Di Simpang Jalan

Di Simpang Jalan
Bab 18


__ADS_3

Kia berusaha menyembunyikan kain segitiga yang teronggok di lantai. Sedang tatapan matanya tetap tertuju pada putrinya. Tidak seperti yang Kia khawatirkan, Rachel malah terlihat biasa saja. Gadis kecil itu fokus mengisi botol minumnya.


"Kenapa urusan orang dewasa begitu membingungkan bund?"


"Ha? Maksud Rachel?"


"Hanya kelilipan saja aduh aduh uh ah seakan memenuhi ruangan, Rachel juga pernah kelilipan, hanya minta teman tiup, selesai. Sedang bunda lebih parah dari Aunty Likha."


Kelilipan? Likha? Apa hubungannya? Kia sangat tidak mengerti apa maksud Rachel.


"Rachel mau ke kamar dulu bunda."


"Iya sayang."


"Mata bunda masih perih? Kalau masih sini Rachel bantu tiup, Ayah mah tidak jago meniup, Aunty Likha aja akhirnya minta tiupin Rachel."


Kia membeku, apakah Rachel pernah melihat kejadian serupa yang dilakukan oleh Davi dan Likha.


"Tadi siang Ayah yang ribet sendiri, aku hanya minta bantuan beri tumpangan pada Auty Likha alasan Ayah sungguh membingungkan!"


"Aunty Likha ada cerita mengapa dia ada di sekolah Rachel?"


"Katanya Nanda akan sekolah di sana bund."


"Owh ...."


Sekolah di sana tidak murah, darimana Likha memperoleh uang demi pendidikan Nanda. Apa karena Pak Nomad membantunya? batin Kia.


"Selamat malam bunda."


"Selamat malam sayang."


Kia kembali menemani Davi menikmati makan malamnya, mengingat apa kata Rachel dia sungguh tidak tenang.


"Rachel menanyakan hal aneh?" tanya Davi.


"Tidak, syukurnya dia tidak mengerti hal itu."


Selesai makan malam, Kia dan Davi kembali ke kamar mereka, Davi tidur nyenyak, segala bebannya sudah terlepas. Sedang Kia masih terbayang kata-kata Rachel. Anaknya tidak pernah berbohong. Mata Kia tertuju pada handphone Davi, dia mengambil benda itu, tidak ada yang mencurigakan, Davi menyimpan nomor telepon Likha dengan nama yang benar.


Satu pesan yang menarik perhatian Kia, pesan dari Dharma.


*Tuan, terima kasih atas bonus kemaren. Keuntungan proyek itu sungguh diluar dugaan, Nyonya Kia memang hebat!


Jantung Kia seketika berdegup kencang. Dia sangat ingat Davi mengaku kalau proyek yang dia perjuangkan itu mengalami kerugian besar. Kepala Kia terasa berdenyut, bahkan keadaan sekitar terasa berputar-putar. Kia segera mengembalikan handpone Davi pada tempatnya, namun sepersekian detik kemudian dia terjatuh ke lantai.


Davi meraba sisi tempat tidur yang ditempati Kia, sepasang matanya langsung terbuka lebar menyadari istrinya tidak di sana. Davi segera bangun, dia sangat terkejut melihat Kia berbaring di lantai tanpa alas. Davi segera membangunkan Kia.


"Sayang, bangun ... kenapa malah tidur di lantai, nggak sehat loh nanti kena reumatik kamu."


Perlahan Kia membuka kedua matanya, kepalanya masih terasa pusing, dia melirik jam dinding menunjukan pukul 5 pagi. "Sudah subuh ya? Aku mau mandi dulu."


"Jangan tidur di lantai lagi," ucap Davi.


Kia mengangguk dan menghilang di balik pintu kamar mandi.


***

__ADS_1


Pagi berjalan seperti biasanya, Kia merasa ada yang aneh, karena supir yang biasa mengantar Rachel terlihat sangat santai. "Mang, ban mobil bocor lagi?" tanya Kia.


"Enggak Nyonya, kata Tuan ... biar Tuan sendiri yang mengantar Nona kecil."


Kenapa mas Davi mau mengantar Rachel?


"Hari ini Ayah jemput Rachel lagi?"


Suara ceria anaknya itu menarik perhatian Kia.


"Tidak janji, tapi jika Ayah bisa akan Ayah usahakan."


"Kalau pulang nanti bunda yang jemput boleh?" sela Kia.


"Kenapa nggak Ayah sama bunda aja? Aku makin senang loh ...." ucap Rachel.


"Kalau bareng susah, kerjaan bunda sama Ayah jauh," sahut Kia.


"Kalau begitu hari ini Rachel senang-senang sama bunda aja bagaimana?" usul Davi.


"Boleh-boleh, kemaren aku senang-senang sama Ayah dan Aunty Likha, hari ini aku senang-senang sama bunda."


"Ya sudah berangkat sana, sampai jumpa saat jam sekolah nanti sayang ...." ucap Kia.


Kia masih mematung memandang kepergian mobil Davi. Memperkirakan mobil itu menjauh, Kia segera membuntuti mobil suaminya. Sesampai di Sekolah Rachel, mobil itu kembali melaju kearah kantor.


Kia menarik napasnya dalam, walau terlihat biasa, namun hatinya mengatakan ada hal besar yang tersembunyi. Terlebih suaminya berbohong tentang proyek.


