
Luna masih fokus melihat garis batas parkiran, berusaha memarkirkan mobilnya pada jalur yang tepat. Dia tidak mendengar saat Rachel bergumam menyebut Ayah. Mobil Luna baru saja berhasil parkir di tempat yang benar, namun tiba-tiba Rachel berteriak.
"Ayah!!" Dia langsung keluar dari mobil Luna.
"Rachel jangan keluar dulu!"
Namun anak itu tetap membuka pintu mobil dan berlari tanpa melihat keadaan, yang dia inginkan hanya laki-laki yang biasa dia panggil Ayah itu.
Sepersekian detik kemudian terdengar suara tubrukan, membuat Luna seketika panik. "Rachel ...." Dengan tubuh gemetar Luna berlari kearah suara tubrukan itu. Seketika air matanya merembes, dan kedua lututnya gemetar melihat keponakannya itu tergeletak di parkiran dengan kepala yang berdarah.
Keadaan seketika ramai, salah satu dari yang berkerumun langsung memanggil ambulan, sedang Luna tersungkur di samping Rachel yang sudah tidak sadar, namun mulutnya terus memanggil-manggil Ayahnya.
"Luna ... maafin aku, aku tidak sengaja, aku tidak bisa menghindar lagi, tiba-tiba saja Rachel ada di depan jalanku."
Luna tidak bisa merespon, dia terus menangis dan menyalahkan dirinya sendiri.
Sedang Davi, benar-benar tidak menyadari kecelakaan yang terjadi di belakangnya, pikirannya hanya ingin membawa Likha sampai di Rumah Sakit. Sedang Likha sesekali mengamati wajah Davi, harapannya semoga Davi tidak menyadari keberadaan Rachel.
Merasa sudah jauh dari Sekolah, Likha menyudahi aktingnya. "Udah mas, pelan-pelan aja, tiba-tiba sakitnya hilang."
"Kamu yakin? Mas takut, kan tadi malam kamu liar banget!" keluh Davi.
"Beneran mas, udah lebih baik, santai aja mas."
Davi memelankan laju mobilnya, saat yang sama sebuah Ambulan melaju kencang dari arah yang berlawanan.
***
Di sisi kota yang lain.
Kia menunggu di ruang tunggu VIP menunggu penerbangan mereka.
"Sandwich kesukaan kamu." Indra menyodorkan roti bertumpuk itu pada Kia. "Kamu pasti melewatkan sarapan di rumah bukan?"
"Kamu ini kek cenayang, selalu tahu tentang aku, bahkan lebih ingat dia daripadaku yang punya diri." Kia mengambil sandwich yang Indra berikan.
"Cuma Kia aja nih?" ledek Nabila.
"Ini, aku orang yang adil bukan pilih kasih!" Indra memberikan sandwich lain untuk Nabila.
__ADS_1
"Nggak adil ini, masa punya Kia siap hap, sedang aku masih gini ...." protes Nabila.
"Cerewet kamu!" omel Indra.
Kia tersenyum melihat ulah kedua sahabatnya, dia menghantarkan sandwich itu ke mulutnya, namun gigitannya batal karena deringan khusus dari Luna. Kia segera menerima panggilan dari Luna. "Iya Luna?"
"Kak Kia ...."
Mendengar isak tangis Luna, sudah dipastikan hal buruk terjadi. "Ada apa Luna?"
Luna menceritakan peristiwa nahas yang dialami Rachel, sontak sandwich yang ada di tangan Kia pun terlepas, bukan hanya roti itu, air matanya juga terlepas dari pelupuk matanya. Melihat Kia seperti itu, membuat Indra dan Nabila khawatir.
"Ada apa Kia?"
"Rachel kecelakaan."
"Nabila, kamu telepon asistenku, dan minta mereka urus barang aku sama Kia, sedang kamu urus rapat!" Indra menarik Kia meninggalkan ruang tunggu itu.
Nabila seperti robot yang patuh, dia mengiyakan permintaan Indra.
Pikiran Kia saat ini hanya anaknya, dia tidak mempedulikan apa-apa lagi, dia dan Indra berlari cepat di tengah bandara menuju pintu keluar. Pegangan Tangan Indra begitu erat, dia terus menarik Kia berlari bersamanya. Kakinya terus mengambil langkah cepat, namun matanya memandangi tangan Indra yang menggenggamnya erat.
