Di Simpang Jalan

Di Simpang Jalan
Bab 47


__ADS_3

Kia tidak sedih karena sahabatnya tidak lagi jadi patner bisnis perusahaannya. Dia menerima keputusan Nabila.


"Saat masih nunggu proses pelepasan, sumpah demi apa? Aku rasanya ingin punya jin buat percepat semua proses!" keluh Nabila.


"Model brand ambasador baru?" tebak Indra.


"Apalagi? Dia tuh nggak bisa pandang dan hargai waktu orang lain, seakan-akan dia saja yang sibuk di muka bumi ini!" Nabila tidak bisa lagi menyembunyikan raut kesalnya. "Bagaimana aku bisa sehat? Satu sisi Davi membuat tekanan darahku naik, satu sisi model itu selalu bikin emosi orang sekantor!"


"Untuk masalah model ini kita 1 serper!" sahut Indra.


Model untuk perusahaan baru? Kia seketika teringat Fanny teman masa kecil Davi.


"Aku nggak tahu siapa yang rekomendasikan itu model, karena dia terlalu sering berulah, ingin rasanya aku mengeluarkan perusahaan Davi dari gedung itu!" Indra melirik kearah Kia, dan merasa bersalah atas keluhannya.


"Bukan begitu Kia, itu model bikin semua pekerjaan kami terhambat, dia ratu drama ada ... aja alasan dia memperlambat pekerjaan," jelas Indra.


"Itu sebabnya sebulan ini mas Davi lembur?" tanya Kia.


"Bukan hanya Davi, tapi pegawai yang berkaitan dengan pekerjaan model itu, termasuk aku!" keluh Indra.


"Ya Tuhan ...." Kia mengurut kepalanya, dia benar-benar tidak bisa memaafkan dirinya.


"Tadi malam, karena rapat membahas model itu, aku tidak bisa menolong adikku, beruntung Davi sudah selesai dan dia--" Indra menahan ucapannya. Sejenak dia teringat cerita Asisten pribadi adiknya.


"Kamu gerebek Davi?" tanya Indra pada Kia.

__ADS_1


"Otakku begitu sesat karena Davi selalu lembur 1 bulan ini, kamu tahu? Aku berpikir Davi melupakan sumpahnya." Kia mengusap kepalanya yang terasa pusing dan berdenyut karena rasa bersalahnya.


"Astaga ...." Indra tidak habis pikir Kia seceroboh itu. "Kamu tahu bagaimana perasaan Davi setelah kamu gerebek dia?"


"Pastinya dia sangat kecewa," sahut Kia lemah.


"Ini yang aku khawatirin Kia, walau kamu bilang memaafkan, namun sesekali hatimu akan dihantui prasangka yang bukan-bukan, dan ini masuk kategore tekanan batin!" omel Nabila.


"Indra juga sudah nasehati kamu, kalau ada yang berbeda jika kamu memaafkan," sambung Nabila.


"Aku tidak bisa tenang, aku tidak mau diam saja seperti dulu. Jadi aku bertindak, tapi tindakanku terlalu gegabah."


"Semoga sikapmu tadi malam bisa dimaafkan oleh Davi. Oh iya sampaikan terima kasihku karena menyelematkan Misye."


"Tentang Fanny, jika kesalahannya besar, kenapa nggak keluarkan Fanny saja dari proyek kalian?" Kia kembali membahas biang onar penyebab kerusuhan.


Menerangkan kalau itu teman Davi, Kia khawatir menimbulkan desas-desus. "Aku sempat bertemu saat aku masih urus pekerjaan Davi."


***


Davi berulang kali memijat pelipisnya karena ulah Fanny. Dia tidak habis pikir, bagaimana model luar negri seperti Fanny tidak bisa berpose dengan benar, bahkan aktingnya untuk produk mereka sangat lebay. Entah memang dia tidak punya prestasi atau memang sengaja mengerjainya. Fotografer dan tim yang bertugas angkat tangan, rasanya kesabarannya sudah habis karen ulah Fanny.


"Fann, ikut aku ke ruanganku!" pinta Davi.


Rasanya jalan keluar semua ini hanya satu, desak Fanny agar profesional atau keluarkan dia dari kerjasama ini. Di belakang Davi Fanny berjalan mengekor dengan raut bahagia. Merasa punya kesempatan hanya berdua, Fanny ingin memanfaatkan momen langka ini.

__ADS_1


"Silakan duduk." Davi mengisyarat pada sofa yang ada dalam ruangannya.


"Kak, nonton yukkk!" rengek Fanny.


"Astaga! Aku nggak habis pikir, kamu masih mikir senang-senang setelah bikin stres orang satu kantor!" omel Davi.


"Ih kok Kakak marah?"


"Gimana nggak marah! Kamu itu membuang-buang waktu kami, masa iya pose senyum dengan santai aja kamu nggak faham, nggak tau berapa ratus kali jepret kamu tetap berpose lebay! Aku jadi ragu kamu ini memang model apa model-modelan!" maki Davi.


"Kakak raguin prestasi aku? Kalau Kakak Ragu ayok kita keluar negri sama-sama, Kakak lihat bagaimana prestasi aku di sana."


"Nggak perlu keluar Negri, buktiin kamu memang bintang, kalau hanya begini saja kami bisa menyewa selebgram, bahkan untuk kwalitas akting mereka lebih bagus dari kamu!"


"Kakak hina aku?" Sepasang mata Fanny tampak berkaca-kaca.


"Menghina dan mengatakan kebenaran itu beda! Aku mengatakan kebenaran semoga kamu punya cara untuk buktikan dirimu, sedang menghina tujuannya untuk membuat kamu terpuruk! Bedakan itu!"


Fanny terisak karena omelan Davi, namun air mata yang dia tumpahkan tidak bisa menarik simpati Davi, malah laki-laki itu sibuk membereskan mejanya.


"Silakan keluar, aku mau pulang!" ucap Davi dingin.


"Kakak ...." Fanny menyilangkan kedua tangannya di lengan Davi.


"Kita memang berteman Fan, tapi tolong profesional, bedakan dan posisikan diri dengan benar." Davi menghempas tangan Fanny yang betah menyilang di lengannya.

__ADS_1


"Satu lagi, kita sudah dewasa, jadi tolong jangan bersikap seperti anak-anak yang tidak memiliki batasan, ingat kita sudah dewasa ada batasan laki-laki dan perempuan dewasa apapun itu namanya, mau teman atau sahabat." Davi berjalan cepat menuju pintu, sesampai di pintu dia mengisyarat pada Fanny agar keluar dari ruangannya.


__ADS_2