
Kia tidak habis pikir, mengapa Ingrid begitu yakin bisa merenggut Davi darinya. Setelah menjemput Rachel, dia membawa Rachel menuju Perusahaan Davi. Sesampai di sama, Rachel yang paling semangat untuk menemui Davi, baru keluar dari lift dia berlari cepat menuju ruangan Davi.
"Ayah ...." teriaknya seraya menggedor pintu ruangan itu.
"Ketuk dulu baru buka perlahan sayang," ucap Kia.
"Dikunci bunda!"
"Dikunci?" Kia bingung, selama bekerja Davi tidak pernah mengunci ruangannya.
Sedang dalam ruangan Davi.
Davi sangat kesal, pekerjaanya jadi terhambat karena keberadaan Fanny, wanita itu terus berusaha menempel padanya.
"Fan! Aku sibuk, bisa kamu keluar?"
"Aku tahu Kakak sibuk, makanya aku mau ringanin beban Kakak." Fanny berjalan mendekati Davi dan memijat bahu Davi. "Gimana Kak?"
"Fanny cukup!" Sudah habis kesabaran Davi.
"Ayah ...." Teriakan itu membuat Davi menahan kata-kata kasar yang ingin dia lontarkan pada Fanny.
"Masuk sayang," ucap Davi.
"Pintunya dikunci bunda!"
Mendengar teriakan Rachel kalau pintu dikunci semakin membuat kemarahan Davi berkobar. "Mulai sekarang jangan dekat-dekat aku! Aku muak sama kamu!" maki Davi pada Fanny.
Davi berjalan menuju pintu, dan segera membuka pintu, saat pintu terbuka terlihat Kia dan Rachel yang tampak bingung.
"Tumben pintunya dikunci?" ucap Kia.
"Aku malah tidak tahu pintunya dikunci, ini ulah itu!" Davi menunjuk pada Fanny.
Kia berjalan kearah Fanny dengan menyilangkan kedua tangan di depan dadanya. "Apa maksud kamu mengunci ruangan suami saya?!"
"Ya ... kami ingin menikmati waktu tanpa gangguan."
"Tapi suami saya terganggu karena keberadaanmu. Bisa tau diri nggak sih kamu?! Mas Davi tuh nggak tertarik sama kamu! Jika dia tertarik sama kamu, tidak akan pernah ada saya dalam hidup dia!" Kia tidak memikirkan Rachel lagi, saat ini dia hanya ingin menumpahkan kemarahannya pada Fanny.
"Saya sudah bersikap baik sama kamu, tapi kamu kelewat batas!"
Davi menggendong Rachel dan berjalan mendekati Kia, dengan nyamannya dia melingkarkan lengannya di pinggang Kia. "Inilah kebahagiaanku, aku tidak butuh apa-apa lagi, jika kamu masih berani menggangguku, maka aku tidak menganggapmu sebagai teman lagi."
Semakin lama di ruangan ini Fanny merasa semakin malu, dia mengambil tas dan pergi dari ruangan itu.
"Jangan kembali lagi! Urusan yang lain akan diselesaikan Dharma!" ucap Davi.
Rachel tidak mengerti yang terjadi di depan matanya, tapi satu hal yang dia mengerti, wanita yang tidak dia sukai itu sudah diusir Ayahnya.
"Ayah sudah makan?" tanya Rachel.
"Belum, Ayah masih sibuk kerja."
__ADS_1
"Pas kalau gitu, Ayah bisa makan siang sambil kerja, aku sama bunda bawain makan siang buat kita."
"Mau dong, tapi suapin ya ...." pinta Davi.
"Mau di suapin siapa?" tanya Rachel.
"Mau di suapin anak kesayangan Ayah dong, kalau bunda bantuin pekerjaan Ayah ya."
Seperti yang Davi mau, Kia berada di sampingnya membantunya menyelesaikan pekerjaan, sedang Rachel menyuapi Davi, tapi tidak hanya Davi, dia juga menyuapi Kia. Kebahagiaan yang Rachel inginkan sangat sederhana, cukup kebersamaan seperti saat ini.
"Rachel juga sambil makan sayang, apa mau bunda yang suapin Rachel?" tawar Kia.
"Rachel sambil makan juga kok bun, bunda fokus bantu Ayah aja."
"Ih anak yang pinter!" Davi menciumi wajah Rachel, membuat tawa terlepas dari anak itu.
