
Kia berusaha tenang, tetap memberi senyuman pada Rachel.
"Bunda nggak marah?"
"Enggak, bunda bahagia kalau Rachel juga bahagia."
"Aku bahagia andai om Indra jadi Ayah aku, apakah ini keinginan yang sulit untuk bunda wujudkan?" Rachel menatap wajah Kia begitu dalam.
"Padahal kata Azriel jadiin om Indra Ayah aku mudah, tinggal nikah aja bunda sama om Indra."
Hati Kia meringis, sepenting itukah Indra bagi Rachel sehingga anak ini terus menginginkannya? Kia menarik napas begitu dalam.
"Sayang, pernikahan itu suatu komitmen, ibadah seumur hidup, tidak semudah yang kamu dan Azriel bayangkan sayang."
"Owh." Rachel kembali fokus pada burgernya, dan menggigitnya kembali.
"Setelah Ayah pergi, impian bunda tuh cuma kebahagiaan kita berdua. Bunda nggak mikirin hal lain, karena kebahagiaan bunda itu kamu."
Kia terbayang sebagian wanita yang sibuk dengan masa puber yang kesekian kali, lalu mengabaikan anak-anaknya. Sumpah demi apapun dia tidak mau dimabuk cinta lalu lupa anak.
"Tapi om Indra juga sebagian dari kebahagiaan aku."
Lagi-lagi Kia dibuat meringis. "Iya, tapi nggak harus jadiin dia Ayah Rachel juga. Dia jadi teman bunda sudah cukup."
Setelah selesai bersantai di Restoran cepat saji, Kia segera mengajak Rachel pulang. Semenjak perceraian Kia memilih tinggal bersama kedua orang tuanya. Dengan tinggal di sana dia merasa seperti anak kecil lagi, dimanja kedua orang tuanya. Alasan lain, agar Rachel tidak kesepian jika dia ada panggilan rapat mendadak. Sesampai rumah matahari kian meredup, sang pemberi cahaya itu semakin tenggelam kearah barat. Kia memarkirkan mobilnya di samping mobil Luna.
"Sayang, sudah pulang?" sapa Fuza.
"Iya ma, tadi main sama Rachel sebentar." Kia langsung memeluk kedua orang tuanya bergantian. "Luna kan hari ini libur, mana dia ma?"
"Nggak tau, tadi jam 11 siang dia pamit pergi, entah kemana," sahut Fuza.
Saat yang sama sebuah mobil yang begitu familiar memasuki area rumah orang tua Kia. Belum terjawab perkiraan Kia tentang pemilik mobil itu, tiba-tiba Luna dan Dharma keluar dari mobil tersebut
"Itu Sekretaris pribadi Davi, mau apa dia?" gumam Fuza.
"Itu bukan Sekretaris Pribadi Davi, tapi Sekretaris pribadi aku, dan dia juga calon mantu mama."
Herman tidak bisa komentar, dia sangat tahu Dharma pemuda yang baik. Bagaimana dia menolak seorang yang baik? Jika dia menolak, sosok seperti apa lagi yang dia inginkan untuk jadi pasangan putri bungsunya?
"Maaf Nyonya Kia, saya bawa adik Anda lama."
__ADS_1
"Minta maaf bukan sama saya, tapi sama kedua orang tuanya," sambar Kia.
"Kalian ini maunya apa? Kalau mau cinta-cintaan, om nggak dukung! Jika serius ambil langkah yang benar!" ucap Herman.
"Saya mau serius om, anak om yang masih ragu sama saya," sahut Dharma.
"Ragu, tapi sekali jalan lupa waktu," sindir Kia pada Luna.
"Ayok duduk sini Nak Dharma, kesukaan papanya Luna dan Kia kalau sorr begini ngeteh di taman," sela Fuza.
"Kok nggak disebut opa gagahnya Rachel?" protes anak kecil itu.
"Ah iya, maafin omah, omah lupa kalau opah adalah opa kesayangan Rachel."
Sore semakin hangat dengan kebersamaan keluarga Kia, dan kehadiran Dharma di sana.
***
Setelah makan malam, Fuza mengajak Kia berbicara 4 mata. Fuza membawa Kia ke kamarnya.
"Ada apa ma?"
