Di Simpang Jalan

Di Simpang Jalan
Bab 97


__ADS_3

Setelah makan malam, keluarga Kia berkumpul di ruang keluarga. Saat siang waktu mereka habis untuk pekerjaan, saat seperti inilah pekerjaan mereka lepas dan menikmati kebersamaan. Fuza memandangi setiap sudut rumahnya, sorot matanya begitu lemah, membuat Luna penasaran tentang pemikiran ibunya.


"Mama kenapa? Mau hitung jumlah marmer atau mau hitung luas ruangan?" goda Luna.


"Mama terlalu menikmati kebersamaan kita selama ini, mama bahagia ada Rachel dan Kia di rumah ini, rumah ini terasa begitu hidup karena kebersaan kita, mama sangat berat melepas mereka lagi." Fuza segera mengusap air mata yang terlanjur menetes. Karena Kia kembali bersuami, tidak menutup kemungkinan Indra akan memboyong Kia dan Rachel bersamanya. Sebagai seorang ibu, Fuza sangat berharap mereka tetap di rumah ini.


Indra memahami kesedihan Fuza, dia berlutut di depan mertuanya itu. "Aku mengerti perasaan mama, pastinya sangat berat jika berpisah dari mereka?"


Fuza mengangguk dan terus mengusap air mata yang tidak mau berhenti menetes.


"Mama jangan egois, kita harus ihklas melepas Kia walau kita sangat bahagia jika mereka semua tetap di sini."


"Walau aku ikut Indra, kan untuk hari libur aku pasti mengunjungi kalian," sela Kia.


Indra menoleh pada Rachel. "Kamu mau tetap di sini, atau mau tinggal ke rumah baru kita?"


"Aku suka di sini, jika di sini saat pulang sekolah aku punya teman oma dan opa, kalau di rumah baru pasti teman aku cuma mbak, seperti di rumah lama temanku cuma mbak Sarah. Apalagi jika bunda lembur, kan kalau di sini aku tidak kesepian."


"Kalau Kia dan Rachel lebih bahagia tetap di sini, dan kalian mengharap kami tetap di sini, aku setuju tinggal di sini," ucap Indra.


Rona kebahagiaan seketika menghiasi wajah Fuza. "Kamu nggak keberatan seatap sama mertua?"


"Mertuanya sangat baik dan penyayang seperti kalian, kenapa enggak? Jangankan seatap, sekamar pun aku mau," goda Indra.


"Jangan ajak mama papa tanding, mereka dah tua!" goda Luna.


Fuza tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya, dia memeluk erat Indra. Saat yang sama dia melempar tisu pada Luna, entah mengapa anak bungsunya terlalu iseng.


"Apalagi sejak kehilangan sosok Ayah, om Herman seperti sosok Ayah buatku, membimbingku menjalankan bisnis dan memberiku banyak nasehat."


"Kok om?" protes Herman.


Indra melepaskan pelukannya pada Fuza. "Sekarang aku bangga memanggil Anda papa."


Herman menghampiri Indra dan memeluknya.


"Kalau dilihat, kurasa papa yang paling bahagia atas pernikahan Kak Kia dan Kak Indra," sela Luna.

__ADS_1


"Kita semua bahagia. Ibu mana yang tidak bahagia memiliki menantu sebaik Indra?" sahut Fuza.


"Jadi fix nih Kak Kia tetap di rumah ini?" goda Luna.


"Indra setuju, ya aku juga setuju." sahut Kia.


"Untung tuh kamar saat renovasi kemaren aku requist pasang peredam suara." Luna memandangi kuku-kukunya seolah ucapannya hal biasa.


"Luna ...." tegur Fuza.


"Aku baik kan Kak Kia?" Melihat tatapan yang tidak bersahabat dari Kakak dan kedua orang tuanya, Luna berlari menuju tangga. "Aku duluan ya semua, besok aku dinas pagi."


"Yakin kamu setuju tinggal di sini? Iya papa sama mama aku bagaikan malaikat, tapi adek aku itu." Kia mengisyarat pada Luna.


"Yakin, tapi saat libur sesekali kita akan menginap di rumah ibuku atau di rumah kita," jawab Indra.


"Rumah kita?" Kia berusaha memahami arti rumah kita.