Perut terisi, pekerjaan beres, anak dan istri ada di sampingnya, rasanya tidak ada nikmat yang lebih besar dari ini.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu itu menyita perhatian ketiganya.
"Masuk," ucap Davi.
"Om Indra!" Rachel berlari menuju Indra dan melompat kearahnya.
Beruntung Indra sigap langsung menangkap dan menggendongnya. "Uh! Kesayangan om semakin berat!" keluh Indra.
"Ih bunda bilang aja iri, bunda juga pengen digendong kan?"
"Siapa yang iri, bunda kalau pengen Ayah juga masih sanggup gendong bunda, kan bunda langsing nggak gendut kayak Rachel."
"Bundaaaa!" Rachel tidak terima dikatakan gendut.
"Eh sudah sayang." Davi mengambil Rachel dari gendongan Indra. "Ada yang perlu dibahas Ind?" tanya Davi.
"Iya, bisa ikut ke ruang rapat nggak? Tadi mau bahas di sini, karena ada mereka enaknya bahas di ruangan rapat aja."
"Eh nggak apa-apa kalau mau di sini, aku sama Rachel juga mau jalan-jalan dulu," sela Kia.
"Jangan lah, kalian tunggu aja di sini, aku pinjam Davi cuma sebentar," tolak Indra.
"Kami sekalian mau pulang juga, udah lama kami di sini, saatnya Rachel kerjain PR dia." Kia menoleh pada Rachel yang betah digendong Davi.
"Ayo turun ndut!" ledek Kia.
"Nggak mau!"
"Ya sudah, kalau nggak mau bunda pergi sendiri aja, selamat pusing mendengar pembicaraan pekerjaan Ayah."
Bahasan pekerjaan adalah hal yang sangat membosankan, selain dia tidak mengerti berdiam diri di ruangan saat Ayahnya bekerja juga membuatnya merasa seperti patung.
"Aku ikut bunda." Rachel segera turun dari gendongan Davi.
__ADS_1
"Tapi dikatain bunda gendut loh, mending sama om dan Ayah aja," goda Indra.
"Nggak mau, yang ada di sini Rachel seperti pajangan." Rachel menarik Davi untuk membungkuk dan mendaratkan ciuman di pipi Davi.
"Bye Ayah, bye om." Dia segera berlari menyusul Kia.
***
Kia membawa Rachel menuju sebuah toko perhiasan. Dia masih fokus memilih set perhiasan yang menarik perhatiannya.
"Rachel sayang, bantuin bunda buat milih dong," ucap Kia.
"Yang mana bunda?"
"Dari yang tiga ini, yang bagus buat Nenek Ingrid yang mana?"
"Cuma Nenek? Oma nggak sekalian?"
"Kan yang ulang tahun Nenek Ingrid, jadi bunda mau beliin buat Nenek sebagai hadiah."
"Em, yang tengah bund." Rachel menunjuk pilihannya.
"Makasih sayang, nanti Rachel yang kasih sama Nenek ya pas ulang tahun Nenek."
"Iya bund."
Kia meminta penjaga toko membungkus pilihan Rachel. Perhatian Kia teralih melihat Rachel memandangi kalung dari emas putih. Dia tersenyum menatap putrinya. "Rachel mau?"
"Boleh bun?"
"Boleh, tapi disimpan dulu, dipakai saat jalan-jalan aja. Kalau ke sekolah tidak boleh."
"Mau bunda, aku suka kalung hellokitty."
"Mbak itu satu ya," pinta Kia.
Setelah mendapat yang Kia mau, Kia berjalan bersama putrinya berkeliling pusat perbelanjaan itu. Deringan handphonenya, membuat langkah Kia terhenti, dia segera mencari benda yang terus berteriak itu dalam tasnya. Terlihat nama Davi tertera di layar itu.
"Iya mas?"
"Kamu udah siapin tempat untuk acara ulang tahun ibu?"
"Sudah mas, di hotel teman kamu. Aku juga sudah beli hadiah buat ibu."
"Tadi ibu telepon, katanya dia punya acara sendiri, gimana dong?"
"Ikuti apa mau ibu aja, untuk tempat yang udah aku pesan aku pikirin belakangan aja."
"Nggak apa-apa?"
"Enggak apa-apa mas."
Setelah panggilan telepon berakhir, Kia mematung, tidak seperti biasanya mertuanya berinisiatif menyewa tempat sendiri untuk acaranya.
__ADS_1