
Flash Back ....
Sebagai bagian dari sosok yang menyakiti, seharusnya Ingrid bahagia melihat putranya diberi kesempatan kedua untuk memperbaiki istana mereka, tapi tidak bagi Ingrid. Wanita itu kesal karena putra dan menantunya berdamai lagi. Angin kebahagiaan sempat bertiup di hatinya kala Kia terlihat tidak mau memaafkan Davi, bukan karena takut harta Davi jadi milik Kia jik Davi tidak memegang teguh janjinya. Tapi ada hal yang lain yang membuatnya berharap Davi dan Kia berpisah.
Sejak awal dirinya tidak merestui Davi, tapi karena putranya terlalu mencintai Kia, dirinya tidak bisa melawan kehendak putranya, ya belum lagi dukungan suaminya pada Davi. Kia bukan menantu idamannya, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, Kia istri yang baik dan berbakti padanya, setiap bulan Kia mengiriminya uang bulanan sebesar 10 juta, bagi Ingrid ini tidak berarti apa-apa, karena dia yakin putranya mampu memberinya lebih besar dari itu, hanya saja Kia terlalu pelit dipikirannya.
Saat Ingrid mengajaknya berburu barang mewah, Kia selalu beralasan tidak perlu, ingin terlihat sederhana. Seketika omelan Ingrid lepas, kenapa pakai iphone tidak android saja jika ingin sederhana, jawaban Kia seketika membuatnya bungkan, dia menggunakan apel krowak untuk pekerjaan bukan untuk gaya-gayaan, dan android semahal apapun tidak mendukung pekerjaannya.
Mengingat perdebatannya dengan Kia membuat Ingrid emosi, dia mengambil handphonenya dan membuka media sosial Likha, dia mengamati wanita itu begitu cermat, apa yang membuat Davi tertarik padanya. Banyak foto-foto Likha dia screenshoot, setelah mendapatkan yang dia inginkan, dia menutup laman media sosial Likha.
"Sampai sekarang aku tidak menemukan hal istimewa dari Likha si jal4ng ini, apa yang istimewa darinya." Jemarinya masih sibuk zoom foto-foto Likha yang dia screenshoot.
Hingga sebuah panggilan telepon dari aplikasi hijau yang masuk membuat fokusnya seketika buyar.
"Dhefanny!!" Ingrid sangat antusias melihat nama pemanggilnya.
Dhefanny, dia anak pengusaha sukses teman suaminya, mereka sangat dekat dengan kedua orang tua Fanny. Dia dan kedua orang tua Dhefanny berharap bisa menjodohkan Davi dan Dhefanny. Bahkan nama seperti satu warna, kedua orang tua itu benar-benar menginginkan anak mereka suatu saat nanti jadi pasangan. Namun takdir tidak bisa ditebak. Dhefanny harus menelan pil pahit takdirnya. Takdir membuatnya jatuh cinta pada Davi, namun tidak mengizinkannya memiliki Davi. Sejak SMA, cinta Fanny tidak pernah bersambut. Davi selalu menganggapnya adik.
Saat Davi memutuskan menikah dengan Kia wanita yang dia cinta, Fanny memilih fokus mengejar karir dan mengasah kemampuannya di luar negri. Hingga 11 tahun berjalan dia menjadi super model yang terkenal di negara tempatnya bernaung. Masyarakat tanah air sendiri tidak terlalu mengenal Fanny, karena televisi tanah air atau lambe gosip tidak pernah menyeret namanya.
"Halo Fanny sayang, mimpi apa tante bisa teleponan sama kamu lagi!"
"Halo juga tante, tante ingrid apa kabar?" suara dari ujung telepon.
"Ah, tante bingung. Dibilang baik, tante merasa buruk. Dibilang buruk tante baik-baik aja."
"Sini cerita sama Fanny tan ...."
"Tante bingung mulainya dari mana sayang."
"Mulai dari hal yang membuat tante sangat kesal!"
"Ah! Tante bingung ceritanya dari mana, semua bikin tante kesal!"
"Kia salah satunya?" tebak Fanny.
