Di Simpang Jalan

Di Simpang Jalan
Bab 6


__ADS_3

Davi memandangi wajah wanita yang selama 10 tahun ini menemaninya. Entah mengapa setelah merasakan kenikmatan dari Likha, rasa cintanya pada Kia tidak sebesar dulu.


Ini tidak boleh terjadi lagi, aku harus mengakhiri semuanya, batin Davi.


Davi mengambil handphone dan mulai mengetik pesan untuk Likha.


*Likha, kita sudahi semuanya.


Drtttt ....


Pesan balasan dari Likha masuk.


\=Kenapa harus diakhiri? Kakak tidak mau bersenang-senang denganku?


Davi termenung setelah membaca pesan jawaban Likha. Dirinya benar-benar merasakan kebahagiaan lain setelah bersama Likha.


Drtttt ....


Pesan dari Likha masuk lagi.


\=Aku tahu Kakak merasa bersalah atas perbuatan kita, semua itu muncul karena Kakak sangat mencintai Kak Kia. Cintai Kak Kia seperti sebelumnya, dan bersenang-senanglah denganku. Kita main cantik jangan sampai Kak Kia atau orang lain tau, agar Kak Kia tidak terluka. Selama Kak Kia tidak tahu, dia selalu bahagia. Kak Davi sendiri punya kesenangan lain.


\=Percayalah, aku rela jadi simpanan Kakak, aku tidak akan menuntut apa-apa pada Kakak. Jangan diakhiri aku sangat mencintai Kakak.


Davi tidak tahu harus apa, dia memejamkan kedua matanya. Namun di alam mimpi pun Likha datang dan memberi keindahan yang satu itu.


Pagi kembali menyapa, Kia tengah sibuk bersiap untuk mengunjungi Restoran yang dia pegang, setelah mengurus Restoran jadwalnya lanjut menggantikan tugas Davian di Perusahaan, sampai keadaan suaminya membaik.


"Mas, kamu sudah baca laporan yang aku kasih tadi malam?" tanya Kia.


"Sudah, semuanya bagus. Kamu kawal saja, jika ada yang tidak kamu fahami, kamu minta tolong Dharma, atau kamu telepon aku."


Kia menarik napasnya dalam, dia tidak siap meninggalkan suaminya demi pekerjaan. "Maafin aku, kamu sakit aku malah sibuk kerja."


"Kamu itu malah bantu aku sayang, kalau kamu tidak menggantikan aku, perusahaanku akan kacau."


Davian menarik wajah Kia kearahnya dan langsung melahap bibir yang dipoles lipstik merah muda itu. Ciuman hangat di suasana dingin seperti penambah semangat bagi Kia.


Ceklak!


Suara pintu yang terbuka membuat Davian dan Kia terpaksa melepaskan pangutan mereka.


"Bunda sudah siap?"


Dari arah pintu tampak sosok Rachel dan Likha.


"Sudah sayang. Rachel butuh sesuatu?" tanya Kia.


"Kata paman, ban mobil bocor, Rachel ikut bunda ya, apa boleh?"


"Tentu boleh sayang."


"Kak Likha kenapa ikutin aku ke kamar Ayah sama bunda?" tanya Rachel pada Likha.


"Ya mungkin saja ada pesan bunda, misal apa gitu yang harus Kakak lakukan," kilah Likha.


"Pas banget, Likha. Kamu siapin obat yang sesudah makan buat Ayah Rachel, tadi aku lupa," ucap Kia.


"Baik Kak." Likha segera menuju tempat obat Davi.


"Ayo kita sarapan dulu," ajak Kia pada Davian dan Rachel.


"Aduh ...." Davian memegang perutnya.


"Kenapa mas?" Kia panik mendengar Davi mengaduh.


"Aku mules, mau setor dulu ya." Alasan Davian, padahal tujuannya hanya ingin mencuri kesempatan agar bisa berdua dengan Likha.


"Aku bantu ya ...." tawar Kia.


"Aku bisa sayang, kamu juga sudah rapi, kamu siap-siap sana. Kalau aku butuh sesuatu aku akan minta Likha buat panggilin kamu."