"Rumah yang dulu aku bangun jika aku berkeluarga, rumah itu tetap terawat sampai saat ini."


Waktu semakin malam, semua anggota keluarga menuju kamar mereka masing-masing. Indra memasuki kamar Kia. Dia berusaha mengingat kapan terakhir dia masuk ke kamar ini saat menengok Kia sakit dulu.


Indra masih menjelajah kamar itu. Membuka setiap pintu yang ada di sana.


"Kalau kamu berubah pikiran, aku akan bicara sama mama. Papa mama pasti mengerti jika kita pindah ke rumah sendiri," ucap Kia.


"Waktu kita untuk keluarga terlalu sedikit karena kesibukan kita. Dengan tetap di sini, saat malam waktu kita terasa sangat berkwalitas karena kebersamaan dengan keluarga. Kita bahagiakan mama dan papa selagi mereka masih ada dan sehat. Bahagiain mereka nggak perlu dengan kasih uang banyak, tapi temani mereka dan dengarkan semua cerita mereka."


Kia tidak menyangka Indra benar-benar bersedia menetap di rumah ini demi kebahagiaan kedua orang tuanya. Kia terus menatap Indra, hingga dia tidak sadar kalau mereka kini tak berjarak lagi. Entah kapan Indra berada tepat di depan matanya.


Waktu seperti terus dipercepat, tanpa permisi Indra sudah menempelkan bibirnya pada bibir Kia, bahkan satu tangannya perlahan memijat tengkuk Kia, agar ciuman mereka semakin dalam.


Tidak seperti yang Kia khayalkan, dia ingin memberi Indra malam yang berkesan, namun malah Indra yang memberinya pengalaman yang berkesan. Kia merasa seperti baru terlahir, dia merasa tidak pernah merasakan perasaan yang indah seperti ini.


Rasanya Indra ingin sekali mengikat matahari agar matahari tidak bisa terbit. namun itu hanya khayal, rasanya masih ingin memperpanjang malam mereka, tapi malam sudah berakhir, aktivitas pagi pun harus dikerjakan.


Kia dan Indra keluar kamar bersama, keduanya segera menemui Rachel.

__ADS_1


"Sudah pakai seragamnya sayang?" tanya Kia.


"Sudah bunda. Hari ini Pandra dan bunda antar aku ke sekolah?"


"Bukan hanya antar, saat pulang kami akan jemput juga!" sahut Indra.


Teriakan Rachel pun mewarnai pagi di rumah itu, dia terlalu bahagia hingga terus berteriak sambil melompat kecil.


"Astaga ... aku kira peredam suara di kamar bunda rusak, ternyata teriakan bocah ini ...." gerutu Luna.


"Memangnya kenapa kamar bunda Aunty pasang peredam suara?" tanya Rachel.


"Kan bunda suka karaoke, nah kalau nggak dipasang peredam Aunty nggak bisa tidur kalau dengar bunda nyanyi," sahut Luna.


"Sejak kapan bunda suka nyanyi?" Rachel terlihat sedang berpikir.


"Sejak ada Pandra, bunda suka nyanyi lagunya mulan, aw! Aw! Aw! Ah! Ah! Ah!"


"Luna ...." teriak Kia, tingkah adiknya itu sangat menguras emosi.


Sedang Luna segera berlari menuju lantai bawah.


"Lihat bagaimana adik aku?" ucap Kia pada Indra.


"Tau, dan aku suka semua anggota keluarga ini, apalagi kamu." Indra mencium Kia begitu kilat.


"Ayo Pandra! Bunda! Aku sudah siap!"


"Mau Pandra gendong?"


"Enggak, gini aja." Rachel meraih tangan Kia dan Indra, dan berjalan bersama menuruni tangga.


Sesampai di bawah ada yang kurang, Kia berusaha mencari keberadaan si perusuh. "Luna mana mah?"


"Dia kabur, pasti abis godain kalian," tebak Fuza.


"Ayok sarapan sini," sela Herman.

__ADS_1


Indra terbiasa dengan keluarga ini, walau sudah 11 tahun tidak bersama mereka, tapi rasanya tetap sama kala masa kecilnya yang masih bertetangga dengan keluarga Kia.


__ADS_2