Kia meraih handphonenya dan mencari kontak Nabila, dia segera menyambungkan panggilan telepon ke nomor sahabatnya itu.


"Ada apa Kia?'


"Enggak, hari ini aku libur. Mau ajak liburan ya?" goda Nabila.


"Boleh ketemuan nggak?"


"Boleh, mau di mana?"


"Sekarang kamu di mana?"


"Aku masih di Apartemen aku."


"Aku boleh kesana?" tanya Kia.


"Tentu boleh, kamu langsung ke receptionis ya, aku titip akses lift di sana."


"Oke."


Kia melajukan mobilnya menuju gedung Apartemen Nabila, saat dia sampai di tempat parkir, dia dikejutkan oleh pemandangan di depan matanya. Berulang kali Kia mengucak sepasang matanya, meyakinkan dirinya kalau yang dia lihat benar adanya.


"Kenapa Likha ada di sini? Mengendarai mobil mewah pula, apa dia bekerja pada orang kaya yang tinggal di sini?" gerutu Kia.


Kia segera membuntuti Likha, setelah Likha masuk ke dalam lift, dia segera mendekati lift itu memastikan lantai tujuan Likha.


"Maaf Nyonya selamat pagi, apa yang bisa kami bantu?" seorang petugas keamanan langsung menyapa Kia.


"Saya lupa mas sama kartu akses yang diberikan teman saya, permisi dulu saya mau ambil kartu saya," kilah Kia.

__ADS_1


Kia kembali ke mobilnya, dia menanyakan tentang kartu akses pada Nabila, jawaban Nabila sangat mengejutkan, jika bisa masuk lift sendiri berarti bekerja di sana, atau tinggal di sana.


Selesai berkirim pesan dengan Nabila, Kia menghubungi adiknya yang merupakan sahabat dekat Likha.


"Luna, sekarang Likha kerja di mana?"


"Entahlah Kak, kemaren dia cerita melamar di salah satu klinik gitu, ada apa Kak?"


"Enggak, dari cerita Rachel Likha menyekolahkan anaknya di sekolah Rachel, kamu tahu sendiri biaya sekolah di sana tidak murah."


"Mungkin suami baru ibunya yang membiayainya Kak."


"Kakak juga memikirkan hal yang sama, ya sudah ya Kakak mau lanjut urusan Kakak."


"Kakak baik-baik saja kan? Apa ada masalah tentang Likha?"


"Semua baik-baik saja Luna, ya sudah sampai jumpa lain waktu."


Kia kembali melanjutkan tujuan semula, mendatangi gedung ini untuk menemui sahabatnya Nabila. Setelah mengambil kartu akses yang Nabila titipkan, akhirnya Kia bisa mengenakan lift menuju unit Apartemen Nabila. Sesampai di Apartemen Nabila, Kia disambut hangat oleh sahabatnya.


"Katakan, hal apa yang membuatmu kesini?" tanya Nabila.


"Hanya bahasan kecil, oh iya bagaimana kabar proyek kemaren? Aku tidak mengikutinya lagi setelah melepas semua pekerjaan."


"Gokil banget feelingmu Kia, demi apa?! Proyek itu melejit melebihi ekspektasi kita."


"Masa?" Kia berusaha santai, walau perasaannya begitu syok.


"Davi nggak cerita sama kamu?"


"Cerita secara detail sih enggak, dia cuma senyum-senyum gitu aja."


"Serasa uang kaget dia mah, kamu yang berjuang dia yang panen!"


"Mas Davi masih sibuk di luar kantor, aku boleh minta rekap laporan keuntungan proyek itu nggak ya?"


"Boleh lah, nanti aku mintain sama Indra."


"Oh iya, Davi kerjain apa sih diluar kantor? Sering banget dia pergi keluar, datang paling lambat pulang paling cepet, walau pun dia pemimpin hal begitu tidak bagus dilihat karyawan. Walau pemimpin ya beri contoh yang baik," gerutu Nabila.


Kia semakin tidak nyaman mendengar perkataan Nabila. Suaminya selalu pergi pagi dah pulang tengah malam. Bahkan dalam satu bulan ini Davi tidak ada di rumah saat akhir pekan. Kia berusaha terlihat baik-baik saja. "Nanti aku kasih tau dia, maklum ambisi dia untuk bisnis baru masih membara."


Bukan hal sulit bagi Kia mendapat semua laporan yang dia inginkan, kurang dari 1 jam, laporan yang Kia minta mendarat di tangannya. Sekilas Kia melihat isi laporan tersebut, jantungnya seketika berdegup kencang melihat bukti transferan ke rekening baru Davian.


"Kamu baik-baik aja kan Kia?" Nabila menangkap aura yang tidak enak dari reaksi Kia.


"Aku baik ...." Kia masih berusaha memberi senyuman terbaiknya. "Makasih banyak bantuannya ya Bil, makasih juga semua waktumu."


"Santai aja, ingat tidak ada makasih dalam persahabatan, saling bantu itu wajar."


"Nanti kapan-kapan aku main lagi, Apartemenmu keren!"


"Ambil 1 unit, untukmu mah Indra juga kasih walau ngutang seabad!" ledek Nabila.


"Punya Indra juga?"


"Yup, itu orang sukses dalam segala hal, kecuali percintaan."

__ADS_1


"Sudah ah, jatuhnya gibah sahabat sendiri."


Setelah meninggalkan gedung itu, Kia segera menuju sekolah Rachel.


__ADS_2