__ADS_1


Kia percaya, dia dan Rachel segera menuju meja makan. Sedang di kamar itu, Davian langsung memeluk Likha.


"Kamu jahat, sepanjang malam aku bermimpi tentangmu." Davi menciumi bagian belakang leher Likha.


"Benarkah? Aku juga selalu memimpikan Kakak."


"Bagaimana aku bisa menyudahi kegilaan ini?" Davi menyandarkan Likha ke bahunya, dan langsung menyerang bibir Likha.


Keduanya hanyut dalam pangutan liar mereka. Davi menyudahi persiatan lidah mereka.


"Kamu sengaja ya membiarkan Rachel mengetuk kamarku?"


"Tadi aku berdiri di depan pintu melihat semuanya, saat mendengar pintu kamar Rachel akan terbuka, aku pura-pura duduk. Aku membiarkan Rachel membuka kamar kalian, karena aku nggak kuat liat kegiatan kalian, aku juga pengen."


"Kenapa nggak bilang?"


"Ini aku bilang, kak Davi aku iri melihat Kakak dengan Kak Likha bercumbu, aku juga mau."


Davian memutar tubuh Likha agar menghadap kearahnya.


Peraduan lidah itu semakin memanas. Namun mereka harus menyudahi kesenangan itu, Davi tidak bisa berlama-lama. Likha keluar dari kamar Davian terlebih dulu, dia berjalan menuju tangga. Sedang Davian masih di kamar, dia mencipratkan air ke pakaiannya, agar meyakinkan Kia kalau dirinya habis dari kamar mandi.


"Loh, kamu turun Li, Mas Davi gimana?" Kia panik melihat Likha menuruni tangga sendirian.


"Aku yang nyuruh dia pergi, sayang." Terlihat Davi susah payah menuruni tangga.


"Ya ampun mas. Bahaya ih ...." Kia segera menyusul Davian.


"Ayah bersih nggak ceboknya?" goda Rachel.


"Ayah merasa sepertinya masih ada yang nyangkut ini," goda Davi.


"Ya ampun kamu ini mas."


"Bau nggak bun?" goda Davi.


Kia kesal, dia mencubit perut suaminya.


"Bunda cepet habisin sarapannya, aku bisa telat loh ...." rengek Rachel.


Sarapan pagi itu terasa indah, apalagi bagi Davi dan Likha, saat menikmati sarapan kaki mereka menari di bawah meja, tatapan mata mereka pun menjadi komunikasi mereka. Keadaan begitu mendukung kegilaan mereka, saat waktu sarapan semua Asisten rumah tangga juga harus sarapan di tempat lain, bukan berdiri menonton mereka menikmati sarapan pagi. Hingga tidak ada yang menyadari tarian kaki Davian dan Likha di bawah meja.


"Sudah selesai sayang?" tanya Kia pada Rachel.


Likha dan Davi menyudahi tarian manja kaki mereka.


"Sudah bun."


"Salim dulu sama Ayah."


Gadis cantik yang mengenakan seragam SD itu segera mendekati Davi dan salim padanya.


"Rachel pergi sekolah ya Yah."


"Iya sayang, belajar yang pinter ya."


"Iya Ayah, Ayah jaga diri semoga cepat sembuh." ciuman manis dari Rachel mendarat di pipi Davi.


"Bye Aunty Likha." Rachel melambaikan tangan pada Likha.


"Bye cantik, semangat ya."


"Likha, jaga mas Davi ya dengan baik," ucap Kia.


"Aku jalanin tugas sebisaku Kak."


"Mas, kami pergi."


"Iya sayang. Kalau kesulitan telepon aku ya."


Ibu dan Anak itu segera pergi. Setelah Davi selesai sarapan, supir pribadi Rachel yang tidak bertugas, membantu Davi kembali ke kamarnya. Likha sendiri bertugas seperti perawat pada umumnya saat para pelayan masih sibuk melakukan pekerjaan mereka di lantai atas.

__ADS_1


Para Pelayan sesekali memperhatikan Likha yang tengah membantu Davi berjalan, terlihat sangat normal tidak ada hal yang mencurigakan. Namun melihat pria dan wanita hanya berduaan disatu ruangan hal ini memancing segala pemikiran sesat dari produksi otak kotor.