Tangan ini yang aku abaikan saat dia mengulur padaku, aku pura-pura tidak melihatmu dulu, aku takut jika persahabatan kita hancur karena perasaan hati kita. Sumpah demi apapun sahabat sepertimu tidak bisa aku temukan lagi. Lebih baik aku mengabaikan cintamu, daripada kehilangan ikatan persahabatan kita.
"Ngebut Pak, jika sampai lebih cepat bonus Bapak lebuh besar." Indra memberilan beberapa lembar uang pada supir taksi. Detik itu juga mobil taksi menambah kecepatannya.
Sepanjang perjalanan handphone Indra terus berdering, namun dia mengabaikan panggilan itu, dan mengaktifkan mode silent, agar tidak menggangu konsentrasinya.
Di Rumah Sakit.
Luna mondar mandir di depan UGD, Rachel masih ditangani tim medis di dalam sana.
"Luna ... maafin aku, aku benar-benar tidak sengaja."
Percuma, berbicara pada Luna seperti bicara pada patung, wanita itu membeku memandangi pintu UGD.
Wanita yang tidak sengaja menabrak Rachel kembali fokus pada handphonenya, berusaha menghubungi kontak yang sedari tadi terus dia hubungi, namun tidak diangkat.
"Kak Indra ... angkat dong Kak ...."
__ADS_1
20 menit berlalu, tidak ada tanda-tanda dari tim medis yang menangani Rachel, membuat Luna semakin kalut.
"Luna." Kia langsung memeluk adiknya yang terlihat sangat kalut.
"Kak Kia maafin aku, aku nggak bisa jaga Rachel, dia langsung keluar dari mobil dan lari." isak Luna.
"Kamu nggak salah, ini ujian buat kita." Kia berusaha menenangkan Luna.
"Kak Indra! Kenapa Kakak tidak menerima panggilanku!" maki perempuan yang sedari tadi bersama Luna.
"Misye, kenapa kamu di sini?" Indra terkejut melihat adiknya ada di sana.
"Aku yang menabrak Rachel." Misye menunduk, jangankan menabrak manusia, menabrak batu pun andai bisa dia hindari. "Maafin aku, aku tidak bisa mengindar lagi."
Kia menarik Misye dan memeluknya. Luna dan Misye menangis dalam pelukan Kia. "Kalian tidak salah. Jangan nangis gini ...." Kia menenangkan keduanya
"Keluarga Rachel!" panggil salah satu perawat.
Kia melepaskan pelukannya, dia segera mendekati perawat itu. "Saya sus. Bagaimana keadaan anak saya?"
"Lukanya tidak terlalu berbahaya, sudah kami tangani, pasien selalu memanggil Ayahnya, silakan ibu dan Bapak." Saat mengucap kata Bapak, perawat itu mengisyarat pada Indra.
"Dia bukan Ayah anak saya sus, dia sahabat saya," potong Kia.
"Sebaiknya panggil Ayahnya bu, pasien sangat merindukan Ayahnya."
Perawat itu pergi, sedang Kia masih mematung di tempatnya.
Apa Rachel tadi pagi melihat mas Davi di sekolahnya?
Sebuah telapak tangan mendarat di pundak Kia. "Telepon Davi, kabari kalau Rachel kecelakaan dan merindukan dia.
Kia mengangguk, dia segera mencari handphonenya dan menghubungi Davi. Panggilannya terhubung, namun tidak kunjung diangkat. Kia mengulangi panggilannya, dan ini panggilan ketiga dia.
Di sisi lain.
Setelah pemeriksaan kehamilan selesai, Davi menitipkan handphone dan kunci mobil pada Likha, sedang dia berlari menuju toilet umum. Handphone berdering, terlihat nama Kia sebagai pemanggil, seketika wajah Likha masam. Likha mengabaikan panggilan itu. Namun panggilan yang sama tetap masuk.
Likha dengan kesal menerima panggilan itu. "Bukannya sudah ikhlasin mas Davi buat aku! Kenapa masih berusaha ganggu mas Davi! Begini nih ikhlas di mulut tapi hatinya enggak!" maki Likha.
__ADS_1
"Likha aku menggubungi mas Davi bukan ganggu dia, tapi--"
Likha tidak peduli, dia menyudahi panggilannya dan menghapus riwayat panggilan masuk dan panggilan tidak terjawab dari Kia di handphone Davi.