
Pak Herman memungut tas istrinya, dan menarik istrinya bersamanya. Namun Fuza keberatan dan melepaskan pegangan tangan suaminya.
"Mau kemana Pah?"
"Kita pulang," sahutnya dingin.
"Kia butuh kita." Fuza keberatan meninggalkan putrinya.
"Dia tidak butuh kita, luka sebesar itu saja dia sembunyikan dari kita! Itu jelas membuktikan dia tidak butuh kita!"
"Maafkan Kia Pah, Kia menyembunyikan ini, karena Kia tidak bisa mengambil keputusan," sela Kia.
"Sekarang kamu mengambil keputusan apa? Memaafkan Davi? Atau berpisah?"
Kia tidak bisa menjawab, dia hanya menundukan wajahnya.
Diamnya Kia, cukup membuat Pak Herman kecewa, dia menarik istrinya untuk meninggalkan tempat itu.
Pak Yudi tidak tahu harus bagaimana, andai posisi Kia adalah putrinya, mungkin dia tidak bisa sesabar Pak Herman, saat itu juga dia akan menebas leher laki-laki yang menyakiti anaknya. Namun karena penjahatnya anaknya sendiri, dia masih berharap Kia berbesar hati mau menerima Davi.
Pak Yudi kembali menangkupkan kedua telapak tangannya memohon kepada Kia. "Bapak tidak memohon agar kamu memaafkan Davi lagi, tapi berikan keputusan mu Nak, semakin lama kamu menggantung, semakin lama pula perasaan orang tua ini tersiksa."
Isak tangis Pak Yudi membuatnya terjeda menyampaikan kata-katanya. Dia berusaha untuk melanjutkan ucapannya. "Jika kamu tidak bisa menerima Davi, ucapkan sekarang di hadapannya, agar anak Bapak bisa pergi dengan tenang, dan kematiannya bisa mengakhiri penderitaannya di sini. Sakit nak melihat anak dalam kondisi seperti itu." Pak Yudi menunjuk kearah Davi.
"Bapak rasa, Davi sengaja bunuh diri juga agar tidak mempersulitmu dengan keadaan ini, setidaknya perceraiannya terjadi karena kematiannya, dan kepergiannya dari sisi Rachel karen dunia yang sudah berbeda."
"Tapi jika Nak Kia memang sanggup membuka pintu maaf dan kesempatan kedua, bicara sama dia, semoga Davi semangat untuk bangkit jika mendengar kamu memaafkannya."
Pak Yudi mengusap air matanya. "Maaf, Bapak tidak menemanimu di Rumah Sakit malam ini, dengan hanya berdua bersama Davi di sini, semoga kamu bisa menentukan sikapmu Nak." Pak Yudi pergi meninggalkan ruangan Davi.
Kia benar-benar merasa buntu, dia mencoba mengaktifkan handphonenya, setelah menunggu beberapa saat handphonenya bisa digunakan kembali. Kia mengirim pesan pada Luna, meminta Luna untuk membawa Rachel kerumahnya atau kemana saja, yang penting tidak bermalam di Rumah Sakit.
3 hari berlalu, Davi masih betah menutup kedua matanya. 3 hari ini pula Kia setia mendampinginya. Setiap pulang sekolah Rachel selalu menemaninya hingga sore, dan kala malam dirinya kembali sendiri menjaga Davi.
__ADS_1
Kia terbayang rasa kecewa Ayahnya dan Luna jika dia memaafkan Davi, saat yang sama dia terbayang kehancuran Rachel jika Davi benar-benar tiada.
Sampai kapan kamu mau menyiksa anak saya? Saya tidak membenarkan perbuatannya, ingat! Perselingkuhan itu karena kamu! Kamu yang membuat ular itu bebas berkeliaran menggoda Davi!
Mengingat kemarahan ibu Davi, dan terbayang kekecewaan Ayahnya rasanya menghancurkan kewarasannya. Kia memandang kearah Davi, keadaan Davi benar-benar membuat dada terasa terikat.
Kia mendekati Davi, memegang telapak tangannya dan menciumnya. "Mas ingin maaf dariku? Mas ingin kesempatan kedua untuk memperbaiki segalanya? Jika mas ingin itu, bangun mas, yakinkan aku kalau mas tidak akan mengecewakanku lagi, dan beri aku jaminan kalau mas tidak akan mengulagi perbuatan itu."
"Bagaimana aku bisa memberi kesempatan kedua, mas saja tidak mau membuka kedua mata mas."
Kia terlalu lelah dengan keadaan ini, diluar kemampuan dirinya, Kia tertidur di kursi itu, dengan menumpukan wajahnya di sisi tempat tidur Davi.
