
Pikiran Davi seketika kacau, entah mengapa dia terbayang tawaran ibunya. Tinggalkan Likha maka kehidupan lamanya akan kembali.
Aku telah meninggalkan yang lebih besar dari itu demi Likha, kenapa aku menyerah dengan hal yang lebih kecil?
"Sayang ....." Likha langsung menyandarkan kepalanya di bahu Davi.
"Iya."
"Mikirin apa?"
"Aku cuma mikir, apa kamu kuat menderita sama aku seperti ini," kilah Davi.
"Biar waktu yang menjawabnya mas, aku sudah berulang kali katakan kalau dirimu lebih berharga dari apapun."
"Benarkah?" Davi tertawa hambar.
"Mas bisa rasakan sendiri."
Apa lagi? Jika lisan tidak lagi terdengar mengeluarkan kata, maka keduanya sibuk menyatukan hasrat mereka.
***
Sudah sebulan Rachel tidak bertemu Davi. Gadis itu seperti kehilangan keceriaannya. Bahkan Herman pun tidak bisa membuat Rachel tersenyum. Kia menatap kedua orang tuanya, dia tidak tahu harus bagaimana jika Rachel mulai menginginkan bersama Davi.
"Bunda bohong, kata bunda sabtu-minggu Rachel boleh sama Ayah, sudah berapa minggu Ayah tidak datang!"
"Rachel sayang, berusaha mengerti keadaan Ayah, mungkin Ayah sibuk lagi," bujuk Kia.
Rachel mengamuk melempar semua mainannya kesembarang arah. Yang dia inginkan hanya Davi.
"Aku bisa gila kalau begini mah ...." keluh Kia.
Kia mendekati Rachel dan memegang kedua pundak putrinya yang terus mengamuk. "Bunda pernah perlihatkan bagaimana kehidupan orang di luar sana, tidak setiap keinginan kita harus bisa kita dapatkan, kadang kita harus mengikhlaskan hal itu, tapi Rachel terus begini, mau sampai kapan?"
"Aku rindu Ayah ...." tangisnya.
"Ayah juga rindu Rachel, ingat kata bunda, kita harus saling dukung, Kalau Rachel begini Ayah di sana pun tidak bisa melakukan pekerjaan Ayah."
"Aku mau Ayah ...." teriaknya.
"Rachel nangis terus? Oke bunda juga bisa nangis, kita nangis semua!" Tangis keputus asaan Kia pecah. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi, waktunya sudah dia beri untuk putrinya, tetap saja Davi yang selalu Rachel rindukan.
"Kita cari Ayah yuk bunda ...." isak Rachel.
"Enggak bisa sayang, bunda tidak tahu harus bagaimana lagi jelasin sama kamu."
Fuza menarik Kia kedalam pelukannya, dia bisa merasakan bagaimana sakitnya perasaan putrinya, sedang Herman menggendong Rachel dan berusaha menangkannya. Setelah Rachel tenang, Herman membawa Rachel ke kamarnya dan membuat Rachel tertidur.
__ADS_1
"Aku harus bagaimana lagi ma? Aku tidak terluka atas perpisahan ini, tapi aku terluka melihat tangis putriku."
"Ada kami semua sayang, pelan-pelan kita akan membuat Rachel mengerti," ucap Fuza.
"Apa kebaikan Davi itu selain menyumbang spermanya untuk Rachel? Tapi Rachel sangat mencintainya!" omel Herman.
"Semoga Tuhan mencabut rasa cinta yang tertanam kuat di hati Rachel untuk Davi, laki-laki plin-plan dan sinting itu tidak pantas untuk dicintai!" omel Luna.
Kia terus menangis dalam pelukan Fuza.
Tuhan, apakah permintaan ku agat selalu diberi kesehatan dan kebahagiaan untukku dan keluarga terlalu berat? Jika engkau berkenan, tolong kurangi sedikit rasa cinta anakku pada Ayahnya, aku tersiksa melihat anakku seperti ini, aku ingin hidup tenang dan bahagia bersama keluarga tanpa kehadiran Davi lagi.
Malam itu tidak ceria seperti biasa. Mereka berusaha mencari jalan agar bisa membuat Rachel mengerti.
*
Pagi-pagi Rachel sudah selesai mengenakan setelan seragam sekolahnya. Wajahnya dingin, tidak seceria hari biasa. Kia mendekati anaknya dan merapikan pakaian yang kurang rapi.
"Maafin Rachel, karena tadi malam buat bunda menangis."
