Di Simpang Jalan

Di Simpang Jalan
Bab 54 Hadiah


__ADS_3

Entah siapa menantu bagi Ingrid. Setelah acara video call bersama keluarga Kia selesai, acara Ingrid di hotel itu berlanjut. Saat potong kue, Davi tidak mau mendekat karena ada Fanny di sana. Kia pun memilih menemani Davi dan memberi semangat untuk mertuanya dari tempat duduknya. Karena jika dia nekat berdiri bersama mertuanya, hanya mempermalukan diri sendiri. Sudah pasti yang dapat potongan kue pertama adalah Fanny.


Persis seperti apa yang Kia pikirkan, Fanny yang menerima potongan kue pertama. Kia mencoba mencari mertua laki-lakinya. Sejak panggilan video berakhir, dia tidak melihat ayah mertuanya itu lagi. "Mas, Bapak mana?"


"Bapak nyusul acaranya kamu yang diurus mama papa, kata Bapak acara di sana lebih menarik."


"Acara terkacau yang aku bikin tahun ini!" gerutu Kia.


"Sukses malah, semua orang yang sayang sama ibu bisa memanjatkan doa dan tujuan yang sama ditempat yang berbeda."


**


Walau Kia selalu berada di samping Davi, namun sesekali sorot matanya tertuju pada Fanny. Kia yakin kalau wanita itu masih punya rencana lanjutan. Beberapa keluarga Davi mendekat, membuat fokus Kia pada Fanny buyar. Kia berusaha membaur dengan sepupu Davi dari pihak Ingrid. Selama menikah dengan Davi, Kia sangat jarang berkumpul dengan keluarga Davi, kecuali acara besar yang tidak mungkin tidak berhadir.


Walau sama-sama dari kalangan berada, cara Kia dan keluarga Davi menikmati hidup sangat berbeda. Membuat Kia sangat tidak nyaman berlama-lama bersama mereka. Seperti saat ini, penampilan mereka sungguh memukau, dari jam tangan mahal, sepatu, bahkan satu jenis outfit yang mereka kenakan mendekati harga sebuah rumah subsidi. Cara Kia menikmati hidup tidak seperti itu, dia lebih suka kesederhanaan, dia bahagia jika bisa berguna bagi orang banyak. Bukan bergaya agar dilihat orang banyak.


Siapa yang tidak ingin jadi orang kaya? Setiap orang yang masih berpikir sehat tentu ingin memiliki harta berlebih, namun cara menikmatinya berbeda. Ada untuk pamer agar diakui kalau dia kaya. Ada yang menggunakan kelebihan yang dimiliki untuk kemaslahatan orang banyak. Seperti Kia, harta yang dia miliki, lebih sering dia investasikan kembali agar bertambah dan bisa membuka usaha baru tentunya membuka lapangan kerja baru pula. Tujuan Kia terus mengembangkan usaha selain membantu sesama manudia, juga untuk masa depan Rachel. Sebagian lagi disumbangkan. Kia selalu memegang teguh nasihat Ayahnya untuk jadi orang yang bermanfaat bagi banyak orang. Urusan gaya hidup, dia tidak memperhatikan. Kecuali jika ada kaitan dengan pekerjaan. Jika tidak berkaitan dengan pekerjaan, Kia memilih tampil sederhana.


Saat ini pandangan sinis para sepupu Davi sangat terasa. Apa yang Kia kenakan seperti debu yang menyakiti mata mereka. Dalam diamnya Kia menghubungkan AirPods pada handphonenya.


"Mas, aku izin ke toilet dulu ya," pamit Kia. Sebelum pergi dia meninggalkan handphone dalam tasnya yang dia titipkan pada Davi.


5 menit berlalu, tidak ada bahasan penting dari keluarga Davi. Hanya ada obrolan tas terbaru dan jam tangan terbaru.

__ADS_1


"10 apa 11 tahun kamu itu sama Kia, tapi Kia tetep aja nggak maju-maju penampilannya."


"Aku nggak mentingin penampilan, yang penting kami nyaman itu saja," bela Davi.


"Sekarang malah kamu yang ikut-ikutan kolot kayak istrimu!" maki sepupu yang lain.


