Di Simpang Jalan

Di Simpang Jalan
Bab 100


__ADS_3

Yakinlah, saat Tuhan memberimu ujian dan kepahitan yang membuatmu hampir menyerah, jika kamu sabar dan ikhlas, ada kebahagiaan besar yang menunggumu di depan sana. Tidak di dunia namun pasti di Akherat. Begitulah kehidupan Kia saat ini, setelah badai yang membuat istananya dan hatinya runtuh, kini Tuhan memberinya kebahagiaan yang sangat luar biasa. Suami yang mencintainya, dan kebebasan dirinya untuk berkarya dan berkarir.


Proyek yang Kia perjuangkan itu tepat seperti dugaan Indra. Wanita yang sangat dia cintai itu begitu bersinar diatas podium, di tengah memberi kata sambutan dan ucapan terima kasih atas kepercayaan perusahaan besar pada dirinya. Indra sangat bangga melihat hal itu, rasanya ingin berteriak wanita hebat itu istriku, agar seluruh dunia tahu betapa bahagianya dirinya saat ini.


Bukan hanya kebahagiaan itu, Rachel yang masih berusia 10 tahun, berhasil melewati tes akselerasi, dan dia akan duduk di bangku SMP saat usianya jauh lebih muda dari anak-anak lainnya.


Di Sekolah Rachel.


Luna dan kedua orang tuanya menjemput Rachel, mereka sangat bahagia atas pencapaian Rachel yang sangat luar biasa. Mereka masih menunggu Rachel di taman sekolah.


"Aku pikir sosok Diana dalam sebuah novel online yang berjudul 'Diana Permata Terindah Dari Desa' hanya fiktif, mustahil ada. Tapi melihat Rachel berhasil, dan aku merasa bagai melihat masa kecil seorang Diana yang begitu cerdas." ucap Luna semangat.


"Novel melulu kamu ini, duduk berjam-jam liat hape mantengin novel ...." ucap Fuza.


"Mama jangan salah, karena menyukai Diana, aku ingin mengikuti caranya, memberi pelayanan kesehatan gratis! Tapi untuk diriku aku sebatas niat." Luna membayangkan perbuatan mulia seorang dokter genius yang menjadi tokoh utama dalam cerita itu.


"Owh, jadi sebab itu kamu selalu menyumbangkan keseluruhan gajih kamu, karena kamu ngefans sama tokoh novel yang kamu baca?"


Pandangan Luna dan kedua orang tuanya tertuju pada arah yang sama, di sana terlihat Kia bergandengan dengan Indra, berjalan semakin dekat kearah mereka.


"Kak Indra ... jangan dibocorin, aku malu," rengek Luna.


"Jadi ... uang kamu sendiri kamu sumbangin, sedang buat jajan minta sama papa?" ucap Herman.


"Kan anak perempuan sebelum menikah tanggung jawab Ayahnya, setelah menikah tanggung jawab suaminya, hanya saja keadaan zaman sekarang memandang rendah wanita yang menjalani apa yang memang menjadi jalannya. Jika tidak bekerja orang-orang memandang rendah, sehingga tulang rusuk ini dipaksa untuk menjadi tulang punggung."


Luna mamarik dalan napasnya. "Tidak semua suami seperti papa atau Kak Indra, yang tetap menunaikan kewajiban sebagai seorang suami walau istrinya berpenghasilan sendiri. Kebanyakan mereka lupa diri tak memberi nafkah lagi karena kebutuhan sudah dipenuhi istrinya. Niat istri mulanya membantu malah berubah menjadi sebuah tuntutan."


"Sebab itu kamu masih menggantung Dharma?" sela Kia.

__ADS_1


"Malas bahas Dharma, nah itu artis kita sudah keluar." Luna mengisyarat pada Rachel yang berlari girang kearah mereka.


"Selamat anak Pandra yang luar biasa! Papa bangga sama kamu!" Indra langsung menggendong putri sambungnya itu dan memeluknya erat.


"Eh Rachel, jadi anak jangan terlalu cerdas, nanti kamu diculik profesor dunia dan kuliah di luar negri!" ucap Luna.


"Tadi miss juga bilang begitu, kata miss kalau aku sekolah di sekolah yang luar biasa, aku bisa kuliah lebih awal, tapi kuliahnya di luar Negri."


"Nggak mau, bunda nggak mau pisah sama Rachel ...." tanpa rasa sungkan Kia begitu nyamannya memeluk Indra yang masih memeluk Rachel.