Ingrid menghempas kasar napasnya. "Aku heran, kenapa Davi begitu tergila-gila dengan wanita itu, karena Kia tidak mau memberi dia kesempatan, dia rela bunuh diri!"
"Terus Davi sekarang sudah nggak ada?" suara dari ujung telepon seketika terdengar lemah.
__ADS_1
"Tuhan masih sayang dia, sehingga dia masih bernapas, tapi masih menjalani perawatan di rumah."
"Ya ampun, memangnya mereka berantem apa tan?"
"Davi main perempuan, Kia tau dan sepertinya ingin pisah."
"Waw! Aku nggak percaya tan ...."
"Tante juga sulit percaya, tapi inilah yang terjadi."
"Aku penasaran sama sosok yang mampu buat Davi berpaling tan."
"Tenang sayang, tante segera kirimkan foto perempuan itu."
"Aku tunggu tan ...."
Saat itu juga foto Likha sampai dilayar handphone Fanny.
"Apa istimewanya dia dari aku tan?"
"Dari tadi tante liatin foto dia, coba cari hal yang membuat Davi terpikat sama dia, tapi biasa aja, cantikan juga Kia. Kalau dibanding sama kamu, bukan bagai bumi dan langit lagi, tapi bagai matahari dan Neptunus malah!"
"Davi terjerat wanita itu karena dia berani menggoda Davi sedang kamu tidak berani menunjukan cintamu."
"Aku tidak berani tante, karena melihat Davi begitu cinta sama Kia."
"Kalau kamu mau berjuang, pasti bisa! Dengan yang biasa saja Davi luluh, apalagi kalau sama kamu, bukan luluh lagi tapi mencair dalam wantu kurang dari nol koma nol detikk!" ingrid sangat semangat.
"Kalau kamu masih mencintai Davi, dan mau berjuang, tante bantu kamu."
Merasa tidak ada suara di ujung telepon sana membuat Ingrid takut.
"Kamu masih cinta Davi, sayang?"
"Masih tan, bahkan aku nggak bisa keluarin dia dari hati aku."
"Tante kira, tante salah bicara, soalnya kamu cantik, pasti banyak yang mau sama kamu, apalagi ini sudah 11 tahun, bahkan mau 12 tahun kan pernikahan mereka."
"Iya, aku juga enggak tahu gimana bisa aku begitu mencintai Davi."
__ADS_1
"Kalau begitu, pulanglah biar tante bantu kamu perjuangin Davi."
"Tapi aku butuh jalan untuk dekat dengan Davi, ya selain untuk mengodanya, aku juga ingin membuat Kia cemburu."
"Ide kamu bagus sayang, Kia habis disakiti, tentu dia akan membuat Davi tertekan oleh kecemburuannya."
"Bantu aku ya tan ...."
"Tante akan bantu kamu biar dekat sama Davi."
"Kalau begitu aku mau atur waktu libur aku, 4 minggu lagi gimana tan?"
"Oke sayang, sampai ketemu 4 minggu lagi."
Setelah panggilan telepon berakhir, Ingrid sangat bahagia. "Akhirnya mimpiku memiliki menantu seperti Fanny akan terwujud, bye menantu pelit!"
Selain merasa jumlah yang Kia beri sangat kecil, prinsip hidup sederhana Kia juga sangat bertentangan dengan dirinya. Sedang Fanny sangat memahami dirinya, Fanny sering mengiriminya tas baranded dan parfume mewah.
Flash back off.
Kantor Davi.
Saat pintu terbuka, seketika Davi terkejut melihat sosok yang memasuki pintu.
"Hai, selamat siang semua."
"Fanny?" Davi langsung menyambut teman masa kecilnya itu. "Kapan kamu datang?"
"Aku datang 3 hari yang lalu."
"Ini brand ambasador kita?" sela Kia.
"Iya Nyonya, dia brand ambasador kita, apa kalian saling kenal?" sela Dharma.
"Dia teman masa kecilku," sahut Davi.
"Kami merasa tersanjung, seorang top model luar negri berkenan bekerja sama dengan perusahaan kecil kami," ucap Kia.
"Kamu terlalu berlebihan Kia."
__ADS_1
"Ayo duduk sini, banyak yang harus kalian bahas."