"Sudah selesai bi bersihin kamar mandi?" tanya Likha pada pelayan yang baru keluar dari sebuah pintu.


"Sudah."


"Pintu jangan di tutup, biarkan terbuka seperti itu, kalau terbuka kalian bisa lihat langsung keadaan kamar ini, kalau ditutup, yang ada menimbulkan desas desus yang sangat merugikan saya juga Tuan Davi!" Likha menyadari para Pelayan mulai mencurigainya.


Pelayan itu mengangguk dan segera meninggalkan kamar Davian.


"Kenapa nggak dikunci aja?" bisik Davian.


"Nanti ada yang semakin curiga," bisik Likha.


"Hari ini Tuan coba latihan gerakin tangan ya."


"Bagaimana caranya?" Tatapan Davi terlihat nakal.


"Aku punya cara khusus buat Tuan latihan." Likha membuka satu per satu atasan yang dia kenakan, dan melepaskan penahan yang memiliki renda itu, dia menarik tangan Davian dan mengarahkannya ke dua gundukan empuk yang ada di sana.


"Tuan pasti bisa." Likha menggodanya.


"Ajarkan aku."


Kia membimbing pergerakan tangan Davian. "Bagaimana? Bisa Tuan?"


"Begini?" Davian mulai berkreasi.


"Iya, bagus Tuan. Pertahanin."


Davian sangat bersemangat dengan kegiatan yang Likha berikan.


"Pelan-pelan Tuan ... atur gerakannya." Likha sengaja mengeraskan suaranya, agar para pelayan mengira dia tengah melatih Davian.


"Bagaimana? begini benar?" tangan Davian semakin tak terkendali.


"Bagus Tuan, mau lanjut ini, atau lanjut latihan kemaren?" Likha membuka kedua pahanya begitu lebar.


"Kamu cek lantai dulu, takutnya belum kering." Isyarat Davian meminta Likha memastikan keadaan di luar.


"Baik Tuan." Likha memperbaiki atasannya, dia segera keluar, dan keadaan lantai 2 sangat sepi.


Likha kembali ke kamar Davi melaporkan keadaan di luar kamar, keduanya perlahan memulai adu ring diatas kasur bersama.


Di tempat lain.


Kia masih berada di salah satu Restorannya. Matanya tertuju pada lembaran kertas yang dia pegang. Tapi ada perasaan tidak enak yang mengikat hatinya. Rasa yang sama seperti kemaren. Kia bingung dengan rasa itu, baru kemaren dia merasakan perasaan aneh ini.


"Bagaimana bu Kia? Apa ada masalah dengan laporan kami?" tanya salah satu pekerja.


"Saya bawa dulu ya, pikiran saya kacau. Suami saya sakit dan saya harus mengemban 2 pekerjaan. Saya mau ke kantor suami saya dulu."


Sambil mengayunkan kaki menuju tempat parkir, Kia menghubungi suaminya. Tidak tahu dorongan perasaan itu membuatnya memikirkan suaminya.


Panggilan dari Kia, tentu saja mengganggu kegiatan push Rank yang Davian dan Likha lakoni. Dengan wajah sebal, Davian segera menerima panggilan Kia.


"Iya sayang?"


"Suara mas terdengar lelah gini?"


"Abis latihan gerakin anggota tubuh."


"Sendiri?" Kia khawatir suaminya latihan tanpa pengawasan.


"Ada Likha, dia memperhatikan dari arah pintu."


"Jangan terlalu dipaksa ya mas."


"Aku mau sembuh sayang, aku merasa beban semakin berat karena hanya terbaring di tempat tidur."


"Jangan begitu, aku bahagia bisa bantu mas. Sudah dulu ya, aku mau lanjut ke kantor mas." Kia menyudahi sambungan telepon mereka

__ADS_1


Kia masuk kedalam mobil, menyadarkan punggung di sandaran mobil dan menarik napasnya begitu dalam. "Pertanda apa ini? Mengapa aku sangat tidak nyaman dengan perasaan ini?"


Kia berusaha menyemangati dirinya, dia segera melajukan mobilnya menuju Perusahaan Davian.


__ADS_2