
Dio terus menatap Nabila, dia tidak percaya dengan reaksi Nabila saat ini, biasanya wanita itu berusaha menarik perhatiannya. Tapi saat ini Nabila malah tidak peduli dengan keberadaannya.
"Kamu puas Kia dengan keputusan hakim kemaren?" tanya Dio.
"Asal proses perceraian mudah, dan hak asuh anak diberikan padaku, itu sudah cukup, aku tidak menginginkan nafkah apapun darinya. Aku hanya ingin bebas dari ikatan ini, dan dia juga sepertinya sama, kamu lihat sendiri dia datang dengan wanita cantik ke persidangan."
Mendengar kata cerai seketika Rury menegakan tubuhnya. Rury merasa lampu hijau menyala lagi.
Tuhan, maafkan aku karena sangka buruk padaMU, aku tarik ucapanku lagi Tuhan.
Rury memasang wajah serius seolah ikut menyimak pembicaraan Kia dan Dio.
"Aku senang kalau kau puas, jujur aku merasa belum puas, biasanya klienku memperjuangkan banyak hal dipersidangan," ucap Dio.
"Aku memiliki segalanya, aku hanya ingin mempermudah hidupku, sebab itu cukup lepas ikatan itu saja." ujar Kia.
"Kalian berdua tidak pusing masih membicarakan persidangan? Aku sebagai saksi saja kepalaku pusing mendengar semua hal mengarah pada sidang."
"Ganti topik," usul Kia.
"Kia." Rury memberanikan diri memanggil Kia. Yang Rury panggil pun seketika menoleh padanya.
"Aku mau kau ganti rugi kemaren." Rury menaikan kedua alisnya mengingatkan Kia kejadian beberapa bulan lalu, tepatnya ulang tahun Ingrid.
"Aku harus ganti apa?"
"Nanti aku kabari lagi, tapi masukin dulu nomor handphonemu." Rury memberikan handphonenya pada Kia.
Kia pasrah dan menyimpan nomor handphonenya di handphone Rury. "Sudah puas?"
"Sebentar aku pastikan dulu." Rury menghubungi nomor yang Kia masukan, senyumnya seketika mengambang setelah melihat handphone Kia berdering. "Oke aku puas, eh jangan lupa save nomorku."
"Maaf, nggak penting buat apa simpan." Kia mengabaikan handphonenya dan fokus pada tujuan perkumpulan mereka.
Sikap judes Kia semakin membuat Rury menginginkannya. Wanita biasanya selalu bersikap manis padanya dan terlihat jelas mendekatinya, tapi Kia? Dia malah mengabaikannya.
__ADS_1
"Oh ya Ndra, sebelum semua transaski selesai, kamu cek dulu semua." Kia memberikan berkasnya pada Indra.
"Aku nggak mau periksa, aku percaya sama kamu dan Dio."
"Oke, kalau begitu kita fokus pada acara grand opening perusahaan baruku, bukan miliku, tepatnya milik putriku."
"Untuk acara itu sudah hampir selesai Ki, itu EO yang bertanggung jawab di acara grand opening nanti." Nabila mengisyarat pada Rury.
"Kenapa harus dia?" Kia sangat ingat ulang tahun mertuanya yang lumayan kacau dan dirinya sendiri yang turun tangan untuk membenahi.
"Ada masalah jika acara diserahkan pada Rury?" sela Dio.
"Aku hanya takut saja, acara yang dia pegang sebelumnya sangat kacau."
"Justru aku semakin selektif setelah itu, karyawan yang mudah disogok itu aku depak saat itu juga, dan siapa yang culas seperti itu, acaramu saat ini, aku pastikan semua lancar." Rury menatap Kia dengan tatapan yang begitu dalam. Dia tidak menyangka ada perempuan cantik, baik, memiliki karir sukses, yang terpenting saat ini dia masih single.
Melihat tatapan Rury pada Kia membuat Indra cemburu.
Ada apa ini? Cemburu? Memangnya kamu siapa Kia? Kamu hanya sahabat! Tidak berhak cemburu pada Kia. Kia wanita istimewa, wajar jika ada laki-laki yang berjuang mendapatkan cintanya. Kamu saja tidak bisa berhenti mencintainya.