Entah berapa lama waktu berlalu, Kia mulai merasakan pegal pada pinggang dan lehernya, perlahan matanya mengerjap, dia merasa ada sesuatu berada diatas kepalanya. Kia perlahan meraba, dia menyadari itu tangan suaminya. Darahnya terasa mengalir deras ke seluruh batang tubuhnya, menyadari Davi sadar.
"Mas ...." pekiknya.
Davi masih kesulitan membuka kedua matanya, kelopak mata itu seakan ditumpu beban ribuan kilo. Tanpa membuang waktu, Kia berlari ke ruangan dokter mengabarkan keadaan suaminya. Saat itu juga tim dokter bergegas ke ruangan Davi.
"Apa ada yang serius dok?" tanya Kia.
"Tidak ada cedera serius, dalam waktu 6 sampai 8 minggu, Pak Davi bisa berkegiatan seperti sedia kala. Nanti bu Kia urus saja, mau berapa kali terapis untuk melatih Pak Davi di rumah," ucap dokter.
"Terapisnya cowok," ucap Davi lemah.
Kia memahami rasa takut Davi, dia tersenyum dan mencium wajah suaminya. "Iya, aku akan cari ahli terapi yang cowok."
Setelah tim dokter keluar, Kia segera meraih handphonenya. Namun gerak jemarinya terhenti saat melihat Davi mengisyarat padanya. Kia menyimpan kembali handphonenya.
"Ada apa mas?"
"Jangan kabari siapa-siapa dulu, aku hanya ingin berdua denganmu malam ini," ucap Davi lemah.
"Aku tidak bisa memenuhi itu, sebelum mas yakinkan aku dengan janjimu."
__ADS_1
"Apa yang harus ku lakukan agar kamu percaya?" ucap Davi lemah.
"Itu urusan mas, mas pikir sendiri apa usaha mas buat yakinin aku nerima mas kembali?" Kia kembali mengambil handphonenya, dan memberi kabar pada keluarga, kalau Davi sudah sadar.
Kurang dari 1 jam, kedua orang tua Davi dan kedua orang tua Kia datang ke ruangan itu. Terlihat jelas raut kebahagiaan di wajah kedua orang tua Davi melihat anaknya sadar kembali.
Wajah Pak Herman masih dingin, setelah mengetahui anaknya diselingkuhi, hanya ada kebencian jika melihat wajah Davi. Beruntung laki-laki itu terbaring di ranjang Rumah Sakit, andai dia tahu lebih cepat, dirinya sendiri yang mengantar laki-laki itu ke UGD Rumah Sakit.
"Ayok kita pulang, tugasmu sudah cukup." Pak Herman menarik Kia untuk pergi dari ruangan itu.
"Tolong jangan bawa Kia, Pak." pinta Davi.
"Apa masih kurang rasa sakit yang anak saya terima? Kamu masih ingin menambahinya!" maki Pak Herman.
"Saya janji tidak akan menyakiti Kia lagi," ucap Davi.
"Bukankah janji dibuat untuk diingkari?" sahut Pak Herman.
Davi terdiam, berusaha mencari jalan agar Kia percaya akan janjinya. "Saya akan bersumpah atas kedua orang tua saya, saya rela bersumpah atas nama Tuhan, saya tidak akan mengulagi perselingkuhan itu, dengan wanita yang sama atau pun wanita yang lain."
"Saya tidak yakin akan sumpahmu," sahut Pak Herman.
"Orang tua saya yang membuat saya hidup, dan Tuhan yang memberikan saya hidup, jika saya berani melanggar janji saya, sama saja saya mempermainkan Tuhan dan kedua orang tua saya, bagaimana saya bisa hidup damai setelah mempermainkan keduanya?"
Melihat kedua orang tua Kia tidak merespon, Davi terus berpikir. "Jika sumpah saya tidak bisa dipegang, bagaimana kalau kita membuat perjanjian?"
"Perjanjian?" Pak Herman tertantang dengan ide Davi.
"Saya buat perjanjian diatas kertas, poin utama, jika saya terbukti selingkuh, maka semua harta yang kami dapat selama menikah, semua untuk Kia, dan saya hanya boleh membawa baju yang melekat di badan."
"Kia punya harta sebelum menikah dan itu masih saya pegang, dia tidak butuh hartamu!" ucap Pak Herman.
"Tapi tidak ada pelakor yang mau dengan laki-laki miskin Pah, jika aku melanggar janji, aku sendiri yang rugi," ucap Davi.
__ADS_1