"Tante Ayu lamar kamu buat Indra."
"Kia nggak ada keinginan untuk nikah lagi ma. Cinta Kia hanya ada untuk Rachel dan untuk kalian."
"Kamu masih muda sayang, buka hatimu, Indra pemuda yang baik, masalah cinta apakah cinta Indra yang selama ini dia pendam masih kurang?"
"Saat pernikahan kamu sama Davi, Indra yang paling hancur. Tapi dia tetap tersenyum demi kebahagiaanmu. Ya omong kosong asal kau bahagia aku bahagia, tapi apa yang Indra perlihatkan, dia hanya menunjukan rasa bahagia karena sahabatnya berbahagia. Rasa sakitnya dia pendam sendiri."
"Bisa-bisa mama saja susun kata buat nolak, maaf ma. Aku benar-benar belum bisa membuka hati lagi."
Sejak pembicaraannya dengan ibunya, sepanjang malam Kia terjaga. Kenangan masa lalu bersama Indra seakan begitu jelas terbayang kembali. Kesedihan Indra yang terlihat dari sorot matanya saat dia memutuskan menerima lamaran Davi. Kenangan saat Indra menyuapinya di Rumah Sakit saat Rachel tidak mau lepas dari gendongannya. Ditambah permintaan Rachel tadi sore.
Menikah dengan Indra, Rachel tidak akan terabaikan. Entah mengapa Kia merasa dirinya tidak pantas mendampingi Indra yang begitu sempurna di matanya.
Kia merasa kesulitan bernapas, rasanya dia butuh tabung oksigen untuk menyuplai oksigen ke paru-parunya. Kenangan yang membuat jantungnya berdebar tidak menentu itu membuat kelopak matanya tertutup dengan sendirinya. Perlahan Kia memasuki alam mimpinya. Dalam mimpi dia bertemu Indra yang juga mendayung perahu sama sepertinya.
"Kia, bolehkah aku ikut perahu kalian?"
"Boleh om, ayok lompat!" sahut Rachel semangat.
__ADS_1
"Maaf Ndra, perahu kami hanya mampu menampung 2 orang."
"Kalau begitu, kita satukan perahu kita, apa kamu bersedia?"
"Kamu lanjutkan saja Ndra perjalanan kamu, perahu kamu lebih kokoh, kamu bisa mendayung sejauh yang kamu mau."
"Aku nggak mau jauh-jauh Kia, aku bahagia jika bisa mendayung bersama kalian."
"Aku nggak bisa lompat ke perahu kamu Ndra, dan kamu nggak bisa masuk perahu kami."
"Kita satukan Ki, 2 perahu bersanding, kita bisa selalu bersama menuju tujuan kita." Indra menyatukan perahunya dan Kia dengan menggunakan kayuh yang menjadi penghubung keduanya.
"Seperti ini, walau kita punya cerita sendiri, tapi kita adalah satu, apa kamu setuju?"
Kia membeku, dia memandangi perahunya dan Indra.
Prassh!
Indra mencipratkan air sungai ke wajah Kia.
"Indra!" jerit Kia.
Saat yang sama kedua matanya terbuka, ternyata Luna yang mencipratkan air ke wajahnya.
"Tie ... tie ... tie ... yang mimpiin babang Indra ...." ledek Luna.
Dinginnya air tidak mampu meredakan hawa panas yang menjalar ke seluruh tubuh Kia.
"Bayangin babang Indra saja mukanya kek udang rebus!" ledek Luna lagi.
"Minggir! Aku mau mandi!" Kia mendorong Luna dan segera menuju kamar mandi.
"Jangan bilang mimpi belah duren sama babang Indra!" ledek Luna.
Kia tidak mengiraukan adiknya itu.
"Kak, pisang eh terong eh timun eh apa ya ...." Luna bingung mengibaratkan panggilan itu. "Anunya bang Indra dalam mimpi Kakak gede nggak Kak?!"
"Memang om Indra jualan sayur dah buah sekarang?"
Tubuh Luna seketika kaku saat menyadari ada sosok Rachel yang berdiri di depan pintu kamar. "Eh anak cantik udah bangun?"
__ADS_1
"Tadi dibangunin oma," sahutnya polos.