Di Simpang Jalan

Di Simpang Jalan
Bab 29


__ADS_3

Semakin dekat Rachel dengan Davi, semakin sulit pula anak itu jauh dari Davi, semakin sulit membuat Rachel terbiasa jauh, semakin sakit dirinya. "Ehm!" Kia berdaham menarik perhatian Ayah dan Anak itu.


"Sarapan dulu sayang, nanti Rachel terlambat sekolah."


"Ayok Ayah kita sarapan, Ayah sudah lama nggak sarapan sama Rachel!" ajak Rachel.


Davi menatap dalam pada Kia, meminta persetujuan wanita itu.


"Emm ... Ayah sibuk sayang, Ayah mau rapat lagi. Iya kan?"


Jawaban Kia jelas memintanya untuk segera pergi. Davi mendekati Rachel dan mencium kepala anak itu. "Maafin Ayah ya sayang, Ayah belum bisa menemani Rachel sarapan."


"Ayah ... cuma sebentar ... pleas ...."


Gadis kecil itu menangis, hatinya sangat sakit karena sosok yang dia rindukan harus segera menghilang lagi dari pandangannya.


"Lain kali ya, sekarang Ayah harus pergi, Ayah mau pamit sama bunda dulu."


Davi meninggalkan Rachel dan berjalan mendekati Kia, dia memeluk wanita itu dan mendekatkan bibirnya ke sisi wajah Kia. "Kamu tega usir aku? Lihat Rachel butuh aku," bisik Davi.


"Setelah kejadian tadi malam, aku semakin membencimu, aku muak melihatmu!"


"Bukannya kamu menikmatinya? Bagiku itu malam terindah," bisik Davi.


"Bagiku itu sebuah mimpi buruk!"


"Aku melakukan itu, agar kamu tahu bagaimana di posisiku."


"Cepatlah pergi! Saat ini aku berusaha keras menahan diri untuk tidak berbuat kasar semata demi Rachel, jika aku menemukan cara menenangkan Rachel saat jauh darimu, dan menemukan jawaban yang mudah dia fahami saat Rachel saat dia menanyakanmu, dan membuat Rachel terbiasa tanpamu, aku pastikan surat cerai, akan segera kita dapat!"

__ADS_1


"Kamu diam ditempat tanpa mengambil keputusan, hanya karena kesulitan menangani Rachel?"


"Hanya dia semangat aku, aku ingin dia tetap bahagia walau kedua orang tuanya bercerai."


Davi melepaskan pelukan mereka. "Kamu tidak perlu pusing memikirkan jawaban apa yang kamu beri pada Rachel saat dia mencariku, aku akan mempermudah masalah itu." Davi berbalik, dia berjalan cepat menuju Rachel.


"Maafin Ayah ya. Ayah harus pergi." Sebuah ciuman hangat kembali Davi daratkan di kening Rachel. "Rachel jaga bunda, jangan sampai bikin bunda nangis ya." Davi mengecup kening putrinya kesekian kalinya dan pergi begitu saja.


"Ayah ... aku mau sama Ayah, aku ingin ikut Ayah ... bawa aku dan bunda sama Ayah ....." Rachel kembali menangis melihat kepergian Davi.


Kia berusaha keras untuk menenangkan putrinya dengan memeluknya. Namun Rachel tetap menginginkan Davi. "Rachel sayang Ayah sama bunda?"


"Sayang ...." isaknya.


"Kalau sayang, jangan nangis, Ayah bunda sibuk bekerja seperti ini demi kebahagiaan Rachel."


"Enggakk mau ... Rachel nggak mau apa-apa lagi, Rachel cuma mau sama Ayah dan Bunda seperti dulu."


"Maaf Nyonya, boleh bibi ikut bicara?" ucap Bi Sarah.


"Ada apa bi?"


"Bukan ikut campur, bibi sadar bibi bukan siapa-siapa di sini, hanya saja apa sangat berat memberi Tuan kesempatan? Lihat bagaimana Nona kecil tanpa Tuan."


"Entah bi, aku sendiri tidak tahu."


"Coba telepon Tuan, minta dia pulang untuk membujuk Rachel. Apa Nyonya tega melihat Non Rachel seperti ini sepanjang hari?"


"Bi tadi malam bibi yang biarin Tuan masuk rumah?"

__ADS_1


"Enggak Nyonya, bibi setelah bikin teh, antar ke kamar Nyonya, bibi langsung ke rumah belakang, bibi tadi malam tidak bertemu Tuan, bibi malah kaget lihat Tuan ada di rumah saat pagi, tapi bagus juga ada Tuan, Non Rachel bahagia banget sama Tuan, bibi kira Nyonya baikan demi Non Rachel."


Kia mencoba mengikuti saran bi Sarah, untuk menghubungi Davi. Beberapa kali panggilan Kia tidak dianggkat Davi. Saat panggilan ketiga, baru Davi menerima panggilan Kia.


"Ada apa? Kamu meneleponku demi Rachel?"


"Rachel terus menangis, dia ingin kamu mas."


"Maafkan aku karena menyusahkanmu, tapi setelah hari ini kamu harus lebih berusaha keras untuk menangkan Rachel."


"Saat ini, kamu bisa pulang mas? Demi Rachel."


"Aku akan pulang."


"Terima kasih mas."


"Hanya jasadku, bukan diriku."


Kia terkejut mendengar ucapan Davi. "Apa maksud mas?"


"Jika kamu tidak bisa memberiku maaf, tidak bisa memberiku kesempatan kedua, untuk apa aku hidup?"


"Mas!" ucap Kia lantang.


Saat yang sama pintu kamar Rachel terbuka, Kesadaran Kia seolah terbagi, memikirkan perkataan Davi, atau memperhatikan Rachel. Namun tiba-tiba Rachel merebut dan membanting handphone Kia. Benda pipih persegi panjang dengan apel digigit itu pecah terburai.


"Rachel kamu kenapa sayang?" Kia syok dengan perbuatan putrinya.


"Aku hanya mau Ayah sama bunda baikan! Kita bertiga senang-senang bersama! Apa itu sulit! Kenapa bunda selalu marahi Ayah!?"

__ADS_1


Brakkkk!


Rachel kembali membanting pintu kamarnya, dan menguncinya dari dalam.


__ADS_2