Selama makan siang Rury mendominasi obrolan, dia selalu menggunakan kesempatan yang ada untuk berbicara dengan Kia. Bangunan ketegaran Indra goyah, dia pergi menuju toilet pria untuk menenangkan diri.
"Bagaimana kabarmu Davi?" sapa Indra.
"Bagaimana aku bisa baik-baik saja setelah melepaskan permata berharga dalam hidupku?"
"Kenapa kamu malah menyerah dan menikahi model itu?"
Davi tersenyum, dia tidak menyangka diam-diam Indra mengetahui pernikahan dia dengan Fanny. "Aku kosong, di mana saja dengan siapa saja aku merasa hampa. Aku menikahi Fanny ada tujuan dan misi."
"Menyerah berjuang kembali pada Kia? Ya aku memilih diam ditempat daripada berusaha tapi malah membuatnya terganggu." Davi terus berbicara sambil mencuci tangannya.
Davi meraih tisu dan mengeringkan tangannya. "Masalah Kia, aku yakin Tuhan mempersiapkan sosok yang bisa menjaga hatinya dan menyayangi Rachel, misal seperti kamu." Davi menepuk pundak Indra.
"Jika kamu berhasil menaklukan hati Kia, aku titip kedua permataku, bahagiakan mereka."
__ADS_1
"Itu hanya mimpi, sejak dulu aku tidak pandai menaklukan hati wanita." gerutu Indra.
"Kamu hanya kurang berani dan tidak percaya diri, apa yang kamu takutkan jika memperjuangkan perasaanmu? Penolakan?"
"Kamu siap gagal dan ditolak disetiap usahamu, tapi kamu selalu berhasil, masalah cintamu, kamu tidak setegar seperti menjalankan bisnis. Berjuang Indra, sebelum kamu kehilangan kesempatan ini."
Davi menghela napas panjang. "Caraku mencintai Kia saat ini, hanya memastikan dia bahagia dengan siapa pun nanti dia menikah."
Indra menatap laki-laki di sebelahnya ini, sungguh dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Wanita yang pernah terluka sulit untuk ditaklukan hatinya, namun jika kamu berhasil, kamu akan mendapatkan cinta yang luar biasa darinya. Selamat berjuang Indra." Davi menepuk bahu Indra lagi dan pergi dari sana.
Apa aku rela kehilangan Kia untuk kedua kalinya? Tidak, lebih baik kehilangan kesempatan berdiri di sampingnya daripada menyia-nyiakan kesempatan untuk memasuki hatinya.
Indra menguatkan dirinya, dan segera bergabung dengan teman yang lain.
***
Keadaan kontrakan Likha terasa sepi, semakin hari rasanya semakin menyedihkan kehidupannya. Eren terus scrol aplikasi ketok-ketok untuk mengusir kebosanannya. Sejak dia keluar dari arisan para sosialita, dia juga dikeluarkan dari grup chat, sehingga dia tidak punya teman maya lagi.
"Likha ...." teriak Eren.
"Iya mama."
"Jalan-jalan yuk, mama lihat uang yang Davi tinggalkan cukup banyak."
Menolak ajakan ibunya hanya menciptakan perang, Likha terpaksa setuju dan segera bersiap untuk pergi. Ibu dan anak itu bersama seorang anak kecil turun dari taksi, mereka mulai mengayunkan kaki menjelajahi mall yang mereka tuju.
"Eh, ini beneran jeng Eren sama Likha?" salah satu pengunjung mall sampai melepas kacamatanya untuk memastikan yang dia lihat benar adanya.
"Eh bener jeng, kok sekarang buluk, dekil, kusam! Iwhhhh!" sewot yang lain.
Eren kesal, membalas mereka percuma, karena yang mereka katakan benar adanya. Penampilannya dan Likha jauh berubah karena tidak mampu melakukan perawatan tubuh lagi.
"Eh jeng, jangan lupa ikan asin colongannya dijaga! Ntar hasil colongannya dicolong pelakor lain loh!"
__ADS_1
Eren bungkan, dia menggendong Nanda dan terus menarik Likha.
"Sebab ini aku lebih suka mengurung diri di rumah, daripada keluar batinku terjajah." gerutu Likha.