"Maafin bunda juga, karena tidak bisa memenuhi keinginan Rachel," ucap Kia.
Kia membelai lembut sisi kepala Rachel. "Bunda boleh tanya sesuatu?"
Rachel mengangguk.
"Bunda terbaik, bunda tidak ada kekurangan." Rachel menunduk mempertimbangkan masalah Davi. "Tapi Rachel juga mau sama Ayah."
"Iya, Rachel akan sama Ayah, tapi nanti, semua ada waktunya. Rachel akan kelas 6 kan? Apakah Rachel bisa masuk kelas 6 pagi ini juga? Rachel ngamuk biar diizinkan masuk kelas 6, apa itu akan berhasil?"
Rachel menggelengkan kepalanya.
"Begitu juga untuk bersama Ayah, nanti akan ada waktunya. Tolong mengerti ya sayang ...."
"Bahas Ayah lagi nih?" sela Luna.
"Mau bagaimana lagi? Bukankah katanya Ayah cinta pertama seorang anak perempuan?" sahut Kia.
"Kalau bahas Ayah lagi, Rachel sekolahnya jalan kaki, sakit kuping Aunty dengar Rachel nangis teriak-teriak," ucap Luna.
"Aku sama bunda aja ke sekolahnya." Rachel langsung memeluk Kia.
"Rachel lupa kalau bunda harus pergi ke bandara pagi ini juga?" ucap Luna.
Pandangan Rachel tertuju pada Kia, benar saja ibunya sangat rapi dengan setelan kerja. "Bunda kalau keasyikan kerja jangan lupa sama aku ya."
"Enggak akan, Rachel itu mahari hidupnya bunda."
__ADS_1
"Nah matahari Rachel, berarti kalau malam bunda lupa sama Rachel," sambar Luna.
"Luna!"
"Aunty!"
Teriakan ibu dan anak itu kompak.
Di kontrakan Likha.
Pagi-pagi sebuah mobil sedan terparkir di depan rumah yang termakan usia itu. Mobil itu bukanlah mobil mewah, namun terlalu mewah jika terparkir di depan rumah kontrakan sederhana itu.
"Keluarnya mbak Lili sepertinya orang kaya, beberapa kali mobil ini datang berkunjung."
"Kaya kok ngontrak?"
"Mungkin orang tua mereka mengajarkan hidup mandiri karena mba Lili sudah menikah."
Obrolan orang sekita kontrakan Likha karena melihat mobil yang terpakir. Beberapa saat kemudian, Terlihat 3 orang keluar dari rumah itu. Likha dengan perut besarnya sambil menggandeng tangan anak kecil, sedang Davi berjalan di samping Likha, memastikan langkah istrinya aman.
"Mari ibu-ibu," pamit Davi sopan pada para tetangga yang terus memandangi mereka. Mobil yang dia kemudikan pun perlahan melaju meninggalkan area itu.
"Wah, suami mba Lili bisa nyetir ternyata," komentar salah satu warga.
Sedang dalam mobil itu, Nanda terus menatap Davi, dia tidak mengerti mengapa Ayah temannya bisa serumah dengan ibunya.
"Kenapa pandangin papa terus?" tanya Likha pada Nanda.
"Papa?" Nanda tidak mengerti.
"Iya, sekarang papa Davi jadi papanya Nanda."
"Bukannya om Davi Ayahnya kak Rachel?" ucap Nanda.
"Iya, papa Davi memang Ayahnya Rachel, tapi papa Davi sekarang udah jadi papanyq Nanda, jadi Nanda dan Rachel adik Kakak."
"Aku punya papa?" Nanda terlihat bahagia, dia tidak mengerti hal lain, yang dia tahu dia sudah punya papa.
"Iya, Papa Davi papanya Nanda."
Perlahan mobil yang Davi kemudikan memasuki area sekolah. Davi menurunkan kaca mobilnya melambaikan tangan pada Nanda, saat yang sama ada sepasang mata yang berbinar bahagia melihat sosoknya.
"Aduh!" jerit Likha sambil memegangi perutnya.
"Ada apa sayang?" Perhatian Davi seketika fokus pada Likha.
"Perut aku kram mas, ayok cepat ke Rumah Sakit sekarang ...."
__ADS_1
Tanpa pikir panjang, Davi segera melajukan mobilnya meninggalkan area sekolah itu. Rasa paniknya membuat telinganya tuli, dia tidak mendengar panggilan yang berteriak memanggil-manggil Ayah.