menjanjikan banyak hal, tapi untuk Kia dan Rachel, saya akan memberi semua cinta yang saya miliki," ucap Indra mantap.


Waktu makan malam adalah waktu kebersamaan keluarga, makan tak makan semua harua berkumpul di ruang makan. Sambil mengunyah makanannya Rachel terus menatap dalam pada Indra. Membuat Indra berulang kali mengusap bagian wajahnya, dia pikir ada noda di wajahnya.


"Kak Indra keringetan?" goda Luna.


"Enggak, kali aja ada noda."


"Sini aku lihat," Kia menarik wajah Indra agar menghadap kearahnya.


"Tiee yang nggak sabar mau--"


"Luna!" tegur Fuza.

__ADS_1


Kia mengabaikan godaan adiknya, dia fokus memandangi wajah Indra. Entah selama ini matanya kurang sehat atau sengaja mengabaikan wajah yang memikili garis ketampanan yang nyaris sempurna ini. Jujur baru kali ini Kia menatap Indra sedekat ini, membuat jantungnya berdetak tidak karuan.


"Gimana, ada sesuatu? Kayaknya ada yang salah." Indra mendekatkan wajahnya ke sisi wajah Kia. "Rachel lihatin aku gimana gitu, aku grogi."


"Ehem! Sabar Kak, cuma berapa menit lagi kalian bebas!" goda Luna.


Kia mengabaikan celotehan adiknya itu, dia mendekati Rachel dan memeluk putrinya yang terus menerus menatap Indra. "Sayang ... apa ada yang salah dengan Pandra?"


"Uhukkkk! Pandra ...." Luna heboh sendiri.


Rachel menggeleng, namun tatapannya terus tertuju pada Indra.


"Kacang! Kacang!" ucap Luna, kesal karena ucapannya tidak ditanggapai Kia.


Rachel tersenyum, namun saat yang sama air matanya juga menetes.

__ADS_1


"Kok anak Pandra yang cantik ini nangi?" Indra melepas sendoknya dan berjongkok di sisi Rachel.


"Aku terharu, aku sedih, aku bahagia. Pandra mulanya bukan siapa-siapa aku, tidak selalu ada buatku tapi selalu ada di saat aku butuh sosok Ayah. Aku mendapatkan perhatian dan kasih sayang seorang Ayah dari Pandra." Rachel langsung memeluk Indra.


"Sedang Ayahku sendiri?" Rachel terisak dalam pelukan Indra. "Ayahku sendiri tidak peduli padaku."


Kia membiarkan Rachel menumpahkan tangis dan kecewanya, sudah banyak pembelaannya untuk Davi, saat ini Kia tidak peduli bagaimana Rachel memandang Ayah kandungnya.


Indra terus mengusap punggung Rachel. "Tapi kan sekarang Pandra papanya Rachel dan bunda, Pandra berusaha sebisa Pandra untuk Rachel dan bunda."


"Iya, aku sudah merasakan semua perhatian dan kasih sayang Pandra, aku sayang Pandra dan bunda." isak Rachel.


"Kami semua juga sayang Rachel." Kia memeluk suami dan anaknya.


Luna ingin membuka mulutnya, namun detik yang sama Fuza memintanya diam dan membiarkan kehangatan itu terus terjalin. Kia lupa kalau ada orang lain selain mereka bertiga. Pikirannya saat ini ingin memberi segalanya buat Indra, walau bukan yang pertama buatnya, tapi ini pertama buat Indra. Sudah terlalu banyak kebaikan Indra untuknya dan keluarga, Kia ingin memberikan hal terindah buat Indra.

__ADS_1


"Terima kasih bunda, bunda mau menerima Pandra sebagai Papa Rachel. Rachel sangat bahagia."


Pelukan itu pun terlepas, hanya ada senyum kebahagiaan yang tercetak jelas di wajah ketiganya.


__ADS_2