"Rachel kalau mau sekolah di luar Negri, rayu Pandra aja, nanti Aunty Luna yang dampingin Rachel," ucap Luna.


"Ide bagus Aunty, nanti aku rayu Pandra, Pandra aku kan sayang banget sama aku."


"Oma nggak setuju Rachel kuliah keluar Negri, oma kan susah ketemunya, nanti oma demo lah biar sistem akselerasi di sekolah Rachel di hapus, biar Rachel sekolah seperti anak-anak pada umumnya," ucap Fuza.


"Kalian nggak mau kasih selamat gitu atas keberhasilan aku?" tanya Rachel.


"Restoran bunda saja, biar makan sepuasnya dan gratis!" Rachel terkekeh sendiri.


"Anak cerdas memang anugrah, tapi terlalu cerdas kok bikin emosi ya ...." Kia mengacak rambut Rachel, sontak hal itu membuat Rachel protes.


"Nah itu Azriel juga udah pulang," tunjuk Rachel kearah Azriel.


Indra perlahan menurunkan Rachel dan menghampiri keponakannya itu. "Ziel dijemput siapa?"


"Dijemput supir, om."


"Ya sudah, Ziel ikut om aja. Om mau izin sama mama Zeil dulu." Indra menelepon adiknya dan meminta izin Misye untuk membawa Azriel bersamanya. Izin di dapat, mereka semua segera menuju restoran Kia seperti keinginan Rachel.

__ADS_1


***


Berlimpah harta kekayaan dan berlimpah kasih sayang, membuat Rachel seperti seorang putri raja di sebuah kerajaan, namun Kia selalu menanamkan pada Rachel untuk bersikap rendah hati pada siapa saja. Kia tidak siap jika Rachel benar-benar pergi dari negara ini karena keistimewaan pada dirinya. Kia meminta Rachel untuk tidak lagi mengikuti akselerasi sekolah, dan bersekolah seperti pada umumnya.


*


Kebahagiaan yang seakan tiada ujungnya, tidak membuat Kia lupa diri, tak terasa 1 tahun berjalan. Walau banyak kebahagiaan yang Tuhan beri, masih ada hal yang mengganjal di hati Kia. Kia duduk duduk di depan meja rias, pandangan matanya begitu kosong, sedang tangannya sibuk menyisir rambut panjangnya.


"Masih pagi loh, kok wajah istri kesayangan aku murung? Kurang cas ya tadi malam?" goda Indra.


Kia masih larut dalam pemikiranya. Namun ciuman yang mendarat di ceruk lehernya membuat Kia tersadar.


"Mikirin apa?" bisik Indra, namun dia tetap pada kegiatannya, menghirup aroma parfum Kia dari lekuk leher itu.


"Aku merasa tidak sempurna, sejak Rachel berusia 8 tahun, aku tidak menggunakan kontr4sepsi, tapi tidak kunjung hamil," ucap Kia sedih.


"Kalau kamu sedih gini, justru aku merasa terpuruk, kamu terbukti baik-baik saja, karena kamu memiliki anak, sedang aku?" Indra menjauh dari Kia dan duduk di tepi ranjang.


"Bukan salah kamu sayang, ini memang salah aku, buktinya aku nggak pernah hamil lagi, sedang Davi berhasil menghamili Likha." Kia berusaha menenangkan Indra dan memeluknya. "Yang bermasalah pasti aku."


"Tidak ada masalah, tolong jangan buat dirimu terbebani karena menginginkan anak." ucap Indra.


"Aku sangat ingin bisa memiliki anak darimu," ucap Kia lemah.


"Kita nikmati dulu indahnya bulan madu kita." bujuk Indra.


"Apa kegagalan ini sebab aku kelelahan?" Kia menaikan pandangannya, kini dia beradu tatap dengan Indra. "Apa aku berhenti bekerja saja?" Walau Kia tidak bekerja, pundi-pundi uang terus masuk ke rekeningnya, banyak bisnis berkembang pesat walau tidak dia tangani langsung.


"Kamu mau berhenti atau terus bekerja aku selalu mendukung kamu, dengan syarat, kamu bahagia dengan pilihan kamu. Jika kamu berhenti bekerja apa kamu bahagia di rumah?"

__ADS_1


Kia terharu dengan ucapan Indra, Indra selalu mengutamakan kebahagiaannya diatas segalanya. Kia tidak menjawab pertanyaan Indra, tapi langsung memeluk suaminya begitu erat.


__ADS_2