"Justru aku nyaman dengan kehidupanku sekarang. Mengikuti gaya, dompetku tak berdaya," ujar Davi.


"Penampilan itu harus keren! Semakin mahal apa yang kita pakai, semakin berkasta dipandangan orang lain!"


"Aku keberatan dengan penilaianmu, apa gunanya pakaian mewah jika sifat kita buruk. Apa yang kita pakai tidak berpengaruh. Yang penting sifat kita. Seperti Kia, dia tidak berpakain mewah, memakai handphone bagus pun dia beli itu semata demi kerja bukan gaya. Orang yang tidak kenal Kia, saat mereka pertama kali bertemu Kia mereka tahu kalau Kia orang baik."


"Percuma kaya! Tapi tak bisa menikmati!"


"Kia tidak merubahku, justru aku sendiri yang mengupgrade diriku."


"Turun versi bukan update namanya," celetuk yang lain.


"Kami menikmati hidup kami dengan cara kami sendiri, tolong jangan saling memojokan karena perbedaan yang ada, aku saja tidak menceramahi kalian dengan gaya hidup kalian yang mentereng dan hampir diluar kapasitas. Contoh nyata gajih sebulan ludes sekejap mata demi barang branded. Ada aku mengurusi kalian? Tolong hargai pilihan masing-masing, karena kenyamanan dan kebahagiaan kita tak sama."


Terdengar suara kursi berderit, Kia yakin suaminya pergi meninggalkan sepupunya. Kia menggunakan kesempatan ini untuk merapikan dandanannya. Setelah merasa lebih baik, Kia segera keluar bergabung kembali dengan para tamu. Saat Kia sampai di sana, terlihat acara pembukaan kado.


Suara tepuk tangan terdengar riuh kala Ingrid memperlihatkan kado dari Fanny. Sebuah tas branded yang viral karena dipakai sang artis sebagai ganjalan tidur. Melihat tas yang bernilai puluhan juta itu, membuat kaum hawa yang memiliki kebahagiaan yang sama sangat terpukau, rasa bahagia jika bisa menambah koleksi mereka tidak bisa dibandingkan.

__ADS_1


Ingrid mengusap penuh kasih tas mahal yang Fanny berikan. "Saat tante mrlihat istri sultan di tv pakai tas ini, Tante selalu menjerit dalam hati, kapan tante bisa beli tas ini. Akhirnya mimpi tante terwujud berkat kamu sayang." Ingrid memeluk Fanny di depan semua orang.


Kebahagiaan tiap orang tidak sama, Kia biasa saja melihat hal itu, walau dia mampu membeli tapi dia tidak menginginkannya. Karena kebahagiaan Kia bukan itu.


"Jeng, coba buka hadiah itu, dari boxnya itu terlihat dari toko perhiasan ternama di kota kita," seru salah satu tamu.


"Wah bener banget, waduh sultan mana ini yang kasih aku dari toko perhiasan ternama di kota ini." Ingrid berhati-hati menaruh tas hadiah dari Fanny, tangannya kini meraih hadiah yang bertuliskan sebuah toko perhiasan.


"Ayo jeng buka jeng ...." seru tamu yang lain.


"Sabar jeng, aku ini deg-degan loh, nama pemberi hadiahnya nggak ada."


"Buka aja jeng." pinta tamu yang lain lagi.


Saat kado itu dibuka, sepasang mata Ingrid hampir melompat dari tempatnya. Perhiasan itu semakin berkilau saat bertemu dengan cahaya lampu. Yang membuat Ingrid semakin membisu, pemberi hadiah itu tidak lain menantunya sendiri.


"Dari siapa hadiahnya jeng, kami penasaran."


"Dari suaminya ya jeng, perhiasan berlian mahal itu."


"Bener jeng, suami saya pengusaha berlian, kata suami saya itu harganya mencapai 3M."


Inggrid masih memasang senyuman, menyembunyikan pemberi hadiah dia tidak bisa, namun mengatakan siapa yang memberi hadiah mahal itu, maka pesona Fanny tenggelam. Semua orang masih menunggu Ingrid untuk memberitahu nama pemberi hadiah itu.

__ADS_1


__ADS_2